Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #7. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2011

day #7 : open

hey you,

i understand that you’ve hurt so many times it’s not funny anymore. but please do understand that i’ve hurt too. and i know it’s not funny. nobody’s laughing. we all know how it feels. we all feel the same.

but you know what makes us different? how we handle things from there. i got up, took my suitcase, and live my own sometimes miserable-sometimes happy life. hurt again, trust again. sad again, happy again. you, how you handle it? how you handle your heart? it’s fragile, i know, but no need to close every single access to it, to its breaking again, and healing again, and finally, happy again.

by closing your heart, you’re closing the opportunity to be hurt, and also to be happy again. stop doing that. i want you, i want your heart. but in return, i give you happines.

so,

hey you,

please open your thesaurus or google translator and read this. that’s the first thing you need to do before you open your heart.

after that, i’m gonna be here, waiting.

:)


---Oleh:


(diambil dari: www.diantra.tumblr.com )

Untuk Diriku di tahun 2016

Kepada: Dini Ramdhaniar
Di tahun 2016.

Hai, diriku di tahun 2016!
Bagaimana kabarmu eh kabarku? Ah, rasanya aneh ya menulis surat cinta untuk diriku sendiri. Memanggil ‘mu’ yang ternyata diriku sendiri. :D
Sudahlah tidak usah dibikin rumit, nantinya kamu akan tahu kenapa aku menuliskan surat cinta ini, setelah selesai membaca tentunya. :)
Aku harap kamu sedang dalam keadaan baik dan sehat ketika membaca surat ini. Ya, tentu saja aku berharap diriku akan senantiasa sehat dari hari ke hari, dari tahun ke tahun.


Bagaimana tahun 2016?? apakah banyak yang berubah?? Rumahku masih di rumah yang sama kan?? Kantor tempatku bekerja juga masih sama?? Atau jangan-jangan aku sudah pindah kerja?? Masih di Indonesia atau sudah di luar negeri, seperti yang selalu aku impikan di tahun ini?? Bagaimana dengan seseorang yang sekarang mendiami hatimu?? Apa dia masih orang yang sama, yang sedang menjadi pacarku sekarang?? Atau jangan-jangan aku sudah menikah?? Punya anak kembar 3 ?? Apa belum juga menikah?? Ah semoga tidak ya! Semoga aku sudah bersama seseorang yang akan bersamaku setiap malam kujelang waktu tidur dan setiap pagi setelah aku pulang dari dunia mimpi.. Amin..


Aku mungkin akan tergelak sendiri membaca surat ini nanti.. Toh, aku akan mengalaminya juga dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku diatas tadi. Hihihi. :))
Lima tahun akan terasa singkat, aku rasa sekarang bumi berotasi lebih cepat. Tapi aku tidak ingin hal-hal penting di tahun ini maupun tahun-tahun depannya begitu saja terlewat.
Diriku sayang, sekarang baru saja memasuki pertengahan bulan Januari di tahun 2011. Begitu banyak yang terjadi dalam lima tahun ke belakang semenjak aku lulus SMA dan mengantarkan aku pada diriku yang sekarang ini. Susah senang yang kualami membuatku sadar banyak hal-hal yang harus tetap disyukuri dan dikoreksi.
Sekedar mengingatkanmu nanti, beberapa topik yang sempat ramai di timeline Twitter adalah hal-hal berikut ini:
1. Presiden di Indonesia masih SBY, wakil presiden Boediono
2. Gayus Tambunan sang mafia pajak divonis 7 tahun penjara! HANYA 7 TAHUN penjara!!
3. Indonesia menjadi runner up Asean Cup (moment indah menonton semifinal liga 2 di GBK bersama si pacar ♥ )
4. #MalaysiaCheatLaser
5. You know me so well, oh I heart you SM*SH! Boyband unyu dari Bandung.
6. Keong Racun, racun youtube ala Sinta Jojo
7. Gamaliel Tapiheru!!!
8. Blockberry ala Tiffie
Dan lain-lain yang tidak sempat aku jabarkan semua disini. Aku bahkan tidak tahu, social networking apa yang akan booming di tahunmu nanti. Apa twitter, Tumblr dan Facebook masih seeksis sekarang? Sekarang sih Blackberry Messenger sudah mulai unggul dari Yahoo! Messenger. Entah 2016 nanti, fasilitas chatting macam apalagi yang akan disuguhkan dunia teknologi.


Aku masih Dini yang keras kepala, sayang. Dini yang kurang peka? Hm, bisa tidak bisa juga ya. Dini yang masih ingin selalu membahagiakan orang2 yang ia sayangi dan Dini yang masih bersama pria yang ia sayangi setengah mati. :D
Ups! Untuk lelaki yang ikut membaca surat ini di sebelahku nantinya di tahun 2016, tolong jangan cemburu dulu ya! Percaya pada hatimu dan percaya pada hatiku. Siapapun kamu, orang baru atau orang dalam surat ini. :)


Diriku sayang, aku menuliskan surat cinta ini bukan hanya gara-gara hasutan @perempuansore di proyek #30HariMenulisSuratCinta-nya melainkan untuk mengingatkanmu akan beberapa hal. Jika sedang merasa terjatuh, ingatlah untuk tidak selalu mengeluh. Semua akan baik-baik saja dan percayalah bahwa diri ini akan dapat melewatinya dengan sebaik-baiknya.
Jika sedang merasa senang jangan lupa untuk senantiasa bersyukur pada Tuhan. Tanpa izinNya, kamu tidak akan memiliki apa yang kamu miliki sekarang, termasuk orang-orang yang menyayangimu dan juga kamu sayangi. Bersyukurlah karena kehadiran mereka di hidupmu membuat hari-hari kamu lebih berwarna. Berterima kasihlah pada mereka yang selalu membantu dan berada disisimu dalam suka dan duka. Mohon maaflah pada mereka yang secara tak sengaja ataupun sengaja kamu lukai hatinya.


Sekarang kamu mengerti kan apa yang maksud di surat ini. Surat cinta untuk diriku sendiri. Untuk mengingatkan aku untuk selalu bersemangat menjalani hidup, senantiasa bersyukur dan instropeksi diri karena aku sangat berharap aku di tahun 2016 nanti sudah berubah jauh lebih baik dari diriku sekarang.

