Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #10. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

Kalau Aku ke Wellington


Untukmu

yang sedang berlayar


Hai kamu, ini sudah hari kesepuluh aku mengirim surat padamu loh. Hari ini adalah hari terakhir aku menulis untukmu di 30 Hari Menulis Surat Cinta. Harus bagibagi untuk yang lain yah. Kan walaupun aku mencintaimu, tapi hidupku bukan semua untukmu. Mencintai juga harus berbagi bukan?

Nah, di surat terakhirku ini, hihihi kesannya nggak akan mengirim surat lagi. Di surat kesepuluh ini aku ingin kamu tahu bahwa beberapa hari ini aku jadi sering searching tentang Wellington. Aku jadi ingin ke sana, walaupun mungkin tidak bertemu denganmu, setidaknya aku bisa merasakan dirimu di kotamu. Ah, aku jadi ingat film Soundless Wind Chime. Dia datang ke negara almarhum kekasihnya untuk melepas kerinduan. Sungguh mengharukan film itu. Aku bisa merasakan bagaimana kerinduan dia rasakan dengan menelusuri kota asal almarhum kekasihnya, yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Kamu harus nonton film itu.

Oh ya, setelah aku lihatlihat, Wellington sungguh menarik. Ternyata Wellington kota urban yang sangat berbudaya dan orisinil. Banyak museum menarik di sana, serta festivalfestival yang menakjubkan. Sebenarnya, kalau ke Wellington sama kamu, aku tidak akan riset dulu. