Minggu, 16 Januari 2011
Hari Pertama
30 Hari Bersamamu
Sabtu, 15 Januari 2011
Yang Pertama..
( diposting di http://lulalulalen.blogspot.com/ )
1st Letter: Do I ask You too much, God?
Dear God,
I’m not asking You to give a perfect life
I only ask for happiness
I’m not asking You to give wealth
I just want to live weal
I do not expect an abundant environment
I just need people who can be trusted
But why You send handsome man who hurt me?
But why You give lots friends can not be trusted?
But why You allow me to see hypocrisy?
But why You put me in a crappy life?
God, Do I ask You too much?
with love,
-L-
(diposting di: http://starlian.tumblr.com/ )
Jumat, 14 Januari 2011
Halo Mars
Tahukah kamu? Aku sebenarnya orang yang sangat pemalas. Aku sebenarnya benci harus bangun pagi-pagi hanya untuk mengejar kereta ke kampus. Aku suka dengan keadaan mepet-mepet, seolah-olah adrenalinku terpacu untuk masuk kelas tidak terlambat tanpa mengurangi jam tidur yang menurutku sangat sakral.
Pada akhir bulan Oktober 2010 di hari Rabu, aku terpaksa bangun lebih pagi karena dosen yang mengajar pagi itu mengancam akan menguncikan pintu kelas bagi yang terlambat. Jadi, aku harus bangun sedikit lebih pagi dari biasanya untuk mengejar kereta pukul 06.30 pagi. Oya, biasanya aku bangun jam 06.30 pagi. Ini sungguh menyiksa!
Karena tidak terbiasa, alhasil aku bangun jam 05.50! Panik, ya tentu panik. Aku pun akhirnya mandi dan berpakaian dengan alakadarnya. Namun hebat, aku masih bisa menaiki kereta jam 06.30 pagi itu.
Gerbong nomor 3. Ya Mars, aku ingat dimana pertama kali aku melihatmu. Gerbong nomor 3 kereta Ekonomi AC, Tanah Abang - Bogor. Pagi itu aku yang sedang kesal tiba-tiba tertegun melihat wujudmu yang duduk tertidur di depanku. Aku seperti melihat wujud hidup tokoh komik yang aku sering elu-elukan pada saat masih duduk di bangku SMP. Wujud sempurna pria idamanku. Badan tegap, bahu bidang, muka rupawan dengan kacamata tergantung dengan sempurna diatas hidungmu yang mancung, rapih. Ditambah dengan tas berwarna merah mencolok dan sepatu putih besar yang membuat pandanganku selamat 45 menit perjalanan kereta tersita olehmu.
Namun jujur Mars, pada saat aku melihatmu pertama kali, jantungku tidak berdegup kencang tidak karuan seperti sekarang. Hanya tertarik? Mungkin simpati? Ya, ya. Mungkin…. Yang pasti saat aku turun dari kereta itu aku kembali kesal dengan kewajiban bangun pagi ini, tidak ada wujudmu tersisa dalam otakku saat itu.
Aneh ya?
Salam hangat,
Venus
(diambil dari: http://venusdanmars.tumblr.com/ )
aku kangen kamu
aku belum pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung padamu dengan sungguh-sungguh. walaupun aku sungguh-sungguh merasakannya. sejak pertama kita kenal aku sudah sering mengatakan satu hal padamu. aku bukan tipe orang yang berterusterang. aku belum bisa mengatakan hal-hal semacam itu dengan gamblang di hadapanmu, menatap matamu. tapi satu yang kamu harus ingat, aku selalu menunjukkannya lewat perbuatan. perlakuan ku padamu. kamu tidak harus mendengarku mengatakannya, tapi lihatlah bahwa aku merasakannya.
