Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #13. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

Kisah Random Kita

Wow… Benar-benar hari yang menyenangkan.


Kamu hari ini terlihat semakin cantik.
Yaaaaa… Aku tau yang namanya cantik itu membosankan. Tapi kamu selalu punya cara sendiri untuk ‘mengakali’ cantik jadi ga monoton, dan cuma orang pintar seperti kamu yang bisa melakukan itu.

Oiya… Kenapa yah ‘girls with boots’ itu selalu kelihatan sexy? Hmmm… Mungkin cuma ‘point of view’ aku aja kali ya? karena pada awalnya, ‘point of view’ itu lahir disaat aku melihat seorang gadis disebuah bar di New York memakai boots. Dia berdua sama temennya ngobrol-ngobrol sambil minum sebotol Hoegaarden. Damn, she’s hot!

Dengan modal nekat dan niat, aku coba untuk kenalan sama dia. Begitu aku disebelahnya dan mencoba untuk “Hi”, kecium parfumnya yg bikin aku diem dan ga bisa gerak. Bodohnya dia udah keburu ngeliat aku, dan dia cuma senyum sambil bilang “what’s wrong with you, stranger?” Dan bodohnya aku cuma bilang “Hoegaarden huh? Great beer isn’t it?” (Grogi + terlanjur = norak)

Hahaha… Kok jadi cerita masa lalu gini sih… Sorry sorry.

Anyway… Balik lagi ke topik, kenapa tadi aku bilang kamu hari ini semakin cantik? Karena dalam waktu 1 bulan terakhir ini kita melakukan hal-hal seru, yaitu:

1. Kita ngobrol-ngobrol seru sambil liat bintang sampai akhirnya ketiduran di tepi pantai Waikiki, Hawaii. Kita kebangun karena banyak yang foto-fotoin kita, karena posisi tidur kita pelukan and yep… Topless, both of us (yang aku sih ga ngaruh, hehehe)

2. Wild private party, uummm… Sex and drunk at St. Thomas, Virgin Islands. Yaaa… I know, that naked-all-day thing, rock and roll huh? And I’m really sorry about your dresses…. It wasn’t me… But alcohol and me, Hiahahaha

3. Jalan-jalan dengan boat di kanal-kanal kota Venice, terus kita ‘parkir’ ditemani champagne and romantic-sex-on-boat, terus sambil dengerin Oasis. Agak nabrak sih, tapi bodo amat.

4. Berenang pagi buta di Tahiti… Bungalow pilihan kamu adalah yang terbaik, ada 3 balkon dibungalow itu. Ada balkon dengan private pool-nya, ada juga balkon tempat ‘fireworks’ dinner, dan ada balkon tempat duduk-duduk buat kita chit chat, cuddling and long romantic kisses sampe pagi. Serunya… ke-3 balkon itu punya view lautan dengan 3 penjuru arah yang berbeda.

5. Paris… Untungnya kita bukan tipe ‘Eiffel I’m in love’ like common people. Kita lebih memilih berjalan bergandengan sepanjang Champs Elysees dan mencicipi wine langsung di O Chateau wine. Oiya… Inget pas kita minum absinthe? Ooooooooo God!!! You look like naked Eve with those ‘Forbidden Fruits’

6. Hampir tiap malam kita pindah-pindah cafe dan bar di Bruges, Brussel. Kita ketawa keras seolah-olah kota kecil itu adalah rumah kita, dan penduduk setempat ikut senang dan tertawa bareng kita.

7. Kita jalan-jalan naik sepeda di kebun-kebun anggur, dan menurutku, rasanya kota Tuscany emang bener-bener tempat buat ‘kabur’ yah? And btw… Please honey, no public sex anymore. Yaa aku tau emang disana sih ga ada yg liat, tapi deg-degannya itu lho.

Gimana gw ga cinta sama lo, sebulan kita seru-seruan gitu. Dan kita masih punya 11 tempat yang belum di checklist. Mesir, Milan, Maldives, London, dan yang pasti… Pulau pribadi yang baru aja aku beli buat hadiah ulang tahun kamu.

Wow… Ga kebayang gimana kita nanti seru-seruannya.

Sekarang disaat aku menulis surat ini, kita lagi di bar yang sama disaat aku pertama kali ngelihat kamu. Boots itu juga sedang kamu pakai, dan parfum ‘Coco Chanel Mademoiselle’ masih tetap membuat aku jadi makin ‘norak’. Ditambah lagi kamu lagi nungguin aku nyelesain surat ini sambil ngeliatin aku senyum-senyum seolah-olah berkata “What’s wrong with you, honey?” Sambil menggenggam Hoegaarden dingin. Damn.. You’re hot!

Huuffff…. Kayanya sekarang udah pagi nih. Udah saatnya aku bangun dan balik kedalam alam nyata yang disebut realita. Mudah-mudahan semua mimpi itu bisa terwujud. Ok honey.. See you in my next dream.

I love you… My kissable unidentified nice imaginary love

-Steno Ricardo-
Astral fighter
KRIIIIIIIINNGGG!!!! (Dan alarm-pun berbunyi)



---Oleh: @stenoricardo


(diambil dari: www.mysplitego.tumblr.com )

Surat Cinta #13: Untuk Diary

Menyenangkan bersamamu.

Menulis lagi di diary baru. Saya menulis lagi dengan spidol warna-warni, terkadang saya mewarnainya dengan pensil warna. Menandai agenda-agenda penting saya. Sampai menandai jadwal menstruasi. Ah tentu saja yang satu ini juga penting.

Saya menulis apa saja yang saya inginkan: curhat, sedih, marah, suka, pengalaman menyenangkan. Apapun yang dapat saya tulis. Termasuk menyampah. Menyampah apapun yang saya mau. Kamu akan mendengarkan saya dengan sepenuh hati.

Kamu seperti diary.

Lalu, saya akan menulis rahasia. Kamu tahu setiap rahasia yang saya punya, saya akan menceritakannya kepadamu tanpa malu. Saya memang tidak pernah malu kepadamu. Kamu orang yang selalu membuat saya leluasa untuk bercerita.

Kamu tidak pernah men-judge saya, kalau saya ceritakan tentang perbuatan-perbuatan bodoh saya yang kalau diingat-ingat lagi akan membuat pipi saya memerah. Kamu juga rajin mendengar saya. Kamu seperti punya telinga.

Aneh kan. Kamu diary yang yang dapat mendengar saya.

Tiba-tiba kalau kamu mendengar saya, kamu seperti ingin memeluk saya. Dan kalau kamu sudah memeluk saya, saya ingin mencium bibirmu.

Jangan tertawa kalau kamu membaca ini, pesan saya: tolong jaga rahasia malam-malam kita.


weheartit


Termasuk yang di bawah selimut.


(oleh: @perempuansore)








Untuk.. Ah, Lagi-Lagi Kamu

Hebat!


Lagi-lagi kamu yang mengalirkan energi dari hati dan otakku beriring-iringan. Energi yang menuju ujung jemari membuat ungkapan perasaan menjadi barisan kalimat pernyataan: surat cinta. Diberi makan apa sih kamu waktu kecil sama ibumu, kok bisa hebat begitu? Rasanya ini ya, padamu, seperti kena guna-guna. Walaupun aku tahu kenyataannya tidak begitu, karena bagaimanapun kau mantrai aku, ‘dukun’ Yang Mahaagung itu kupercayai lebih hebat dari dukunmu!


Dia Yang Mahahebat itu yang mempertemukan garis hidup kita di persimpangan jalan. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan. Nah, itu yang aku pertanyakan. Untuk apa rasa sehebat ini Dia ciptakan? Bila setiap orang ditiupkan nafas kehidupan untuk suatu tujuan, bagaimana dengan kita? Dua manusia yang saling jatuh hati dipersatukan atas nama cinta. Untuk apa?


Aku mengagumimu untuk setiap karya yang kaucipta. Aku menghormati tiap sumbangsihmu pada sesama. Aku mengherani buah pikiranmu yang tidak biasa. Aku terpesona tubuhmu yang menggoda. Tapi jangan tanyakan alasanku jatuh cinta, aku tidak punya jawabannya.


Jadi sayangku, kalau boleh sedikit kutarik kesimpulan malam ini. Yang kutahu, sejak bertemu kamu, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan kalau senyatanya kamu tidak diciptakan untuk bersanding denganku sampai nafas yang terakhir terhembus dari mulutku, kenanglah ini: aku bersyukur Dia pernah mempertemukan kita dan mengizinkanku mencicipi bahagia – apapun tujuanNya.


(dikirim oleh @miyaa di http://literaturdiatasranjang.blogspot.com/2011/01/30harimenulissuratcinta-hari-tiga-belas.html?zx=db973bea13fa6035)

hari ketigabelas: dalam diam


Bisakah kau mendengarnya? Mendengar yang kukatakan dalam diam? Atau aku harus berteriak dalam diam?
Bisakah kau melihat? Melihatku dari sana? Kau terlihat indah dari sini. Walau terpisah jarak dan terhalang tembok tinggi.
Mereka bilang aku pengecut karena terus lari darimu. Aku bukan lari darimu. Hanya saja aku memilih untuk tetap berdiri di sini. Dan sesungguhnya dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk dapat mencintaimu dalam diam. Menahan tanpa ada yang membekap. Hening dan tak bersuara.
Sampai kapan? Entah

Mungkin ini Semacam Kado

20 Januari 2011...
Tidak terasa ya, rupanya sudah 59 tahun berlalu. Seperti apa rasanya? Apakah menyenangkan?
Kalau aku masih punya 37 untuk mencapai umur itu. Itu pun kalau aku diberi jatah yang sama oleh Tuhan. Sebenarnya, ada hal yang ingin aku tanyakan. Pertanyaan mudah, namun begitu sulit sekali rasanya untuk dipertanyakan.

Aku selalu penasaran, apakah engkau bahagia memiliki anak sepertiku? Bukan apa-apa. Hanya bertanya. Walaupun sebenarnya aku pun tak memerlukan jawaban. Mungkin juga sama sepertimu, jika kau bertanya balik kepadaku, aku juga tak perlu menjawab. Kita sama-sama tahu, aku memiliki stok cinta tak terbatas untukmu, sama halnya denganmu. Aku yakin, bahkan mungkin milikmu lebih banyak. Ah, sudahlah, ini bukan saatnya membandingkan. Kita saling cinta. Itu saja.
Maaf, aku memang menyebalkan. Kadang hal sepele malah memanas hanya karena ketidaksudianku untuk mengalah. Keributan yang terjadi hingga berakhir pada raut wajah masam di masing-masing wajah kita memang sering sekali terjadi. Sekali lagi maaf, toh ternyata kita sama-sama ceroboh.
Terima kasih, sudah sangat sering menyelipkan kekhawatiranmu di dalam setiap sms-mu yang menanyakan 'kapan pulang?' dan 'lagi di mana?'. Aku memang terkadang melupakan waktu. Jangan sampai aku pun melupakanmu. Tidak! Tidak! Tidak akan. Kau bahkan bukan seseorang yang layak untuk dilupakan, karena aku sudah memisahkan memori dan segala kenangan tentang dirimu tak hanya di belahan otak yang spesifik, tapi juga di hati. Semoga Tuhan mendengarnya dan memberikan ingatan yang kuat bagiku untuk menceritakanmu kepada anak cucuku kelak. Lalu aku akan berteriak dengan bangga menunjuk fotomu, "Ya, dia Bapakku!".
Hari ini kau berulang tahun, dan sehari sebelumnya resmilah aku tidak berstatus pengangguran lagi. Mudah-mudahan hal itu bisa menjadi hadiah yang manis. Setidaknya kau akan menyadari, bahwa perlahan-lahan aku mencoba untuk tidak merepotkanmu lagi. Ya! akulah si makhluk merepotkan. Sekali lagi maaf...

