Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #1. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2011

Hari Pertama

Halo Lily,

Dari sahabatku tercinta, Dion, kutitipkan suratku ini. Apa aku mengagetkanmu? Jika ya, pasti tidak terlalu. Mungkin alis mata kananmu hanya terangkat lalu muncul kerut pada keningmu. “Apa-apaan Si Igo ini, di zaman ini menulis surat!” Mungkin begitu. Hehehe..

Ah, sebagai Igo yang aneh sekaligus kekasihmu yang menyebalkan, aku memohon, kiranya kamu mau mengerti atau setidaknya memaklumi, bahwa aku ingin menyenangkanmu. Itu saja. Bukankah itu yang harus dilakukan seorang lelaki? Mengerahkan segala kemampuannya demi wanita? Maka ini satu yang aku bisa. Menulis surat.

Aku tahu, belum cukup semangatmu untuk jadi pembaca setia suratku ini. Kau suka belanja, menonton film dan duduk berjam-jam di kursi salon. Itu menyulitkanku untuk membuatmu tengkurap di tempat tidur lalu membaca surat cintaku sampai mata berkaca-kaca. Dengar Lily, ini tantanganku. Relakan waktu luangmu untuk sesuatu yang kau anggap membosankan ini, sebentar saja!

Maka simaklah baik-baik, bukan dengan sembarangan aku mengatur barisan abjadku ini. Ini penjiwaanku, aku ingin menjiwaimu. Ini cintaku, karena aku mencintaimu. Semoga kau patuh kepada makna yang aku tanam di tiap kata, semoga kau terbang oleh sayap yang ada di punggung-punggung kalimat. Aku harap bisa begitu.

Sebelum surat ini benar-benar surat, izinkan aku memulainya dengan puisi. Tidak banyak. Hanya empat baris dan kau bisa membacanya dalam 5 detik. Begini,

Ini malam yang dingin.

Aku terancam beku.

Kuraba lagi api kenangan.

Canda tawa yang hangat.

Apa kau tahu maksudnya? Kemungkinan besar, belum. Ini puisi yang sedikit namun kau bisa merenungkannya berjam-jam. Ayo, tenggelamkan jiwamu ke dalamnya! Ada lautan arti di balik tiap barisnya, pastikan saja dirimu hanyut! Pikirkan aku, rasakan aku!

Baiklah, aku seakan mulai mengaturmu, seakan aku sedang memaksakanmu untuk cinta pada tulisan. Maafkan aku! Aku hanya terlalu bersemangat. :(

Lily yang baik dan lagi penuh kasih sayang, aku berterima kasih atas kasih yang kau berikan sebagai kekasih. Kaulah satu terkasih yang mengasihiku sepenuh kasih. Sebagai kekasihmu, ini satu bentuk di dalam kasih. Surat cinta.

Apa aku terlalu klasik? Tidak juga. Aku hanya terlalu mencintaimu dan ini benar. Ada berjuta tangan dalam hatiku, semua tangan itu mengepal, memegang erat kenangan kita. Aku tidak ingin kau pergi dari hatiku dan ini caraku takut kehilanganmu, dengan menuangkannya ke atas kertas.

Sejujurnya dari kata per kata yang aku usung, aku tampak tergesa-gesa. Panik, tidak berdaya saat jauh darimu. Aku takut kehilanganmu. Itu.

Telah lama kita bersama seiring bumi terus berputar dan waktu terus berjalan. Aku bersyukur kepada Tuhan bahwa sampai kini kau masih menantikanku. Dulu kita sering bertemu, berjumpa di dalam kerinduan. Kita saling tertawa dan menjahili, kadang kau marah lalu aku redakan. Namun sekarang saat yang berat. Aku ada dalam penjara dan ini bukan salahmu. Aku begitu dungu! Aku menyesal dan tiap hari sangat menyiksa. Di dalam sini aku kesepian. Sepanjang hari kurasa sunyi, sendiri dan tidak enak, namun aku merindukanmu. Rindu yang besar, menggumpal sampai seringkali aku menangis. Kiri kananku adalah tembok. Aku menginjak lantai yang kotor dan di depanku teralis besi. Kamarku digembok dan hanya satu teman yang benar-benar teman di sini. Namanya Iwan. Nanti dari surat selanjutnya, akan kuceritakan tentang Si Iwan itu. :)

Lily, aku juga tidak suka makanan di sini. Rasanya hambar dan kadang jorok. Apalagi nyamuknya! Aduh, kadang aku baru bisa tidur di pagi hari. Serangga menyebalkan itu serasa berkumpul di kulitku. Proses tidurku jadi tak nyaman. Ditambah lagi, para penjaga penjara di sini kadang-kadang licik, sama halnya dengan napi yang aku benci. Semua membuatku kesal. Namun jauh dari itu semua, aku merasakanmu ada di sekitarku, di dalam bayang-bayangku, di tengah penderitaanku. Maka apakah salah aku menulis surat? Aku memohon belas kasihmu, ini saja yang aku bisa. Mungkin ini bukan persembahan yang mewah untuk waktumu yang berharga, tetapi aku tahu, kau tetap mencintaiku. Itu tidak ternilai bagiku. Sungguh.

Di penjara aku jadi sering merenung. Ini lebih baik dari melamun. Masih terlintas dalam benakku tentang kejadian itu, kecerobohanku yang merenggut nyawa orang tidak berdosa. Benar, mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Aku tersiksa membayangkan sepasang suami istri yang aku tabrak dan bersama motornya, mereka mati di bawah mobilku. Apa mau dikata, aku hanyalah secuil di bawah hukum. Tetapi aku memang salah. Aku pantas menerimanya. Sayang sekali, aku tak punya banyak uang untuk mengurang hariku di penjara ini. Lagi pula apa itu tindakan benar, membeli hukum dengan uang? Tidak. Maka biarlah begini, kulewati hari-hariku ini di sini. Aku harus menerima kenyataan, khan? Itu yang selalu kuingat dari perkataanmu, bahwa ini kenyataan, engkau mencintaiku dan aku harus menerimanya.

Tetapi Lily tersayang, aku berpikir tentang usiamu. Sampai kapan kau menungguku? Kau pasti tertekan. Ayah ibumu, mereka pasti mendorongmu untuk segera memilih calon suami. Apakah mereka mengharapkanku? Aku tidak yakin. Aku dipenjara, Li. Dipenjara! Banyak mata menjadi mudah memandang hina. Sebenarnya sangat menyedihkan menjadi aku.

Kini sisa 1 tahun 1 bulan 25 hari lagi, aku akan segera keluar dari sini. Kalau tidak salah, itu jutaan detik. Puluhan juta! Sementara 1 detik di sini adalah penyesalan. Dari sudut mana aku bisa melihat indahnya penyesalan? Waktu yang lama. Aku khawatir tentangmu di sana. Banyak hal yang aku khawatirkan. Banyak sekali. Tetapi aku berterima kasih kepada Tuhan, kau masih mencintaiku.

Lily, saat Dion menjengukku ke sini, ia menceritakan banyak hal tentangmu. Ia cerita tentang rambutmu, kulitmu, kuliahmu dan lain-lain. Tetapi aku bersedih. Mengapa Dion bisa bilang bahwa wajahmu tampak muram? Ayo tersenyum! Senyum adalah jarak terdekat antara kau dan aku! Aku pun senang bahwa ia bilang, kau tetap setia. Kekasih yang hebat. Sebenarnya aku tak pantas mendapatkanmu, aku hanya pantas men-syukurinya.

Terima kasih atas salam dan cium sayang yang kau titipkan pada Dion untukku. Aku mengerti kau tidak bisa ke sini. Sangat mengerti. Anak gadis satu-satunya yang diharap punya suami yang baik (bukan narapidana) adalah layak diawasi. Wajar menurutku. :) Beruntung masih ada Dion, jembatan kita saling mengirim rindu.

Lily, aku harap aku tidak menulis sendiri. Tolong sempatkan diri membalas suratku, ya! Suratmu akan menjadi teman yang baik di sini. Serius!

Baiklah, begini saja dulu suratku. Di jeda aku menyusun kata demi kata yang melukiskanmu bagi hidupku ini, kepalaku serasa runtuh. Itu kepala yang keras. Nanti akan ada banyak cerita di surat berikutnya. Aku harap Dion bisa menengokku tepat waktu, jadi bisa membawa suratku yang berikutnya. Karena aku ingin terus menulis tentang dirimu, sampai suatu hari engkau melihat, hidupku menjadi buku. Semoga hari tidak merenggut engkau, semoga detik tetap memihak aku. Bila suatu hari waktu berhenti, biarlah kita boleh bergerak.

Jaga kesehatanmu, Li!

Kekasihmu yang dungu,

Igo.

----

(dikirim oleh @zarryhendrik di http://zarryhendrik.tumblr.com/)

30 Hari Bersamamu

Teruntuk dirimu dari masa lalu.

Mungkin surat ini adalah waktu terakhirku berbincang tentangmu, lebih tepatnya tentang mimpi-mimpiku untuk bisa bersamamu. Lambat waktu tak mampu menyeret senyummu. Ribuan hari berlalu, tak cukup untuk melupakanmu. Ini adalah kisahku tentangmu yang akan terus abadi. Seperti saat pertama kali bertemu, aku telah memilihmu namun bukan untuk menjadikanmu penghias masa lalu yang kelabu.

Tapi saat ini, aku harus paham akan takdirku! Kenyataannya, kisah kelabulah yang menyertai langkahku, tentu saja tanpamu.

Maka akan ku kirim 30 surat ke surga, tempat dimana cinta yang murni berada. Cintaku akan menunggumu di sana dalam kesetiaan, menanti kebahagian yang hanya bisa aku temukan jika bersamamu.

Dan, inilah surat pertamaku, sederhana, hanya ingin menyapamu kembali, tidak perlu terlalu rumit, karena ketika cinta menyapa hati manusia pun mengalir begitu saja seperti air.


---

Dengan cinta,
Aku yang ingin kembali ke masa lalu, bersamamu.
ditulis dan sapar pada 08.18


----

(dikirim oleh @dansapar di http://bukanbanyakkata.blogspot.com)

Sabtu, 15 Januari 2011

Yang Pertama..

Untuk: kamu.

Hai. Ini adalah surat pertama yang saya tulis buat kamu. Baiklah, saya berbohong. Surat yang saya tulis buat kamu sudah banyak, semua saya simpan di satu folder dalam komputer. Surat-surat yang saya juga tidak yakin akan saya kirimkan ke kamu.

Tapi saya mendengar mereka mengadakan #30HariMenulisSuratCinta. Saya tertarik untuk ikut karena saya yakin kamu akan terus bertahan menjadi inspirasi saya selama 30 hari ke depan dalam menulis, seperti kamu telah menjadi inspirasi bagi saya selama delapan bulan ke belakang.

Dan inilah yang pertama. Bukan yang pertama ditulis, tapi yang pertama diungkapkan untuk dibaca selain oleh diri saya sendiri.

Saya bingung harus mulai dari mana. Kamu itu terlalu unik untuk diungkapkan hanya dengan kata-kata dalam sebuah surat cinta. Perlu formula lain yang berbeda untuk mendeskripsikan kamu, seperti diri kamu sendiri yang berbeda di mata saya.

Unik. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kamu. Kata unik mempunyai definisi yang luas, karena dia berbeda tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya.

Kehadiran kamu itu ajaib. Melihat kamu berdiri saja di ujung sana dengan gaya yang khas saya bisa merasa tenang. Tidak perlu senyum, tidak perlu berkata, hanya perlu hadir. Akan ada kekuatan yang terpancar, merambat menembus jarak dan waktu menghampiri saya yang sendiri di sini.

Kamu akan terkejut menyadari fakta bahwa saya sangat mengenal kehidupan kamu, bahwa saya selalu mencari tahu tentang kamu. Saya juga terkejut sejujurnya, terkejut saya bisa seperti ini dan disebabkan oleh seorang kamu.

Delapan bulan yang sudah berlalu merupakan bulan-bulan penuh pelajaran buat saya. Belajar untuk bisa menyayangi kamu apa adanya. Belajar untuk membiarkan rasa berjalan dengan caranya sendiri. Belajar untuk menyerahkan semua kepada Dia, yang menciptakan rasa.

Dan belajar untuk tulus menyayangi kamu walaupun kamu menyayangi dia. Belajar menyayangi tanpa walaupun, tanpa tetapi, tanpa karena, tanpa apapun.

Dari: saya.



( diposting di http://lulalulalen.blogspot.com/ )

1st Letter: Do I ask You too much, God?

Dear God,

I’m not asking You to give a perfect life
I only ask for happiness

I’m not asking You to give wealth
I just want to live weal

I do not expect an abundant environment
I just need people who can be trusted

But why You send handsome man who hurt me?
But why You give lots friends can not be trusted?
But why You allow me to see hypocrisy?
But why You put me in a crappy life?

God, Do I ask You too much?

with love,

-L-


(diposting di: http://starlian.tumblr.com/ )

Jumat, 14 Januari 2011

Halo Mars

Tahukah kamu? Aku sebenarnya orang yang sangat pemalas. Aku sebenarnya benci harus bangun pagi-pagi hanya untuk mengejar kereta ke kampus. Aku suka dengan keadaan mepet-mepet, seolah-olah adrenalinku terpacu untuk masuk kelas tidak terlambat tanpa mengurangi jam tidur yang menurutku sangat sakral.

Pada akhir bulan Oktober 2010 di hari Rabu, aku terpaksa bangun lebih pagi karena dosen yang mengajar pagi itu mengancam akan menguncikan pintu kelas bagi yang terlambat. Jadi, aku harus bangun sedikit lebih pagi dari biasanya untuk mengejar kereta pukul 06.30 pagi. Oya, biasanya aku bangun jam 06.30 pagi. Ini sungguh menyiksa!

Karena tidak terbiasa, alhasil aku bangun jam 05.50! Panik, ya tentu panik. Aku pun akhirnya mandi dan berpakaian dengan alakadarnya. Namun hebat, aku masih bisa menaiki kereta jam 06.30 pagi itu.

Gerbong nomor 3. Ya Mars, aku ingat dimana pertama kali aku melihatmu. Gerbong nomor 3 kereta Ekonomi AC, Tanah Abang - Bogor. Pagi itu aku yang sedang kesal tiba-tiba tertegun melihat wujudmu yang duduk tertidur di depanku. Aku seperti melihat wujud hidup tokoh komik yang aku sering elu-elukan pada saat masih duduk di bangku SMP. Wujud sempurna pria idamanku. Badan tegap, bahu bidang, muka rupawan dengan kacamata tergantung dengan sempurna diatas hidungmu yang mancung, rapih. Ditambah dengan tas berwarna merah mencolok dan sepatu putih besar yang membuat pandanganku selamat 45 menit perjalanan kereta tersita olehmu.

Namun jujur Mars, pada saat aku melihatmu pertama kali, jantungku tidak berdegup kencang tidak karuan seperti sekarang. Hanya tertarik? Mungkin simpati? Ya, ya. Mungkin…. Yang pasti saat aku turun dari kereta itu aku kembali kesal dengan kewajiban bangun pagi ini, tidak ada wujudmu tersisa dalam otakku saat itu.

Aneh ya?

Salam hangat,

Venus



(diambil dari: http://venusdanmars.tumblr.com/ )

aku kangen kamu

aku kangen kamu.

aku belum pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung padamu dengan sungguh-sungguh. walaupun aku sungguh-sungguh merasakannya. sejak pertama kita kenal aku sudah sering mengatakan satu hal padamu. aku bukan tipe orang yang berterusterang. aku belum bisa mengatakan hal-hal semacam itu dengan gamblang di hadapanmu, menatap matamu. tapi satu yang kamu harus ingat, aku selalu menunjukkannya lewat perbuatan. perlakuan ku padamu. kamu tidak harus mendengarku mengatakannya, tapi lihatlah bahwa aku merasakannya.

aku selalu berusaha untuk mengatakannya padamu, tapi lidahku terasa kelu. apa kamu tau itu? aku selalu kesulitan bernafas ketika akan mengatakannya padamu. hanya sebuah pesan singkat tertulis yang bisa aku sampaikan. tapi pesan itu tertulis. kamu tidak bisa mendengar bagaimana gugup nya saat aku mengatakannya. kamu tidak bisa melihat wajahku yang tersipu saat mengucapkan kalimat singkat itu. kamu tidak bisa tertawa geli melihat ku salah tingkah, sepersekian detik setelah aku mengatakannya.

dan sekarang, saat aku merasa aku akan sanggup untuk mengatakannya padamu-karena aku sudah tidak kuat lagi memendamnya-kamu tidak bisa mendengarnya. kamu tidak memberiku cukup waktu untuk mengumpulkan kekuatanku sebentar saja. kamu terlanjur pergi. dan aku tidak sempat mengucapkannya.

aku menyesal belum sempat mengatakan kalimat itu dengan sungguh-sungguh padamu.
dengar, lihat dan rasakan dengan hati mu.

aku kangen kamu.


---Oleh: @



(diambil dari: giniginiajah.blogspot.com )

Surat Untuk Uwi

Selamat malam sayangku, Uwi.

Apa kabar dirimu,sayang?

Apa ceritamu hari ini? Pasti lagi sibuk ngurus si cantik ya? Sampaikan salamku untuk dia

Gosh, udah berapa lama ya kita eh aku maksudnya tidak menuliskan surat cinta untukmu? Tujuh tahun? Hihihihihi udah lama ya.

Sekarang aku telah menemukan yang baru, sudah tidak mencintaimu lagi. Tapi tidaklah mungkin aku melupakan kisah cintaku yang pertama. Yang terindah karena yg pertama.