aku selalu berusaha untuk mengatakannya padamu, tapi lidahku terasa kelu. apa kamu tau itu? aku selalu kesulitan bernafas ketika akan mengatakannya padamu. hanya sebuah pesan singkat tertulis yang bisa aku sampaikan. tapi pesan itu tertulis. kamu tidak bisa mendengar bagaimana gugup nya saat aku mengatakannya. kamu tidak bisa melihat wajahku yang tersipu saat mengucapkan kalimat singkat itu. kamu tidak bisa tertawa geli melihat ku salah tingkah, sepersekian detik setelah aku mengatakannya.
dan sekarang, saat aku merasa aku akan sanggup untuk mengatakannya padamu-karena aku sudah tidak kuat lagi memendamnya-kamu tidak bisa mendengarnya. kamu tidak memberiku cukup waktu untuk mengumpulkan kekuatanku sebentar saja. kamu terlanjur pergi. dan aku tidak sempat mengucapkannya.
aku menyesal belum sempat mengatakan kalimat itu dengan sungguh-sungguh padamu.
dengar, lihat dan rasakan dengan hati mu.
aku kangen kamu.
---Oleh: @adjeungutami
(diambil dari: giniginiajah.blogspot.com )
Surat Untuk Uwi
Kepada Manusia Kincir Angin
Pos di Kala Malam
Salam Rindu Untuk Pak Posku
Untuk Perempuan Terhebat
Kepada Yang Tersayang
Perempuan Bergelar Ibu
Assalamualaikum
Halo ibu, atau yang lebih suka kupanggil dengan sebutan mama. Bukan karena sok keren atau biar terdengar gaul, tapi memang panggilan itulah yang telah dibiasakan padaku sejak kecil, dan aku tidak ingin untuk menggantinya dengan panggilan lain.
Seringkali aku ingin bertanya, bagaimana sih rasanya menyandang gelar seorang ibu? Pasti berjuta rasanya. Gelar yang diperoleh setiap wanita tanpa perlu mendaftar di perguruan tinggi manapun, tanpa ujian skripsi, tapi justru ujian menghadapi kenakalanku dan adik perempuanku.
Ma, ada tidak syarat spesifik untuk menjadi seorang ibu? Adakah kriteria bagaimana cara menjadi ibu yang baik dan benar?
Aku tahu Ma, tidak ada buku yang mengulas teori menjadi ibu dengan benar-benar tepat, tidak satupun kursus mampu memberikan tips terbaiknya, menjadi ibu sejatinya datang dari hati. Begitu kan Ma?
Ma, usia kita terpaut lebih dari dua dekade. Sudah benar-benar generasi yang berbeda. Tak salah jika kita sering beda pendapat, sering beda pandangan, sering beda pemahaman. Rasa-rasanya seringkali kita tak sejalan, tapi bagaimanapun itu aku tetap menghormati dan menyayangi mama.
Ma, aku paling anti didikte, karena itu membuatku merasa masih dianggap anak kecil. Tapi aku tahu, betapa besar kekhawatiran seorang ibu, pada anak gadisnya yang sedang dalam proses menjadi dewasa. Pada godaan yang begitu banyak menerpa. Ah ya, aneh ya Ma, melihat betapa kita terkadang begitu mirip dan begitu berbeda dalam waktu-waktu tertentu.
Ma, Papa itu keren ya bisa memenangkan hatimu. Begitu beruntung pria satu ini bisa terpilih menjadi pendampingmu dari sekian macam seleksi ketat. Karena cintakah? Ha ha. Aku tahu aku tahu, pasti hanya Mama yang begitu mampu mengerti Papa, dan begitu juga sebaliknya.
Ma, bagaimana rasanya tahu bahwa akulah anakmu? Cukup memusingkan ya? Sama. Aku juga suka pusing dengan diriku sendiri. He he.
Jujur saja, aku selalu sedih saat tak sengaja berseteru denganmu. Apakah harus dengan begini kita menghadapi satu masalah. Kuharap tidak terjadi lagi untuk besok-besoknya. Dosaku sudah cukup banyak tanpa harus jadi anak yang durhaka. He he. Ma, mengertilah aku, sementara akupun sedang berusaha melakukan hal yang sama.