25 Januari 2011...
Hari ini ulang tahunmu, Ibu. Ya! Ulang tahunmu. Betapa pun kau bersikeras mengacuhkan hari lahirmu ,  bagiku bulan Januari adalah bulanmu juga, bukan hanya bulannya Bapak. Memasak apakah kau hari ini? Jujur, aku selalu mengagumi semangat memasakmu. Walaupun kadang-kadang aku gengsi mengakuinya.  Maaf, seharusnya aku yang memasak untukmu. Ini kan harimu. Tapi rupanya aku terjerat kesibukan. Bahkan  sebenarnya masakanku sendiri pun tak kuasa menandingi buatanmu. Kau hebat, Ibu. Hebat dengan caramu sendiri.
Kita memang pantang memperlihatkan air mata masing-masing. Seperti ajaranmu, kita harus kuat menapaki hidup. Bahkan air mata pun sepertinya hanya lazim dikeluarkan saat Lebaran tiba. Tapi terima kasih, kau sudah menangis dan mengkhawatirkanku saat ponsel butut milikku hilang dan aku tak kunjung mengabarimu. Aku hanya bisa diam melihatmu berurai air mata sambil mengucap syukur karena aku selamat (selamat dari entah apa yang terlintas di pikiranmu). Padahal itu bukan lebaran...
Sudah lama juga ya kita tidak berbincang seperti saat di Jogja bersama Eyang dahulu. Aku selalu menyebutnya 'obrolan 3 generasi'. Aku tidak tahu kau ingat atau tidak dengan topik yang kita bicarakan. Saat itu mati lampu. Yang ada hanya kita, kegelapan, dan obrolan yang hangat. Ya, aku rindu...
Maaf, seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak, aku memang menyebalkan. Tapi terima kasih, sudah repot-repot menampungku di dalam rahimmu yang hangat dan tidak mengutukku untuk kembali ke sana. Walaupun jelas itu mustahil. Umurku 22 tahun, Bu! dan aku tetap masih merepotkan sesekali...atau mungkin seringkali...

Ya,
katakanlah ini kado, Pak, Bu...
Entah layak atau tidak...
Tapi yang pasti, surat ini surat cinta (yang meliputi beberapa maaf dan terima kasih)
Selamat Ulang Tahun para perantara kehidupanku,
I love you both...


dikirim oleh @minumino di 
http://ht.ly/3KDUu

Kangen si Tiga Belas.

Buat siapa hari ini ya saya tujukan sang surat beramplopkan warna merah muda, yang ga lupa pake tambahan aksen cap bibir tepat di bagian depan.
Buat siapakah?
Pak Pos, tolongin saya ya, tolong berikan si surat saya tersayang ini buat sesosok yang biasa saya panggil dengan nama Tiga Belas.

Buat Si Tiga Belas Tersayang...
Saya kangen banget sama kamu!!! Ga tau harus bilangnya gimana.. Saya kangen banget sama kamu!
Kamu yang udah berubah warna dari Kuning, jadi warna Pink.
Kamu yang udah ga berkawan lagi sama si mobil sedan Tosca yang suka rempong kalo mau dipake.
Kamu juga yang udah ga maen bareng si saya yang suka naek becak tiap pulang sekolah.
Tapi kayanya,.. kamu yang terlihat sangat bahagia, teratur dan cantik begitu ga maen bareng saya lagi.
Kamu yang keliatannya senyum manis dengan warna pinkmu yang lembut itu, ga kaya dulu yang kayanya murung aja tiap saya datengin. 
Gapapa deh Tiga Belas, saya seneng kalo ngeliat kamu bahagia..

Ga kerasa, udah sekitar 4 taunan ya saya putus sama kamu, dan saya ninggalin kamu gitu aja dengan berbagai kenangan yang pernah ada.
Kenangan dimana saya lagi nyari-nyari makanan walaupun gosipnya kedua kaki saya juga belum bener jalannya. 
Kenangan waktu saya lagi dikepang rambutnya sama Mama.
Dan kenangan waktu saya pulang sekolah bawa raport dan berteriak bahagia "Ye, Mama, Kanne juara kelas Ma!"
Atau juga kenangan waktu saya pertama dijemput sama mantan pacar saya waktu SMA >> pertamanya bawa pacar ke rumah tuuuh!!
Dan juga kenangan waktu saya nangis-nangis gara-gara diputusin sama si mantan yang dimaksud di atas.
Dan pastinya juga kenangan waktu saya ga keterima ITB (gimana galaunya sebulan lebih, gamau makan, gamau jalan-jalan dan trus ngurung diri deh)
Kenangan waktu saya diem-diem curi-curi waktu buat nelpon sahabat saya atau menyelusup ke kamar Nini (panggilan buat Almarhum Nenek saya tersayang.. Cium kening buat Nini!)
Dan juga kenangan waktu Nini meninggal... pertama kali saya ngeliat muka Nini di hidup saya dan terakhir kali juga ngeliat Nini waktu Nini mau dibawa ke Rumah Sakit..
Gimana Nini yang sayang banget sama saya, manjain saya, gendong-gendong saya waktu kecil (gosipnya saya tenang banget pas digendong Nini)
Dan gimana saya berandai-andai kaya apa ya Aki (panggilan buat Almarhum Kakek saya yang ga pernah saya liat seumur hidup saya)...
Gapapa deh Tiga Belas, saya nitip salam aja buat Aki sama Nini ya? Masih sering mampir kesana ga mereka? Salam sayang aja.. Sun kening ya buat Aki dan Nini tersayang, bilangin : Kanne sayang Aki Nini gituuu!  

Tiga Belas...
Udah lama saya ga nengok kamu.
Saya juga kayanya udah ga berhak ya nelpon atau kirim-kirim surat buat kamu..
inget dulu saya jarang banget beberes kamar, dan bersihin kamu... 
Maaf ya Tiga Belas.. tapi beneran, saya sayang sama kamu, saya kangen sama kamu...
Saksi hidup saya selama dua puluh taun saya hidup...

Makasih ya Tiga Belas.. lupa deh dulu saya ga ngucapin makasihh, cuma asal ninggalin kamu aja tanpa pesan tanpa kesan... Makasih ya..?

Pak Pos, tolong sampein ke Jalan Cisaga No. 13, Bandung - 40121 ya Pak?
Rumahnya sekarangnya warnanya Pink.. tanpa taman dan tampak rapi.. :)
Nah, itu dia si Tiga Belas yang saya sayangin itu Pak.. Plis?



(dikirim oleh @kandelakandeli di http://ceritahujancandella.blogspot.com/2011/01/day-13-30harimenulissuratcinta-kangen.html
.