Aku masih ingat senyumanmu ketika kita pertama kali kenal, kapan ya itu? Gosh!! It’s 13 years ago!!! You’re so lovely…

Aku masih ingat ketika kedua orang tuaku menggodaku agar kita menikah karena kau memegang tanganku setahun kita bertemu. Hahahaha… That old days..

Tapi kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku langsung tahu ketika kau memandang sepupumu dengan tatapan berbeda. Aku tahu itu cinta. Cinta fisik, bukan cinta persaudaraan yang kau selalu pancarkan kepadaku.

Kini kau telah memiliki si cantik. Aku langsung menyanginya ketika ia lahir.

Jagalah dia, sayangku. Meski bukan diriku yang bersamamu saat ini, tapi ku akan selalu mengirimkan rasa sayangku kepadamu…

Selamat malam sayang.

Tertanda,
Wanita yg pernah mencintaimu

-----

Kepada Manusia Kincir Angin

Dear kamu si manusia kincir angin,
Apa kabar? Masih jadi manusia kincir angin yang sering tertiup angin? Oh iya lupa, khusus kemarin dan hari ini, kamu sedang mengungsi di negeri bir. Mudah-mudahan seperti janjimu padaku, kamu ga akan jadi manusia bir. Cukup jadi manusia kincir angin saja ya
Hari ini Fukuoka cerah. Ada matahari lho. Tapi ya seperti biasa, mataharinya tidak sehangat atau semenyengat matahari Bekasi, Jakarta, Bandung, ataupun Jogja yang pernah kita kagumi sekaligus kita maki bersama. Kamu pasti kangen ya sama matahari yang hangat atau bahkan menyengat begitu? Sama, aku juga. Tapi, aku lebih kangen sama kamu lho. Sudah, jangan protes dan tersipu malu, kamu harus mulai biasa dengar kata-kata itu dariku sama seperti aku yang mulai belajar untuk bilang kangen dengan gamblang padamu
Benar ya rupanya kata orang-orang kalau sesuatu baru terasa berharga ketika sudah tak ada atau sudah tidak di depan mata. Ya macam rendang yang sering aku bahas ke kamu, yang selalu gagal aku buat atau macam matahari yang pelit berbagi cahaya di sini dan di tempatmu. Contoh lainnya itu macam kamu yang ketika jauh di sana malah sering ber-apparatus di kepalaku. Aneh ya?
Sudah nyaris Senin di sini, sementara di sana masih Minggu kan? Menurut ramalan cuaca, Senin nanti akan ada matahari, tapi suhunya cuma tiga derajat. Entah bagaimana di tempatmu nanti, jangan-jangan lebih dingin lagi. Mudah-mudahan tak apa, toh kita sudah mulai terbiasa. Untuk sementara ini, kita tahan dulu ya rasa kangen kita pada hangatnya matahari. Disabar-sabar dulu ya, kan sebentar lagi musim semi datang.
Aku kangen kamu. Untungnya sebentar lagi aku pulang dan kamu pun pulang. Sudahlah, kamu tak perlu repot bertanya aku mau dibawakan apa. Kamu cukup datang mengetuk pintu rumahku saja dan mari kita habiskan sore-sore kita yang singkat di beranda. Kamu juga tidak perlu khawatir kalau aku menyesal karena memutuskan untuk tidak menikmati musim semi di Fukuoka. Tak apa, aku lebih ingin kita merangkai musim semi milik bersamamu di kota tempat kita tumbuh dewasa
Nah, sudah ya, nyaris tengah malam di sini, besok aku kuliah pagi. Kabari aku kalau kamu sudah jadi manusia kincir angin lagi.
Fukuoka, 16 Januari 2010.
Dari Rise-yang-katamu-ga-manja, via notebook putih ber-wallpaper Klein Venetie darimu.

-----

Pos di Kala Malam

Dari Suara yang Tertiup Angin

Kepada Daun yang Berkibar di Peraduannya

Selamat malam kau yang kusayang,

apa kabarmu?


Sungguh hatiku berharap kau baik-baik saja.

Malam ini hatiku tak tenang, semacam kangen yang tak berujung.

Semacam firasat yang tak kunjung mengurung.

Bolehkah kubertanya cinta, apa yang sedang kau pikirkan?

Bolehkah ku memuluk kasih, kuingin akulah jawabnya.

Bolehkah kubertanya sayang, merindukah kau padaku?

Bolehkah ku meminta, kuingin iya lah jawabnya.

Ahh, ya aku lupa bertanya, apa menu makan malammu?

Sungguh aku tak perduli apapun itu. Yang sesungguhnya ingin kutanya adalah siapa yang sebenarnya kau ingini, untuk bisa berada di sana. Di sampingmu. Dan mungkin saja, diberi kehormatan menyampaikan satu suap nasi ke bibir merahmu.

Baiklah pujaanku, selamat malam.

Semoga indah mimpimu.

NB: Hei, bila tidak, beritahukan padaku, biar kudatangi dan kukecup ubun-ubunmu, biar kau mimpikan aku sahaja.

-----

Salam Rindu Untuk Pak Posku

Beberapa tahun terakhir degub jantung ini sudah tak seperti dulu, perasaan harap-harap cemas, kala menunggumu datang di depan halaman rumahku. Saat-saat kau datang bersama bebek usangmu dengan suara meraung, saat kau hadir dengan seragam jingga kebanggaanmu sambil membawa sepucuk surat dari tas kulit lusuh itu, dan melempar senyum yang dihiasi peluh, peluh yang penuh perjuangan mengunjungi satu pintu ke pintu yang lain.

Kini aku tak pernah lagi tergesa-gesa ingin sampai kerumah untuk menunggu kau datang mampir ke gerbang, sambil meneriakkan kata “POS!”. Suaramu kini tergantikan oleh nada peringatan di ponselku, warna jinggamu berubah jadi warna-warni banner iklan dalam surat elektronikku, bahkan senyummu kini ditukar oleh icon-icon lucu di yang menghias layar penampil.

