Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #2. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2011

Hari Kedua

Lily yang baik hati,

Sepagian aku mencari pena dan kertas. Akhirnya kudapat dari Pak Marbun, penjaga penjara yang jarang bicara. Itu adalah hal yang tumben. Kadang Pak Marbun tidak benar-benar mendengar aku bicara. Tatap matanya sering memicing padaku. Tetapi ya sudahlah, mungkin itu perasaanku saja.

Lily! Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Aku harap kuliahmu lancar. Sudah skripsi, khan? Waaahhh… Tidak sabar aku melihatmu memakai toga. Semoga di hari itu, aku sudah keluar dari sini, ya. Semoga! :)

Yah, ini belum terlalu siang tetapi aku sudah menggebu-gebu ingin menulis surat. Tampaknya ini akan menjadi hobi, Li. “Menulis surat cinta.” Hmm.. Hobi yang lucu. Bagaimana menurutmu? Ketimbang meratapi nasib? Itu yang sering aku lihat di sini. Banyak napi di sini, kalau tidak meratapi nasib, ya membuat napi lain maratap-ratap. Begitulah. Penjara adalah dunia yang keras. Malas aku jelaskan. Kamu adalah sosok yang terlalu lembut untuk mengetahuinya. Hehehehe..

Aku sih tahu bahwa Dion tak mungkin datang hari ini. Mungkin seminggu lagi baru nongol batang hidungnya. Biarlah, tak apa. Sambil menunggunya, sehari sekali aku menulis surat untukmu. Jadi setelah ia datang, ada banyak surat yang harus kau baca. Tidak merepotkan, khan?
Kabarnya, nanti sore ibu juga akan menjengukku. Sebenarnya aku ingin menitipkan suratku ini padanya. Tetapi tidak mungkin juga kau menemui ibuku. Jarak antara keluargamu dan keluargaku sudah benar-benar dipagari. Huh.. Itu semua karena ulahku. Sedih rasanya.

Lily, kata sayangmu memenangkan aku. Tiada lawanku dalam hatimu. Aku rindu mendengarkannya secara langsung dari mulutmu yang bersih, dari tempat di mana selalu terlontar kata-kata yang manis dan manja. Jiwaku terbakar-bakar sekarang. Rindu yang berapi-api di siang bolong. Hahahaha.. Ada-ada saja. Aku merasa tidak pantas berkata-kata semacam ini. Menyebalkan! :p

Oh ya, semalam aku bermimpi. Bukan mimpi buruk namun agak menyindir kehidupanku. Kau tahu aku suka mabuk-mabukan dan masuk penjara ini semacam peringatan keras. Entahlah, itu mimpi yang panjang. Ada aku dan teman-teman di sebuah pesta. Sulit kugambarkan. Namun bila kusimpulkan dengan satu kalimat, mimpi itu adalah “di antara aku dan banyak orang yang sedang mabuk di satu pesta, tidak ada satupun malaikat mau menari.” Benar-benar menyinggung aku. Ini penyesalanku. Setelah aku keluar dari sini, aku tidak akan menyentuh alkohol lagi. Aku berjanji.

Lily, aku sadar bahwa cinta kita berjalan di tanah yang penuh batu. Perjalanan yang berat dan menantang, banyak pula para penentang. Aku berharap hati tidak terhalang, kita membentang di saling sayang. Lily, dicintaimu adalah serasa pedal hariku sedang kau ayun menuju tempat yang Tuhan tahu. Kaulah bagian penting pada jubahku, kaulah benang jarum detikku. Jika suatu hari adalah benar kita akan hidup bersama, maka tidak salah sedari dulu kita rela menghadap mati. Kini seperti waktu terus berjalan, kutelusuri jejak kisahku. Meski mata harus memejam, waktu tidak menghapus engkau. Suatu hari nanti adalah hari raya kita bersama. Aku percaya akan hal itu.

Seperti secangkir kopi mendidih yang diaduk bersama gula, siang di sini tidak sepahit yang kurasakan bila kau ada. Aku merindukanmu, ingin menjumpaimu dan merajut lagi hari yang manis. Merindukanmu tidak membuatku merasa bodoh. Beruntung? Ya! Di sini aku jauh darimu, tidak bisa melihat kamu. Tetapi dari hatimu, kau boleh melihat aku secara kesuluruhan. Aku tidak bertanya tentang bagaimana cara untukku mampu tidak merindu lagi. Karena bagiku, merindumu adalah kemampuanku. Sampai di atas lantai hatiku, kata-kata berserak-serakkan. Semuanya pujian, teruntuk keindahanmu. Di penjara ini, aku bukan orang jahat. Aku mencintaimu dan ingin yang terbaik dalam hidupmu. Ingin ku benahi semuanya. Hidupku, semuanya!

Baiklah Lily, terima kasih kau mau membacanya. Maaf bila banyak kata yang tidak kamu mengerti atau mungkin terasa berlebihan. Semoga kamu bisa mengerti, tidak mudah tinggal di sini, terlebih jauh darimu.

Doakan aku terus, ya.. Jangan kau bosan!

Salam dan cium sayang,

Igo.

-----

(dikirim oleh @zarryhendrik di http://zarryhendrik.tumblr.com/)

Sabtu, 15 Januari 2011

Untuk Pelangi

Dear my rainbow,

Sore ini aku sedang menikmati udara sehabis hujan.

Kutatap langit di atas sana. Tapi pelangi tidak muncul.

Ah, pelangi selalu mengingatkan aku pada dirimu.

Dirimu yang indah, namun muncul dan menghilang begitu saja.

Meski muncul menghilang, aku tak pernah menyesali hadirnya dirimu di langit hatiku.

Bagaimanapun, dulu kau mampu mewarnai langit hatiku, yang kelam tersiram hujan.

Terima kasih, untuk saat-saat indah kita dulu.

Aku takkan pernah lupa bagaimana kau selalu mengingatkanku untuk beribadah.

Kau imam yang sangat baik, pelangiku sayang.

Kau tidak menyuruhku, tapi kau mengajakku, mengimamiku.

Aku tak akan pernah lupa damainya sehabis beribadah bersamamu,

kemudian aku akan mengecup tanganmu, dan kau kecup keningku.

Pelangiku sayang,

Terima kasih, telah menjadi sahabat yang sangat baik bagiku, dulu.

Yang selalu ada untukku.

Yang selalu menjagaku, memperhatikanku, menyayangiku.

Lengkap dengan segala kemanjaanmu.

Dengan tampangmu yang lucu, saat kau cemburu.

"Kamu mantanku yang paling berkesan"

Begitu kata-katamu.

Aku tertawa.

Tentu saja.

Aku belum lupa semuanya.

Hei, bagaimana pun juga, you're my first official boyfriends, rite?

Terima kasih telah mengajariku banyak hal :)

I must admit. You're so damn tempting, you know.

With your hazelnut brown eyes. With your baby face.

Iya, pelangiku sayang,

kamu memang indah,

Tapi, aku tidak butuh sesuatu yang indah.

Aku tidak butuh sesuatu yang muncul dan menghilang.

Yang aku butuhkan, adalah sesuatu yang selalu ada disisiku.

Selamanya.

Terima kasih.

Terima kasih pernah mewarnai langit hatiku :)

xoxo,



(diambil dari: http://pecintarasa.posterous.com/ )

How's NY, Dear?

Dear You,
Hari ini aku lumayan sibuk, kesana-kemari menempuh ratusan kilometer dari Bandung menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sebenarnya sudah malas dikerjakan karena memang seharusnya sudah tak dibicarakan lagi. Aku pun tahu kamu lebih sibuk dari ku. Tak mengerti persis apa yang sedang kamu kerjakan di Universitas Teknik yang katanya nomor satu di dunia itu. Sedang sibuk di Lab mungkin, sedang mengerutkan kening berdebat dengan tim-mu, atau hanya sekedar memandangi laptop dengan beberapa hitungan.

Hei tadi sebelum pulang ke Bandung, aku mampir ke Soekarno-Hatta dulu. Tidak, aku tidak akan pergi kemana-mana. Hanya mampir kan ku bilang. Sekedar menjemput pak bos yang kebetulan akan pulang ke Bandung juga. Aku menunggu cukup lama di sana. Tapi tak masalah, walau tidak ada kamu yang biasanya menemani ku walau hanya lewat Blackberry Messenger atau Yahoo Messenger. Tak masalah, karena aku suka bandara. Suasananya yang hidup, yang ramai, dengan beragam ekspresi wajah tak pernah membuat ku bosan berada di sana. Sepertinya kalaupun pesawat bos ku terlambat beberapa jam aku akan suka rela berada di sana.

Aku di sini, ya di sini.

Di terminal kedatangan, semua orang terlihat sibuk. Bergegas pulang ke rumah untuk istirahat dan bertemu orang-orang tercinta di rumah. No matter how far, people travel to meet their love ones kan? Kalau di lihat dari langit lucu kali ya ngeliat pesawat-pesawat itu terbang. Dari utara ke selatan, yang dari barat ke timur. Begitu sebaliknya, belibet kayak benang kusut.

Di terminal keberangkatan, aku berpikir mungkin kemarin kamu pun pergi dari sini. Kamu tidak mungkin pergi dari bandara lain kan? Kalau mengingat bahwa kita pernah berada di tempat yang sama dengan seseorang di waktu yang berbeda, ini juga lucu. Kayak sinetron.. Hehe...

Di terminal kedatangan, yang aku harapkan muncul di pintu itu adalah kamu. Kamu dengan backpack-mu, kamu yang kelelahan setelah menempuh perjalanan berjam-jam, kamu dengan ekspresi mu yang akan membawa banyak cerita pada ku.

Tapi kamu yang aku harapkan saat ini ada bersama ku ada di sana. Di belahan bumi lain bernama New York.

Di terminal keberangkatan, suatu hari nanti aku pun ingin menjadi seseorang yang mengantarkan mu. Jika kamu memang harus pergi lagi. Ya, jikalau kamu harus pergi lagi aku ingin menjadi seseorang yang melepaskan kepergian mu. Kalaupun nanti aku menangis melepas mu, setidaknya aku tahu kamu akan pulang.

Tapi toh saat ini aku tidak sedang akan mengantarkan mu kan? Ah, I miss you. How's NY dear? Kapan pulang?

Aku pulang ya, bos ku sudah muncul di pintu kedatangan. Hei, hei tunggu.. kenapa lagu Firasat-Marcell yang mengalun dari earphone-ku terasa begitu menusuk hati yaa??

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi....



15 Januari, 2011
Soekarno-Hatta, mereka menyebutnya Cengkareng.
Kata Supir kantor yang mengantar kami itu nama kampung di sekitar bandara. Entahlah, belum ku cek di google. Baik-baik di sana ya. Semoga Allah selalu menjaga mu :)

----

Kamu yang Paling Istimewa Untuk Keluargaku

Bandung-Pasteur, 15 Januari 2010

Di malam Minggu yang sepi dan anginnya sedikit berdesir


Aku masih ingat bagaimana pertama kali kamu datang di hidupku..

Aku masih ingat bagaimana saat itu kamu begitu kedinginan dan membutuhkan kehangatan untuk meyakinkanmu bawa kamu tidaklah sendiri..

Aku masih ingat bagaimana kamu saat itu begitu mungil dan lemah, sendiri dan tanpa rumah..

Apakah kamu masih ingat betapa aku mengkhawatirkanmu?