Curhatan Untuk Tuhan

Kepada Tuhan Yang Maha Pencipta Segala,

Tuhanku sayang, mohon maaf sebesar-besarnya karena lancang mengirim surat. Tapi saya sedang gayus guyana alias gundah gulana. Jadi saya mau minta izin bertanya sedikit. Tapi saya maklum kok kalau surat saya tak dibalas dengan segera, meskipun ya pasti berharap juga sih…
Tuhan, saya tahu dan sadar bahwa saya ini bukan perempuan yang suci-suci sekali. Banyak juga dosa yang saya buat dengan sadarnya. Tapi saya sendiri merasa (mohon maaf) sudah berusaha menebusnya. Meskipun, mungkin semua itu belum setimpal ya? Saya cuma heran, Tuhan. Jadinya banyak kata “kenapa” yang muter di kepala saya. Nah, daripada muter-muternya itu makin bikin saya pingsan, jadi say aputuskan meneruskannya pada-Mu Yang Maha Tau. Boleh, ya?
Jadi Tuhan, Engkau tahulah apa yang terjadi pada hati saya ini. Banyak mau dan banyak nggak mau tau. Saya cuma bingung. Apa dosa saya itu jauh lebih besar daripada para koruptor? Atau sama besarnya dengan para pelacur yang murni dikuasai nafsu? Apakah begitu berdosanya saya sampai saya ini tak pantas mendapatkan orang yang saya cinta? Memang, saya yakin Engkau pasti sudah menyiapkan yang terbaik untuk saya, dan mungkin dia belum sebegitu baiknya. Tapi kok ya… hati kecil saya selalu membujuk untuk terus menunggunya. Atau itu sebenarnya setan kecil dalam diri saya yang menyamar jadi hati? Waduh, jangan-jangan paru-paru dan otak saya pun jelmaan setan?? Errrr, ampun Ya Gusti, cuma bercanda kok…
Hanya saja memang begitu rasanya, Tuhan. Saya merasa semua tepat. Mungkin semua itu salah, tapi bukankah kita terkadang harus memilih sesuatu yang lebih tepat daripada yang lebih benar? Dan rasa panas di dada serta cekit-cekit yang menusuk ini lho… Kalau saya bukan berjodoh dengannya, kenapa saya bisa begitu mudahnya cemburu? Padahal ‘kan dia tak pernah jadi milik saya sepenuhnya juga…
Duh, Gusti… Saya mohon dijawab ya pertanyaan-pertanyaan saya ini. Karena otak saya rasanya sudah dipenuhi aksara-aksara Cina yang super rumit (Subhanallah, Engkau Maha Besar hingga mampu menciptakan akal manusia yang bisa menciptakan tulisan abstrak itu), jadi kalau dijejali pertanyaan berbasis “kenapa” ini, saya takut bisa kena stroke dini. Maaf Ya Tuhan, sudah mengganggu dengan hal remeh begini. Tapi saya capek nangis malam-malam karena bimbang. Ihiks…
Dengan segala rasa syukur dan terima kasih karena masih diberi kesempatan untuk menulis,
Seorang umat, Inez Kriya
P.S. Saya sukaaaa sekali langit biru ciptaanmu. Izinkan mengaguminya lebih banyak di Depok nanti Ya Tuhan

Berhati Emas


Mas Bobby,
Sengaja aku menulis surat untukmu di hari ke tigabelas karena aku tahu kamu menyukai angka tersebut, begitu pula aku yang sudah engkau beritahu maknanya, mungkin banyak orang menganggapnya angka sial namun kita berdua tahu kalau angka tersebut bermakna satu dari yang tiga…ya berkat dirimu aku tahu banyak hal yang dulu aku tak tahu dan sering bertanya pada diriku sendiri. Aku menulis surat ini sebagai tanda terima kasih juga rasa sayang dan kekaguman dari seorang adik terhadap kakak.
Mas Boy,
Walaupun orang tua kita memberimu nama Bobby Handoyo ketika dirimu dilahirkan ke dunia ini, aku adikmu yang selalu suka mengikutimu kemana kamu pergi dan apa yang kamu lakukan sehingga kita berdua begitu dekat, bukan saja sebagai kakak adik, tapi sebagai kawan, sahabat dan aku menganggapmu guru juga kepala keluarga pengganti papa ketika papa meninggalkan kita semua di dunia. Aku mungkin tak mengerti atau mengetahui banyak hal yang kamu lakukan ketika kita masih anak-anak, kamu yang hampir jarang dirumah karena sering bertualang, suka mendaki gunung,  menjadi sukarelawan membantu timsar, kamu juga suka hal-hal yang berbau mistik, mungkin sebagai laki-laki, hal-hal tersebut lumrah, bahkan ketika kamu memulai mencoba minum-minuman keras dan sering tawuranpun aku tahu, perjalanan hidup seseorang memang berliku-liku, dari fase satu ke fase yang lain, itulah kenapa aku menganggapmu seorang guru, karena kamu selalu memberitahu aku segala sebab dan akibat perbuatan yang kita lakukan di masa muda, pergaulan bebas memaksa kamu akhirnya harus menerima resiko nya, kamu menikah setelah lulus SMA, tapi mungkin nasibmu sudah di gariskan seperti itu atau mungkin kamu tidak akan sadar apabila tidak diberikan segala cobaan dan godaan juga ujian dari-NYA. Penyesalan tidak ada gunanya, itu katamu dan kamu mencoba menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa setelah itu. Ya, aku memperhatikanmu dan baik atau buruk nya dirimu, kamu selalu baik dan sayang terhadap adik-adikmu, selalu mengajarkan jangan berbuat sepertimu dan karena itu aku selalu sayang padamu.
Mas Robbi,
Itu sebutan buatmu dari guru-guru besarmu, yang setelah bertahun-tahun lamanya dan akhirnya kamu temukan dan menjadi panutanmu, kamu yang mulai bertambah umur, mempunyai 5 anak sekarang, rasanya aneh orang tua kita mempunya 5 anak , 2 laki-laki dan 3 perempuan, begitupula kamu, walaupun kamu pernah mencoba tak mau punya banyak anak, namun mungkin Tuhan bermaksud lain dan memberimu banyak anak, mungkin itu juga cobaanmu, supaya kamu lebih tegar dan kuat, lebih berusaha keras mencari nafkah walau dengan ijazah SMA, bekerja sebagai buruh yang tak tetap, terkadang aku tahu kamu begitu kesusahan tapi kamu tak pernah meminta bantuan kepada yang lainnya, kamu tak pernah mengeluh sedikitpun, aku yang mengetahuinya suatu hari berkunjung kerumahmu yang mungil dan waktu itu kutemukan kamu menggoreng satu butir telur yang dicampur terigu agar bisa dibagi 6 bagian untuk anak-anakmu dan istrimu. Aku menangis saat itu, aku tak tahu kamu begitu kesusahan dan kamu bahkan tak mendapat bagian. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan berusaha untuk membantu semampu aku. Sejak saat itu, aku sering meluangkan waktuku bersamamu, melewati malam-malam bersama dengan duduk di atas bale-bale depan rumahmu, bercerita, mengajarkan tentang alam semesta, namun aku tahu kamu tak ada tempat untuk tidur karena istri dan anak-anakmu kamu utamakan mendapat tempat tidur, aku menemanimu, aku merasakan kesusahanmu, aku mengagumimu dan satu per satu datang beberapa orang mendengarkanmu, menemani kita, merasa sehati dengan kita, melewati banyak malam bersama, saring bertukar pengalaman dan pelajaran, dari situ kita menemukan makna sesungguhnya hidup.
Aki berhati Mas,
Ya, itulah kamu sekarang, Kakakku yang berhati emas, bukan sekedar mas-mas seperti kebanyakan, ketika seseorang tiba-tiba menyebutmu Aki-Aki, akupun terkejut, mereka begitu mengagumimu, nasehat-nasehat yang kamu berikan kepada mereka membuat hidup mereka lebih tenang, begitupula aku ketika bersamamu, entah apa yang kamu lakukan, ketika bersamamu, hatikupun terasa tenang, mungkin kesusahanku tak seberapa dibanding dirimu namun kamu selalu tampak tenang dan tersenyum dengan kesusahan, bagimu kesusahan yang kamu hadapi adalah wujud kasih sayang Tuhan untukmu, agar kamu selalu ingat dan yakin bahwa Tuhan masih mencintaimu. Aku bersyukur Tuhan memberikan seorang kakak yang begitu mengajariku banyak hal, memberikan seorang guru yang terus menerus menasehati aku untuk berhati-hati melangkah dalam kehidupan, seorang manusia yang tak pernah meminta untuk dirinya dan berkorban untuk orang lain.
Aku berterima kasih dan aku minta maaf bila aku belum bisa memberi apa-apa untukmu sebagai wujud terima kasihku namun aku akan terus berusaha menjadi seperti dirimu yang sekarang ini.
Dari adikmu yang selalu menyayangimu