Ma, tidak cukup kata terimakasih untuk triliunan perhatian, cinta dan kasih sayang yang telah dilimpahkan untukku dan adikku. Bahkan bagiku kue saat ultah hanyalah sebatas simbol belaka. Ma, aku tidak suka berjanji karena takut tidak mampu menepatinya. Tapi ijinkan aku membahagiakanmu.
Semoga Tuhan selalu menjagamu dan membalas semuanya. I Love You My Super Mama
(diposting di www.anindita.posterous.com )
Dear Mantan Pacar
Hey, gimana kabar kamu? Aku tidak pernah berani menanyakan pertanyaan sederhana ini ke kamu. Aku tahu betapa banyak luka yang aku tinggalkan di hatimu. Percayalah, aku juga merasakan hal yang sama. Luka yang sama perih dan dalamnya. Aku tahu betapa bencinya kamu denganku sampai memutuskan untuk menjahit mulutmu daripada harus berbicara denganku.
Hari ini aku menyapamu karena aku ingin kamu tahu kamu adalah bagian penting dari hidupku. Kamu pelajaran berharga yang nggak akan aku dapatkan dari siapapun. Untuk setiap tawa dan air mata yang kamu berikan, aku ucapkan terima kasih. Tanpa kamu, aku nggak akan pernah belajar untuk kuat.
Kalau kita bertemu di jalan nanti, aku harap kamu tak akan mengunci bibirmu karena aku akan sangat senang hati mengobrol denganmu. Seperti dulu, jauh sebelum kita mengucap cinta. Saat kita masih menjadi sahabat.
Kamu tahu, aku kangen kamu. Kangen jadi sahabat kamu seperti dulu. Dan kalaupun keadaan tidak bisa menjadi seperti semula, kamu tetap sahabat yang baik buatku. Kita pernah baik dan aku harap begitupun nantinya.
Jadi, apapun jalan hidupmu saat ini, semoga sukses buat kamu. Kalau kita bertemu nanti, aku akan beranikan diri menanyakan langsung, “Apa kabarmu?”. Aku tahu kamu pasti sudah bahagia, begitu pun dengan aku.
Oh ya, salam buat pacarmu, ya. I love seeing you both happy and this time I pray that it’ll last forever.
(Pernah Jadi) Sahabatmu,
Naomi.
( diposting di http://naomitobing.wordpress.com )
Selamat Malam, Pacar..
Di Jum'at Malam---Malam Sabtu yang tidak begitu dingin
Tidak perlu diawali dengan pertanyaan "Apa kabar" kan setiap kali menulis surat?
Baru saja kamu bilang sudah lebih dulu mengantuk dan ingin beranjak bermimpi lebih dulu, ya lewat pesan singkat di handphone selagi saya mendengar alunan Owl City di laptop acakadut saya. Namun anehnya saya belum mengantuk sama sekali, padahal saya seharusnya sudah beristirahat dan kembali menyulam benang alam bawah sadar. Mungkin terlalu banyak tidur kali ya, ah mungkin saja. Padahal saya masih dalam tahap awal massa pemulihan dari virus yang menyerang saya minggu kemarin, Campak Jerman alias Morbili.
Saya yang tidak cukup bisa menahan emosi dalam menghadapi suatu cobaan, dinetralkan oleh kamu, yang sangat sabar dan menunjukkan kepada saya bahwa tidak ada gunanya marah-marah.