“Yesterday is History,
Tomorrow is a Mystery,
Today is a Gift,
That’s why it is called Present..
-Kungfu Panda-“


Salam sayang selalu untukmu,
Tertanda


Dini Ramdhaniar (Januari, 2011)



---Oleh:


(diambil dari: www.berceloteh.tumblr.com )

Surat Untuk: Galau (Yang Tak Pernah Aku Adopsi)

Kepadamu yang sibuk wara-wiri tak jelas dipelataran waktuku. Seolah-olah aku menganggapmu saudara. Kenapa selalu kembali? Sebagai ziarah panjang keheningan. Semacam skenario langit dan bumi untuk membuatku kacau. Hampir menyentuh batas risih. Aku tak butuh! Ih... iya deh aku jujur. Sorry, aku ulangi. Bisa ya, bisa tidak. Tergantung caraku menghadapi pilihan. Tetapi, aku tak ingin melulu bicara soal cinta. Aku hanya ingin mensyukuri tiap perjalanan. Seperti yang pernah kubaca dari buku tetangga, ia menulis: “ Jika cinta datang berkali-kali di dalam kehidupan seorang manusia, maka bersyukurlah ia yang dijauhkan dari tak punya rasa dan tak punya naluri bercinta.

Lalu, kini, kamu datang bersama kegelapan mengelilingiku hanya karena sebuah cinta. Apa akan kubiarkan saja? Tidak. Aku minta, bawa aku menuju gradasi terang. Kirimkan aku benang-benang halusmu agar bisa merangkak keluar. Aku memang butuh merenung. Tapi tidak sekarang!


---Oleh:



(diambil dari: www.percakata.blogspot.com )

Si Tukang Pos Bersayap Itu!


Hey, apa kabarmu ?

Apa sayap patahmu sudah tumbuh kembali ?

Seperti kataku di hari yang lalu aku akan mengirimu surat (friendship not love) untuk mu.Dan itu pasti.

Ini surat pertama yang ku kirim untuk mu. Walau terasa sangat aneh bagiku (mungkin juga untuk mu). ya, ini memang Aneh !. karena aku tidak tau siapa dirimu begitu pun kau tidak tau persis seperti apa aku. Lancang sekali ya diri ku nekat mengirimi mu surat. :)

Baiklah, mungkin aku harus memperkenal kan dulu siapa aku, agar kau tahu.

Langsung saja ya, namaku ahmad yani :) , umur ku bisa dikatakan terpaut jauh dari mu. 17 tahun. Aku masih sangat muda untuk berurusan dengan #30HariMenulissuratCinta ini. Tapi, Ah..Sudah lah itu juga bukan masalah, bukan ?.

Jujur saja akhir-akhir ini aku suka mengintip profil twitter mu (@ekaotto) pun miniblog tumblr mu (http://sisayappatah.tumblr.com) entah mengapa itu jadi kebiasaan ku belakangan ini, apalagi setelah mengetahui ternyata kau itu juga memiliki pekerjaan yang sangat mulia (bagiku) sebagai Tukang Pos.:)

Sumpah !. itu pekerjaan yang sulit lho„

Kau dan kedua temanmu Mudin Em dan Perempuansore masih tetap bersedia mengirimkan surat kami (para pengirim). Aku salut pada kalian. ^_^

Satu persatu dengan sabar kau membaca surat yang di mention ke twitter mu dengan perlahan penuh cinta dan perasaan. Emosimu pasti naik turun saat membaca semua surat-surat cinta itu. iya kan ?

Kelihatannya kau juga tidak mau kalah dengan mereka (para pengirim). Buktinya,surat cintamu di hari ke-5 “Hey Gats!” menjadi surat terfavorit.

eh..kau tau tidak suratmu itu membuat banyak orang merasa iri dengan persahabatan yang kau jalin bersama Raden Gatot Prabowo, termasuk aku yang selama ini kurang mementingkan peran penting sahabat dalam hidup ku,sepertinya aku harus berguru padamu. heheh

Di ujung surat ku ini ada satu hal yang ingin ku tanyakan!

Ini tentang sayapmu. Apa benar kau memiliki sayap ? persisnya sayap yang sudah patah :)

Itu sedikit terdengar aneh di telingaku. kau memiliki memiliki sayap.

Layaknya manusia biasa yang aku tau tidak ada sayap yang di titipkan Tuhan di pundak Manusia. Apa mungkin kau Bidadari ya ?. sudahlah lupakan saja.

Sepertinya kita harus bertemu agar aku bisa melihat langsung sayapmu atau pun kalau memang sayap itu sudah patah setidaknya aku bisa melihat di bahumu ada bekas luka yang pernah di tumbuhi sayap.

Kalau ada waktu kita bisa bertemu, kan ?

Salam kenal dariku untuk mu siTukang Pos Bersayap Patah.

-See You.


---Oleh:


(diambil dari: www.ibongbolong.blogspot.com )

Kepada waktu yang tidak dapat dihentikan..

Selamat malam, waktu..

Perkenalkan, ini aku manusia yang gemar mempermainkanmu. Mungkin kamu akan marah, karena aku mempermainkanmu. Marah aja.. kamu berhak kok.

Bukan apa-apa.. saat ini saja, aku ingin memohon kamu membawaku kembali ke September 2006. Di mana kamu mempertemukan aku dengan keluarga baruku di kampus. Aku kangen masa-masa itu, waktu. Masa-masa kami baru melepas seragam putih abu-abu kami dan memasuki bangku kuliah.

Kamu tau gak, waktu. Ada yang ingin aku ceritakan kepadamu, empat tahun sudah (kurang lebih) aku menghabiskan senin sampai jumatku bersama teman-teman kampusku. Kuliah, berorganisasi, nongrkong juga di kampus, sampai-sampai, rumah/ kos udah kayak hotel, cuma mampir tidur sama mandi. Sekarang ketika kamu mengharuskan kami untuk berpisah dan melanjutkan apa yang jadi impian kami masing-masing, mengapa itu terasa berat ya, waktu? Kamu membuat empat tahun itu terasa menyenangkan, bahkan terlalu menyenangkan.

Empat tahun berlalu, banyak cerita berwarna-warni, berasa macem-macem: pait, asem, manis, asin. Banyak rasa yang aku habiskan bersama mereka. Bahkan akhir-akhir ini, kami masih punya ‘cerita spesial’ yang layak dikenang. hahahaha. Banyak canda tawa, terkadang juga ada tangis, tapi tidak banyak. Terlalu banyak ketawa kalo sama mereka. Aih, bahkan saat ini kamu membuatku merindukan mereka.

Dear, waktu yang tidak dapat dihentikan..
Sudah deh, sekarang berjalanlah ke depan, aku sudah siap. Aku sudah tidak akan memintamu kembali ke tahun 2006. Tapi kamu harus berjanji satu hal padaku. Janji, suatu hari nanti kamu akan mempertemukan kami kembali. Janji ya, waktu. Harus! Aku mohon padamu. Selipkanlah beberapa jam-mu agar kami bisa bertemu.
Terimakasih waktu..

Salam,
Manusia yang gemar mempermainkanmu.