Aku Meleleh


Dear AC,
Hei AC di ruang kantor, mengapa kau hentikan kekuatan supermu itu. Kekuatan membekukan semua yang berada di dalam jangkauanmu termasuk hatiku.
Namun sekarang mana kekuatanmu itu? layaknya jompo yang tak bergigi, tak sanggup mengunyah kacang garuda.
Aku kepanasan sayang, aku meleleh laksana lilin yang menyala terus menerus, melebur menjadi bentuk lain yang kau pun tidak akan mengenali aku lagi.
Ataukah kau kehilangan kekuatanmu? ayooo aku bantu mendapatkannya kembali.
Baeklah nanti malam kita semedi bersama ya minta petunjuk Betara Agung.
Jam 19.00 ya.
Salam,
Aku yang kepanasan

Surat Cinta 2

Untukmu yang mengawasiku di garis waktu.
Aku tak sedang mempermainkan hatimu. Aku pun tak sedang menguji kesetiaanmu. Jadi jangan pergi, tetaplah mengawasiku.

Aku senang saat kita berbincang. Meski tak ada suara terucap, senyummu adalah nada keindahan yang terasa gombal jika kudeskripsikan. Petuah bijak bilang, saling sayanglah tanpa mengharap balasan. Maka itu yang akhirnya kulakukan, menyayangimu tanpa ingin kau tau.

Jangan bertanya, bentuk sayang seperti apa yang kupunya. Lihatlah dan bacalah saja. Maka, desir hati yang kau rasakan, itulah sayang yang ingin kuhadirkan.

Untukmu yang menemaniku di garis waktu.
Surat cinta ini tak hendak membuatmu makin mencintaiku. Membuatmu terjaga dan terus menemaniku adalah cinta yang diam-diam kudoakan pada Tuhan. Kelak jika kutemui jodoh pastiku, kuharap ia sepertimu, tidak terus terang menyayangiku, tapi terus kurasakan sayangmu. Bukankah itu yang paling penting bagi perempuan; merasa dicintai.

Untukmu yang ada bersamaku di garis waktu.
Pergilah jika kau lelah. Jalani hidupmu dan aku pun begitu. Aku membebaskanmu, kau pun tak menahanku. Aku mendoakan bahagiamu, kau pun mensyukuri kegembiraanku.
Tak ada yang bisa memastikan kita. Garis waktu pun akan terus berjalan .
Jika nanti kau mencari, semoga garis waktu ini masih kudiami.


Tentang Siapa

"Tentang Siapa yang Datang, dan Tak Pernah Pergi"

Sayang,

Ternyata selama ini saya salah. Saya pikir ini semua tentang kita. Di saat kita diam, berharap hati kita saling menggenggam. Kita biarkan hati ini meluap. Membiarkan kita saling butuh, saling tak bisa lepas. Apa jadinya 'kita' tanpa 'saya' dan 'kamu'?
 Ternyata ini bukan tentang kita.

Saya pikir ini tentang kamu. Karena semua hal membuatku mengingatmu, merindumu. Karena rindu hanya hilang ketika kamu hadir. Karena rindu sedang bertahta di dalamnya perasaan. Karena rindu membiarkanku menunggu dalam pilu. Dan hanya kamu, hanya kamu saja yang mampu membekukan rasa itu, ketika wangi tubuhmu tercium di sampingku. Namun ternyata ini bukan cerita tentang kamu.

Lalu saya berpikir lagi, apa ini tentang saya? Saya tahu kamu menikmati setiap kali pipi ini merona karena ucapanmu. Atau ketika kamu mendaratkan bibirmu sebagai ucapan sampai jumpa. Atau ketika kamu mengakui bahwa kamu diam-diam senang melihat saya mengomel panjang lebar, entah tentang apa. Ternyata bukan juga.

Sayang,
Ini semua tentang siapa yang datang, dan tak pernah pergi.