Saat itu bapak pulang dari Mesjid dengan sedikit kebasahan di beberapa bagian baju dan sarungnya. Tetapi ada yang berbeda, tangan bapak seperti membawa sesuatu yang rapuh, dan saat itu muka lugumu berkata “aku ingin susu” yang dikatakan lewat dua bola mata hijau melotot yang lucu. Mama nampak tidak terlalu setuju, bapak terlalu sering membawa kucing ke rumah yang entah darimana datangnya. Namun mama tidak memberikan penolakan ketika aku meminta untuk merawat kamu--si kucing yang entah kesekian kalinya kami temukan, di rumah kecil kami.


Bapak bercerita, kamu datang seorang diri dari arah mimbar mesjid dengan badan kedinginan. Tanpa pikir panjang langsung bapak bawa pulang ke rumah sempat terpikir untuk mencari orangtua atau majikanmu, tapi apalah arti hidup kucing, sekali buang, tiada yang ingat—kasarnya.


Beruntung ketika kamu datang, di rumah sedang tidak ada peliharaan lain. Sekeluarga mencurahkan perhatian untuk kamu. Kamu tidak pernah telat diberi susu. Aku ingat, kamu paling senang berlindung dibawah boneka kuda nil besar dan dengan bodohnya kamu menganggap dia ibumu. Kamu sering nѐtѐ padanya sampai-sampai aku harus mencuci si kuda nil beberapa kali setelah kamu tѐtѐi. Sering pula kamu tidur seperti bola bulu kecil di telapak tangan bapak, karena ukuranmuu tak lebih besar dari tangan bapak.


Di satu hari kamu tumbuh cukup pesat, dan tidak peduli dimana buang air. Mama marah, apakah kamu ingat waktu mama tidak berhenti mengomel? Kamu sih .. pipis kok sembarangan. Jadinya kamu dapet hukuman, tidur di kamar mandi belakang yang sudah tidak dipakai lagi kami mandi selama beberapa bulan dan semenjak itu kamu tidak boleh tidur di dalam rumah. Tetapi ternyata kamu menunjukkan satu bakat yang hebat, meskipun pada awalnya kami kesal sering mencium bau tidak sedap secara tiba-tiba, tetapi akhirnya mama bangga akan hal itu: kamu pipis dan buang air besar di kloset. Jadi intinya: kami anggota keluarga tinggal menyiramnya dengan air dan menyemprotkan sedikit cairan pewangi atau pun pembersih. Itu adalah satu prestasi kamu yang membanggakan, dan kami bangga akan hal itu


Makasih ya kamu engga pernah rewel makan, meskipun waktu aku dikasih Rocky---kucing persia hitam besar yang sempat memperkosamu, tapi kamu malah kabur dan engga mau tinggal di rumah sebelum si Rocky pergi. Padahal waktu Rocky datang kan hidup kamu juga enak, dapet makanan tambahan yang mahal-mahal sejenis whiskas dengan porsi dan penyajian yang tepat waktu terus kamu juga ikut disediain pasir biar kamu gak perlu pipis atau boker di toilet., apalagi tempat tidur punya Rocky itu loh yang warna ungu. Lucu banget kan? Dan aku tahu kamu waktu itu suka banget sama tempat tidurnya Rocky yang akhirnya jadi tempat tidur kamu. Tapi dasar kamu kucing yang punya harga diri ya, meskipun udah dimanjain tapi kalau masih punya harga diri ya tetep kamu engga bakalan mau masuk rumah kalau Rocky belum diusir. Waktu itu aku berat hati loh ngasihin Rocky ke orang lain. Tapi mau gimana lagi, meskipun kamu cuma kucing kampung yang tidak jelas asal usulnya, tetapi kami sekeluarga lebih sayang sama kamu. Kamu lebih bersih dan lebih punya tanggung jawab sebagai binatang peliharaan. Mmmm, meskipun sebenernya gara-gara biaya perawatan kamu juga lebih murah sih.. hehe.


Mama tidak pernah menunjukkan rasa cintanya buat kamu di depan anggota keluarga, tapi waktu kamu pergi selama dua bulan, kamu ingat? Mama nyariin kamu kemana-mana. Nyari sampe beberapa komplek sebelah. Sayangnya engga ada yang pernah liat kamu. Tapi suatu ketika, ternyata mama ngeliat kamu ada di rumah si Sugeng—temen SMP aku. Dan ternyata kamu di rawat sama adiknya Sugeng—murid TPAnya mama. Loh ternyata kamu hilang selama dua bulan itu ada di rumahnya dia yang masih satu komplek??? Kamu tahu, kasian mama udah nyariin kamu. Dan waktu itu, mama sempet berebut kamu sama mamanya Sugeng gara-gara maanya Sugeng yakin kamu itu bukan kucing aku, tai kucing yang dia temuin. Otomatis mama engga rela. Kucing dengan ciri-ciri badan putih semua kecuali buntut yang hitam dan satu bulatan hitam di kepala—di antara telinga itu cuma ada satu, dan itu kamu.


Aku senang akhirnya kamu bisa lepas dari jeratan mamanya si Sugeng dan kembali ke rumah. :)



Yang paling disayangkan adalah, foto-foto kamu ke format di komputer jadul yang dulu. Dan satu-satunya foto kamu yang dicetak, aku lupa nyimpennya dimana, takut kececer waktu pindahan kemaren. Mudah-mudahan foto kamu bisa ketemu ya. Aku kangen banget sama kamu, Votѐ.


Aku juga masih ingat kenapa kamu dikasih nama “Vote” (Dibaca: Votѐ bukan Vot). Dulu waktu keranjingan novel Harry Potter tiap hari bapak suka protes sama aku. Padahal waktu itu kan waktu masih awal-awal kelas dua SMP tapi aku doyannya baca si buku tebel itu sambil ditemenin kamu. Akhirnya bapak inisiatif buat ngasih nama “Potter”, tapi karena kebagusan jadi huruf R nya diilangin. Berhubung lagi heboh-hebohnya pemilihan umum, Ide “Potte” di ganti jadi “Vote” tetapi tidak merubah bentuk pengucapan. Ah ribet ya.. ya begitulah. Yang pasti, mulai dari pemilihan nama saja kamu sudah spesial.


