Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #6. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

Hai, aku rindu

Hai, bagaimana kabarmu disana? Aku disini menderita. Aku rindu aku gila. Aku mau kau. Disini menemani aku. Menemani hariku yang kian sepi. Ah, apalah ini.

Aku harap kamu baik baik saja. Tetap jalani hidup seperti biasa. Tanpa tahu aku menderita melihat kamu bahagia disana. Aku tidak akan mengingat apalagi bercerita tentang masalalu kita. Aku akan menyimpannya di salah satu kotak memoriku.

Iya aku tahu. Seharusnya ini adalah surat cinta. Surat yang menyentuh hati karena bahagiaku memikirkan kamu. Bukan rintihan hati ataupun kecewa diri. Bahkan menulis untuk membuatmu tersenyum pun aku tak sanggup.

Akhirnya selama aku berkutat dengan kata, hati dan logika, aku tahu bahwa kamu dan aku itu beda. Sekeras apapun aku berusaha untuk menjadi sama, saat itulah aku tersadar bahwa kita memang jauh dan sangat jauh berbeda.

Mungkin maksudku untuk menulis surat cinta ini adalah aku ingin kamu bisa berbahagia dengannya, tanpa menoleh masa lalu. Dan jangan pernah sekalipun untuk memikirkan untuk memutar balik waktu. Karena aku tahu itu hanya membuat hati terluka.

Dan akhirnya, sampailah aku pada akhir surat ini. Aku tak bisa menulis apa-apa lagi selain aku mau kamu bahagia dengan atau tanpa aku disampingku .Dan yang terpenting, anggaplah ini surat biasa.

Dariku, yang terlambat mencintaimu


---Oleh:


(diambil dari: www.adegulita.tumblr.com )

Surat Keenam: Venus is counting down the days. Selamat siang Mars,

Kamu sudah makan siang atau belum? Sekarang jam 2 loh, ini jam makanmu kan? Jangan sampai terlalu sibuk dan kamu jadi lupa makan ya.

Mars, aku sekarang sedang mendengarkan lagu Natalie Imbruglia dengan judul Counting Down the Days. Mungkin ini yang ke-beberapa puluh kalinya hari ini, dan ke-beberapa puluh kalinya juga aku menangis saat mendengarkan lagu ini. Ah, galau.

Yeah Mars, now I’m counting down the days.

Aku menghitung mundur waktu, waktu dimana kamu dan aku benar-benar akan mengucapkan perpisahan. Mars, di 6 bulan yang singkat ini aku akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya agar kamu akan selalu ingat denganku. Aku tidak mau membuang waktu ini dengan sia-sia.

Mars,

I want you to remember me being crazy over you. Even though we do not even end up together, that’s okay. I just want to make this is the most precious and memorable sweet memory for you and me. Because this precious moment will pass away soon, and pretty soon I’ll be alone for good.

Ayo! Mari bersenang-senang Mars! Kita buat kenangan yang paling manis, yang akan melukiskan senyuman manis dibibir kita berdua saat mengingatnya. Mari kita berpesta dengan buku-buku kesukaanmu, berdansa dengan lagu-lagu kesukaanku dan bermain game kesukaan kita berdua. Ayo! Ayo! Yuuuk! :’)

Mars….

“I feel cold
I’m in the dark
When our souls are apart”

“I wanna travel through time
See your surprise
Hold you so tight
I’m counting down the days tonight
I just wanna be a million miles away from here”

Yang sedang galau,

Venus



---Oleh:

(diambil dari: www.venusdanmars.tumblr.com )

Untuk Langit






Selamat pagi langit.
Tak perlu bertanya tentang kabarmu. Aku tahu kau cerah sekarang. Biru dan putihmu kompak. Tak ada kelabu.
Langit, cerahmu lantukan nada ceria. Ceriakan hari semua penghuni bumi. Aku salah satunya langit.
Aku mencintaimu, seperti aku mencintai laut dengan birunya. Makanya itu langit aku marah jika ada yang sembarangan membakar sesuatu dan mengubah warnamu menjadi coklat.
Aku juga marah ketika rintik berhasil menembus awanmu, menjadikanmu muram. Uhh langit, saat itu aku selalu merindu. Saat kelabu mengantikan biru dan putihmu.
Dan langit, terima kasih lagi sudah tetap berada di atas kami. Jauh. Aku tak bisa membayangkan ketika kau runtuh. Menindih kami dengan tujuh lapisanmu.
Atau aku tak bisa bayangkan ketika warnamu merah. Ah pastilah bumi menjadi penuh amarah.
Jadi sekali lagi terima kasih langit.
Sampai lupa langit, boleh aku meminta?.
Pintaku tak banyak. Aku mohon tolong suatu saat perlihatkan padaku lukisan matanya, atau lukisan senyumnya. Jangan bertanya. Kamu pasti tahu maksudku. Maksudku Dia. Pasangan masa depanku. Sekali saja, langit. Kau bingkai lukisan itu dibiru milikmu dan gantung di gumpalan awan putih. Agar aku tahu langit, serupa apa senyumnya. Seindah mana matanya. Hanya itu. Tak banyak kan...??
Terima kasih sebelumnya, langit.


Dariku, Pengagummu.
(dibawah biru dan putihmu)

Ps :
  • Aku mengirim surat lewat Elang. Cium dia yah, dia kangen tuh tidur di gumpalan awan
  • Tolong seminggu ini jangan biarkan rintik hujan menembusmu, aku lagi punya kerjaan, pawang hujan mahal , gak mampu nyewa :)
---Oleh:


(diambil dari: www.amaachmad.blogspot.com )

Ini “Happyness”, @IwanWinarto :))

Iwan yang bermuka Jawa tapi tidak tahu apa itu “Kawah Candradimuka”,

Kita bertemu pertama kali di pertengahan tahun 2006 di Hard Rock Cafe Jakarta. Saat itu kamu datang bersama sahabatku yang adalah kekasihmu saat ini. Masih ingat?

Kesan pertamaku terhadapmu: kamu ganteng. Dan tinggi. Sudah, itu saja. Karena kita tidak banyak berbicara saat itu. Sebagai sesama pengusung bintang Virgo sejak kita lahir, kita memang terbiasa untuk tidak terlalu membuka diri di hadapan orang yang baru kita kenal.

Waktu pun bergulir. Kita semakin dekat. Dan kamu sering bermain ke rumahku, terutama ketika orangtua kekasihmu berkunjung ke Jakarta. Dan akhirnya kita bersahabat, bahkan ketika kamu tidak lagi menjadi kekasih sahabatku itu.

Dunia memang lucu.

