Minggu, 16 Januari 2011
Hari Kedua
Sabtu, 15 Januari 2011
Untuk Pelangi
Dear my rainbow,
Sore ini aku sedang menikmati udara sehabis hujan.
Kutatap langit di atas sana. Tapi pelangi tidak muncul.
Ah, pelangi selalu mengingatkan aku pada dirimu.
Dirimu yang indah, namun muncul dan menghilang begitu saja.
Meski muncul menghilang, aku tak pernah menyesali hadirnya dirimu di langit hatiku.
Bagaimanapun, dulu kau mampu mewarnai langit hatiku, yang kelam tersiram hujan.
Terima kasih, untuk saat-saat indah kita dulu.
Aku takkan pernah lupa bagaimana kau selalu mengingatkanku untuk beribadah.
Kau imam yang sangat baik, pelangiku sayang.
Kau tidak menyuruhku, tapi kau mengajakku, mengimamiku.
Aku tak akan pernah lupa damainya sehabis beribadah bersamamu,
kemudian aku akan mengecup tanganmu, dan kau kecup keningku.
Pelangiku sayang,
Terima kasih, telah menjadi sahabat yang sangat baik bagiku, dulu.
Yang selalu ada untukku.
Yang selalu menjagaku, memperhatikanku, menyayangiku.
Lengkap dengan segala kemanjaanmu.
Dengan tampangmu yang lucu, saat kau cemburu.
"Kamu mantanku yang paling berkesan"
Begitu kata-katamu.
Aku tertawa.
Tentu saja.
Aku belum lupa semuanya.
Hei, bagaimana pun juga, you're my first official boyfriends, rite?
Terima kasih telah mengajariku banyak hal :)
I must admit. You're so damn tempting, you know.
With your hazelnut brown eyes. With your baby face.
Iya, pelangiku sayang,
kamu memang indah,
Tapi, aku tidak butuh sesuatu yang indah.
Aku tidak butuh sesuatu yang muncul dan menghilang.
Yang aku butuhkan, adalah sesuatu yang selalu ada disisiku.
Selamanya.
Terima kasih.
Terima kasih pernah mewarnai langit hatiku :)
xoxo,
(diambil dari: http://pecintarasa.posterous.com/ )
How's NY, Dear?
Kamu yang Paling Istimewa Untuk Keluargaku

Surat Cinta Untuk Madhuri: Aku Mimpi, Kamu Nyata.
Bagaimana tidurmu? Aku tahu kau pasti terlelap. Suara dengkurmu terdengar hingga ke telinga hatiku. Menenangkan jiwa.
Tapi tunggu dulu.
Apakah semalam kau menghampiriku?
Wajah itu. Wajah yang sama denganmu. Warisan surga terindah yang pernah tercipta.
Sentuhan itu. Sutra licin sekalipun akan terkulai lemas bila disentuhnya.
Dan senyum itu. YA, itu senyummu.
Ah, sudahlah. Tak dapat lagi kulukis dengan kata. Tak akan cukup kanvas untuk menggambarnya.
Apa mungkin itu hanya mimpi?
Sekiranya iya, bolehkah aku tidur selamanya saja?
Jangan bangunkan aku.
Agar bayanganmu tak sedetikpun lepas dari bola mataku.
Tapi sudahlah. Toh, sebentar lagi kita akan bertemu.
Madhuri, jangan lupa habiskan sarapan khusus yang kubuat untukmu.
Semangkuk harapan dan segelas tawa hangat. Tadi kusuruh matahari mengantarkan langsung untukmu.
Jangan lupa selipkan namaku dalam tiap doa pagimu. Seperti aku mengucap syukur pada Sang Pencipta tiap kali aku mengingat kamu.
Agar semesta turut merestui kita.
Agar kau yang kupanggil mimpi. Segera menjelma menjadi nyata.
(diambil dari: http://drivojansen.blogspot.com/ )
aku suka mengingatmu
Kamu tau apa yang aku rasakan saat ini? saat ini aku merasa sesak. sesak dengan segala rindu yang menggumpal di rongga dadaku. rindu yang ingin aku sampaikan padamu tapi aku tidak sanggup. rindu yang tiga bulan lalu masih terasa manis dan menggelitik, kini membuat ku sesak dan kesulitan bernafas. apakah kamu tau? jika aku berharap aku tau aku akan sakit. maka aku berusaha tak berharap, walaupun aku tau aku tidak bisa berhenti berharap tentangmu.
aku selalu menyanyikan lagu yang mengingatkanku padamu. aku selalu tersenyum saat mengingat saat-saat kita bersama. aku selalu tidak sengaja mengingatmu. aku berani sumpah. jangan salahkan aku jika bayanganmu selalu memohon ruang di otakku setiap hari, setiap jam, setiap menit dan kapanpun.
aku suka mengingatmu. sangat suka. walaupun aku merasa sesak.