Terimakasih Votѐ sudah menjadi salah satu angggota keluarga yang spesial untuk aku dan keluargaku. Sayangnya hidup kamu tidak lama. Setelah terus-menerus gagal memiliki keturunan mungkin akhirnya kamu pun menyerah. Mudah-mudahan di surga sana kamu punya banyak teman ya. Dan mudah-mudahan semuanya sayang sama kamu.


Maaf Votѐ, aku baru menyempatkan menulis surat ini untukmu. Bukan berarti beberapa tahun ini aku melupakanmu, tetapi mungkin inilah kesempatan yang datang dan tepat untuk mengenang kamu. Dimana pun kamu berada sekarang, meskipun kuburanmu sekarang dirusak dan dijadikan bangunan, walaupun kamu tak mampu merasakan apa-apa, yang pasti semoga doa dan lindungan Tuhan tetap menyertai kamu ya.


Baik-baik di sana, kucingku sayang. Jangan lupa habisin ikan sama susunya ya :)



----

Surat Cinta Untuk Madhuri: Aku Mimpi, Kamu Nyata.

Selamat Pagi, Madhuri.

Bagaimana tidurmu? Aku tahu kau pasti terlelap. Suara dengkurmu terdengar hingga ke telinga hatiku. Menenangkan jiwa.

Tapi tunggu dulu.

Apakah semalam kau menghampiriku?

Wajah itu. Wajah yang sama denganmu. Warisan surga terindah yang pernah tercipta.

Sentuhan itu. Sutra licin sekalipun akan terkulai lemas bila disentuhnya.

Dan senyum itu. YA, itu senyummu.

Ah, sudahlah. Tak dapat lagi kulukis dengan kata. Tak akan cukup kanvas untuk menggambarnya.


Apa mungkin itu hanya mimpi?

Sekiranya iya, bolehkah aku tidur selamanya saja?

Jangan bangunkan aku.

Agar bayanganmu tak sedetikpun lepas dari bola mataku.

Tapi sudahlah. Toh, sebentar lagi kita akan bertemu.

Madhuri, jangan lupa habiskan sarapan khusus yang kubuat untukmu.

Semangkuk harapan dan segelas tawa hangat. Tadi kusuruh matahari mengantarkan langsung untukmu.


Jangan lupa selipkan namaku dalam tiap doa pagimu. Seperti aku mengucap syukur pada Sang Pencipta tiap kali aku mengingat kamu.

Agar semesta turut merestui kita.

Agar kau yang kupanggil mimpi. Segera menjelma menjadi nyata.



(diambil dari: http://drivojansen.blogspot.com/ )

aku suka mengingatmu

Ketika aku mendengar kata "Surat Cinta" , entah kenapa bayangan mu yang terlintas di kepalaku. dan aku memutuskan untuk menulisnya untukmu. aku tau kamu sangat benci membaca, justru karena itulah aku menulisnya. aku tidak berharap kamu membacanya. walaupun itu menyesakkan.

Kamu tau apa yang aku rasakan saat ini? saat ini aku merasa sesak. sesak dengan segala rindu yang menggumpal di rongga dadaku. rindu yang ingin aku sampaikan padamu tapi aku tidak sanggup. rindu yang tiga bulan lalu masih terasa manis dan menggelitik, kini membuat ku sesak dan kesulitan bernafas. apakah kamu tau? jika aku berharap aku tau aku akan sakit. maka aku berusaha tak berharap, walaupun aku tau aku tidak bisa berhenti berharap tentangmu.


aku selalu menyanyikan lagu yang mengingatkanku padamu. aku selalu tersenyum saat mengingat saat-saat kita bersama. aku selalu tidak sengaja mengingatmu. aku berani sumpah. jangan salahkan aku jika bayanganmu selalu memohon ruang di otakku setiap hari, setiap jam, setiap menit dan kapanpun.


aku suka mengingatmu. sangat suka. walaupun aku merasa sesak.


---Oleh: @



(diambil dari: www.giniginiajah.blogspot.com )

Aku Ditertawai Aku

“Hahahahahaha”

bahakkan cermin menatapku penuh hina, tatapan kosongnya menenggelamkanku ke memori-memori di masa lalu. Aku, Kamu, melebur jadi satu. Aku, Kamu, terbias sama, tak ikut larut bagai gula yang lugu. Seperti anak kecil kehilangan balon, merengek, menghasratkan ibunya untuk membelikannya kembali.

Di hari ke-2 dalam #30HariMenulisSuratCinta ini mungkin aku akan membuka lagi memori kita dulu secara tersurat. Hem. Rinduku tak terbendung lagi, aku ingin bertemu denganmu paling tidak. Ya hanya itu, mungkn sudah membuatku tidak lagi awut-awutan seperti saat ini..

88, Angka ini meng-kias-kan kehidupanku sekarang tanpamu, simple tapi hanya berputar dari kepala menuju buntut yang berujung di kepala. Aku seperti menarikkan diri ke dalam pusat bumi yang menyebabkan gravitasi ini. Ketika aku berjalan lurus, pikiranku membelokkanku.

Bisakah angka 88 itu kamu kalikan dengan 0 ? Akan kuberikan angka 1 setelah itu, kita tegak kembali, mengawali semuanya dari 1.

dearest… Kamu

Salam,

Kalutan pikiranku

----

Mars, Aku Rindu Rotasimu

Apa kabar kamu? Saat aku menulis surat kedua ini, aku benar-benar sedang merindukan kamu. Aku rindu dengan wujud yang setiap hari aku lihat di kereta, aku rindu melihat uniknya kamu mengenakan tas merah yang mencolok itu, aku rindu bagaimana rasanya para kupu-kupu itu menabrak dinding perutku ketika kamu berotasi disekitarku.