---Oleh:


(diambil dari: www.citracerita.tumblr.com )

Surat Bagi Sang Kata

Dariku, perancang kata amatir yang belum bisa membedakan antara kata KAMU dan SEGALANYA.


Untukmu, kata. Kata yang..ahh sudahlah..


Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu (kata) adalah duniaku.


Aku tidak pernah merasa bahwa kata adalah bagian hidupku.


Aku, selintaspun tak pernah berharap kata kan jadi masa depanku.


Hai Yang Mulia Kata, sudikah kau mengambil aku menjadi perangkai maknamu?


Sudikah kau mampir ke otakku lalu perlahan turun ke hatiku?


Sudikah kau melekat denganku seperti saat kau melekat pada Shakespeare?


Kata, sudahkah kau melayang ke pikiran seseorang hari ini? Sudahkah kau terbersit di pikiran seseorang?


Boleh aku bertanya?


Mengapa kau biarkan kak Zarry menenunmu jadi emas yang bisa menyentuh hatiku?


Mengapa kau biarkan kak Rahne pergi mandi, lari-lari kecil, pun setengah terlelap sambil terus merangkaimu?


Mengapa kau biarkan kak Eka dan kak Twelvi mendzolimimu, merangsang otakku, alih-alih membuat rangkaian dirimu tanpa embel-embel ukuran BH, nungging dan segala jenis dirimu yang menunjukkan betapa kinky dan galaunya mereka. :-| Ya mereka adalah orang seperti itu. Bisa kinky bisa galau. Perpaduan yang aneh. :-|


Mengapa kau biarkan SihirHujan dan RacauanHujan menyihirku, meracaui hidupku, mengobrak abrik hatiku dengan menggunakan rangkaian dirimu?


Mengapa kau biarkan kang Wandy menggalau dengan rangkaianmu tanpa lihat waktu dan tempat?


Tapi, mengapa aku tidak kau biarkan sekalipun?


Dulu aku bertanya-tanya, namun kini aku mengerti karena kau telah membisiki aku, membisiki hatiku.


Kak Zarry mencintai kata sehingga tiap kata yang dilontarkannya dapat menjadi sesuatu yang hidup. Sesuatu yang menelusup ke hatiku dan melahirkan kata yang baru. Dan kali ini, menjadi kataku.


Kak Rahne mencintai kata dengan sederhana sehingga tak dibutuhkan kata yang terlalu tinggi untuk merangkai setiap jalinan indahnya. Sudah indah bahkan tanpa komentarmu sekalipun.


Kak Eka, yang mencintai Pak Otto, mencintai kata karena dengannyalah Ia bisa berkangen rindu dengan Pak Otto. Karena dengannyalah ia bisa menggambarkan kerinduan tingkat tingginya pada salah satu dari dua makhluk yang berjasa menghadirkannya di dunia ini.


Kak Twelvi, yang selalu punya teori untuk cinta, yang selalu galau karena cinta, yang selalu punya cinta untuk diberi, yang akhir-akhir ini baru kehilangan ‘Opung’ yang dicintainya, membutuhkan kata-kata untuk dicintai. Karena lagi-lagi, kata adalah bentuk ungkapan rindu cinta yang terbesar dan terindah.


Kak SihirHujan yang Aku-Tak-Pernah-Tahu-Namanya dan RacauanHujan yang Aku-Juga-Tak-Tahu-Namanya memiliki kesamaan. Mereka mencintai kata karena satu-satunya yang tepat menggambarkan kecintaan mereka pada hujan adalah kata.


Kang Wandy? Jangan ditanya. Dia mencintai kata, aku juga. Karena itulah kami jadi seperti ini sekarang. Kami kakak adik yang tak sedarah namun sekata.


Aku berharap kakak-kakak sekalian memandang kata dengan cara yang berbeda dariku namun tetap dengan satu tujuan. Yaitu hasil buah pikiran kita.


Terimakasih kata, karena bila kami mengenal satu sama lain itu karenamu. :)


Salam  manis dari aku, gadis perawan kinky yang masih suci belum ternoda dan tak mengalami gangguan jiwa sedikitpun. ;)


Ciao.


:)


(dikirim oleh @kasihelia di http://kasihelia.tumblr.com/post/2843260607/surat-bagi-sang-kata-20-january-2011)

Surat Cinta #6: Untuk Doda

Kepada yang tersayang Doda.


Hai Doda, apa kabar kamu sekarang? masih bertubuh kurus, berambut keriting dan bermata sendu. Ah, kamu sekarang juga pasti sudah dewasa. Sama seperti aku, bukankah kita seumuran. Tiga tahun dari sekarang kita akan berumur 30. 

Apa kamu masih tinggal di dinding kamar rumah Kudamati? Aku merindukanmu Doda. Kamu masih ingat pertama kali kita bertemu, aku lupa waktu itu aku umur 6 atau 7. Aku anak kecil yang terlalu aktif, aku paling tidak suka disuruh tidur siang.

Kalau disuruh tidur siang, aku selalu menghadap ke dinding. Lalu aku suka berbisik-bisik. Menirukan suara-suara, seperti sedang mengobrol. Kadang aku menjadi anak kecil, orang dewasa, ibu-ibu, siapa saja yang aku mau. Semacam bermain drama dengan diriku sendiri.

Lalu di sana, pertama kali aku melihatmu di dinding. Kamu tersenyum kepadaku. Rambutmu keriting dan gondrong. Dalam hati aku bertanya, kenapa rambutmu gondrong, padahal anak seumurmu kan harus pergi ke sekolah. Memangnya anak seumurmu tidak sekolah.

Tapi, akhirnya aku mengerti sepertinya kamu memang tidak pernah sekolah. Lalu kita bermain. Seingat aku, kamu punya rumah kecil di dalam dinding itu. Kamu lalu mengajak aku bermain di dalam dinding. Kita sering bermain drama Mama Papa. Kita sering bercerita bersama. Kita sering tertawa-tawa.

Sejak mengenalmu tidur siang selalu menyenangkan. 

Aku selalu suka tidur siang sebelum waktunya, supaya bisa bertemu kamu Doda. Sampai suatu hari, aku melihat mata sendumu itu tampak sedih sekali. Sedikit berarir. Bahumu berguncang-guncang. Aku tak tahu kenapa?

Kamu hanya pamit, bilang mau pergi.

Lalu aku ingat, aku bilang kepada Kakakku June “Ne, Doda mau pulang.”

Sejak itu, aku tidak pernah melihatmu lagi. Kemana kamu Doda? Kamu masih tinggal di dalam dinding? Atau mungkin sekarang kamu sudah menikah dan punya anak-anak yang lucu-lucu.

Aku kangen kamu, Doda.