Wahai Pak Posku, kemana kau kini, mudah-mudahan kau masih sibuk mengantar surat di kota yang padat ini. Mudah-mudahan kemajuan teknologi tak membuat bebek jinggamu menganggur, dan mudah-mudahan generasi ini masih mengenal dirimu.

Wahai pak pos sudah lama aku tak melihatmu, suara motor bebek tuamu juga tak pernah lagi mampir ke telingaku, Warna jingga kebesaranmu juga tak lagi menghiasi mataku.

Wahai pak pos sesungguhnya aku rindu suara teriakan mu saat kau antarkan secarik surat dari tas kain usangmu. Kini sengaja kukirim surat untukmu, agar kau datang lagi kerumahku, mengantar dan membalas surat ini untukku.

Salam hangat pak posku, salam rindu untukmu…..

---

Untuk Perempuan Terhebat

Kepada Yang Tersayang
Perempuan Bergelar Ibu


Assalamualaikum
Halo ibu, atau yang lebih suka kupanggil dengan sebutan mama. Bukan karena sok keren atau biar terdengar gaul, tapi memang panggilan itulah yang telah dibiasakan padaku sejak kecil, dan aku tidak ingin untuk menggantinya dengan panggilan lain.
Seringkali aku ingin bertanya, bagaimana sih rasanya menyandang gelar seorang ibu? Pasti berjuta rasanya. Gelar yang diperoleh setiap wanita tanpa perlu mendaftar di perguruan tinggi manapun, tanpa ujian skripsi, tapi justru ujian menghadapi kenakalanku dan adik perempuanku.
Ma, ada tidak syarat spesifik untuk menjadi seorang ibu? Adakah kriteria bagaimana cara menjadi ibu yang baik dan benar?

Aku tahu Ma, tidak ada buku yang mengulas teori menjadi ibu dengan benar-benar tepat, tidak satupun kursus mampu memberikan tips terbaiknya, menjadi ibu sejatinya datang dari hati. Begitu kan Ma?

Ma, usia kita terpaut lebih dari dua dekade. Sudah benar-benar generasi yang berbeda. Tak salah jika kita sering beda pendapat, sering beda pandangan, sering beda pemahaman. Rasa-rasanya seringkali kita tak sejalan, tapi bagaimanapun itu aku tetap menghormati dan menyayangi mama.

Ma, aku paling anti didikte, karena itu membuatku merasa masih dianggap anak kecil. Tapi aku tahu, betapa besar kekhawatiran seorang ibu, pada anak gadisnya yang sedang dalam proses menjadi dewasa. Pada godaan yang begitu banyak menerpa. Ah ya, aneh ya Ma, melihat betapa kita terkadang begitu mirip dan begitu berbeda dalam waktu-waktu tertentu.

Ma, Papa itu keren ya bisa memenangkan hatimu. Begitu beruntung pria satu ini bisa terpilih menjadi pendampingmu dari sekian macam seleksi ketat. Karena cintakah? Ha ha. Aku tahu aku tahu, pasti hanya Mama yang begitu mampu mengerti Papa, dan begitu juga sebaliknya.
Ma, bagaimana rasanya tahu bahwa akulah anakmu? Cukup memusingkan ya? Sama. Aku juga suka pusing dengan diriku sendiri. He he.

Jujur saja, aku selalu sedih saat tak sengaja berseteru denganmu. Apakah harus dengan begini kita menghadapi satu masalah. Kuharap tidak terjadi lagi untuk besok-besoknya. Dosaku sudah cukup banyak tanpa harus jadi anak yang durhaka. He he. Ma, mengertilah aku, sementara akupun sedang berusaha melakukan hal yang sama.

Ma, tidak cukup kata terimakasih untuk triliunan perhatian, cinta dan kasih sayang yang telah dilimpahkan untukku dan adikku. Bahkan bagiku kue saat ultah hanyalah sebatas simbol belaka. Ma, aku tidak suka berjanji karena takut tidak mampu menepatinya. Tapi ijinkan aku membahagiakanmu.

Semoga Tuhan selalu menjagamu dan membalas semuanya. I Love You My Super Mama


(diposting di www.anindita.posterous.com )

Dear Mantan Pacar

Hey, gimana kabar kamu? Aku tidak pernah berani menanyakan pertanyaan sederhana ini ke kamu. Aku tahu betapa banyak luka yang aku tinggalkan di hatimu. Percayalah, aku juga merasakan hal yang sama. Luka yang sama perih dan dalamnya. Aku tahu betapa bencinya kamu denganku sampai memutuskan untuk menjahit mulutmu daripada harus berbicara denganku.

Hari ini aku menyapamu karena aku ingin kamu tahu kamu adalah bagian penting dari hidupku. Kamu pelajaran berharga yang nggak akan aku dapatkan dari siapapun. Untuk setiap tawa dan air mata yang kamu berikan, aku ucapkan terima kasih. Tanpa kamu, aku nggak akan pernah belajar untuk kuat.

Kalau kita bertemu di jalan nanti, aku harap kamu tak akan mengunci bibirmu karena aku akan sangat senang hati mengobrol denganmu. Seperti dulu, jauh sebelum kita mengucap cinta. Saat kita masih menjadi sahabat.

Kamu tahu, aku kangen kamu. Kangen jadi sahabat kamu seperti dulu. Dan kalaupun keadaan tidak bisa menjadi seperti semula, kamu tetap sahabat yang baik buatku. Kita pernah baik dan aku harap begitupun nantinya.

Jadi, apapun jalan hidupmu saat ini, semoga sukses buat kamu. Kalau kita bertemu nanti, aku akan beranikan diri menanyakan langsung, “Apa kabarmu?”. Aku tahu kamu pasti sudah bahagia, begitu pun dengan aku.

Oh ya, salam buat pacarmu, ya. I love seeing you both happy and this time I pray that it’ll last forever.

(Pernah Jadi) Sahabatmu,

Naomi.


( diposting di http://naomitobing.wordpress.com )

Selamat Malam, Pacar..

Bandung, 14 Januari 2011

Di Jum'at Malam---Malam Sabtu yang tidak begitu dingin



Tidak perlu diawali dengan pertanyaan "Apa kabar" kan setiap kali menulis surat?