Mars, pada dua minggu setelah pertemuan dengamu untuk pertama kalinya. Aku tidak menyangka bahwa ternyata kamu tidak jauh berotasi dari lingkunganku. Tidak,tidak. Bukan tidak jauh, lebih tepatnya sangat dekat. Alhasil, aku menjadi penikmat rotasimu sejak saat itu. Penikmat, ya aku penikmat rotasimu. Aku hanya perlu duduk diam dan menikmati kamu berputar di sekitarku. Perlu kamu ketahui Mars, disaat-saat inilah wujudmu terus masuk seperti maling kedalam otakku, tidak diundang dan meninggalkan jejak.

Padahal Mars, kalau aku boleh jujur, dahulu aku tidak pernah menyadari kehadiranmu disekitarku. Sekarang? Aku setengah gila tanpa rotasimu.

NB: Mars aku sungguh sangat kaget ketika aku menikmati rotasimu dan secara tidak sengaja mencuri dengar kalau kamu ternyata seorang ekspatriat dengan bahasa ibu Mandarin. Bahasa yang pernah aku kutuk karena logatnya yang menurutku aneh! Oh, demi kuatnya hembusan api Matahari: aku kena karma!

Penikmat setia rotasimu,

Venus


(diambil dari: http://venusdanmars.tumblr.com/ )

Untuk Ayah dan Ibu

Selamat malam Ayah Ibu.

Terima kasih telah melewatkan malam ini di rumah, di depan televisi sebelum akhirnya beranjak tidur.

Berbulan-bulan aku merindukan kesempatan seperti ini. Aku tau kalian juga rindu kan?

Kalian tak pernah mengatakan,aku tau saja. Karena setiap hari di perantaun ku selalu menerima pesan singkat di ponsel ku yang selalu menanyakan kabar ku atau sekedar ingin tau apa yang sedang aku lakukan saat itu. Aku rindu kalian walau aku sering mengabaikan pesan itu. Maafkan kelakuan anak mu ini. =)

Ayah Ibu, aku tau aku bukan anak yang baik, setidaknya di mata ku. Bandel dan keras kepala, penyakit ku saat masih memakai seragam putih merah yang terus ada sampai hidup sebagai mahasiswi belum bisa aku hilangkan. Belum lagi sikap teledor ku yang semakin menjadi-jadi saat ini, aku yakin menambah pikiran kalian antara kawatir dan juga kesal. Kalian tak pernah berhenti mengingatkan, lagi-lagi sifat keras kepala ku seakan tak butuh di ingatkan mengabaikan kata-kata kalian. Dan lagi-lagi aku menerima batunya. Lucu kalau aku ingat-ingat. Dasar aku!

Ayah Ibu,

Maaf, aku belum bisa menjadi anak yang baik. Aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik.

Maaf, aku selalu merepotkan. Sebesar ini aku selalu membuat kalian repot memikirkan ini itu.

Maaf, aku tau betapa bandelnya kelakuan ku dulu sampai sekarang. Aku hanya bisa berkata aku tak ingin melewatkan masa muda yang hanya sebentar. Aku mohon bersabarlah sedikit lagi. ;)

Maaf, sifat teledor ku menjadi-jadi akhir-akhir ini. Aku berjanji tragedi laptop dan ponsel adalah yang terakhir. Percayalah.

Maaf, aku belum bisa bangun pagi-pagi buta. Aku belajar di liburan kali ini. Mohon bantuan kalian.

Maaf, kalau dulu aku belum serius melakukan apa yang kalian percayakan. Janji ku mulai saat ini aku akan selalu serius dalam melakukan banyak hal.

Ayah Ibu,

Terima kasih karena selalu memberiku berjuta-juta kasih sayang, tak ternilai harganya di hidup ku.

Terima kasih karena selalu menjaga ku, dari saat aku hanya bisa mengedipkan mata sampai sekarang ketika aku pandai berkata “ aku bisa menjaga diriku” .

Terima kasih karena selalu memberi ku kepercayaan, walau aku tau kalian pernah kecewa atas apa yang aku lakukan tapi kalian tak pernah lelah memarahi ku dan memberi lagi kepercayaan.

Terima kasih karena tak pernah lelah menasihati ku. Memang kadang-kadang aku terlihat seperti mengabaikan tetapi percaya lah itu hanya masalah jiwa. Diam-diam aku selalu memikirkan. =)

Terima kasih karena selalu mendengarkan keluh kesah ku, aku memang pandai mengeluh di hadapan kalian.

Terima kasih karena selalu mendoakan aku, doa kalian sinar di jalan yang sedang aku lalui.

Terima kasih, hanya sebagian kecil yang aku tulis dari berjuta-juta yang telah kalian beri dari nafas ini ada sampai selamanya. Terima kasih Ayah Ibu.

Selamat malam, Ayah Ibu.

Dalam Doa ku selalu ada nama kalian.

NB: Jangan pernah lelah menjaga ku.

Mantan peri kecil, ade. =)



(diambil dari: http://dagdug.tumblr.com )

Dear My Missing Piece

Hey, ini aku. Orang yang selama ini mencari kamu. Tapi anehnya, aku mencari mu tanpa petunjuk, tanpa alamat, tanpa tau rupa mu. Seperti sia sia, mungkin itu yang dituduhkan orang orang. Aku Cuma membalasnya dengan senyuman. Keyakinan bahwa aku akan menemukanmu adalah semangat terbesar ku. Yah.. Jika aku gagal melihat keberadaan mu, aku percaya hatiku yang akan menemukanmu. Karena aku tau, hatiku tidak buta.