(dikirim oleh @perempuansore di http://perempuansore.blogspot.com/)



Untuk Seseorang di masa lalu

Menginjakkan lagi kakiku ke kota ini membuatku teringat lagi padamu. Tepatnya menguatkan ingatanku, karena aku tak pernah melupakanmu. Kota ini telah banyak berubah, kemacetan mulai terlihat dimana-mana. Tidak seperti dulu, ketika kita masih senang berkeliling kota dengan motor bebek kesayanganmu. Masihkah motormu itu berganti warna setiap minggu? Bahkan hingga kini aku masih tergila-gila pada motor berkopling seperti milikmu, meski sebenarnya motorku sama sekali bukan motor berkopling. Yah, aku menambahkannya sendiri.

Aku melewati lagi jalan yang dulu sering kita lalui, dan kenangan tentangmu semakin meracuni pikiranku. Aku sempat mencari penjual ayam goreng dan pecel lele langganan kita dulu, dan aku cukup senang mengetahui bahwa tempat itu masih ada. Masih ramai seperti dulu, meski bangunannya sudah banyak berubah. Rumah kosmu dulu pun masih di tempat yang sama, di depan rumah kosku tepatnya. Melihatnya lagi sempat membuat dadaku sesak. Bahkan aku masih bisa mengingat dengan jelas setiap detail di rumah itu.

Sebenarnya, aku ingin sekali bertemu denganmu, sekedar untuk memastikan lagi tentang perasaanku. Tahukah kau, aku pernah merasa begitu menyesal ketika menyadari bahwa kau ternyata sangat berarti? Kau pernah bertanya mengapa kita dulu berpisah, dan sungguh, akupun tak tahu jawabannya. Bukankah kita tak pernah mengakhiri hubungan itu?

Mungkin suatu saat nanti, ketika kau atau aku membaca lagi surat ini, kita sudah bisa melepaskan keping-keping ingatan yang mengganjal. Setidaknya tidak sesakit ini lagi ketika mengingatnya.

Tak lupa kuucapkan selamat, bukankah tak lama lagi kau akan melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihanmu?



… dari seseorang di masa lalumu …


(dikirim oleh @IsyiaAyu di http://isyiaulfa.wordpress.com/2011/01/19/untuk-seseorang-di-masa-lalu/)

Kepada sahabat.


Selamat Malam Sahabat.
Peluk sayang untukmu.
Apa kabarmu?. Berbulan tak bertemu, aku merindumu. Entah apa kau akan membaca surat ini, atau membuangnya. Aku harap hatimu menuntun tanganmu untuk membuka surat ini, dan menuntun matamu untuk membacanya. Semoga.

Andin, buatku persahabatan kita begitu berharga. Saking berharganya aku mau kita seperti dulu. Yakinlah.
Aku mau kita yang dulu, yang bicara tentang apa saja. Aku mau kita yang dulu, yang tak pernah sungkan untuk saling minta tolong. Aku mau kita yang dulu, yang dikira banyak orang saudara kandung.

Tolong. Bicara dengan hatimu. Apa aku sahabatmu, apa aku orang yang mengenalmu semenjak kita main ayunan di taman kanak-kanak tega mengkhianatimu?.
Tolong Ndin, berpikirlah. Simpan dulu emosimu.
Maaf kalau aku boleh bilang, Cintamu padanya membutakan mata, hati dan pikirmu. Kamu serupa tak kenal aku lagi.

Aku akui aku pernah berbohong. Aku akui aku bukan orang suci yang tak pernah bohong. Tapi untuk ini, aku tak mungkin bohong, Ndin.
Sayangku, padamu membuatku menceritakan semua padamu. Aku tak rela sahabatku dimiliki lelaki "sakit" seperti itu.

Kalau boleh aku cerita lagi. Hari itu, lima bulan lalu. Dia ,pacarmu, tiba-tiba datang ke apartemenku. Hari itu aku tidak kerja, flu berat. Dan dia datang membawa bubur ayam kesukaanku, katanya darimu.

Aku percaya, Ndin. Setengah jam berselang. Dia tiba-tiba menarikku dari kursi tempatku duduk. Memelukku erat. Aku berontak, Ndin. Di robeknya baju tidurku. Di angkatnya aku, dibanting di tempat tidurku. Di tindihnya aku. Aku berontak. Sekuat tenaga aku berontak, dia ternyata sangat kuat. Tiba-tiba dia lengah, aku lari ke pintu. Di tariknya kakiku, aku merayap menggapai pintu. Dan seseorang mengetuk pintu apartemen. Penolongku. Dia kakakku yang datang menjenguk.

Dia kelabakan dan langsung lari. Andin, kamu boleh tanya kakakku, bagaimana rupaku saat itu. Hanya karena aku tak mau ini jadi panjang, aku menolak usulnya untuk melaporkan dia ke yang berwajib.

Jadi Ndin, maafkan aku. Semua yang kau pikir tak benar. Aku tak pernah menggodanya. Menyimpan nomor telponnya pun tidak.
Meminta maaf ini bukan karena aku salah. Tapi karena aku ingin kita tetap sahabat. Kita tetap saling sayang. Yah, karena kusayang kamu, aku minta maaf.

Aku kehilanganmu, sangat. Kumohon, Ndin. Maafkan aku.
Karena aku menyayangimu juga, maka aku rela kau menghapus namaku dari daftar sahabatmu, jika itu membuatmu bahagia, aku rela kau hapus. Aku rela.
Yah, karena aku sayang kamu.


Dariku.
Sahabatmu.
Dengan Sayang


---Oleh:


(diambil dari: www.amaachmad.blogspot.com )

Kamu yang Hijau

Dear Hijau,


Senang melihat kau ada di ruangan kantor ini. Tepat berada 45 derajat dari mejaku. Jadi aku bisa langsung mengarahkan pandangan ke kamu :). Entah apa pikiran si Boss sampai akhirnya 4 hari ini kamu berdiri tegak disitu. 


Aku senang melihatmu, ketika aku bosan dan mata ini lelah menatap layar pc. Aku segera menoleh padamu, berkeluh kesah padamu dan kamu tetap setia mendengar keluhku. Tanpa marah tanpa komentar ~ tak terbayangkan kl kamu berkomentar hihii


Aku senang melihatmu, tubuhmu yang kokoh dan aku paling suka hijaunya daunmu. Sungguh aku menyukai hijaumu wahai tanaman penghias ruang kantor :)


Ah sudah dulu surat untuk mu, aku malu kau menatapku terus :). Lain kali akan aku tulis surat lagi untukmu. Selalu hijau ya hijauku :)


Salam,


Tetanggamu


Ps: Ini kenapa jadi nulis buat pohon???