Aku dijauhi oleh sahabatku karena aku tidak mau menghentikan persahabatanku denganmu. Mauku, aku tetap bersahabat dengan kalian berdua, tapi ternyata itu tidak ada di kamusnya. Siapa yang masih mau berteman dengan siapa pun mantan kekasihnya, ia pasti tercoret dari daftar pertemanan, dan masuk ke dalam daftar “musuh”. Bahkan aku mendengar dia bilang kepada seseorang, “Connie is not my friend.”

It hurts. A lot.

Dunia memang sedih.

Aku sebetulnya sangat kangen pada sahabatku itu. Aku masih sering menangis untuk persahabatan kami yang sedang mati. Tapi aku tidak dapat memaksa siapa pun untuk berteman denganku. Biarlah waktu yang memulihkan lukanya dan menerima aku kembali menjadi sahabatnya. Seperti dulu.

Iwan sahabatku yang tingginya 185 sentimeter,

Terima kasih kalau kamu mau menjadi sahabatku sampai hari ini, ketika dunia serasa gelap dan kelam bagiku. Ketika aku tidak punya apa-apa lagi, kecuali Tuhan, ayahku, dan sahabat-sahabatku. Tidak banyak yang sudi berdiam di sisi, tetapi ada sebagian yang tetap setia tinggal. Dan kamu adalah salah satunya.

@IwanWinarto,

Apa pun yang terjadi nanti, semoga persahabatan kita berlangsung sampai kita sama-sama tua. Ya, pastinya aku akan berangkat lebih tua dulu. Semoga dengan siapa pun aku mengakhiri masa lajangku nanti, aku tetap boleh bersahabat denganmu. Dan siapa pun kekasihmu nanti, semoga dia juga dapat menerima aku sebagai sahabatmu.

Kekasihmu yang sekarang, dia baik kepadaku. Aku tahu, itu karena dia sayang padamu. Bukan karena dia sudah menjadi sahabatku juga. Untuk menaikkan “pangkat” seseorang dari “teman” menjadi “sahabat” itu perlu waktu, kan?

Iwan yang sangat Virgo,

Meski pun kamu penyuka junk food dan aku penggila makanan Asia, kita tetap bersahabat. Hahaha, aku tahu ini tidak ada hubungannya dengan pertemanan. Dan kamu penyuka Harry Potter dan sejenisnya, sementara aku lebih suka menonton film animasi. Toh aku menemamimu menonton kan, meskipun kamu tidak mau menemaniku menonton “film-filmku” seperti “Toys Story 3” atau “Rapunzel”, misalnya :D Terima kasih sudah terlalu sering mentraktir aku makan dan menonton. Mungkin jika orang melihat kita, mereka menyangka kita pacaran, karena banyak malam Minggu dan hari libur yang kita habiskan bersana. Dan hanya kita berdua yang tahu, kenapa aku tidak pernah barang sedetik pun jatuh cinta kepadamu. Penggemarmu yang ratusan jumlahnya di Twitter itu tidak perlu merasa terancam :D

Iwan yang perfeksionis,

Mungkin saat ini kamu sedang memikirkan status BBm-mu selanjutnya sambil bertamasya di situs-situs “quotes” yang terpampang di laman Google. Atau kamu sibuk memilah-milih foto baru untuk BBm-mu. Narsisnya kamu! :D

Iwan yang narsis tapi tidak terlalu suka nasi,

Ini surat keduaku untuk kamu. Surat pertama aku “kirim” pada Valentine’s Day tahun yang lalu, ketika majalah Cleo menyelenggarakan lomba menulis surat cinta. Ingat itu? Sebenarnya aku agak kecewa, karena kamu tidak bisa menemaniku untuk menghadiri acara itu di Starbucks fX. Tapi aku senang, gegara menulis tentang persahabatan kita, aku mendapat makan malam gratis saat itu :))

Sudah dulu ya, Iwan. Iwan yang cinta mati sama Anggun. Aku mau pipis dulu. Mudah-mudahan kita berakhir pekan bersama lagi ya minggu ini! Eh, kapan jadinya mau merapikan rambutmu di “Irwan PIM”? How about “Burlesque”?


Salam tampol,
Ratu Lebay


---Oleh:


(diambil dari: www.poeticonnie.tumblr.com )

Surat dari cinta yang terlarang

Kepada Tuhan,
Apa kabar? Aku yakin kau selalu fit. Bagaimana mungkin kau mengatur semesta dengan tubuh sakit. Terima kasih menjagaku tetap hidup, hingga kini.

Tuhan,
Aku disini, sebagai menusia yang penuh kekurangan, ingin bersujud sembah untuk setiap karunia yang kau berikan kepadaku. Keluarga yang lengkap, Kekasih yang setia serta teman-teman yang luar biasa; maya maupun nyata.

Tuhanku yang Maha Segala,
Kekasihku amatlah luar biasa. Dia dokter, dan beberapa bulan lagi akan menempuh pendidikan untuk menjadi dokter spesialis. Sangat membanggakan bukan? Aku beruntung memiliki dia. Aku yang bukan apa-apa, kau pasangkan dengan wanita luar biasa. Terima kasih telah mempertemukan kami kembali, bahkan menumbuhkan cinta diantara kami.

Tuhan,
Saat ini, aku dan kekasihku sedang kau berikan ujian yang relatif sulit, tapi terima kasih kami masih bisa bersama, menikmati donat kesukaan kami dan wi-fi gratisan yang disediakan di tempat kami menghabiskan waktu. Aku yakin, masih banyak pasangan diluar sana, yang tidak lebih beruntung dari kami, yang masih kau izinkan saling menyentuh, meski sembunyi-sembunyi.

Tapi Tuhan,
Aku yakin, Kau tahu benar ketidak-nyamanan kami bercengkrama dibalik kebohongan yang harus kami atur. Apalagi menyangkut orang tua. Aku sangat menghormati mereka. Kadang aku merasa bersalah, harus membuat kekasihku berbohong kepada mereka, hanya untuk mengobati kerinduan kami yang amat menggebu. Hingga kini, aku masih berusaha mengejar standar yang mereka tetapkan, meski sangat sulit; hampir mustahil malah. Aku tahu, aku tak akan mungkin menjadi dokter. Jadi satu-satunya hal yang aku usahakan hanyalah menjadi mapan. Semapan mungkin yang aku bisa untuk membahagiakan kekasihku. Dalam kesempatan ini aku memohon, berilah petunjuk menuju masa depan yang kami impikan bersama.

Tuhanku,
Jangan pernah bosan mendengar namanya disetiap doa-doa yang kupanjatkan. Mungkin masih banyak pasangan di luar sana yang mengirimkan doa-doa serupa, mengalami kesulitan yang lebih daripada kami. Namun aku percaya, Kau melihat setiap usaha yang kulakukan untuknya, demi menjadi yang terbaik baginya.