Apa kamu tau. Terkadang ditengah perjalanan aku seperti mau ambruk. Aku letih. Aku berpikir picik. Aku menyangsikan apakah kamu juga sedang mencariku. Atau sebaliknya kamu malah sedang menikmati kisah romanmu dengan wanita yang kau anggap aku. Berpura pura dialah kepingan yang kau cari selama ini. Kau terperangkap dengan keangkuhan mu untuk menyadari dia bukan aku. Karena kamu menganggap tidak akan ada wanita lain yang datang untuk membuatmu bahagia. Atau barangkali kamu tersesat? Kamu hampir menemukanku tapi terlalu keras kepala untuk bertanya. Hingga waktu pun berlalu dengan cepatnya, dan kamu masih gagu. Atau barangkali kita pernah bertemu? Tapi saat itu mungkin bukan di waktu dan tempat yang tepat. Dan kita mengabaikannya. Ahh terlalu banyak kemungkinan dan aku sudah tidak sanggup memikirkannya.

Sekarang pilih saja salah satu. Kau mau aku yang menemukanmu atau kau yang akan menemukanku. Ini bukan soal sepele. Ini serius. Jika kau memilih kau yang akan menemukanku, maka aku akan diam disini, menunggu. Aku tidak akan kemana kemana sampai kita bertemu. Aku hanya khawatir, jika kita sama sama mencari maka kita akan berselisih jalan. Sampai akhirnya kita sama sama terlambat..

Semoga kau baca surat ini dan segera memutuskan.

Your missing piece.


(diambil dari http://anggitriandana.blogspot.com )

Sumber Keteduhan

Kerutan di wajahnya semakin tegas, kulitnya sedikit lebih menghitam. Badannya kurus dan jalannya pun kini sedikit pincang. Itu akibat ia terkena stroke ringan tahun lalu. Tapi tubuhnya yang tinggi dan tegap, masih menunjukkan kegagahannya.

Lelaki itu adalah bapak saya. Bapak adalah anak ke-3 dari sepuluh bersaudara. Terlahir dengan darah Sunda asli, bapak adalah sosok yang sangat kharismatik. Sebagai abdi negara, anggota TNI, bapak memang tak banyak bicara, tapi disegani oleh kami keempat anaknya. Satu lagi, senyumnya sangat khas...

Saya masih ingat saat masih kecil dulu, saya pernah ditendang menggunakan sepatu larasnya, hingga tulang kering kaki saya memar. Penyebabnya sepele, hanya karena saya malas mandi. Tapi demi Tuhan, saya telah memaafkan kekhilafan bapak itu.. Dan coba mengerti, bapak memang sangat tegas dan disiplin...

Saat berganti tahun, dalam fase hidup yang banyak berubah, kami memang jarang bertatap muka. Saat masih kuliah di Jatinangor, saya biasanya bertemu sekali seminggu. Sekarang setelah menikah, makin terbatas hanya sekali dalam sebulan. Tak mengapa, ikatan bathin antara bapak dan anak mengikat hati kami jauh lebih dalam dari sekedar pertemuan.

Jika mundur dengan mesin waktu, 50 tahun yang lalu ayahku dilahirkan. Hari ini tepat usianya setengah abad. Seperti layaknya hukum alam, semua manusia akan menjadi tua. Fisiknya boleh menyusut, tapi semangatnya tak pernah surut untuk memimpin keluarga kami. Sorot matanya pun tetap kurindukan, karena di sana berlabuh sumber keteduhan.

Selamat Ulang Tahun, Bapak Dadang Koswara. Terucap doa untuk bapak. Saya sayang, bapak...


(diambil dari http://elloymenulis.blogspot.com )

Jas Putih Dokter

Selamat malam, jas putih kesayanganku.

Pertama kali aku memakaimu ketika setelah wisuda aku mengikuti program pembekalan kepaniteraan klinik di rumah sakit pendidikan, kira-kira 3 tahun lalu. Kamu tahu tidak? Saat itu aku begitu bangga. Aku merasa sangat lain dibandingkan dengan para pengunjung rumah sakit itu. Mimpi dan segala cita-cita terekam jelas di kepalaku, aku berpikir mulai saat itu hidupku akan aman dan nyaman karena sebentar lagi aku bisa menyandang gelar dokter di depan namaku.

Dan saat ini,

Biar saja aku mempertanyakan sesuatu padamu, jas putih kebanggaanku.

Kenapa waktu itu tidak kamu beritahu aku, tentang kerasnya dunia yang akan aku jalani?

Kenapa waktu itu tidak kamu peringatkan aku, bahwa begitu banyak hal yang harus aku korbankan demi tetap bisa memakaimu sampai akhir nafasku?

Kenapa waktu itu kamu tidak pernah bilang bahwa akan sulit untuk mencapai mimpiku yang muluk-muluk ini?

Kenapa waktu itu kamu tidak menolak saja waktu akan kupakai pertama kali?

Kenapa kamu tidak bilang kalau hanya orang-orang kuat saja yang pantas kamu selimuti tubuhnya?

i’m feeling that i’m not that strong.


Tidak. Jangan begitu saja berpikir bahwa aku menyesal.

Aku tidak menyesal, sebab masih ada mimpi belum terpenuhi yang tersulam di setiap serat benang putihmu.

Doakan aku, jas putih sahabatku. Sebab aku tidak ingin cerita kita berakhir dengan menyimpanmu rapi di dalam lemari.



(diambil dari: http://ksatria-langitan.blogspot.com )

Untuk kamu – Pelangi.