(dikirim oleh @pramesvhari di http://mooiemeid.tumblr.com/post/2836228113/day7-kamuyanghijau)

Sepupuku Sayang

Dear Andre,


Udah lama ya kita nggak ngobrol panjang lebar. Terakhir kali ketemu di awal tahun kemarin tapi kita nggak sempat ngobrol panjang lebar waktu acara tahun baruan keluarga. Kamu udah capek pulang kerja dan aku udah ngantuk. Jadinya kita cuma ngobrol ringan sambil nonton TV dan nggak lama kemudian sama-sama ketiduran.


Kita udah dekat dari kecil, ya. Rumah kamu dan aku lumayan dekat. Kamu sering naik sepeda dari rumahmu ke rumahku cuma untuk mampir minum susu dingin yang harusnya aku minum. Jadi tiap kamu datang, aku udah wanti-wanti supaya nggak minum susuku. Kamu nyebelin banget, sih, waktu itu.


Kita makin dekat waktu aku pindah ke rumahmu karena orang tuaku dipindah tugaskan ke luar kota. Waktu itu kita masih SMA. Aku tinggal di rumah selama 2,5 tahun. Karena kita seumuran, di rumah aku paling dekat sama kamu. Tiap malam pasti kita menghabiskan waktu berdua untuk ngobrol dan curhat. Aku sering curhat tentang teman-temanku dan kamu curhat tentang betapa banyaknya cewek di sekolah yang naksir kamu. Uuh, kamu tuh emang narsis banget!


Inget nggak waktu pertama kali kamu jadian? Kamu tiap hari ngomongin cewek ini mulu. Tiap hari dengerin lagu  bertema cinta dari Dewa 19. Yah, mirip orang yang pertama kali jatuh cintalah. Tapi aku nggak suka sama pacar kamu. Dia beda agama dari kamu dan itu bisa jadi masalah buat kamu nantinya. Jadi aku tiap hari cerewet sama kamu supaya kamu nggak jatuh cinta terlalu dalam. Lagipula, aku merasa cewek ini nggak cukup baik buat kamu.


Ternyata bener kan, dia selingkuh dengan sahabat baik kamu sendiri. Aku ingat waktu itu kita baru pulang dari bimbel. Kamu nggak mau pulang ke rumah karena stres mikirin pacar kamu yang selingkuh. Jadi kamu ngajakin aku ke mall. Aku ingat muka kamu tegang banget dan kamu nggak banyak ngomong. Saking stres-nya kamu mual dan muntah di mall. Sebenernya waktu itu aku kasihan, sih, tapi kalau diingat-ingat sekarang, kamu aneh banget waktu itu. Masa bisa sampai muntah di mall. Bikin aku panik aja. Ini celaan yang akan berlaku seumur hidup buat kamu. Hihihi.


Aku juga ingat pertama kali merokok. Ih, aku sebel banget sama kamu. Kamu kan tahu aku nggak suka asap rokok. Akhirnya aku cuekin kamu aja kalau kamu masih merokok. Jadilah kamu merokok di belakangku. Habis jadi bau tahu kalau merokok gitu. Aku sepupu yang bawel ya pasti. Hehehe.


Kamu itu emang sepupu yang suka aku cela, tapi kamu pasti tahu kan kalau aku sayang kamu. Males sih sebenarnya mengakui ini. Tapi ya udahlah, asal jangan kamu paksa aku buat ngomong langsung aja, ya. Hehehe. Kamu kan tahu aku orangnya gengsian banget. Tapi kamu tetap sepupu paling asik, kok, buat aku. Makanya kalau aku sering cerewet banget soal pacar-pacar yang kamu pilih, itu karena aku pengen kamu dapetin yang terbaik. Ehm, sebenernya aku nggak terlalu suka sama pacarmu yang ini, habis dia jutek sama aku. Tapi kayaknya kamu cinta banget ya sama dia. Untuk kali ini aku nyerah, deh, dia emang cocok buat kamu.


Setelah aku pindah ke rumahku, kita udah jarang hang out lagi. Kangen banget! Makanya setiap ada acara keluarga aku pasti nyariin kamu biar bisa ngobrol dan cela-celaan kayak dulu lagi. Ayo dong, kita ngumpul dan cerita-cerita lagi. Kamu pasti nggak sabar pengen tahu berita terbaru dari aku, kan? Aku juga begitu soalnya. Kita ketemu di hari ulang tahunku, ya. Kali ini aku traktir kamu, deh.


Oh ya, karena ada kamu, masa di mana aku tinggal sendirian jauh dari orang tua jadi nggak begitu sulit lagi. Makasih, ya. (Jangan suruh aku ngulang ucapan ini lagi. Hehehehe).


Sepupumu yang paling manis,


Naomi.


(dikirim oleh @NaomiTobing di http://naomitobing.wordpress.com/2011/01/20/sepupuku-sayang/)

Mengingat Perjumpaan Lama

Hai, lama sekali kita tak bertemu. Seingatku, kita terakhir berpapasan kala perjumpaan komunitas digital di malam hari itu. Saat itu pun kita tak sempat berbicara banyak. Jumlah tatapan kontak mata kita saja masih bisa kuhitung dengan kedua tanganku. Kala acara selesai, kita juga tak sempat berbicara banyak, karena malam sudah meninggi, dan kita semua harus kembali ke peraduan masing-masing.


Bagaimana dengan dirimu sekarang? Masihkah kamu seperti saat kita bertatap mata pertama kali dulu? Masihkah kamu menyukai cokelat dan bakso? Ah, tak mungkin kamu melupakan dua makanan favoritmu itu. Bahkan, mungkin kamu sedang menyantap salah satunya sekarang. Aku ingat dulu sempat mengajakmu mencari suguhan bakso yang menggugah selera, namun ajakan itu tak kunjung terlaksana. Aku bertanya-tanya, apakah kalau aku mengajakmu sekarang, kamu masih tertarik untuk menerimanya?


Seperti biasanya, aku selalu terkesan banyak omong dan tanya-tanya. Ya, ya, biarkan saja kalau kamu menganggapku seorang yang kepo dan penasaran. Sebagai pengobat rasa kangen dan mengingat kembali karakter dirimu di pikiranku, nggak salah dong kalau aku rajin bertanya? Lagi pula kamu (mungkin) senang kalau aku memberikan kesan perhatian.


Kamu pasti masih menjadi penggila kopi dan rokok. Dua benda yang tak bisa lepas satu dengan lainnya. Seperti perkataanmu sendiri dulu, akan percuma mengajakmu untuk berhenti merokok, karena seperti para perokok lainnya, kamu pun sadar kalau itu berbahaya. Aku ingat kamu sempat cerita kalau para perokok lebih baik diajak untuk beraktivitas sehat. Biasanya ajakan seperti ini malah akan menarik perhatian, dan menggerakkan diri untuk mau mencoba, daripada mendengar orang melarang-larang kamu merokok. Mudah-mudahan sejak terakhir kita bertemu, kamu pun sudah mulai banyak berolahraga di alam luar ya.