(dikirim oleh @larushrush di http://stephanielarasati.blogspot.com/2011/01/tentang-siapa.html

Appreciation Is What It Takes

Selamat  malam, Bebo
Aduh.. sdikit terlalu malam buat menulis surat cinta ya sbenarnya. Tapi tidak apalah. Malam tidak terlalu berpengaruh bagi dua orang yang tidak terikat pekerjaan yang mengharuskan bangun pagi seperti kita, kan :)
Hey, kau ingat tidak betapa kemarin kita sempat bahas ketika menonton film The Kids Are All Right, tentang pasangan gay? Karena di Modern Family, melihat pada pasangan Cam dan Mitch, yang notabene gay couple, ada masalah tentang siapa yang jadi stay at home mom atau stay at home dad. Jadi sulit ditentukan, karena sebenarnya mereka berdua bergender sama.
Entah kenapa kita lupa kemarin, bahwa dalam kehidupan berkeluarga pasangan hetero pun, hal tersebut juga menimbulkan suatu masalah. Hanya saja umumnya perempuan yang lebih banyak hampir selalu jadi stay at home mom. Lelaki umumnya bekerja di luar. Jadi itu wajar.
Tapi kalau dilihat, masalah “appreciation” yang dikatakan oleh JulesJulianne Moore makin tua makin cantik ya* itu juga sering jadi masalah bagi perempuan dengan pasangan laki-laki. Kurang merasa dihargai karena hanya jadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Seakan tidak punya sebuah cita-cita yang tinggi yang ingin buat diwujudkan. Sementara pasangannya merasa lebih berjasa bagi keluarga karena membiayai ya kehidupan sehari-hari, sekolah anak, dan lain-lainnya.
Lalu ketika perasaan tidak dihargai sudah memuncak, yang ada hanya kemarahan dan keinginan buat menyalahkan. Satu akar baru yang bisa sekali jadi penyebab hancurnya sebuah pernikahan. Padahal mungkin sebenarnya bukan salah siapa-siapa, hanya saja keluhan yang kadang ada, tidak pernah benar-benar terucapkan sejak masih kecil hingga terpelihara dan menggerogoti hati sendiri.
Ngeri ya… Ada-ada saja masalahnya dalam pernikahan.
Tapi memang lalu kenapa? Belajar dari semua contoh yang ada di depan mata. Dari kehidupan nyata atau hanya dari cerita di film ataupun buku yang rajin kubaca. Susah tetap, tapi disitu tantangannya kan? Hahaha terdengar sompral dan sombong bagi aku yang jadi istri belum juga ada setahun. Tapi lalu apa bedanya? Jadi istri sehari, sebulan, setahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun… Judulnya sama. ISTRI. Semua punya masalahnya sendiri yang harus dihadapi. Sama denganmu yang suami, tentunya.
Aku butuh segala yang namanya penghargaan. Aku juga tau bahwa aku harus memberinya dengan penuh buatmu. Orang lain tak perlu tau, tapi kita sendiri mengerti. Nanti bila kita punya Baby Navaz, rasanya kita akan jadi stay at home mom and dad, ya. Yang sama-sama punya porsinya sendiri dalam membiayai keluarga. Yang sama punya jasanya sendiri dalam menciptakan sebuah rumah tangga yang bahagia. Jika ada keluhan, katakan. Segera. Maka pasti semuanya akan baik-baik saja.
Ya Tuhan… Aku tidak sabar ingin menjalani masa depan kita!

Tanya Hati

Hei hatiku,

Kau selalu menjadi misteri. Sampai detik ini, aku masih tak tahu. Apa sih maumu?

Kadang kukira, yang bergetar di dalammu itu adalah cinta. Tapi ternyata hanya sekedar rasa suka biasa.

Kadang kukira, yang terbakar di dalammu itu adalah benci. Tapi ternyata aku malah merindu setengah mati.

Kadang aku merasa jatuh cinta setengah mati, kadang merasa hampa sama sekali.

Jadi, sebenarnya siapa sih kau cinta, hei hatiku? Dia? Mereka?

Atau sebenarnya, kau mencintai cinta?

Jangan-jangan, yang kaucinta bukan dia, atau mereka. Melainkan CINTA itu sendiri. Jangan-jangan, yang kau cinta adalah perasaan jatuh cinta itu sendiri.

Yang kau cinta adalah indahnya jatuh cinta. Yang kau cinta adalah rasa sakit ketika jatuh-sejatuh-jatuhnya dalam mencinta. Yang kau cinta itu rasa deg-degan dan kupu-kupu yang muncul karena bertemu atau mengingatnya. Yang kau cinta itu rasa rindu yang menggebu di malam-malam biru. Bukan dirinya. Benarkah begitu?

Yang Tak Mengerti Sedikitpun Tentangmu,

(hil)


---Oleh:


(diambil dari: www.pecintarasa.posterous.com )

Teruntuk impianku

Hari ini aku menatap mu penuh cinta. Lagi dan Lagi.

sejak kemarin kita bertemu, hingga sekarang, tak pernah sedetik pun aku mnjauhkan tatapan mataku darimu.

aku bahkan tak pernah bosan menatapmu. dari atas sampe bawah. kiri kanan. depan belakang

aku suka memandangimu berlama-lama. meski kau tak pernah memberikan reaksi apapun. meski kau hanya diam saja.

aku suka setiap saat mata ku menelusuri setiap lekuk tubuhmu. Kamu indah sekali, sayangkuuuu.

aku selalu bertambah cinta setiap aku menatapmu.

Hari ini, aku menatapmu lagi. Lama. Penuh cinta. Sebelum akhirnya aku memelukmu lama.

Aku sudah mengimpikan ini sejak duluuu sekali sayang, kau pasti tau kan?

Impian itu semakin membuncah lebih kurang tiga bulan yang lalu.

Tapi ternyata Allah masih meminta ku bersabar menunggu mu.

Aku selalu sabar sayangku. Selalu. Aku tak pernah bosan menunggumu.

Hingga akhirnya kemarin kau datang, dan jatuh dalam genggamanku.

Jangan tanyakan bagaimana bahagia nya aku.

Semua orang tau bagaimana selama ini aku teramat sangat mengimpikanku.

Terimakasih sayangkuu. Karena akhirnya kamu ada bersamaku.

Terimakasih karena mengabulkan impianku.

Semoga semakin banyak yang mau membaca tulisanku dengan adanya kamu ya sayangku...

Salam sayang selalu,

adyta purbaya - penulismu

dedicated for my newest book, a short stories HEART NOTES . absoloutly I'll love you so much as I love my relationship ^^



---Oleh:


(diambil adri: www.adytapurbaya.posterous.com )

(Bahkan Sudah Lewat) Tiga Kali Puasa

Kepada:

Yts. Bang Toyib yang tak kunjung pulang

Apa kabarmu di sana, bang? Baik-baikah? Sehat?

Bang Toyib, dimana sih kamu sekarang, bang? Masih di Jawa kan? Di Sumatera? Bali? Masih di Indonesia kan? Atau sudah ke luar negeri?

Seperti apa kota tempatmu tinggal itu, bang? Besarkah? Banyak gedung-gedung tinggi kah? Bersih?

Bagaimana tempatmu tinggal? Nyamankah, bang? Dinginkah di sana? Jangan sampai lupa memakai selimut yang aku bawakan buatmu ya..