Untuk terakhir kalinya wahai Sang Maha Segala,
Aku mencintainya. Bila Kau merestui, berilah kami kebahagiaan, jalan terbaik dan terlapang untuk bersatu. Tanpa harus menyakiti siapa pun.

UmatMu yang mencintai,
Aditya Nugraha


---Oleh:


(diambil dari: www.nugrahaditya.wordpress.com )

Hari Senin di masa SMA

Kepada hari Senin di masa SMA,

Aku benci kamu! Kamu membuatku berpisah dengan hari Minggu. Hari ketika aku bersantai dan malas-malasan di rumah atau sekedar berjalan-jalan bersama keluarga maupun teman-teman. Kamu juga berhasil membuatku bangun lebih awal dan kadang membuatku mual karena tak sempat sarapan. Ah, kamu juga yang membuatku terburu-buru memburu angkutan umum menuju sekolah. Kenapa? karena tepat pukul 06.30 ada upacara wajib di sekolah. Aku tidak mau berpura-pura sakit! Ruang PMRnya pengap dan sempit! Jadi, aku harus rela berdiri selama satu jam di lapangan basket untuk mendengarkan petuah dan pidato dari para guru atau kepala sekolah.

Ah yaaaa, aku baru ingat! Kamu juga pernah membuat aku kelimpungan setengah mati hanya gara-gara aku lupa membawa topi! Alhasil, aku harus mengerahkan kemampuanku memasang wajah memelas dan bernegosiasi, sampai akhirnya aku bisa melenggang tenang ikut upacara! Jangan tanya bagaimana caranya! Yang jelas aku bisa bebas dari hukuman membersihkan sampah di sudut sekolah.

Hei hari Senin di masa SMA, pada saat itu aku berharap bisa lepas darimu dan merasakan hari Senin yang biasa saja, tanpa upacara! Ya, tentu saja doaku terkabul! Aku berhasil lulus dari sekolah, dan aku sangat bahagia tidak lagi berjumpa denganmu! Tetapi, belum genap seminggu waktu itu. Aku kok merindukanmu ya? Aku rindu kamu si hari Senin di masa SMA. Ya, aku benar-benar merindukanmu setengah mati sejak kita tidak berjumpa lagi bahkan hingga kini!

Kedekatan dengan teman satu angkatan dan beda angkatan karena berkumpul dalam satu tempat, bersama-sama mengikuti upacara, senda gurau sebelum upacara dimulai, canda tawa setelahnya, berbisik-bisik mengomentari pidato pembina upacara atau bahkan curi-curi pandang pada gebetan yang berdiri tak jauh dari kelasku. Itu semua gara-gara kamu, hari Senin di masa SMA! Salah satu hari yang membuat masa SMA tidak dapat terlupa. Sungguh, aku merindukan kamu. Seringnya aku berharap agar kita bisa bertemu lagi walaupun hanya sekali! Aku ingin kembali padamu, berseragam putih abu, berkumpul bersama dengan teman-temanku yang dulu, untuk sekedar melepas rindu.

Lewat surat ini aku ingin menyampaikan, sesungguhnya, aku menyayangimu hari Senin di masa SMA. Maaf karena aku sempat membencimu dulu. Aku hanya belum sadar, bahwa kamu begitu berarti. Aku tahu kita tidak akan pernah bertemu lagi, tapi kamu selalu kusimpan baik-baik dalam memori. Suatu saat, kamu akan bertemu dengan anak cucuku. Tolong, beri mereka cerita dan kenangan indah juga ya, seperti yang pernah kamu berikan padaku dulu.

disini. tempat kamu mempertemukan kami. berdiri.



do i miss my you, dear Monday?? Yes, i do! terribly much.


we called it: Monday’s Madness. :))


---Oleh:


(diambil dari: www.berceloteh.tumblr.com )

Pembaca Puisi(?)

Hei, pembaca puisi.

Ini adalah kali pertama aku menyaksikan pertunjukanmu. Kau pasti seniman yang dikenal banyak orang sehingga kursi-kursi penonton penuh sesak, tidak tersisa. Ah, aku benar-benar penasaran dengan pertunjukanmu.

Tidak ada suara saat kau naik ke atas panggung. Aku juga sempat terpesona melihat wajahmu yang rupawan. Bulu kudukku merinding begitu kau membacakan bait pertama puisi. Perpaduan yang manis untuk seorang pria tampan dan serangkaian kata kiasan.

Tapi, pembaca puisi, entah kenapa karyamu tidah menohok hatiku. Ada sesuatu yang kauharapkan dari penonton. Perhatian? Bukankah kau sudah mendapatkannya? Pujian? Uang? Ah, entahlah! Meskipun terkesan, aku tidak mendapatkan apa-apa. Hampa.

Dan, hei, jangan pernah mencari pengirim surat ini. Aku tidak mengerti puisi.


---Oleh:


(diambil dari: www.acoffeelover.blogspot.com )

Buah - Buah Cinta

Hai kamu disana yang selalu membuat keindahan dunia menjadi stabil karena jejakmu.

Aku disini masih bisa merasakan pijakmu yang konsisten dengan rindumu padaku. jika aku memijak bumi, rasa rindu itu sangat terasa. Bahkan sampai aku terkantuk - kantuk tertidur dininabobokan oleh pijakmu yang juga merindu kepadaku. Coba kau dengar larva yang bersmbunyi di bumi. itu seperti suara gejolak rindu hatiku. gemuruh. ingin rasanya keluar karena sudah tak sanggup berada jauh di dalam hatiku. sudah terlalu panas. rasa rinduku sudah matang. aku tidak ingin rasa rinduku ini menjadi hangus, gosong sehingga engkau enggan menerima rasa rinduku ini.

Apakah dirimu juga berfikiran seperti itu?

Dear penanam pohon cinta di hatiku. kau sudah terlalu banyak mereboisasi pohon cinta di hatiku. semuanya tinggal tunggu panen. kemarilah, petik cinta bersama. aku tidak ingin buah - buah cinta kita jatuh membusuk. dimakan oleh orang - orang yang iri kepada cinta kita layaknya hama - hama yang memakan buah - buah cinta kita yang jatuh.

Apakah kamu akan kemari, memetik buah - buah cinta yang hampir panen di hatiku?