Kapan-kapan kita sempatkan untuk lebih banyak bertemu yuk. Makan bakso (atau apapun yang menyenangkan) sembari berdiskusi tentang topik favoritmu, pemasaran digital. Siapa tahu kita bisa saling belajar dari pengalaman masing-masing.


Mungkin itu dulu. Ingatanku terlalu pendek untuk mengarsipkan kepingan memori perjumpaan dan percakapan kita sebelumnya.


Salamku untuk keluarga di rumahmu ya!


(dikirim oleh Pitra di http://laindunia.media-ide.com/2011/01/20/mengingat-perjumpaan-lama/)

Untuk Biyu

Hai Biyu!


Sumpah, aku kangen sekali sama kamu! Kapan terakhir kita ketemu? November tahun lalu? Ah, sudah lama sekali. Kenangan tentang kamu selama lima tahun kebersamaan kita masih lekat sekali di kepalaku.


Semoga keadaanmu baik-baik saja. Terbayang sekarang tubuhmu yang sudah dimandikan, cat birumu berkilauan, olimu yang sudah diganti, larimu yang mulus kencang, kulitmu yang sudah disemir, kabinmu yang wangi. Biyu, sudah dibawa kemana saja kamu oleh pemilik barumu? Terakhir dia kasih kabar, kamu sempat dibawa keliling Jawa. Wah, bangganya aku mendengar ceritanya itu. Kamu memang hebat! Waktu dulu sama aku, paling jauh kita ke pantai indah Bayah di Banten, ya? Enam jam aku tak lepas di balik kemudimu dari Jakarta.


Terlalu banyak memori bersamamu yang sebenarnya ingin kusimpan dalam kotak perhiasan, lalu kuhias pita-pita. Akan kubuka sekali-sekali saat aku rindu dan ingin mengenang hari-hari kita. Sesungguhnya, kamu pernah jadi bagian berharga sepanjang masa penuh perubahan dalam hidupku. Keputusan untuk melepasmu pun akhirnya kuambil dengan penuh pertimbangan, karena akhirnya aku harus kembali melakukan langkah besar dalam perjalananku di dunia. Ya, aku mohon maaf karena tidak bisa mengajakmu ikut aku pindah ke pulau yang menakjubkan ini.


Biyu, perpisahan kita untuk kebaikan, bukan? Kamu tahu, sampai kapanpun posisimu di hatiku tidak akan tergantikan. Sudah saatnya aku melangkah dengan pilihan-pilihan baru yang kutemukan di setiap persimpangan, yang artinya, mungkin harus merelakan satu-dua kenangan agar bisa maju ke depan. Waktuku bersamamu sudah sampai di ujung jalan. Kamu dan pemilik barumu akan menjalin persahabatan, yang kuharap seindah yang pernah kita rayakan.


Baik-baik ya, Sayang. Jangan rewel sama sahabat barumu. Kali lain aku tulis surat lagi. Semoga saat itu kamu masih ingat aku yang dulu suka habiskan waktu berjam-jam di bengkel hanya untuk kamu.


Tiup kecup,


Aku.


(dikirim oleh @Miyaa di http://literaturdiatasranjang.blogspot.com/2011/01/30harimenulissuratcinta-hari-tujuh.html?zx=8471f10789ccc721)

Ini Bukan Juminten

Dearest Papah,

Did you know sometimes I hate the way you treat me like a little daughter. And sometimes I don’t know the way you love your children. I can’t feel your love, dad. Maybe my love radar is under maintenance.

I also feel a lil’ bit jealous with all my friends who have their dad like their best friend. because we are totally NOT a best friend. There’s a border-line you draw between our relationship. It’s a father-daughter line (in your version, of course). Like, I can’t “go there”. I must “stay here”. And my dream is just a dream to you. :(

Funny thing, there’s one thing that always in my prayers; I want my future husband can be close to my future children, just not like you. Amen for that.

But, above all dislike things you have..

I feel grateful, you are my Dad, who gave me the unfailing faith and support throughout my time in school. And for pushing me to be the best I could be. Thanks, Dad.

And I want to make you proud having me, cause I know my hate can’t compete with my love for you.

Love you, Dad.

-Si Bungsu-

PS: I also pray for your joy & healthiness.


---Oleh:


(diambil dari: www.juminten.tumblr.com )

Kepada Biem Si Pria Kecil Berkacamata

Dear Sigit…


Sigit apa kabar lu? Sehat sejahtera kah? Lama gak pernah ketemu. Udah jadi org siibuk sih. Bukan cuma gue yang kangen git, anak-anak yang lain juga pada kangen ama lu. Lu bagai hilang ditelan bumi ajah gitu. Tiap kita kumpul di bulan November, lu pasti sebisa mungkin menyiapkan ribuan alasan untuk gak gabung bareng gue dan anak-anak. Lu beneran sibuk ya..


Masih ingat 10 tahun yang lalu, november tahun 2000 saat pertama kali kita dan anak-anak semua spontan mengikrarkan kisah persahabatan kita dalam nama Walnoet..yang entah sampai sekarang pun gue gk begitu ngerti kenapa dinamakan itu. Sigit lu kemana aja sih? Kita kangen sama lu git, kangen keceriaan lu git, kangen sosok lu yang penuh semangat dan optimis.
Gue kangen november-november bareng lu git, kangen lu bicara di setiap bulan november, potong kue, tiup lilin bahkan.


Gimana cara merangkul lu kembali? Apa gue dan anak-anak pernah buat lu kecewa atau sakit hati git? Kalau iya maaf sekali ya git, mungkin kita terlalu egois saat itu..
Gue yang seharusnya minta maaf ama lu git, maaf gue yang pernah berulah, yang sempat mengacaukan gue dan elu. Yang menjadikan anak-anak berfikir gak logis lagi. Maaf gue pernah marah sama lu 2 tahun yang lalu. Gue marah karena gue peduli sama lu, mungkin terdengar omong kosong atau apapun itu, tapi gue takut lu jatuh saat itu, mungkin cara gue yang kasar atau apapun lah. Gue sayang lu git, sayang sekali, gue gak mau sahabat gue kenapa-kenapa. Maaf git kalau kemarahan gue menyakiti hati lu. MAAF…


Apa yang harus gue lakuin buat lu kembali menjadi elu seperti dulu, mengembalikan keceriaan lu lagi, mengembalikan kekonsistenan elu akan “KITA” “WALNOET”..
Perayaan terakhir lu juga gak datang, padahal peluk gue menunggu. *sigh
Please,,,kita semua ingin lu balik git!!! Terutama gue, gue gak bisa gak peduli sama lu, gue sayang lu git.