Long time no see, apa kabar? Semoga selalu sehat, meskipun liburan mengacaukan pola makan dan tidurmu. Ayoo, katanya mau hidup sehat? Tapi tidurnya kok masih jam 5 subuh -_-“ makannya juga masih nggak teratur. Kapan hidup sehat nya kalo gitu? Haha

Hari ini, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Maaf. Meski mungkin nggak akan ada artinya bagimu, deket atau nggak sama aku, toh kamu punya jutaan orang lain yang siap jadi aku bagimu :) Tapi aku hanya berusaha mendinginkan hatiku.

Ini, entah sudah keberapa puluh kali aku mendapat umpatan kasar dari teman wanitamu. Tentu kamu masih ingat bagaimana dia yang menga ku pacarmu mengirimiku sms kasar dan menyuruhku untuk menjauhi mu? :) Aku hanya heran, kenapa mereka merasa terganggu sementara kamu tidak?

Kesabaran tidak pernah ada batasnya, Pelangi. Tapi menggunakannya ada batasan. Dan aku sudah terlalu sabar menghadapi komentar apapun tentang aku, tentang kita, dari mereka yang nggak tau apa-apa tapi sok tau segalanya. Aku sudah kebas hati. Dan aku hanya ingin mengakhiri semuanya.

Lagian, pelangi. Rasanya fesbuk dan twitter mu itu isinya nggak cuma aku doang kan yah? Tapi kok kayaknya cewek-cewek yang deket sama kamu tuh dendem banget sama aku? Apa aku secantik dan se-membuat iri itu? Hahahahah.

Setahun bersamamu, kamu tau ini rumit kan? Jadi, tolong jangan tahan aku untuk mengakhiri semuanya.

Aku bukan kalah. Aku hanya mengalah. Aku nggak peduli komentar “Semakin keliatan munafiknya” dari teman-temanmu. Aku sudah nggak peduli apapun, pelangi. Kau tahu? Aku mati rasa. Bahkan untuk menagis sekalipun. Aku nggak akan pernah marah, bukan karena aku memang munafik. Terlebih aku hanya tidak ingin melihat mereka tersenyum menang.

Aku sengaja menulis ini dalam agenda 30HariMenulisSurat. Aku sengaja karena aku tau mereka pasti membaca. Kamu tau kan, Pelangi? Mereka adalah mata-mata paling hebat sedunia. Sebegitu besarnya keingintahuan mereka kepadaku, sampe-sampe mengunjungi blog ku. Aku seneng. Terharu malah xD

Baiklah, Pelangi. AKu tidak ingin membuat ini lebih panjang. Sudah cukup seharian ini menangisi semuanya, mengacaukan resepsi pernikahan kakak dan mbak yang sudah lama di susun rapi. Biarkan aku pergi. Kita teman, selamanya akan tetap teman. Tapi izinkan aku untuk tidak pernah berkomunikasi dengan mu lagi. Aku hanya tidak ingin ada wanita lain yang cemburu. Aku hanya tidak ingin membuatmu jatuh lebih dalam pada kerumitan – karena aku.

Terimakasih untuk setahun yang indah. Tolong sampaikan pada semua teman-temanmu (Meskipun nggak di sampaikan, mereka pasti baca ini kok) hentikan tingkah laku serta tahan jari jemari yang membuat diri sendiri malu. Kalo memang masih sayang sama kamu, ya bujuk kamu supaya mau balikan sama dia dong. Bujuk kamu supaya mau balikan sama temen mereka itu. Bukannya malah mencari info tentang aku, pacarku, mantanku, gebetanku, de el el. Hihi

Oke Pelangi. Hari ini, aku akan kembali kekehidupan yang dulu. nggak ada kamu. Aku sudah tidak tahan. Aku lelah. penat. bosan.

Semoga kamu baik-baik saja :)




( diambil dari http://adytapurbaya.blogspot.com/ )

For My Israeli Husband

Hi, Suamiku…,

Hi, ma mere, ca va? Me good here. Even just lay down on my bed, control my tv remote and playing with this toy (you always say Blackberry just a toy, remember?)

Husband, Today is our a year and 4 months anniversary. And we still celebrate it separately. Oh well, yes we never celebrate it together since our marriage happened. I don’t care, anyway, at least you keep me in your own way

Sayang, time by time we love each other, finally we both feel real when I sent you some Batik’s clothes, for you, your parents and your sister. Like I told you before, it isn’t a bribe for any, it’s because I want “membatiki bule”. Yes, you know it well right. When you met my uncle in Jerusalem, I know how happy you, as much as me. And then, you told me that you wore that clothes (hey, I’m still waiting to see the picture you captured when you wear it), I was feel so (very) happy, darling.

Suamiku, it almost couple weeks we seldom to contact each other. I’m busy with my toy, you busy with your, eerrr…crappy life. I miss the moment we share links (well, it always you send some links of your favorite films from youtube), we share our daily life story, we share any craps and again share love.

Sayangku, Eliyahu, thanks, for being my “imaginer” husband. Thanks for keep stand behind my stupid decision in life. For keep love me even you see how hard we through the time. And thanks for always trying to prove me that you can speak Bahasa. (I love read when you say “cinta kamu, istriku tercinta”).

To end this letter, Suamiku Eliyahu, saya mencintaimu, seperti kamu yang selalu memberi saya waktu untuk selalu mau mencoba untuk mencintaimu.

PS: congratulation for finally you got your Europe’s license when you back home to Latvia.

Je t’aime, ma beau mere…

-L-

----

Hanya Empat Huruf. Kamu.

Halo, ini semua tentang kamu. Ya, Kamu. Masih kamu.


Kamu yang waktu itu bertemu denganku di bulan November yang sarat dengan hujan

Kamu yang waktu itu bertemu denganku di bulan-bulan selanjutnya yang mungkin sarat dengan panas

Kamu yang selalu tertawa lepas

Kamu yang terkadang diam karena kesal dan marah

Kamu yang masih ada di sini. Di hati. Di pikiran. Dan di dalam doaku.