Kamu tahu? Saya takut kamu ninggalin saya gara-gara kemarin saya terbaring karena satu penyakit itu. Terdengar konyol atau entah apa lah itu, tapi saat fisik saya mulai berubah dan kondisinya tidak lagi nyaman dilihat, nyatanya kamu masih mau bertemu dan menunggui saya walaupun saya sakit dan tidak banyak berbicara. Mungkin bisa dibilang kamu hanya membuang waktu menemani saya. Tapi kamu tahu, itu yang membuat saya makin yakin sama kamu. Bahwa hubungan kita memang terbentuk bukan karena ketertarikan fisik semata, toh buktinya saat saya super jelek dan tidak sisiran seminggu pun kamu masih mau bertemu saya.
Saya sudah cek lewat browsing sana-sini. virus yang menyerang saya itu menular. Dan kamu pun tahu itu. Saat semua yang menjenguk saya menjaga jarak dan bertanya-tanya akankah menulari mereka, kamu malah foto-foto sama saya dari jarak yang sangat dekat. Jujur, saat itu saya takut banget kamu ketularan. Mungkin kamu juga ada perasaan takut tertular, tapi terimakasih dengan tidak menunjukkannya kepada saya yang masih dalam kondisi rapuh ini
Kebayang kan kalau ada orang sakit tapi pacarnya engga mau jenguk karena takut ketularan dan malah menjauh? sakit pasti rasanya. Terimakasih sayang, kamu rela menghabiskan waktu kamu menjaga dan menemani saya di rumah (saat demam saya sedang tinggi-tingginya) dan saat saya dirawat di rumah sakit. Kamu ingat betapa tidak rapinya penampilan saya saat itu? Dengan baju seadanya. Tanpa make up, tanpa berdandan. Murni penampilan saya apa adanya. kalau orang lain yang lihat mungkin langsung ilfeel dan enggan bertemu saya lagi. Apalagi dengan ruam-ruam merah disekujur badan saya yang membuat saya gatal ingin menggaruknya sampai akhirnya muka saya megar-megar (mengelupas) karena sudah melewati tahap demam yang tinggi. Sempat ragu mengizinkanmu menjenguk saya di ruang RGB lantai 2 no 208 itu, Yang ada dibayangan saya kamu langsung pingsan dan lari ketakutan waktu liat saya. Tapi terimakasih, sekali lagi, karena menerima saya apa adanya saat sehat dan sakit. Kehadiran kamu cukup meringankan orang tua saya yang engga tau harus minta bantuan siapa lagi.
Diantara semua hal yang kamu lakukan waktu saya sakit, Saya paling inget: terlalu sering mengingatkan kamu cuci tangan. Jangan lupa cuci tangan yang bersih sebelum ngapa-ngapain. Nah, kamu suka paling males kan ngelakuin yang satu ini? Padahal kamu sendiri tahu cuci tangan itu penting. Tapi coba sayang.. jangan disepelekan ya. Saya cuma engga mau kamu sakit---kayak saya.
Nah satu lagi, pake sendal. Kalau habis dari kamar mandi atau cuci tangan kenapa sih suka lupa pake sendal? Takutnya ituloh di kamar mandi kan engga sebersih penglihatan kita. Ada ini itu, nah kalau pake sendal kan setidaknya bisa memperkecil kemungkinan ditempeli bakteri atau sebangsanya... hiiiiii takut kan? :p makanya jangan lupa pake sendal kalau mau ke kamar mandi dan jangan lupa cuci tangan sebelum ngapa-ngapain.
Makasih atas semua perhatian yang kamu kasih. Predikat orang tersabar emang engga salah kalau dikasihin ke kamu , My Panda Bear
( diposting di http://piazakiyah.blogspot.com/ )
letter’s intro
to whom my heart belongs.
this is a challenge for me, to participate on @perempuansore ‘s hashtag #30harimenulissuratcinta. but too many things i wanted to say, that you couldnt hear from your side of the walls. the walls you’ve been building thick and tall with dissapointment and regret.
last night, i screamed my heart out to you, and you listened. but after that night, both my nerve and my voice had ran out. only anxiety, curiosity and never ending questions left unsaid, following by your silence. you didnt even react, scream back, let alone climb the walls and go get me. so, like a soldier who’s lost his war, i retreat, i forfeit.