Peluk cium gue buat lu git
-niya walnoet-


PS: I love you Git-Biem, Decay, Eca, Abang, Panji, Ubun, Rohmat,Dany, Emma, Acit, Ifat, Tine…


(dikirim oleh @neeyaisme di http://niyajothi.wordpress.com/2011/01/20/day7-kepada-biem-si-pria-kecil-berkacamata/)

Aku Ingin Jadi Manusia Pelupa

Mungkin Tuhan masih ingin mengingatkan aku, bagaimana rasanya tidak mendapatkan sesuatu yang kuinginkan. Selama dua puluh empat tahun hidup, aku terbiasa mendapatkan apa pun yang kuinginkan. Lalu kamu. Kamu datang, merusak tatanan hidupku.


Entah kapan terakhir patah hati begini. Aku pun tak yakin apa memang ini yang disebut patah hati, atau ini hanya masalah ego yang terluka ketika tidak dilayani.


Aku ingin memiliki kamu. Sebegitu besar keinginanku. Dan sebegitu pula sulitnya memiliki kamu, meski sebenarnya aku, kamu, punya perasaaan yang serupa. Karena ternyata cinta dan logika ternyata bukan teman sepermainan yang akur. Aku sangat sadar, mempertahankan ini semua hanya menegaskan egoku yang setinggi gunung dan sekeras batu. Tidaklah adil untukku, kamu, dia, dan dia, jika kita bersikeras bersatu. Bahkan mungkin Tuhanmu dan Tuhanku pun tak setuju. (Ah, tidak! Tuhan kita sama, tapi kita mencintaiNya dengan cara yang berbeda)


Aku pun jadi menyesali, kenapa tidak terlahir jadi manusia yang cepat lupa. Aku ingin cepat lupa semuanya. Semuanya. Tatapan kamu. Puluhan misscall, sms, message di inbox Facebook-ku, percakapan telepon yang konyol dari mejamu ke mejaku. Malam-malam panjang dengan percakapan setengah sadar. Tawamu, suaramu di ujung telepon. Ciuman pertama kita di Kaliurang malam itu. Jalanan Jogja yang basah oleh hujan esok harinya. Getar tanganmu, yang dalam diam menggenggam tanganku di bawah meja. Kecupan manis di keningku, yang kaucuri pada suatu pagi di kantin kantor. Tanganmu yang menggenggam erat rambutku setiap kali kamu menciumku. Muka bangun tidurmu saat mengantarku pergi di Stasiun Tugu. Bunga mawar putih yang kamu bawa dalam tas plastik hitam. Dan sekarang, ketika aku tak bisa memilikimu, aku ingin lupa. Aku ingin jadi manusia yang cepat lupa. Seperti kamu.


Malam ini, ketika aku bergulat melawan kenangan tentangmu, aku pun harus tersiksa membayangkan dia bersamamu. Padahal nanti ketika aku bersamanya, berjuang mengembalikan perasaanku kepadanya, kamu mungkin sudah lupa. Lupa semua debar yang selama enam puluh hari pernah kita pelihara.


Mungkin kamu nggak tahu. Mungkin seharusnya kamu nggak perlu tahu. Tapi, aku ingin kamu tahu. Aku hancur berantakan. Aku seperti vas bunga yang tak sengaja kamu senggol, jatuh, pecah, serpihannya tercerai berai entah ke mana. Lalu ketika dicoba direkatkan kembali, bentuknya tak lagi utuh, bagiannya tak lagi lengkap, tak seindah sebelumnya.


Tidak ada yang bisa dipersalahkan selain diriku sendiri. Mungkin, di tengah malam itu, dalam perdebatan kita yang emosional, aku seharusnya mengiyakan ajakanmu. Untuk melupakan logika, menghabiskan sisa hidup kita bersama. Tapi apa aku mau? Menjadi keputusan hidup yang kau buat tanpa akal sehat?


Iya, aku tahu, sudah berlalu semuanya. Sudah terlewati momennya. Janganlah mengkhawatirkanku, karena aku akan baik-baik saja. Belum, tapi akan. Sekarang, biarkan aku belajar menirumu, untuk jadi manusia pelupa.


(dikirim oleh @kaeshanata di http://suduthati.tumblr.com/post/2840462926/aku-ingin-jadi-manusia-pelupa)

hari ketujuh: kutunggu

Jangan lupa, nanti malam kutunggu kamu di tempat biasa. Di dalam mimpiku. Daripada kamu selalu datang tak diundang, lebih baik kita janjian. Biar bisa direncanakan kita mau kemana dan ngapain. Dan aku juga lebih siap ketemu kamu.
Kamu masih hapal jam tidurku kan? Datanglah sekitar waktu tidurku. Terlambat sedikit tak apa. Aku pasti menunggu. Tapi jangan lama-lama ya. Kamu kan tahu aku selalu tidur menjelang pagi. Kita punya waktu setidaknya tiga atau empat jam saja. Paginya aku masih harus ke kantor.
Lain ceritanya kalau akhir pekan. Kita punya waktu tak terbatas. Aku bisa bangun sesukaku. Kamu boleh datang jam berapapun. Senangnya.
Ingat ya, nanti malam!
PS: oh ya, tak usah ajak kekasihmu yang baru. Dia tak perlu tahu, ini hanya antara kita.


(dikirim oleh @peggybunny di http://ht.ly/1rZXTO)

YTC

YTC:
Bapak H Widodo Santoso,
Di Hatiku


Assalamualaikum Bapak sayang, apa kabarnya di pulau seberang?
Ah aku rindu rasanya ingin pulang, bantu-bantu di warung, berdiri di belakang meja kasir sambil menghitung uang.


Bapak sayang, sudah seminggu ini aku ngirim-ngirim surat cinta loh, buat si anu sama si itu. sampai sekarang belum ada surat yang berbalas sih, tapi gakpapa, toh bukan itu tujuannya kan Pak? Kalo tujuannya begitu, artinya anak Bapak ini genit, dan Bapak pasti gak suka itu kan? makanya hari ini surat cintaku buat Bapak aja dueh.


Bapak sayang, aku tidak terlalu suka hari ini, seperti aku tidak suka jeansku yang basah karena hujan, seperti aku tidak suka jerawat di balik poniku, dan seperti aku tidak suka pertanyaan dari Bapak tentang pernikahan. Semua terasa mengganggu.


Bapak sayang, jangan marah dulu. Aku tidak bermaksud mengatakan Bapak mengganggu, oh gak sama sekali Bapak sayang, aku gak mau jadi anak durhaka. Hanya saja pertanyaan-pertanyaan itu mulai mengusik. Tidak bisakah kita santai saja Bapak sayang? tentunya Bapak juga gak mau dapat mantu yang seadanya kan, hehe..