Aku selalu bekerja di tiap hari. membuka netbookku yang kecil. hanya berukuran 9 inchi. aku tidak pernah mengetik namamu di keyboard netbookku ini. namamu hanya sebuah nama. banyak yang memiliki nama sepertimu. bahkan petugas bus di Jakarta yang tidak murah senyum dan selalu memarahiku jika bus yang sudah penuh tetap aku masuk ke dalamnya. Dia memakai namamu. aku tidak rela. tapi kalau aku meminta dia merubah nama, pasti kamu tersenyum dan tertawa mengatakan aku bodoh. ah lupakan saja. aku ingin serius menulis surat cinta kepadamu.

masih membicarakan tentang huruf - huruf di keyboard. Cinta kita seluas dunia bukan? apakah namamu seluas dunia? tidak. karena itu aku menggambarkan engkau dengan mengetik berbagai huruf - huruf cantik yang aku bayangkan menari - nari di mataku. semuanya itu membentuk wajahmu. Ini sangat luar biasa. indah sekali. kalau aku hanya mengetik namamu. itu tidak cukup untuk membentuk wajahmu. malah seekor cacing kecil yang berusaha menyantap buah buah cinta kita.

Layar netbookku kecil, huruf - huruf yang kutekan tidak cukup hanya untuk layar 9 inchi. Ok, aku keluar gedung kantorku ini. melihat sesuatu yang indah di luar. banyak sekali yang indah disana. aku hanya ingat kamu.

Buah - buah cinta di hatiku memang benar - benar akan panen. dan siap kita tunjukkan pada dunia buah yang baru dan paling terlezat sedunia. ini buah buatan kita. ciptaan kita.

Kemarilah, petik buah - buah cinta bersamaku.

Aku disini yang merindukanmu.


---Oleh:


(diambil dari: www.crezative.tumblr.com )

Cuma anak PNS (miskin)

Jakarta, 19 Januari 2011


Kepada Reza, pemilik lesung pipi disebelah kanan.


Hay Mas, apa kabar?

Aku dengar sekarang kamu tinggal di Malang? Kamu kan ga kuat dingin, kenapa pilih tinggal di sana? Pilihan mama lagi, ya? :)

Maaf, aku baru memberi kabar sekarang. Jangan tanya, seberapa rindu sebulan ini aku sama sekali tidak dapat bertatap dan mendengar suara kamu sedikitpun.

Aku pun tidak akan bertanya, apakah kamu merindukan hadir ku. 29 surat yang sampai saat ini masih tertutup rapi, yang kamu tinggalkan di kotak pos ku apapun itu isinya, sudah menjawabnya.

Aku pun minta maaf, telah lancang meninggalkan rumah kamu begitu saja, malam itu. Maaf, aku tidak menghiraukan kamu yang mengejar taxi ku ditengah hujan. Maaf, aku malah terus melaju didalam taxi meskipun jelas-jelas aku melihat kamu terjatuh digenangan pilu yang turunkan langit saat itu.

Mas.. Mungkin Beliau benar, kita bukan sepasang. Aku suka hujan, kamu selalu sakit jika tetesan air langit tersebut jatuh disekujur tubuh mu. Aku suka makan telur goreng pakai saos, kamu lebih suka pakai kecap. Sepele, tapi jelas kita beda.

Mas.. Aku belum cerita apa-apa tentang apa yang terjadi malam itu di rumah kamu ke Ibu dan Ayah, dan sepertinya memang mereka tidak perlu tau. Aku harap kamu menghargai, keputusan ku untuk menyembunyikan cerita tersebut dari mereka. Bukan karena apa, aku hanya tidak ingin mereka merasa bersalah dan bersedih. Kamu pasti paham maksudku.

Jadi, aku harap.. Kamu jangan lagi mencari aku ke rumah, tidak perlu lagi berkali-kali menelpon ku ke rumah, tidak lagi mengirimkan surat setiap hari ke rumah. Biar.. biar aku saja yang menjelaskan kepada Ayah dan Ibu, bagaimana nasib cerita kita. Biar aku yang menanggung dosa karena harus berbohong kepada orang tua kandung ku sendiri.

Reza, kekasih ku.. Kamu percaya Jodoh itu sudah diatur Tuhan? Aku percaya Mas. Sangat percaya.

Kamu juga percaya kan, kalau restu Ibu itu penting dalam kisah cinta anaknya? Aku percaya.. Sangat amat percaya.

Maka dari itu, aku sekarang mundur. Menuruti permintaan Beliau. Karena aku berfikir, ga akan ada gunanya hubungan ini terus dilanjutkan jika restu dari orang yang melahirkan kamu saja, tidak berhasil aku dapatkan. :)

Aku percaya, tidak ada yang tidak sengaja di dunia ini. Aku percaya, Tuhan pasti punya alasan manis telah mempertemukan kita.

Tapi satu Mas, aku tidak bisa meminta maaf atas emosi yang meluap diraut wajah beliau pada malam itu. Bukan karena aku tidak menghormatinya, bukan juga karena aku tidak menghargai kamu.

Saat menulis surat ini, aku sudah jauh lebih tenang.. Sudah tidak marah, sedih, kecewa seperti malam itu, saat aku dengar pernyataan Beliau, yang benar-benar terdengar seperti petir besar dilangit-langit hatiku.

Aku tidak mungkin meminta maaf atas takdir Tuhan yang menitipkan aku di keluarga miskin yang-memang-jauh berbeda dengan keluarga mu.

Tidak mungkin, aku meminta maaf hanya karena aku dilahirkan dari rahim istri seorang PNS (miskin?). Jauh dari harapan Beliau atas calon menantu.

Jika memang drajat dan harta yang menjadi syarat utama untuk mendapatkan restu Beliau, aku mundur. Aku kalah telak. Bukan karena aku malu atau minder atas apa yang aku dan keluarga ku miliki. Hanya saja, aku merasa, jika cerita ini dipaksakan, hanya akan membuat kamu menjadi anak durhaka, bukan?

Jangan Mas, jangan bantah amanah Beliau. Kita sudah sama-sama mendengarnya, Beliau tidak sudi memiliki calon mantu yang tidak sederajat dengannya. Kamu anak yang baik, jangan sampai, hanya karena perempuan anak PNS ini, kamu berubah jadi pembangkang.

Biarlah Mas..biarkan kali ini cinta mengalah. Cinta ku tepatnya.

Maaf, sekali lagi maafkan aku, panggil aku pengecut. Menyerah dengan mudah, seperti ini. Aku menyerah jika harus melawan orang yang melahirkan mu. Bukan karena cinta ku tak begitu besar untuk mu. Ini semua karena cinta ku yang begitu besar untuk kedua orang tua ku. Aku tidak sanggup, jika harus mendengar (lagi) kalimat malam itu, 'hanya seorang anak PNS miskin' dari mulut orang yang paling kamu sayangi.

Maaf, aku menyerah.

Ini surat terakhirku. Aku mau biarkan Tuhan dan semesta mengatur cerita kita. Aku percaya, pasti ada rencana indah dari pertemuan dan perpisahan ini.

Aku percaya, jika kamu memang Adam yang tulang rusuknya Tuhan pakai untuk menciptakan aku, kita pasti akan bersatu, cepat atau lambat. Pasti. Tapi rasanya tidak mungkin untuk saat ini.