Bang Toyib, taukah kamu? Aku khawatir dengan kesehatanmu. Kamu sering masuk angin, apa lagi dengan cuaca seperti ini. Terus dengan kebiasaanmu merekokmu itu, tolong dikurangi, bang.

Bang Toyib,

Anakmu sudah besar sekarang. Sudah 5 tahun. Dia lahir sebulan setelah kamu pergi. Dia belum sempat bertemu kamu. Bahkan yang mengadzani kuping kanannya adalah ayahku, bukan kamu. Aku takut, jika nanti kamu tidak kunjung pulang, lalu suatu saat anakmu bertanya, dimana bapaknya, aku harus menjawab apa?

Kasih kabar segera ya, bang.. setelah kamu menerima dan membaca surat ini.. aku mengakhawatirkanmu..

Salam,

Istrimu yang selalu setia menunggumu pulang


---Oleh:



(diambil dari: www.citracerita.tumblr.com )

Maaf Aku Tak Jadi Menikahimu

Maafkan aku, kemarin ketika aku pulang, aku tidak menepati janjiku disurat sebelum ini. Mungkin memang belum waktunya atau memang jarak ini yang menyulitkan kita, bukan hal lain seperti perutmu yang semakin besar. Tapi aku senang akhirnya kita mengikat janji walau mereka bilang tidaklah sakral. Namun untukku itu sebuah hal yang takkan aku ulang untuk kedua kalinya, sekarang aku bukan lagi sekedar kekasihmu, aku laki-laki jari manis tangan kirimu. Aku tunanganmu dan aku bangga menyebut diriku seperti itu. Bagaimana denganmu tunanganku? (Aku menulisnya dengan tersipu malu).

Memang jarak ini menyebalkan, aku disini mengejar cita-cita bersama dikejar waktu. Enam bulan lagi Aul junior akan lahir dan aku tak sabar menantinya. Aku harus ada disana. Memang tidak memungkinkan kau ikut pindah denganku disini seperti kata orang tua kita. Aku mencoba secepat mungkin untuk bertemu lagi denganmu. Cukup dua hari kemarin aku bertemu denganmu dan itu merupakan waktu yang amat berharga untukku. Tak ada yang lebih berharga dan menyenangkan daripada bertemu denganmu.

Maaf sayangku, tunanganku, aku tak bisa menemani selama kau mengandung bayi mungil kita. Banyaklah istirahat jangan pikirkan apa kata mereka, kita saling mencinta, apa itu kurang untukmu? Aku menjaga kalian dari sini. Semoga penelitianku tak ada hambatan dan bisa sesegera mungkin kembali pada kalian berdua yang ada di dalam satu hatiku.

Salam kecup untuk tunanganku dan jagoan kecil kita

Aulia

Nb: Cincinku sepertinya sedikit kekecilan :p


---Oleh:


(diambil dari: www.auliasoemitro.wordpress.com )



Untuk Pembuat Kue Taart Super Gede Itu

Halo Oma di surga, apa kabar? Pasti baik-baik saja ya di sana.

Aku nulis surat buat Oma karena tadi pas lagi macet di jalan (sekarang Jakarta macet banget loh Oma, ga tahan deh rasanya) aku lagi mikirin kerjaan, trus tiba-tiba aku keinget sama Oma.

Kadang aku ngga mau inget saat-saat terakhir aku ngeliat Oma. Aku maunya inget Oma yang tiap tahun bikinin aku kue taart super gede pake hiasan boneka Barbie lalu kuenya itu yang jadi rok si Barbie. Aku maunya inget Oma yang sering bilang “sun Oma dulu dong..” tiap kali aku dateng ke tempat Oma. Aku maunya inget Oma yang selalu senyum sambil bikin kue.

Tapi yang paling aku inget justru sosok Oma yang terakhir kali ngomong sama aku.

Kamu nanti jadi dokter ya, Melissa.

Aku inget banget Oma ngomong itu, sambil megang tangan aku, sambil tiduran di atas tempat tidur rumah sakit, sambil diinfus, sambil diselingi bunyi-bunyi alarm monitoring. Sambil senyum seperti biasa, sambil ngeliat ke aku kayak pas lagi ngasih kue taart Barbie super gede itu.

Dulu, Melissa kecil cuma bisa mengangguk dan mengiyakan kata-kata Oma tanpa membayangkan sama sekali kalau ternyata itu akan menjadi permintaan terakhir Oma.

Aku inget banget Oma bener-bener seneng waktu kecil aku sering bilang aku pengen jadi dokter meskipun ngga ada yang nyuruh. Waktu SD aku bilang aku tetap ingin jadi dokter. Waktu SMP aku bilang lagi kalau aku tetap ingin jadi dokter. Waktu SMA, betapa inginnya aku bilang lagi ke Oma kalau aku masih ingin jadi dokter. Tapi Oma sudah ‘pergi’. Waktu kuliah, betapa inginnya aku dateng ke tempat Oma dan bilang, “Oma, sebentar lagi aku jadi dokter ”. Tapi Oma sudah pergi. Waktu akhirnya aku disumpah dokter, betapa inginnya aku ngeliat Oma ada di antara undangan yang hadir, tapi Oma sudah ‘pergi’.

Kalau saja dulu aku sudah jadi dokter, mungkin aku bisa lebih dulu mendeteksi kalau Oma kenapa-kenapa. Kalau saja dulu aku sudah jadi dokter, mungkin aku bisa kasih banyak saran kayak sekarang pas Opa sakit. Tapi yang dulu bisa aku lakukan hanya mengiyakan permintaan Oma.

Kadang aku berpikir, Oma pasti orang yang bener-bener baik sampai Tuhan mau mendengarkan permohonan Oma yang terakhir untukku. Ah, kalau sudah bicara Tuhan, aku selalu inget Oma yang sering ngomong “ayo sembahyang dulu..”

Sekarang, aku kerja di tempat di mana Oma dulu meninggalkan aku untuk selama-selamanya. Aku masih sering keinget sama Oma dan keinget sama putri sulung Oma yang juga meninggalkan aku untuk selama-lamanya di tempat ini. Kadang kalau aku lagi ngerasa sendirian di sini, aku suka lewat di depan ruangan tempat Oma ‘pergi’. Kadang aku tambah sedih, tapi aku lebih sering senyum sambil berharap Oma bisa lihat akhirnya aku bisa memenuhi permohonan Oma.