Bapak sayang, jangan khawatir, semoga penantian Bapak akan mantu yang pinter tidak sia-sia. Itu kan yang Bapak mau? seorang mantu yang pinter. Aku masih ingat pesan Bapak yang satu itu, ketika aku sungkem Lebaran kemarin. Santai aja ya Bapak sayang. Orang pinter bertebaran dimana-mana, pasti tidak susah mendapatkan satu saja. Tetap berdoa untuk putri-mu ini, semoga selalu berhasil dengan langkah-langkah impulsifnya :) 


ps: peluk cium sayang untuk Ibu yang pasti sudah tertidur


Love,
Putri


(dikirim oleh @putrisantoso di http://bukukuning.tumblr.com/)

Untuk Kekasih Bertas Kecil

Tepat hari ini, seminggu yang lalu aku meninggalkanmu sepucuk surat diatas meja. Meninggalkanmu yang tengah tertidur pulas di pagi itu. Kini aku terperangkap rindu yang kubuat sendiri dengan merangkai jarak menuju cita-citaku. Kita menjaga waktu untuk terus berjalan bersama kita yang terpaut jarak. Kau tau aku rindu. Aku ingat malam sebelum aku meninggalkanmu, kita menikmati lampu-lampu sepanjang jalan yang kau bilang berwarna senja. Untukku terlihat seperti ular naga yang bersinar. Kau dan senyummu malam itu, terpatri sempurna, terpajang dihalaman pertama ketika aku membuka jurnal harianku di dalam kepala. Taukah kau, aku selama disini merasa asing. Jemariku tak lagi menemukan kata yang cocok selain rindu.

Aku tau kau tak pernah mau membalas suratku karna malu, tak terbiasa menulis katamu. Apa bedanya dengan sms yang biasa kau kirim? Mungkin ini lebih panjang. Aku tau kau lebih suka membaca dibandingkan menulis, dulu akupun begitu. Menikmati harum dan suara gesekan kertas setiap membuka halaman baru. Tapi kali ini aku menulis,belajar menulis, menulis surat untukmu. Surat pertamaku seminggu yang lalu, yang katamu selalu kau bawa kemanapun bersama surat-suratku setelahnya untuk kau baca saat rindu denganku atau untuk menertawakan setiap kata yang kau bilang bersuara. Aku rindu kau. Aku membayangkan kau membawa semua suratku didalam tasmu saat berpergian, bagaimana dengan sebulan lagi. Berpuluh-puluh surat kau bawa didalam tasmu. Sepertinya kau harus membeli tas yang lebih besar haha. Atau aku harus berhenti mengirimimu surat seperti ini? Tapi sepertinya tidak mungkin aku berhenti menulis surat untukmu. Aku mulai ketagihan menuliskannya untukmu, menulis surat sambil membayangkan perasaanmu dan perubahan ekspresi wajahmu saat membacanya. Itu membuatku tersenyum saat menulis surat untukmu. Aku bahagia denganmu walau harus seperti ini, berpisah jarak.

Sampai disini dulu suratku. Selamat malam kekasihku, selamat makan malam.

Kekasih yang bahagia bersamamu

Aulia.

Nb: Apakah kau masih mau membaca surat-suratku?


---Oleh:


(diambil dari: www.auliasoemitro.wordpress.com )

Pak Presiden, tolong! Si Angie PINGSAN!

Jakarta, 20 Januari 2011


Kepada Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia,


Selamat pagi Pak!

Pak Presiden, pagi ini saya mau minta prihatin, ga banyak kok, sebungkus aja cukup, yang penting ikhlas. Duh.. Pak Presiden, tolongin dong.. bener deh, saya udah ga tau lagi mesti minta tolong sama siapa… :(

Pak Presiden, ini temen saya Angie Andhika, dari jam 07:35 WIB ga bisa dihubungin, saya curiga dia pingsan. Aduh Pak bagaimana ini, si Angie itu perantau, dia sendirian di kota apel hijau. Aduh...dia tuh temennya cuma ikan, saya khawatir banget. Tolongin saya Pak!

Pinjami saya helikopter Pak, atau beliin saya tiket pesawat buat ke tempat si Angie, atau kalau ga kirimi saya ajudan Bapak yang jago ngebut buat nganterin saya ke kontrakannya si Angie, tolong Pak, urgent banget ini…. Saya butuh prihatin Bapak dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya. Sekarang.

Pak, kemungkinan surat ini sampai ke tangan Bapak pukul 11:00 WIB, gimana saya bisa yakin? Ah.. Bapak ga perlu tau, jelasinnya nanti aja, kalau saya udah berhasil ke tempat Angie.

Jadi gimana nih Pak? Saya bisa dapat kepastian sebungkus keprihatinan Bapak kira-kira jam berapa? Saya ga bisa nunggu lama-lama. Kalau sekiranya memang ga bisa dapet prihatin dari Bapak, saya mau melanjuti kasus Angie ini ke Mister Obama aja! Tapi masa Bapak tega sih, ngebiarin rakyatnya minta bantuan asing? Emangnya Bapak ga malu nanti kalo sampai PBB, CIA, FBI tau? Makanya, ga ada pilihan lain, Bapak harus wajib mesti bantu saya.

Pak, saya tunggu sampai pukul 12:00 Waktu Indonesia Bagian Cempaka Putih, kalau Bapak tidak merespon surat saya, jangan harap tahun 2014 nanti saya milih Bapak!

Iya, ini surat ancaman, saya serius.Beri saya prihatin buat bangunin si Angie yang hari ini harus penelitian buat skripsinya atau saya pindah warga negara nih!


Ok, sekian surat (cinta?) saya, saya tunggu banget banget banget balasan dari Bapak. Saya janji kalau Bapak kali ini tolongin saya, saya akan larang si Angie begadang lagi, biar dia ga susah dibangunin dihari penelitian skripsinya. Biar dia cepet lulus dan ga jadi perantau lagi. Biar saya ga ngerepotin Bapak lagi, kalau Angie udah Sarjana dan balik ke Jakarta, saya jadi lebih gampang bangunin dia tidur.

Pak Presiden, makasih banyak udah baca surat saya.

Empat kali empat sama dengan enam belas, kalau Bapak tidak cepat, si Angie pasti bakal bablas. Tolongin ya Pak!



Salam Prihatin,

Temennya Angie yang dari jam 07:35 WIB sampai sekarang terus mencoba ngebangunin Angie melalui PING!!! Blackberry Messenger.


NB: nih..liat deh Pak, saya cuma takut si Angie Pingsan... :'(

" Angie..bangun napa... katanya mau cepet-cepet jadi Sarjana.. :| "


---Oleh:


(diambil dari: www.sisayappatah.tumblr.com )