Mas Reza, aku dan kamu akan baik-baik saja. Aku dan kamu pasti akan punya cerita yang jauh lebih bahagia. Janji ya, kamu harus selalu bahagia. Harus. Aku suka lihat lesung pipi mu yang hanya berada disebelah kanan, seolah melengkapi lesung pipi ku yang hanya ada disebelah kiri. Terus tersenyum Mas, pasti akan ada banyak wanita yang jatuh cinta melihat lesung pipi mu.

Baiklah...surat ku sudah terlalu panjang. Aku sudahi surat ini. Sekali lagi maaf..aku hanya berani mengirimkan mu secarik kertas melalui pak pos, tidak berani mengutarakanya langsung. Maaf.

Dan terima kasih, atas semua tawa, pelukan, cinta, cerita, mimpi dan semua hal indah yang selama ini kamu berikan. Terima kasih.

Sampai jumpa (entah kapan),

Pengagum Lesung Pipi Sebelah Kanan mu.


---Oleh:


(diambil dari: www.sisayappatah.tumblr.com )

Aku Bukan Manohara

Perkenankanlah i memberi you surat cinta ni. Maaf bila kau baca ni surat agak “e e” sikit pengucapan. Karna memang la aku tulis surat ni sambil dengar Siti Nurhalije menyanyi. Dan mudah-mudahan kau masi cukup sering menengok film ipin upin tu biar kau agak2 ngerti sikit la apa maksud surat ni.

Assalamualaikom, Apa kabarnya kau Pangeran Klantan? Suda lama ni aku tak jumpa kau. Ada kau rindu aku? Barang sikit je? Siksa rasa hati ni kalo ingat kau. Tapi macam itu la yang orang sebut cinta? Aku suda terlalu lama pendam rasa sakit ni karna rindu. Tak ada kau peduli walau sikit kan? Maaf aku memang berusaha nak lupakan kau sejak kita berpisah, i unfollow twitter you, you delete pula fesbuk i dan akhirnya i delete ym you. (ngok)

Aku liat kau dah dapat la perempuan lain pengganti aku, sedih rasanya. Walau bedarah-darah hatiku ni sambil mengucapnya akan aku katakan semoga la kau bahagia bersamanya.
Maaf mungkin aku tak pandai nak tulis surat cinta buat kau. Dan maaf pula bahasa Malaysia aku yg kacau ni. Karna inti dari surat ni Aku Bukan Manohara!! yang kau suka itu. Dan kau tu juga bukan Pangeran Klantan. Tapi yang terlihat sama mungkin, kisah cinta aku dan kau sama dengan mereka. TRAGIS mameeeeeeeeeeeen!!

(cukup bahasa malaysianya)

Sumpah demi jenggot Sinterklas gue harus mutar lagu Siti Nurhaliza dulu supaya mendalami menulis surat ini! (yang padahal kalau di baca gagal besar sodara2 surat ini) TAPI LIAT DONG PENGORBANAN GUE!! Dan buat anda entahsiapa yang saya maksud di surat cinta ini silahkanlah tertawa atau malah memunculkan tanda tanya karna pasti anda berpikir : SURAT CINTA MACAM APA YANG JUDULNYA AKU BUKAN MANOHARA??!! HAAAAH??

Iya kalem atuh boi.. intinya gue memang bukan Manohara! Perempuan mantan siksaan pangeran klantan yang lu suka, yang lu twit waktu lu liat dia nonton final AFF 26 desember kemaren!! Ngerti?

Tertanda

(Bukan Manohara)


P.S : APA PERLU GUE BIKIN YANG VERSI LUNA MAYA??


---Oleh:


(diambil dari: www.heykila.tumblr.com )


Kekasih Membosankan Yang Aku Sayang

Bagaimana harimu? Aku selalu menuliskan surat untukmu, agar kau tak lupa denganku. Agar kau tak merasa hanya kau yang rindu, aku pun merasakan rindu yang amat sangat disini. Hidup sendiri jauh dari orang yang aku cintai, keluargaku dan kamu, memang sedikit membuatku kalang kabut jika rindu mampir walau sebentar. Tapi ini semua demi cita-citaku, aku berada disini menggapai secuil cita-citaku sejak kecil. Belajar semua hal tentang keajaiban alam (menurutku) yang ada di bawah air.

Jujur. Kau adalah kekasihku paling membosankan. Memang aku tak banyak pengalaman dalam memiliki kekasih. Tapi bisa aku bilang kau adalah kekasihku paling membosankan.

Bagaimana tidak membosankan, setiap hari kau selalu mengatakan sayang kepadaku. Selalu menciumku sebelum berpisah. Selalu menelponku tepat jam delapan malam hanya untuk mengingatkanku apakah aku sudah makan. Selalu mengucap rindu sesaat sebelum kau menutup telpon. Selalu marah jika aku lupa untuk memotong kuku. Selalu mempermasalahkan jika aku berpakaian yang terlihat berantakan. Tapi tidak pernah kau menanyakan kabarku, katamu dengan mendengar suaraku kau bisa tau bagaimana keadaanku. Kau mengerti dan tau betul bagaimana aku apa adanya. Tapi apa kau tau, kau salah satu hal membosankan yang terpenting dalam hidupku.

Seperti Matematika, membosankan untuk dipelajari. Mengotak-atik sedemikian rupa sebaris angka dengan rumus yang kadang menyelipkan huruf diantaranya. Membosankan memang mempelajarinya. Tapi di kehidupan nyata, itu sangat berguna dan berbalik menjadi penting untuk dipelajari. Aku mempelajari banyak hal kecil membosankan di dunia ini yang ternyata berbalik menjadi penting. Aku mencintaimu dan mencintai kebosanan didalamnya. Aku kekasih yang tak bosan mencintaimu dalam kebosananku sendiri.

Kekasih yang juga membosankan

Aulia.

Nb: Penelitianku tentang hewan air mulai berjalan hari ini. Doakan lancar agar aku cepat kembali menemanimu di kota kita.



---Oleh:


(diambil dari: www.auliasoemitro.wordpress.com )

Kartu Pos Rindu







(dikirim oleh @omemdisini di www.penyairduamusim.blogspot.com)

Surat Dari Surga

Selamat sore Bidadari,

Jantungku seakan melompat dari dadaku ketika aku membaca surat darimu kemarin. Aku tidak percaya dirimu akan membalas surat sederhanaku. Aku begitu bahagia dan tahukah dirimu? Aku tidak bisa berhenti tersenyum setelah membaca suratmu.

Kau membuatku malu dengan menyebutku berhati emas. Hatiku sama seperti milikmu, berwarna merah muda, atau malah sekarang sudah menjadi hitam karena kebiasaanku yang mengumpat dan membenci orang-orang yang membuatku menjadi seperti ini.