---Oleh: @adjeungutami
(diambil dari: www.giniginiajah.blogspot.com )
Aku Ditertawai Aku
Mars, Aku Rindu Rotasimu
Apa kabar kamu? Saat aku menulis surat kedua ini, aku benar-benar sedang merindukan kamu. Aku rindu dengan wujud yang setiap hari aku lihat di kereta, aku rindu melihat uniknya kamu mengenakan tas merah yang mencolok itu, aku rindu bagaimana rasanya para kupu-kupu itu menabrak dinding perutku ketika kamu berotasi disekitarku.
Mars, pada dua minggu setelah pertemuan dengamu untuk pertama kalinya. Aku tidak menyangka bahwa ternyata kamu tidak jauh berotasi dari lingkunganku. Tidak,tidak. Bukan tidak jauh, lebih tepatnya sangat dekat. Alhasil, aku menjadi penikmat rotasimu sejak saat itu. Penikmat, ya aku penikmat rotasimu. Aku hanya perlu duduk diam dan menikmati kamu berputar di sekitarku. Perlu kamu ketahui Mars, disaat-saat inilah wujudmu terus masuk seperti maling kedalam otakku, tidak diundang dan meninggalkan jejak.
Padahal Mars, kalau aku boleh jujur, dahulu aku tidak pernah menyadari kehadiranmu disekitarku. Sekarang? Aku setengah gila tanpa rotasimu.
NB: Mars aku sungguh sangat kaget ketika aku menikmati rotasimu dan secara tidak sengaja mencuri dengar kalau kamu ternyata seorang ekspatriat dengan bahasa ibu Mandarin. Bahasa yang pernah aku kutuk karena logatnya yang menurutku aneh! Oh, demi kuatnya hembusan api Matahari: aku kena karma!
Penikmat setia rotasimu,
Venus
(diambil dari: http://venusdanmars.tumblr.com/ )
Untuk Ayah dan Ibu
Selamat malam Ayah Ibu.
Terima kasih telah melewatkan malam ini di rumah, di depan televisi sebelum akhirnya beranjak tidur.
Berbulan-bulan aku merindukan kesempatan seperti ini. Aku tau kalian juga rindu kan?
Kalian tak pernah mengatakan,aku tau saja. Karena setiap hari di perantaun ku selalu menerima pesan singkat di ponsel ku yang selalu menanyakan kabar ku atau sekedar ingin tau apa yang sedang aku lakukan saat itu. Aku rindu kalian walau aku sering mengabaikan pesan itu. Maafkan kelakuan anak mu ini. =)
Ayah Ibu, aku tau aku bukan anak yang baik, setidaknya di mata ku. Bandel dan keras kepala, penyakit ku saat masih memakai seragam putih merah yang terus ada sampai hidup sebagai mahasiswi belum bisa aku hilangkan. Belum lagi sikap teledor ku yang semakin menjadi-jadi saat ini, aku yakin menambah pikiran kalian antara kawatir dan juga kesal. Kalian tak pernah berhenti mengingatkan, lagi-lagi sifat keras kepala ku seakan tak butuh di ingatkan mengabaikan kata-kata kalian. Dan lagi-lagi aku menerima batunya. Lucu kalau aku ingat-ingat. Dasar aku!
Ayah Ibu,
Maaf, aku belum bisa menjadi anak yang baik. Aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik.
Maaf, aku selalu merepotkan. Sebesar ini aku selalu membuat kalian repot memikirkan ini itu.
Maaf, aku tau betapa bandelnya kelakuan ku dulu sampai sekarang. Aku hanya bisa berkata aku tak ingin melewatkan masa muda yang hanya sebentar. Aku mohon bersabarlah sedikit lagi. ;)
Maaf, sifat teledor ku menjadi-jadi akhir-akhir ini. Aku berjanji tragedi laptop dan ponsel adalah yang terakhir. Percayalah.
Maaf, aku belum bisa bangun pagi-pagi buta. Aku belajar di liburan kali ini. Mohon bantuan kalian.
Maaf, kalau dulu aku belum serius melakukan apa yang kalian percayakan. Janji ku mulai saat ini aku akan selalu serius dalam melakukan banyak hal.
Ayah Ibu,
Terima kasih karena selalu memberiku berjuta-juta kasih sayang, tak ternilai harganya di hidup ku.
Terima kasih karena selalu menjaga ku, dari saat aku hanya bisa mengedipkan mata sampai sekarang ketika aku pandai berkata “ aku bisa menjaga diriku” .