but still,
too many things i wanted to say, so maybe from today to the next 29 days, this is how i’m gonna do it. i hope somehow, someway, you’ll read this. who knows? maybe now, today, next 2 weeks, or later after i finished this, maybe after we’re together eventually, or after we’re friends eventually.
bottom line is, i’m gona show you this pack of 30 letters. it’s yours anyway, from the moment i thought about what to write, then wrote it, erased a little, add a little, smiley-faced a little, enter, then push the ‘create post’ button. all yours.
so, anyway, gotta go. one last note,
someday it would be me saying this to you, not writing it staring at my computer screen.
until then ;)
---Oleh: @diantra
(diambil dari: www.diantra.tumblr.com )
Teruntuk cinta …
Selamat malam, cinta.
Ini adalah surat pertamaku. Akan ada banyak surat yang nanti aku kirimkan untukmu.
Bisa aku bayangkan, saat ini kau pasti sedang tersenyum-senyum kecil.
…
Hey, hentikan.
Kau belum puas membuatku mati rindu? Rindu akan senyum peri kecil termanis yang pernah aku lihat itu.
Satu yang perlu kamu tau, cinta. Aku ingin senyum itu untukku.
Boleh ya?
Ini adalah surat pertamaku. Akan ada banyak surat yang nanti aku kirimkan untukmu.
Selamat malam, cinta.
Salam, pencinta wajah pagimu.
( diposting di http://coretantakbercorak.tumblr.com/ )
Sepucuk Surat di Atas Meja
I Miss You, Grandpa
57 hari sudah kami lewati tanpa kehadiranmu.
Dalam 57 hari terakhir, ada banyak sekali yang terjadi.
Di antara 57 hari ini, ada Natal pertamaku bersama keluarga setelah 4 tahun tidak pulang…
Sekaligus Natal pertama dalam hidupku tanpamu.
Entah apa aku harus bahagia atau sedih merindu.
Opung, ingat tidak, dulu kau selalu berjanji akan datang di hari wisudaku.
Dulu setiap kita bicara di telepon, kubilang “Opung jaga kesehatan, biar nanti bisa ke Jakarta wisuda vivi”.
Dan kau jawab, “Iya, nang. Opung datang nanti…”
Maaf Pung, aku gagal.
Aku tak bisa wisuda di waktu yang kurencanakan.
Seandainya aku bisa cepat menyelesaikan studiku, mungkin masih bisa kau lihat aku memakai Toga kebanggaanku.
Maaf Pung…
Maaf…
Malam itu, saat kulihat kau terbaring lemah dengan bantuan alat pernafasan, aku hancur.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan malam itu. Tapi aku malah diam, hanya mampu menggenggam tanganmu dan mengelus pelan kepalamu.
Aku… Benci perpisahan.
Benci sekali.
Opung, bagaimana kabarmu di sana? Betah tidak?
Tuhan memperlakukanmu dengan baik kan?
Makan enak tidak?
Jangan makan yang pedas dan bersantan, Pung, ingat maagmu. Eh, tapi di Surga tidak ada penyakit ya?
Baguslah…
Tapi di Surga juga tidak ada kue buatanku, Pung…
Yang dulu selalu kau puji.
Tidak rindukah mencicipinya lagi?
Ah, pasti kue-kue buatan Surga jauh lebih enak ya?
Baguslah, Pung.
Aku rindu. Rindu sekali.
Aku rindu suara beratmu itu. Aku rindu wibawa yang terpancar dari wajahmu. Aku rindu nasehat-nasehatmu. Aku rindu suaramu. Sangat rindu.
Kau tahu, Pung?
Hans kemaren usil menirukan suaramu. Ketika aku sedang memasak di dapur, terdengar suara berat khasmu memanggil…
“Twelvi…”
Aku menoleh cepat. Kaget dan rindu.