Percayalah Bidadariku, hatiku itu tak berharga seperti layaknya emas. Telah banyak orang yang tega melukai hatiku hingga ia rusak dan pecah berhamburan tak tersisa. Aku nyaris tidak bisa mencintai seseorang lagi, hingga aku melihat dirimu.

Terima kasih atas undangan berkunjung ke rumahmu. Aku ingin sekali bisa bertemu langsung denganmu. Aku sangat mengharapkan hal itu suatu saat bisa terjadi. Hanya tidak bisa dalam waktu dekat.

Tubuhku terserang penyakit yang tidak bisa didiagnosa oleh dokter biasa. Aku tergantung oleh semua alat pengobatan yang berada di sekitar tubuhku. Aku bersyukur masih boleh dirawat di rumah, bukan di rumah sakit. Aku ingin sekali bangkit dari tempat tidur pesakitan ini dan melihatmu langsung.

Sungguh, aku mulai merindukan dirimu saat ini. Mungkin aku terlalu banyak berharap bidadari seperti dirimu mau merindukan diriku yang hina ini. Tapi terima kasih banyak telah mau membalas suratku kemarin dan menghiburku dengan kata-kata indahmu.

Terima kasih untuk kakak sang Bidadari yang mau membacakan suratku ini kepada bidadariku. Aku yakin bidadariku ini beruntung tidak harus melihat kesedihan didunia ini, karena aku tidak akan rela melihatnya menangis karena dunia.

Terima kasih atas segalanya, Bidadariku

Tertanda

Arfian


-----

(dikirim oleh @TanteHijau di http://zadikalexander.tumblr.com)

I Love You, and It's Not Your Business



Dear yang tak tergapai... Apa kabar? Pasti lagi ngajar, ya?

Hari Sabtu dan Minggu kemarin aku sengaja gak dateng ke kampus, ke acara Mumas (Musyawarah Mahasiswa) buat milih presiden himpunan kita yang baru. Ya... Simpel sih, soalnya aku tau kamu bakal dateng.

Kamu tau?
Malam minggu kemarin, saat kamu datang ke acara Mumas, teman-temanku yang ikut di acara itu pada nge-SMS, beberapa nge-tweet. Isinya? Hampir semuanya sama: "You should come. He's here now."

Aku tersenyum, pahit. Kubalas semuanya dengan nada yang sama. "I know, that's why I didn't come."

Ingat dengan SMS-ku tanggal 31 Desember 2010 kemarin? Aku bilang kalo aku ingin move-on... Dari kamu... Aneh ya? Padahal kamu bukan mantan aku, gak pernah pula jadi pacar aku. Kenapa harus move on? Dan kamu membalas SMS-ku, "You don't need to do that. No one asks it."

Tapi, aku tau. Kamu tak pernah nyaman ketika aku ada di sekitarmu, di sampingmu. Iya kan?

Kamu tau?
Sulit rasanya gak ngebuka profil FB kamu. Tapi, kemarin aku berhasil lho 7 hari gak buka profil kamu. Biasanya, dalam satu hari aku bisa buka profil kamu sampai 5 kali. See? I'm moving on.

Kamu tau?
Walaupun mulut ini selalu berucap untuk move on, hati ini masih berlabuh padamu. Mungkin karam, tak bisa pindah lagi. Isn't it ironic? You don't wanna love me, but you don't wanna let me go either.

Kamu tau?
Aku tak pernah menyesal mengirimkan SMS pada 11-01-11 yang isinya, "I love you", walaupun kamu membalasnya dengan "Nice to know you". Untuk hari itu, move on-nya libur dulu.

Ng... Btw, doain ya. Besok aku tampil di pagelaran Apresiasi Bahasa dan Seni, jadi Bawang Merah. Semoga besok aku tampil oke dan bikin kamu ilfil setengah mati.

Salam rindu,
Pengagummu yang lagi libur move on

P. S.: I love you, and it's not your business.

(dikirim oleh @rannasubhan di http://maulizious.multiply.com)

Untuk Adikku yang Betah di Surga

Hai, kamu yang di sana.

Betah sekali sepertinya. Tak ingin kah menjengukku sekali-sekali? Aku kangen kamu. Ingin sekali lagi menikmati gelap dan ngobrol sampai pagi, berbagi halitosis serta amoniak yang keluar tanpa malu.

Kamu tau, setiap di rumah, aku selalu berharap kamu tiba-tiba menyerbu masuk dan berteriak memanggil namaku. Lalu, bertanya, “Masak apa hari ini, Yuk?”. Jika masakanku terlalu pedas, kamu pun akan langsung mencaci, tapi tetap mengunyahnya tak bersisa. Lain waktu, kamu duduk di sampingku dan bercerita tentang segala yang kau alami hari itu. Lalu, lama-lama, kamu menguap berkali-kali dan akhirnya merebahkan kepala di pangkuanku. Aku rindu sekali padamu, tau…

Aku sedang entah. Seperti lelah digerogoti rindu rasanya. Ingin bertemu kamu tapi masih tak mungkin rupanya.

Bersediakah menungguku di surga-Nya? Bila kehabisan tempat, mungkin kita bisa nongkrong di pinggir jalan menuju surga. Berdoa saja, para malaikat terlalu sibuk mengurusi tetek bengek surga neraka sampai tak lagi sempat memperhatikan kita.

Dan kita pun bisa terus tertawa…

-----

(dikirim oleh @yoand di http://mungkinpuisi.wordpress.com)

Untuk Om Em yang Baik Hati

Halo Om,

Apa kabar hari ini? Lagi sibuk yah membaca surat cinta yang dikirimin sama peserta #30harimenulisuratcinta.
Aku hari ini bingung om mau nulis surat cinta buat siapa, baru juga hari keenam udah bingung. Padahal kan masih ada 24 hari lagi yang berarti 24 pucuk surat cinta lagi.

Akhirnya tadi pas online aku liat Om Em menuliskan harapan dibawah ini:


Karena salah satu resolusi tahun baruku adalah berbuat at least satu kebaikan setiap hari dan hari ini aku belum berbuat satu kebaikanpun, maka aku berniat untuk mewujudkan cita-cita dan impian om demi mendapatkan sepucuk surat cinta.

Apakah surat ini surat cinta? Tentu saja, gak perlu diragukan lagi. Surat ini adalah tanda cintaku kepada Om yang sudah baik hati memposting suratku yang kemaren penuh dengan foto-foto. Aku bisa membayangkan Om yang sibuk dengan kerjaan, sibuk menyortir surat, meretweet surat dan memposting banyak surat diblog 30 Hari Menulis Surat Cinta dan aku dengan egoisnya ngebuat surat yang berisi banyak foto, nambah-nambahin kerjaan Om aja. Sampe aku merasa bersalah n bilang "udahlah Om, punyaku dilewatin aja" Tapi Om tetep mengorbankan diri dan waktu untuk mempostingnya. Aku sungguh terharu.