Yah, sebenernya masih banyak yang pengen aku ceritain ke Oma. Tapi aku simpen aja sampai nanti kita ketemu di surga ya, sambil makan kue taart bikinan Oma lagi. Aku kangen banget.



---Oleh:


(diambil dari: www.somniamemorias.com )

Surat Cinta 26 Mei 2011

Jakarta, 26 Januari 2011



Kepada tanggal 26 Mei 2011,

Hari kamis, iya.. kamu hadir dihari kamis kan tahun ini? Empat bulan lagi jadi pas seperapat. Aduuuh...


Kalau kamu datang, kira-kira...

Kamu udah punya pacar belum?

Kamu kerja di mana?

Kamu udah turun berapa kilo?

Kamu udah berhenti ngerokok?

Kamu masih galak tapi cengeng?

Kamu dapet hadiah apa aja?


Antara ga sabar dan tapi deg-degan pula. Saat kamu baca surat ini, artinya kamu sudah masuk zona-akan-selalu-ditanya-"Kapan Nikah?"

Hihihihi...tapi bisa jadi ga akan mungkin ditanya juga sih, kamu kan selama ini ditanyanya "masih belum punya pacar juga?" *tepuk punggung* *kasih tissue*

Soal kenaikan berat badan yg mengila itu gimana? Naik 20 kilo dan sampai surat ini aku tulis kayanya belum ada turun sekilo juga deh. Gimana sih kamu.... -___-'

Masalah rokok? Janjinya apa? Katanya mau berhenti! Hmmm...

Terus, kalau soal emosi yang masih aja labil? Mau sampai kapan? Masih suka sok galak tapi abis itu nangis pas depan sahabat?

Kerjaan... Masih bosenan? Jadi, pas baca surat ini, kamu kerja dimana? Udah berapa kali pindah kerja empat bulan ini?

Hhhhhh....udah seperempat abad loh usia kamu hari ini, yang artinya-beneran-deh-udah ga muda lagi, iya sih aku tau, kamu bukan tipe orang yang suka ngoyo harus punya pacar segera atau buru-buru nikah atau apalah.. Tapi kayanya udah saatnya kamu punya hubungan serius deh.. Saatnya kamu ada yang cintai, bukan sekedar sayang-antar-sahabat, emangnya kamu ga kepingin gitu dipanggil 'sayang' sama orang yang kamu sayang?

Tahun 2010 udah berapa kali keluar masuk Rumah Sakit? Mau sampai kapan hobi begadang? Udah tau kamu itu-tekanan-darah rendah, diri lama-lama pusing, salah makan langsung sakit, masih aja males olah raga, makan sembarangan.

Rokok juga tuh, februari dan September 2010 masuk Rumah Sakit karena penyempitan paru-paru? Udah janji juga kan mau berhenti ngerokok?

Pokoknya tanggal 26 Mei 2011, pas kamu baca surat ini, aku doain kamu HARUS udah punya pacar, hidup sehat, rajin olah raga, diet yang bener, turun minimal 10 kilo dulu lah dan harus sudah jauh -jauh deh dari rokok. Udah 25 tahun loh kamu, wahai 26 Mei 2011! Seperempat abad menghirup udara di bumi.

Ayo! Kamu harus menjadi lebih baik dari aku yang saat ini menulis surat. Harus ada perubahan signifikan. Kamu bukan anak kecil lagi! Jangan dikit-dikit nangis, dikit-dikit marah, ngambek! Malu sama umur... Yah..janji yah.. Janji yah eka yah.. Empat bulan lagi, harus ada kabar gembira yah..biar Meiske dan Gatot ga marah-marah mulu, biar mereka kasih kado seperti tahun-tahun sebelumnya. Kado persahabatan yang makin hari makin hangat dan selalu berhasil mengukir senyum dihari-harimu mengukir usia.

Janji ya pinter ya..Cinta kan sama diri kamu sendiri? Cinta dong.. kalau ga cinta ga mungkin kamu kaya orang gila gini, nulis surat buat diri sendiri. Oke deh, sampai jumpa empat bulan lagi ya Sexy!

Ketjup-hampir-seperempat abad,

26 Januari 2011


---Oleh:


(diambil dari: www.sisayappatah.com )

Untuk ‘MaNoHaRa’-ku

Dear kalian…

Aku bersyukur memiliki kalian. Segerombolan orang, pria, wanita yang awalnya entah siapa. Hanya suka bersama bercengkrama. Ternyata menjadi segerombolan orang yang sering aku rindu di tiap akhir minggu.

Tidak bisa aku sebutkan satu-satu alasan betapa aku bersyukur. Sekali lagi aku ingin memeluk Tuhan karena kalian. Sahabat-sahabat.

Awalnya aku tidak mengenal kalian satu-satu, hanya karena kita memiliki kesamaan minat, Makan Nongkrong dan Hura-hura, ‘MaNoHaRa’ ada. Tapi tampaknya hura-hura terlalu ekstrim buat kita. Karena ternyata, saat satu diantara kita merasa sedih dan terpuruk, kalian tetap ada. Sekedar menanyakan kabar atau menyapa selamat pagi, selamat tidur disertai pelukan hangat secara maya. Bahkan sekali hanya bertatap muka, selanjutnya tetap ada untuk sekedar menyapa dengan doa. Kita pun sama-sama pencinta budaya, kata dan lingkungan bukan?! Yang selalu berceloteh dengan idealisnya untuk melestarikan budaya, meramu kata dan juga menanam pohon bersama. Indahnya…

Kalian tau? Tiap kali aku buka semua account facebook, twitter, tumblr aku selalu mencari nama kalian. Mention nama kalian. Membaca kabar tentang kalian. Dan, kalian tau? Aku berharap kalian bersedia selalu berbagi bahagia dan sendu padaku. Karena aku bahagia jika terlibat dalam bahagia kalian dan juga menjadi sihir yang mengobati sendu kalian.

Bahagianya aku jika hari-hariku diisi dengan kemesraan kalian. Sapa ceria kalian dan cerita-cerita diri kalian. Semoga selalu begitu.

Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk tawa canda. Terima kasih untuk pelukan pemberi kekuatan.

Maaf aku terlihat melankolis menulis surat ini untuk kalian. Hanya ingin mengungkapkan perasaan ;)

Dari aku,

Sahabat yang akan menyediakan bahu untuk tangis kalian, yang bertepuk tangan atas kehebatan kalian, menyediakan telinga untuk curhat kalian dan seluruhku…

Peluk cium disertai doa :*


---Oleh:


(diambil dari: www.hotarukika.tumblr.com )