Baru saja kamu bilang sudah lebih dulu mengantuk dan ingin beranjak bermimpi lebih dulu, ya lewat pesan singkat di handphone selagi saya mendengar alunan Owl City di laptop acakadut saya. Namun anehnya saya belum mengantuk sama sekali, padahal saya seharusnya sudah beristirahat dan kembali menyulam benang alam bawah sadar. Mungkin terlalu banyak tidur kali ya, ah mungkin saja. Padahal saya masih dalam tahap awal massa pemulihan dari virus yang menyerang saya minggu kemarin, Campak Jerman alias Morbili.

Saya yang tidak cukup bisa menahan emosi dalam menghadapi suatu cobaan, dinetralkan oleh kamu, yang sangat sabar dan menunjukkan kepada saya bahwa tidak ada gunanya marah-marah.

Kamu tahu? Saya takut kamu ninggalin saya gara-gara kemarin saya terbaring karena satu penyakit itu. Terdengar konyol atau entah apa lah itu, tapi saat fisik saya mulai berubah dan kondisinya tidak lagi nyaman dilihat, nyatanya kamu masih mau bertemu dan menunggui saya walaupun saya sakit dan tidak banyak berbicara. Mungkin bisa dibilang kamu hanya membuang waktu menemani saya. Tapi kamu tahu, itu yang membuat saya makin yakin sama kamu. Bahwa hubungan kita memang terbentuk bukan karena ketertarikan fisik semata, toh buktinya saat saya super jelek dan tidak sisiran seminggu pun kamu masih mau bertemu saya.

Saya sudah cek lewat browsing sana-sini. virus yang menyerang saya itu menular. Dan kamu pun tahu itu. Saat semua yang menjenguk saya menjaga jarak dan bertanya-tanya akankah menulari mereka, kamu malah foto-foto sama saya dari jarak yang sangat dekat. Jujur, saat itu saya takut banget kamu ketularan. Mungkin kamu juga ada perasaan takut tertular, tapi terimakasih dengan tidak menunjukkannya kepada saya yang masih dalam kondisi rapuh ini

Kebayang kan kalau ada orang sakit tapi pacarnya engga mau jenguk karena takut ketularan dan malah menjauh? sakit pasti rasanya. Terimakasih sayang, kamu rela menghabiskan waktu kamu menjaga dan menemani saya di rumah (saat demam saya sedang tinggi-tingginya) dan saat saya dirawat di rumah sakit. Kamu ingat betapa tidak rapinya penampilan saya saat itu? Dengan baju seadanya. Tanpa make up, tanpa berdandan. Murni penampilan saya apa adanya. kalau orang lain yang lihat mungkin langsung ilfeel dan enggan bertemu saya lagi. Apalagi dengan ruam-ruam merah disekujur badan saya yang membuat saya gatal ingin menggaruknya sampai akhirnya muka saya megar-megar (mengelupas) karena sudah melewati tahap demam yang tinggi. Sempat ragu mengizinkanmu menjenguk saya di ruang RGB lantai 2 no 208 itu, Yang ada dibayangan saya kamu langsung pingsan dan lari ketakutan waktu liat saya. Tapi terimakasih, sekali lagi, karena menerima saya apa adanya saat sehat dan sakit. Kehadiran kamu cukup meringankan orang tua saya yang engga tau harus minta bantuan siapa lagi.

Diantara semua hal yang kamu lakukan waktu saya sakit, Saya paling inget: terlalu sering mengingatkan kamu cuci tangan. Jangan lupa cuci tangan yang bersih sebelum ngapa-ngapain. Nah, kamu suka paling males kan ngelakuin yang satu ini? Padahal kamu sendiri tahu cuci tangan itu penting. Tapi coba sayang.. jangan disepelekan ya. Saya cuma engga mau kamu sakit---kayak saya.

Nah satu lagi, pake sendal. Kalau habis dari kamar mandi atau cuci tangan kenapa sih suka lupa pake sendal? Takutnya ituloh di kamar mandi kan engga sebersih penglihatan kita. Ada ini itu, nah kalau pake sendal kan setidaknya bisa memperkecil kemungkinan ditempeli bakteri atau sebangsanya... hiiiiii takut kan? :p makanya jangan lupa pake sendal kalau mau ke kamar mandi dan jangan lupa cuci tangan sebelum ngapa-ngapain.

Makasih atas semua perhatian yang kamu kasih. Predikat orang tersabar emang engga salah kalau dikasihin ke kamu , My Panda Bear


( diposting di http://piazakiyah.blogspot.com/ )

letter’s intro

o whom it may concern,

to whom my heart belongs.

this is a challenge for me, to participate on @perempuansore ‘s hashtag #30harimenulissuratcinta. but too many things i wanted to say, that you couldnt hear from your side of the walls. the walls you’ve been building thick and tall with dissapointment and regret.

last night, i screamed my heart out to you, and you listened. but after that night, both my nerve and my voice had ran out. only anxiety, curiosity and never ending questions left unsaid, following by your silence. you didnt even react, scream back, let alone climb the walls and go get me. so, like a soldier who’s lost his war, i retreat, i forfeit.

but still,

too many things i wanted to say, so maybe from today to the next 29 days, this is how i’m gonna do it. i hope somehow, someway, you’ll read this. who knows? maybe now, today, next 2 weeks, or later after i finished this, maybe after we’re together eventually, or after we’re friends eventually.

bottom line is, i’m gona show you this pack of 30 letters. it’s yours anyway, from the moment i thought about what to write, then wrote it, erased a little, add a little, smiley-faced a little, enter, then push the ‘create post’ button. all yours.

so, anyway, gotta go. one last note,

someday it would be me saying this to you, not writing it staring at my computer screen.

until then ;)



---Oleh: @


(diambil dari: www.diantra.tumblr.com )

Teruntuk cinta …

Selamat malam, cinta.
Ini adalah surat pertamaku. Akan ada banyak surat yang nanti aku kirimkan untukmu.