Oya aku juga sempet baca blognya Om dan ternyata Om adalah orang yang romantis, puisi-puisi dan surat cinta yang Om buat bener-bener menyentuh hati. Aku baca satu-satu dan ikut terhanyut. Iri rasanya sama kemampuan menulis yang Om punya. Tapi iri itu kan gak baik ya, jadi lebih baik aku belajar lebih banyak aja. Om mau kan ngajarin?

Om dulu pernah ikut teater ya? sama dong Om, aku juga.. sayang aku selalu jadi figuran kalo ada pertunjukan dan puisi-puisiku gak pernah masuk kumpulan puisi. Mungkin gak punya bakat kali ya.. tapi yang penting aku udah menemukan satu kesamaan kita.

Segitu dulu ya Om suratku kali ini. Semoga Pak Pos nyampein surat ini ke Om, eh Pak Posnya kan Om sendiri ya, berarti pasti nyampe dong. Semoga Om Em senang dan menyebarkan makin banyak cinta ke dunia..

Salam Perangkooo :-)

Ps: Guess How Much I Love You..

(dikirim oleh @utary di http://myutary.blogspot.com)

Dalam Diam....

Untuk yang tak kan pernah terjamah..tuk yang tak mungkin ku gapai..cinta dalam hatiku…


Entah dari mana aku harus memulai semuanya, aku bahkan tak tahu…yang kuingat saat itu..aku dan kamu, kita berpapasan sekali, dua kali..tak pernah ku sadari bahwa ada yang lain di dirimu…yang membuatmu berbeda..entah apa! jangan tanya padaku aku tak tau…sungguh! hingga suatu hari, kita kembali berpapasan, dan kau tersenyum..lalu, semalaman aku tak bisa tidur, aku terus terjaga, gelisah..bayang wajahmu terus terbayang jelas di benakku..Ah! aku mulai takut…ini bukan pertama kalinya aku merasakan hal yang sama….dan aku tau betul, ini menyiksa!!

Memang, dalam malam-malamku yang hampa, aku selalu meminta pada-Nya, sang Maha Cinta…tuk berikanku rasa, yang selalu didamba oleh setiap manusia…rasa yang sulit tuk dijelaskan, pun tak perlu tuk dijelaskan..cukup tuk dirasakan..rasa ketika dua insan saling berbalas rindu, dan mereka tak lagi dua..tetapi satu… dan itulah yang disebut oleh para pujangga sebagai cinta…anugerah yang indah dalam hidup manusia..yang membuatnya merasa utuh, yang membuatnya punya alasan, untuk tetap bertahan…untuk terus berjuang…ah! cinta!

Tetapi mencintaimu?!..entah ku sebut ini apa?! anugerah kah?! petaka kah?! sekali lagi entah! mempertanyakan hal ini, sama absurdnya seperti mempertanyakan bagaimana aku bisa jatuh hati padamu…hanya dari mata, setiap kita berpapasan..ahhh! kadang aku merasa ini teramat sangat janggal..dan dalam rasa janggalku, aku terus mencari tau tentang kamu…hahaha..konyol!! aku tau namamu, hanya dari petunjuk2 yang mungkin tak kan pernah kau kira…ya!! jaket hijau itu! jaket jurusan kebanggaanmu, yang selalu kau kenakan setiap kali kita berpapasan!! dari situ aku mulai menebak2..

Sehari, dua hari, aku terus mencari, bertanya2…jurusan apa?! angkatan berapa?! nama?! semuanya!! aku ingin tau kamu!! aku ingin tau semua hal tentang kamu..sungguh!! dan.. cring!! petunjuk itu datang..satu demi satu..kebetulan kah?! tapi selama ini aku percaya, tidak ada yang namanya kebetulan…semua yang ada di dalam kehidupan, sudah diatur oleh Tuhan! dan itulah yang ku percaya…

Mula2 aku tau jurusanmu…hahaha..jurusan impianku dulu…meski harus menjadi pilihan ketiga SPMB-ku ;( kemudian, aku tau kamu angkatan berapa…luar biasa rasanya..kemudian aku bertanya pada seorang temanku, yang juga seniormu…aku hanya minta dia, tuk menyebutkan salah satu nama secara acak yang satu angkatan denganmu…Random!!!karena memang aku tak tau namamu, dan..ya! kau bisa menebaknya…aku mencari kamu..dari ribuan mutual friend yang ada di facebook temanmu itu..oh God!! rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami..

Hampir menyerah, aku benar2 sudah pasrah..tetapi rasa ingin tauku mengalahkan semua..aku terus mencarimu, dari foto2 sejumlah temanmu yang tak di-protect ahahahaha..benar2 konyol!!! tapi mungkin inilah yang namanya kekuatan cinta…aku berlebihan?! mungkin iya… diantara ribuan foto2 yang ada di facebook. itu..tiba2 aku melihat kamu!!! ah Tuhannnn…terima kasihhh!! dan ternyata ada namamu ter-tag disitu..kamu berdiri dibelakang, hampir tak terlihat..aku hanya tau itu kamu, dari kacamatamu yang kau pakai..wow!! aku bahkan hapal warna dan modelnya….dan tentunya..jaket hijau itu…

Sekarang aku tau namamu, dan tau facebook-mu meski aku tak bernyali tuk menge-add mu..sebut aku pengecut! itu aku! tapi biarlah aku menikmati rasa ini sendiri..cukup aku..karena aku tau kau sudah ada yang punya..ya, dia yang selalu bersamamu setiap kita berpapasan….tapi sungguh, tau namamu itu lebih dari cukup buatku…bisa melihatmu hampir setiap hari juga anugerah yang terindah bagiku…kau membuat hari2ku penuh dengan harapan..berharap hari ini kita berpapasan..berharap aku melihat kamu..dengan jaket hijau kesayanganmu…dan, dalam doa2ku, kini aku bisa menyebut namamu, mendoakanmu, semoga kau berbahagia dengan siapapun itu..yang kau cinta…meski itu bukan aku…

yaaahhh…nangis dehhh gw!!!

-----

(dikirim oleh @didiriku di http://didiidid.wordpress.com)

Untuk Langit

Untuk kamu,

kamu yang aku sebut langit, yang saat ini sibuk dengan duniamu.

yang sering menentang nasihat bang haji rhoma. Selalu begadang demi menyelesaikan tugasmu.

kamu yang mulai jarang mengirimkanku pesan singkat dan mengkhawatirkan keadaanku.

ah sudahlah, aku sampai hampir lupa kalau aku sudah jera denganmu. Tapi, semakin aku menjauh, kamu selalu hadir saat ruang ini sedang kosong.

lalu, siapa yang salah?