Ternyata dia. Ah… Dia tahu kakaknya ini rindu sekali suaramu.
Opung…
Aku rindu sekali.
Biarpun dulu kita tidak sering saling bicara, karena kau tak suka bicara, tapi semua pesanmu kuingat baik-baik.
Aku sangat kagum padamu, Pung.
Di lemarimu banyak sekali buku-buku yang membuatku haus ilmu.
“Apa dan Mengapa”. Kumpulan seri pengetahuan. Ah, aku bahkan ingat aroma kertasnya sampai sekarang.
Ingat tidak, waktu aku kecil, kau sering mencabut gigiku dengan benang.
Kau bilang hanya lihat, lalu saat aku lengah, kau cabut dengan kuat.
Ah…
2 tahun lebih kita tidak bertemu ya, Pung. Kenapa tidak bilang kau mau pergi?
Tahu begitu aku pulang lebih dulu.
Kau pasti tahu kan? Pasti tahu.
Orang sepertimu pasti selalu ditemani malaikat kemana-mana.
Kenapa tidak beritahu aku?
Curang…
Ingat pintu lemari yang rusak di ruang tamu?
Terakhir katanya kau sedang sibuk mengukir kayu jati, meniru pintu lemari itu.
Kau, lelaki terhebat yang pernah kukenal. Banyak akal.
Tapi, belum selesai, Pung.
Ukirannya baru separuh.
Itu pekerjaanmu yang belum selesai, Pung….
Aku rindu, Pung.
Aku ingin kelak ayah dari anak-anakku memiliki wibawamu.
Susah ya tampaknya?
Langka.
Dapat yang setia saja sudah untung.
Opung.
Aku…
Rindu.
Teruntuk Kamu, Spesial Dariku
Rencana Tuhan
Pengakuan Resmi

Hai Arjuna,
Tak keberatan kan jika aku sebut seperti itu?
Satu, karena aku memang menyukai Dewi Srikandi. Wanita gagah berani dengan bekal panah Hrusangkali di tangannya.
Dua, dan karena aku jatuh cinta pada Dewi Srikandi, sudah dapat dipastikan bahwa aku juga akan jatuh cinta pada nama Arjuna.
Untuk itu, kau akan ku panggil Arjuna.
Oh ya, jangan terlalu memasukkan dalam hati perihal banyak mitos yang berkembang tentang Arjuna dan Srikandi.
Ahli sejarah banyak yang mengemukakan bahwa Srikandi melakukan segala cara untuk mendapatkan Arjuna,
termasuk merebutnya dari hati orang lain.
Tapi Srikandi yang ini berbeda.
Hanya jatuh padamu dalam diam.
Dalam segenap bunga matahari yang mekar dalam hati.
Dalam segerombolan kupu-kupu yang terbang menyesakkan perut.
Dalam pipi yang bersemu merah.
Diam-diam.
Jangan pernah bertanya kapan pula kita pertama kali bertemu.
Itu adalah permainan semesta.
Dimensi waktu kita disinggungkan tanpa pernah aku rencanakan.
Tanpa pernah kamu rencanakan.
Tanpa pernah kita rencanakan.
Satu yang pasti, kita hanya pernah bersua wajah dua kali.
Tapi itu cukup bagiku. Untuk merekam betapa tegasnya garis wajahmu.
Atau betapa pelitnya senyumanmu.
Iya. Kamu sungguh-amat-sangat-pelit untuk tersenyum.
Dan juga pelit berbicara.
Tapi kemudian, siapa yang peduli?
Jika hati yang jatuh padamu?
Ah. sudahlah.
Lebih baik aku menyudahi saja surat ini.
Sebelum jantung ini copot saking banyak berdetak tak karuan.
Aku,
Dewi Srikandi.
PS: Jangan marah, jika aku jadi lebih sering memperhatikanmu. diam-diam.
----
(diposting di www.thewayofntiezlife.blogspot.com)