Terima kasih karena selalu memberi ku kepercayaan, walau aku tau kalian pernah kecewa atas apa yang aku lakukan tapi kalian tak pernah lelah memarahi ku dan memberi lagi kepercayaan.
Terima kasih karena tak pernah lelah menasihati ku. Memang kadang-kadang aku terlihat seperti mengabaikan tetapi percaya lah itu hanya masalah jiwa. Diam-diam aku selalu memikirkan. =)
Terima kasih karena selalu mendengarkan keluh kesah ku, aku memang pandai mengeluh di hadapan kalian.
Terima kasih karena selalu mendoakan aku, doa kalian sinar di jalan yang sedang aku lalui.
Terima kasih, hanya sebagian kecil yang aku tulis dari berjuta-juta yang telah kalian beri dari nafas ini ada sampai selamanya. Terima kasih Ayah Ibu.
Selamat malam, Ayah Ibu.
Dalam Doa ku selalu ada nama kalian.
NB: Jangan pernah lelah menjaga ku.
Mantan peri kecil, ade. =)
(diambil dari: http://dagdug.tumblr.com )
Dear My Missing Piece
(diambil dari http://anggitriandana.blogspot.com )
Sumber Keteduhan
Lelaki itu adalah bapak saya. Bapak adalah anak ke-3 dari sepuluh bersaudara. Terlahir dengan darah Sunda asli, bapak adalah sosok yang sangat kharismatik. Sebagai abdi negara, anggota TNI, bapak memang tak banyak bicara, tapi disegani oleh kami keempat anaknya. Satu lagi, senyumnya sangat khas...
Saya masih ingat saat masih kecil dulu, saya pernah ditendang menggunakan sepatu larasnya, hingga tulang kering kaki saya memar. Penyebabnya sepele, hanya karena saya malas mandi. Tapi demi Tuhan, saya telah memaafkan kekhilafan bapak itu.. Dan coba mengerti, bapak memang sangat tegas dan disiplin...
Saat berganti tahun, dalam fase hidup yang banyak berubah, kami memang jarang bertatap muka. Saat masih kuliah di Jatinangor, saya biasanya bertemu sekali seminggu. Sekarang setelah menikah, makin terbatas hanya sekali dalam sebulan. Tak mengapa, ikatan bathin antara bapak dan anak mengikat hati kami jauh lebih dalam dari sekedar pertemuan.
Jika mundur dengan mesin waktu, 50 tahun yang lalu ayahku dilahirkan. Hari ini tepat usianya setengah abad. Seperti layaknya hukum alam, semua manusia akan menjadi tua. Fisiknya boleh menyusut, tapi semangatnya tak pernah surut untuk memimpin keluarga kami. Sorot matanya pun tetap kurindukan, karena di sana berlabuh sumber keteduhan.
Selamat Ulang Tahun, Bapak Dadang Koswara. Terucap doa untuk bapak. Saya sayang, bapak...
(diambil dari http://elloymenulis.blogspot.com )
Jas Putih Dokter
Selamat malam, jas putih kesayanganku.
Pertama kali aku memakaimu ketika setelah wisuda aku mengikuti program pembekalan kepaniteraan klinik di rumah sakit pendidikan, kira-kira 3 tahun lalu. Kamu tahu tidak? Saat itu aku begitu bangga. Aku merasa sangat lain dibandingkan dengan para pengunjung rumah sakit itu. Mimpi dan segala cita-cita terekam jelas di kepalaku, aku berpikir mulai saat itu hidupku akan aman dan nyaman karena sebentar lagi aku bisa menyandang gelar dokter di depan namaku.
Dan saat ini,
Biar saja aku mempertanyakan sesuatu padamu, jas putih kebanggaanku.
Kenapa waktu itu tidak kamu beritahu aku, tentang kerasnya dunia yang akan aku jalani?
Kenapa waktu itu tidak kamu peringatkan aku, bahwa begitu banyak hal yang harus aku korbankan demi tetap bisa memakaimu sampai akhir nafasku?
Kenapa waktu itu kamu tidak pernah bilang bahwa akan sulit untuk mencapai mimpiku yang muluk-muluk ini?
Kenapa waktu itu kamu tidak menolak saja waktu akan kupakai pertama kali?
Kenapa kamu tidak bilang kalau hanya orang-orang kuat saja yang pantas kamu selimuti tubuhnya?
i’m feeling that i’m not that strong.
Tidak. Jangan begitu saja berpikir bahwa aku menyesal.
Aku tidak menyesal, sebab masih ada mimpi belum terpenuhi yang tersulam di setiap serat benang putihmu.
Doakan aku, jas putih sahabatku. Sebab aku tidak ingin cerita kita berakhir dengan menyimpanmu rapi di dalam lemari.
(diambil dari: http://ksatria-langitan.blogspot.com )
Untuk kamu – Pelangi.