Perasaanku? atau cara bertemanmu?



Ini tidak akan habis. Tak ada yang pernah mengalami hubungan platonik, mutualisme, dan kadang parasitisme seperti kita ini.

kamu sudah menyerakan hatiku, tapi dengan mudahnya kamu bawa sapu, menata kembali, menyapu kembali.

ah tidak, aku tidak serapuh itu.

dan kamu, selalu dalam kebisuanmu. Pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.

Aku kesal, tapi tetap saja tidak bisa menjauhimu. Kita terlanjur masuk dalam lingkaran takdir.

Kali ini, aku tidak punya ekspektasi apa-apa, aku menghadapimu seperti seorang cenayang, yang sudah bisa meramalkan sebuah akhir dari apa yang kamu awali .

Teruntuk kamu, sang langit.

Sudah menjadi takdirmu untuk dekat dengan awan, hujan, matahari, bintang, bulan.

Sedangkan aku, hanya senja yang kadang redup tertutup oleh awan hitam.

Aku mengirimu sepucuk surat secara digital, meski beberapa kali kamu menerbangkanku, dan menjatuhkanku, aku tetap bisa berdiri dan menerimamu dengan tangan terbuka.

Karena, mungkin perasaan ini tidak akan pernah terkikis. Tetap ada, tapi tak akan diberi ruang seperti dulu.

Aku hanya ingin kamu tau, aku sangat menghargai pertemanan kita ini. Hingga akhirnya aku menyerah, karena semuanya hanya membuatku semakin munafik.

Untuk langit, tetap temani awan, hujan, matahari, bintang dan bulan itu.

Tapi segera buat keputusan, aku tidak ingin kamu memperlakukan mereka seperti aku (baca : senja).

Kamu tidak mungkin baik secara berlebih kepada semuanya, suatu hari mereka minta diakui.


-----

(dikirim oleh @superluckyphili di http://superluckyphili.tumblr.com)

Kepada Bulikku

Untuk seorang wanita dewasa, di timur Jawa.

Pertama, bolehkah aku titip cium untuk Bebemu tercinta? Anak kecil, adalah salah satu yang membuatku mudah jatuh cinta pada pandangan pertama.Seperti halnya aku kepada kamu. Bukan pada wajah madu yang kau milikki, tapi keramahan hati yang kau punya.

Bulik, mungkin surat ini bukan surat cinta. Aku lebih senang menyebutnya surat sayang. Karena memang itu yang aku rasa kepadamu. Cukup sederhana, sesederhana bagaimana Tuhan menulis namamu di lembar hidupku. Semudah Ia membuat rasa bahagia di hatiku karena telah mengenalmu.

Kalau boleh kumengenang waktu, dulu aku hanya sekadar mengikuti harimu dalam dunia tak kasat mata. Dunia yang telah membuat satu keluarga yang aku tak rela kehilangannya. Keluarga besar yang penuh cinta. Tak hanya maya,tapi juga dalam nyata.

Mungkin mulanya hanya sekadar canda. Kelakar sederhana untuk menghidupi tawa, memberikan nyawa pada bahagia. Mungkin pula leluconku berlebihan, yang membuatmu pernah mengenal resah diantara aku dan perasaanku.

‘Benar-benarkah aku mencintaimu? Benarkah aku Oedipus Complex?’ Ups, maaf kalau kalimat itu membuatmu tersinggung. Bagiku kau dewasa, bukan tidak muda. Meski cantikmu jua tak mampu dibungkam usia.

Tidak, aku tidak mencintaimu. Tapi aku menyayangimu, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Dan buanglah jauh ke angkasa semua resah. Karena aku, pemudamu, memiliki cinta istimewa untuk seorang wanita di luar sana. Tersenyumlah, wanita itu memiliki hati yang sama ramah dengan milikmu. Pribadi sederhana serupa aku menyayangimu.

Bulik, di sini aku tak menulis fiksi. Aku lebih senang menulis sebuah ketulusan rasa dari hati.


Semoga harimu terus bahagia, bersama orang-orang yang kau cinta.

Dari aku, pemudamu.


(dikirim oleh @rigeladitya di http://www.rigeladitya.co.cc/)

Surat dalam Pesawat Kertas

sebelumnya maaf, jika aku agak kaku. aku tak tahu harus dari mana memulai surat ini.
sepertinya inilah surat pertama yang benar-benar kutujukan untukmu, setelah sekian lamanya.

hai. apa kabar?
baik? sehat? semoga selalu begitu.
masih ingat aku? iya, aku yang dulu sering menangis jika difoto, tapi selalu bergaya congkak dengan kedua tangan di pinggang.
masih ingat? kita sering berbincang saat malam sebelum aku terlelap, sambil meluruskan kaki sampai sejajar dengan dinding.
rasanya sudah lama sekali ya masa-masa itu. tapi mungkin kau sudah lupa, karena aku pun terkadang mulai lupa dengan berbagai kenangan kita, bahkan ada banyak hal yang tak bisa kuingat. menyedihkan ya? hihi.


tampaknya kita memang sudah lama tak berbincang begini, bercakap lewat kata-kata yang tertulis seperti ini. yang digoreskan kuat-kuat melalui pena yang kugenggam erat.
apalagi berbincang secara lisan. rasanya tak mungkin lagi. meski aku masih sering bercakap denganmu yang sepertinya tak mungkin mendengarku, dan hanya terdengar oleh dinding kamar. nyatanya aku benar-benar lupa bagaimana suaramu, selalu sia-sia setiap kucoba mengingatnya.

oh iya, kau masih ingatkah dengan pesawat kertas? mainan buatan dari kertas, yang sangat kusuka waktu dulu itu. nanti surat ini akan kulipat menjadi pesawat kertas seperti itu, lalu kuterbangkan jauh.
semoga bisa terbang tinggi ke langit lalu mengelilingi bumi menuju tempatmu berada, di mana pun itu.
karena tidak mungkin jika aku kirim ke kantor pos dengan amplop bertuliskan
“untuk mama, yang entah di mana”. bisa-bisa akan ditertawakan, dicibir, disinisi, seperti yang kualami selama ini.

ah, sudah dulu ya. kita lanjutkan nanti. akan kuceritakan lebih banyak tentang berbagai hal yang telah terjadi.

maaf, jika aku selalu merindukanmu.

dari si bungsu yang selalu menunggumu, mama.

-nico-

[bagian sudut kamar lainnya: http://tuannicogarukgarukpala.wordpress.com/2011/01/18/surat-dalam-pesawat-kertas/]
-----