Bisa aku bayangkan, saat ini kau pasti sedang tersenyum-senyum kecil.

Hey, hentikan.
Kau belum puas membuatku mati rindu? Rindu akan senyum peri kecil termanis yang pernah aku lihat itu.
Satu yang perlu kamu tau, cinta. Aku ingin senyum itu untukku.
Boleh ya?


Ini adalah surat pertamaku. Akan ada banyak surat yang nanti aku kirimkan untukmu.
Selamat malam, cinta.

Salam, pencinta wajah pagimu.


( diposting di http://coretantakbercorak.tumblr.com/ )


Sepucuk Surat di Atas Meja

Aku tau seberapa siang kau terbangun sayang. Ini surat pertama yang aku buat, sedikit tergesa memang aku menulisnya. Bahkan aku hampir tak tau harus menulis apa atau bagaimana menyampaikan perasaanku kedalam barisan aksara. Kali ini aku biarkan jemariku bercerita.

Janjiku, aku tak akan hilang atau setidaknya menjaga hubungan denganmu. Iya, tanpa masa lalu, kau tak perlu mengingatkan. Kekhawatiranmu tak beralasan sayang, karna aku memang untuk masa depan, untukmu, bukan pemuja masa lalu seperti sebelumnya.

Aku tak suka kata perpisahan, maaf aku tak membangunkan. Aku tak mau kau melihat punggungku yang tak lagi bersayap ketika meninggalkanmu. Sayapku tertinggal bersamaku wahai bidadariku.

Ketika surat ini kau baca, mungkin aku sudah berada di bandara. Tak perlu menelponku, aku ingin mendengar suaramu pertama kali di tempat tujuanku. Maaf kertas ini sedikit basah dibagian akhir, beruntung kau tak melihat air mataku terjun bebas melintasi pipi yang biasa kau kecup mesra ketika terbangun. Melihatmu dengan wajah lugu ketika tertidur pulas membuatku tak tahan meniunggalkanmu, tapi ini cita-citaku. Cita-cita untuk bisa hidup bersamamu, bahagia kuharap.

Sampai jumpa sayang. Kecup rindu, kekasihmu.

Aulia.

Nb: Surat ini bau tubuhku yang biasa kau cium setiap pagi.

----

(diambil dari www.auliasoemitro.wordpress.com

I Miss You, Grandpa

Dear Opung, 57 hari sudah.


57 hari sudah kami lewati tanpa kehadiranmu.
Dalam 57 hari terakhir, ada banyak sekali yang terjadi.


Di antara 57 hari ini, ada Natal pertamaku bersama keluarga setelah 4 tahun tidak pulang…
Sekaligus Natal pertama dalam hidupku tanpamu.


Entah apa aku harus bahagia atau sedih merindu.


Opung, ingat tidak, dulu kau selalu berjanji akan datang di hari wisudaku.
Dulu setiap kita bicara di telepon, kubilang “Opung jaga kesehatan, biar nanti bisa ke Jakarta wisuda vivi”.
Dan kau jawab, “Iya, nang. Opung datang nanti…”
Maaf Pung, aku gagal.
Aku tak bisa wisuda di waktu yang kurencanakan.
Seandainya aku bisa cepat menyelesaikan studiku, mungkin masih bisa kau lihat aku memakai Toga kebanggaanku.
Maaf Pung…
Maaf…


Malam itu, saat kulihat kau terbaring lemah dengan bantuan alat pernafasan, aku hancur.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan malam itu. Tapi aku malah diam, hanya mampu menggenggam tanganmu dan mengelus pelan kepalamu.
Aku… Benci perpisahan.
Benci sekali.


Opung, bagaimana kabarmu di sana? Betah tidak?
Tuhan memperlakukanmu dengan baik kan?
Makan enak tidak?
Jangan makan yang pedas dan bersantan, Pung, ingat maagmu. Eh, tapi di Surga tidak ada penyakit ya?
Baguslah…


Tapi di Surga juga tidak ada kue buatanku, Pung…
Yang dulu selalu kau puji.
Tidak rindukah mencicipinya lagi?
Ah, pasti kue-kue buatan Surga jauh lebih enak ya?
Baguslah, Pung.


Aku rindu. Rindu sekali.
Aku rindu suara beratmu itu. Aku rindu wibawa yang terpancar dari wajahmu. Aku rindu nasehat-nasehatmu. Aku rindu suaramu. Sangat rindu.


Kau tahu, Pung?
Hans kemaren usil menirukan suaramu. Ketika aku sedang memasak di dapur, terdengar suara berat khasmu memanggil…
“Twelvi…”
Aku menoleh cepat. Kaget dan rindu.
Ternyata dia. Ah… Dia tahu kakaknya ini rindu sekali suaramu.


Opung…
Aku rindu sekali.
Biarpun dulu kita tidak sering saling bicara, karena kau tak suka bicara, tapi semua pesanmu kuingat baik-baik.
Aku sangat kagum padamu, Pung.
Di lemarimu banyak sekali buku-buku yang membuatku haus ilmu.
“Apa dan Mengapa”. Kumpulan seri pengetahuan. Ah, aku bahkan ingat aroma kertasnya sampai sekarang.


Ingat tidak, waktu aku kecil, kau sering mencabut gigiku dengan benang.
Kau bilang hanya lihat, lalu saat aku lengah, kau cabut dengan kuat.
Ah…


2 tahun lebih kita tidak bertemu ya, Pung. Kenapa tidak bilang kau mau pergi?
Tahu begitu aku pulang lebih dulu.
Kau pasti tahu kan? Pasti tahu.
Orang sepertimu pasti selalu ditemani malaikat kemana-mana.
Kenapa tidak beritahu aku?
Curang…


Ingat pintu lemari yang rusak di ruang tamu?
Terakhir katanya kau sedang sibuk mengukir kayu jati, meniru pintu lemari itu.
Kau, lelaki terhebat yang pernah kukenal. Banyak akal.
Tapi, belum selesai, Pung.
Ukirannya baru separuh.
Itu pekerjaanmu yang belum selesai, Pung….