Hari ini, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Maaf. Meski mungkin nggak akan ada artinya bagimu, deket atau nggak sama aku, toh kamu punya jutaan orang lain yang siap jadi aku bagimu :) Tapi aku hanya berusaha mendinginkan hatiku.
Ini, entah sudah keberapa puluh kali aku mendapat umpatan kasar dari teman wanitamu. Tentu kamu masih ingat bagaimana dia yang menga ku pacarmu mengirimiku sms kasar dan menyuruhku untuk menjauhi mu? :) Aku hanya heran, kenapa mereka merasa terganggu sementara kamu tidak?
Kesabaran tidak pernah ada batasnya, Pelangi. Tapi menggunakannya ada batasan. Dan aku sudah terlalu sabar menghadapi komentar apapun tentang aku, tentang kita, dari mereka yang nggak tau apa-apa tapi sok tau segalanya. Aku sudah kebas hati. Dan aku hanya ingin mengakhiri semuanya.
Lagian, pelangi. Rasanya fesbuk dan twitter mu itu isinya nggak cuma aku doang kan yah? Tapi kok kayaknya cewek-cewek yang deket sama kamu tuh dendem banget sama aku? Apa aku secantik dan se-membuat iri itu? Hahahahah.
Setahun bersamamu, kamu tau ini rumit kan? Jadi, tolong jangan tahan aku untuk mengakhiri semuanya.
Aku bukan kalah. Aku hanya mengalah. Aku nggak peduli komentar “Semakin keliatan munafiknya” dari teman-temanmu. Aku sudah nggak peduli apapun, pelangi. Kau tahu? Aku mati rasa. Bahkan untuk menagis sekalipun. Aku nggak akan pernah marah, bukan karena aku memang munafik. Terlebih aku hanya tidak ingin melihat mereka tersenyum menang.
Aku sengaja menulis ini dalam agenda 30HariMenulisSurat. Aku sengaja karena aku tau mereka pasti membaca. Kamu tau kan, Pelangi? Mereka adalah mata-mata paling hebat sedunia. Sebegitu besarnya keingintahuan mereka kepadaku, sampe-sampe mengunjungi blog ku. Aku seneng. Terharu malah xD
Baiklah, Pelangi. AKu tidak ingin membuat ini lebih panjang. Sudah cukup seharian ini menangisi semuanya, mengacaukan resepsi pernikahan kakak dan mbak yang sudah lama di susun rapi. Biarkan aku pergi. Kita teman, selamanya akan tetap teman. Tapi izinkan aku untuk tidak pernah berkomunikasi dengan mu lagi. Aku hanya tidak ingin ada wanita lain yang cemburu. Aku hanya tidak ingin membuatmu jatuh lebih dalam pada kerumitan – karena aku.
Terimakasih untuk setahun yang indah. Tolong sampaikan pada semua teman-temanmu (Meskipun nggak di sampaikan, mereka pasti baca ini kok) hentikan tingkah laku serta tahan jari jemari yang membuat diri sendiri malu. Kalo memang masih sayang sama kamu, ya bujuk kamu supaya mau balikan sama dia dong. Bujuk kamu supaya mau balikan sama temen mereka itu. Bukannya malah mencari info tentang aku, pacarku, mantanku, gebetanku, de el el. Hihi
Oke Pelangi. Hari ini, aku akan kembali kekehidupan yang dulu. nggak ada kamu. Aku sudah tidak tahan. Aku lelah. penat. bosan.
Semoga kamu baik-baik saja :)
( diambil dari http://adytapurbaya.blogspot.com/ )
For My Israeli Husband
Hanya Empat Huruf. Kamu.
Surat Cinta Pembina Pramuka
Night Whispere's Whispered
Kita Harus Bertemu
Kepada Pembimbing Skripsiku
Kalian, Si Pembawa Kupu-Kupu
Kamu tau? Aku adalah fans beratmu selama enam tahun lamanya. Aku suka karena kamu pintar, selalu jadi juara kelas, dan tentu saja, kamu tampan!
Aku ingat beberapakali kamu ketus berkata-kata padaku. Tapi juga tidak jarang aku menangkap basah kamu mencuri-curi pandang, membuat banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perutku.
Kamu itu, adalah kenangan masa kecil yang manis yang hanya diam di memoriku sebagai kelebatan ingatan.
Limabelas tahun kemudian aku bertemu dengan seseorang yang memiliki nama yang sama denganmu. Lucunya, kalian memiliki keangkuhan yang sama, juga membawa kupu-kupu yang serupa.
Sebelum aku menyesal, kira-kira bagaimana menurutmu, apakah aku harus mengiriminya surat cinta?
(diposting di http://bukukuning.tumblr.com/)