Dan ini semua masih tentang kamu, yang sempat pergi.


Halo, ini semua tentang kamu. Masih kamu.

Dan aku ingin bilang, aku sayang padamu.

-----

Surat Cinta Pembina Pramuka

.--. .-.. . .- ... . -- .- .-. .-. -.--.

Ps. Maaf, Nulis Surat Cinta Itu Susah




*dibaca : Please, Marry Me*

--------

Night Whispere's Whispered

From: The Deepest part of Mrs. Sensitive

To : The Coolest part of Mr. Right


“Hey, you…

I like you…Its true…

but not as an ordinary boy or man but as an incredible man.

I don’t really know you a lot, because, we are pratically haven’t meet at all.And never really have a wall and talk face-2-face.

But, you know…

I always true, when it comes to judging “What a great Man/Woman H/She is?”And I always know, which one has a good enough personality to protect his girl from being hurted by anybody….

And,

what a fool I am.

Three times fall in love with that great guy and Three times TOO I fall over that love peak.Broken hearted.But, I always smile. Because, you know, I loved to see this guy smile.I don’t need him for me…but I wanna see him, protecting the girl he loves. Whenever he sad, I will always be there for him…Maybe Im not pratically BE THERE with him, but I will try …as hard as I can, to make him happy.


I always like this. I am not so great about falling in love because I always fell for the wrong guy. Still, I know Mr.right is right there some where..maybe its you..or the other guy…but whoever it is, it doesn’t change the fact that I love you and your great personality as far as I’ve seen them.


Maybe after this, you wont see me too often, you know what I meant…I really happy to see you jump over around just because of her call…that’s the prove that you are worthy. To receive my nice juicy lovely and full of narcissism Love. J And I don’t want to break it too the pieces. So its better for me to calm my heart down for a little bit. ^^ Am I right?”


NB: Psst, I love you from the very beginning !

----

Kita Harus Bertemu

Dear kamu (juga),

Kamu itu anaknya kahlil gibran yah? Hehehe. Susah sekali untuk mengetahui maksud yang tersirat di dalam surat yang kau kirim. Aku sudah pernah bercerita bahwa aku begitu bodoh dalam pelajaran bahasa Indonesia. Tapi kau membuat kebodohanku menjadi-jadi dengan tulisanmu yang bercampur aduk dengan puisi itu.

Kapan kita akan benar-benar bertatap muka? Aku ingin beradu argumen dengan kamu. Terutama tentang Hujan.

Ketika aku menulis surat ini, hujan sedang mengguyur. Aku tidak pernah suka dia datang. Hujan membuat suara teriakkan rinduku redam tak terdengar dan amarah dalam diri meluap. Hmm. Lupakanlah.

Kamu percaya takdir? Dia menyuruh kita bertemu. Secepatnya.

Salam Hangat,

Obi

----

Kepada Pembimbing Skripsiku

Kepada Pembimbing Skripsi paling baik dan paling sabar,

Apa kabar?

Terima kasih untuk sms cinta yang mbak kirimkan dan saya jawab sekenanya berhari-hari kemudian setelah sms berikutnya menyusul, dan maaf karena jawaban saya pasti mengecewakan. Tapi akan saya jelaskan di sini, dengan lebih lengkap meskipun pasti tetap tak memuaskan.

Mbak yang baik, skripsi saya sedang dalam tahap pengerjaan. Seperti semester kemarin, dan semester kemarinnya lagi. Tapi percayalah mbak, saya tidak jalan di tempat. Walaupun memang seperti berkendara di jalanan ibukota.
Seperti saya, mbak juga pasti sudah lupa kapan terakhir kita berjumpa, atau sekadar bertegur sapa. Memang sudah berbulan-bulan lamanya. Ah, tapi itu semua karena saya orangnya suka memberi kejutan. Saya tak mau membuang-buang waktu seorang dosen yang sibuk dengan datang tanpa banyak kemajuan.

Mbak yang sabar, sungguh, saya tak bermaksud merepotkan. Begitu sulit mencari responden untuk topik yang mbak usulkan, dan begitu banyak hal-hal menarik sedang terjadi. Tapi saya tahu itu bukan alasan. Dan saya janji, saya pasti akan memakai toga semester depan.

Demikianlah surat singkat ini saya akhiri, semoga tidak membuat kesal. Maafkan saya ya, mbak tersayang. Kita akan segera bertemu lagi. Tunggu saja!
Selamat Natal yang terlambat 21 hari, dan Selamat Tahun Baru yang terlambat 15 hari.

Dari mahasiswi yang kau cari-cari.

----

(diposting di http://disatannos.wordpress.com/2011/01/15/kepada-pembimbing-skripsiku/)

Kalian, Si Pembawa Kupu-Kupu

Harusnya dulu aku berani saja menuliskan surat cinta untuk kamu ya. Ada sedikit penyesalan bahwa aku tidak pernah mengambil resiko untuk mengetahui perasaanmu.


Kamu tau? Aku adalah fans beratmu selama enam tahun lamanya. Aku suka karena kamu pintar, selalu jadi juara kelas, dan tentu saja, kamu tampan!


Aku ingat beberapakali kamu ketus berkata-kata padaku. Tapi juga tidak jarang aku menangkap basah kamu mencuri-curi pandang, membuat banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perutku.
Kamu itu, adalah kenangan masa kecil yang manis yang hanya diam di memoriku sebagai kelebatan ingatan.


Limabelas tahun kemudian aku bertemu dengan seseorang yang memiliki nama yang sama denganmu. Lucunya, kalian memiliki keangkuhan yang sama, juga membawa kupu-kupu yang serupa. 
Sebelum aku menyesal, kira-kira bagaimana menurutmu, apakah aku harus mengiriminya surat cinta?


(diposting di http://bukukuning.tumblr.com/)