Aku rindu, Pung.
Aku ingin kelak ayah dari anak-anakku memiliki wibawamu.
Susah ya tampaknya?
Langka.
Dapat yang setia saja sudah untung.


Opung.


Aku…


Rindu.



(diposting di http://twelvifebrina.wordpress.com/)

Teruntuk Kamu, Spesial Dariku

Hai, apa kabar? ya kamu. Fokus terbesar masa kiniku.
Lama juga rasanya bagiku, ketika kuingat kembali terakhir kali pesan darimu sampai ke ponsel mungilku. Setiap kali, pesan yang menjerit kencang dengan musik romantis dari band favoritku itu datang, hatiku melonjak senang. Andai kamu tahu itu.

Dan sekarang, aku, melalui barisan kata-kata ini hanya ingin menuliskan apa yang menyiksa hatiku kini. Menumpahkan raungan hati yang cedera karena terjatuh dalam lupur cintamu. Mendeskripsikannya dengan bahasa rinduku, berharap jika kamu sempat membacanya, kamu akan sadar bahwa perhatian-perhatian kecil yang kamu berikan, entah itu sengaja atau tidak, telah membuatku jatuh hati berkali-kali padamu dan sering. Bahkan, bayangmu kini tak lepas menghiasi alam mimpiku dengan indahnya, menambah rindu yang berlarut-larut dan membuatnya semakin pekat saja.

Kamu. Deskripsiku akanmu memang sungguh sederhana, sesederhana hatiku yang mendambamu setiap hari. Jika kenyataan menghendaki aku mati oleh suatu hal, mungkin aku akan mati karena dirimu. Aneh bukan? Tapi mungkin saja, jika naluri telah berada di luar logika.

Lihatlah, betapa racunmu kini sudah mulai bekerja dalam urat nadiku, mengalir deras dengan rindu dan pujian pada makhluk keturunan adam sepertimu.

Dan jika kamu memang tidak tahu, aku punya malu mengungkapkan apa yang kurasa padamu, andai saja mulutku tak bergetar kaku, andai candaanku semudah dan sama lancarnya saat kita berbincang-bincang ringan melalui udara, sungguh, kata-kata ini akan mengalir dari bibirku sepenuh hatiku jika kamu pernah bertanya sekali saja padaku apa yang kupunya untukmu. Aku punya kata-kata ini

“I Love You”

Kepada kamu, yang memberiku getaran rasa yang mengganggu, rindu yang mencandu dan mengguncang imanku.

-----

Rencana Tuhan

Dear Kekasih,

Ketika membaca surat ini, mungkin kau akan tersenyum geli melihat betapa sentimentilnya aku :).

Aku tahu banyak hal yang membuat kita berbeda, tentu kau menyadarinya. Banyak hal yang membuat kita terasa jauh. Bukan hanya ribuan hasta jarak yang membentang antara kau dan aku.

Kalau ada yang bisa aku hapus, aku ingin menghapus semua hal yang membuat kita berbeda. Jarak ini ingin aku hapus, agar aku bisa selalu menemui wujudmu. Usia ini, ingin aku samakan, agar orang tua kita senantiasa merestuinya.

Namun kasih, setelah aku pikir kembali, apakah kita akan tetap saling mencinta apabila keadaannya berubah? Bukan kah kita sedang menjalankan rencana Tuhan. Jadi aku tidak akan mengeluh tentang keadaan yang kita alami. Mungkin dengan perbedaan ini kita bisa saling mengisi satu sama lain. Oh betapa baiknya Tuhan :).

Kekasih, mari kita menjalankan rencana Tuhan ini dengan baik, sebaik-baiknya yang kita bisa. Aku percaya kau disana akan menjaga cawan cintaku, seperti aku yang memelihara cinta ini.

Kekasih, bila kau telah membaca surat ini, katakan padaku bahwa kau mencintai ku :)

Salam,

Pemujamu

----

Pengakuan Resmi


Hai Arjuna,
Tak keberatan kan jika aku sebut seperti itu?
Satu, karena aku memang menyukai Dewi Srikandi. Wanita gagah berani dengan bekal panah Hrusangkali di tangannya.
Dua, dan karena aku jatuh cinta pada Dewi Srikandi, sudah dapat dipastikan bahwa aku juga akan jatuh cinta pada nama Arjuna.
Untuk itu, kau akan ku panggil Arjuna.

Oh ya, jangan terlalu memasukkan dalam hati perihal banyak mitos yang berkembang tentang Arjuna dan Srikandi.
Ahli sejarah banyak yang mengemukakan bahwa Srikandi melakukan segala cara untuk mendapatkan Arjuna,
termasuk merebutnya dari hati orang lain.
Tapi Srikandi yang ini berbeda.

Hanya jatuh padamu dalam diam.
Dalam segenap bunga matahari yang mekar dalam hati.
Dalam segerombolan kupu-kupu yang terbang menyesakkan perut.
Dalam pipi yang bersemu merah.
Diam-diam.

Jangan pernah bertanya kapan pula kita pertama kali bertemu.
Itu adalah permainan semesta.
Dimensi waktu kita disinggungkan tanpa pernah aku rencanakan.
Tanpa pernah kamu rencanakan.
Tanpa pernah kita rencanakan.

Satu yang pasti, kita hanya pernah bersua wajah dua kali.
Tapi itu cukup bagiku. Untuk merekam betapa tegasnya garis wajahmu.
Atau betapa pelitnya senyumanmu.
Iya. Kamu sungguh-amat-sangat-pelit untuk tersenyum.
Dan juga pelit berbicara.

Tapi kemudian, siapa yang peduli?
Jika hati yang jatuh padamu?

Ah. sudahlah.
Lebih baik aku menyudahi saja surat ini.
Sebelum jantung ini copot saking banyak berdetak tak karuan.


Aku,
Dewi Srikandi.


PS: Jangan marah, jika aku jadi lebih sering memperhatikanmu. diam-diam.

----

(diposting di www.thewayofntiezlife.blogspot.com)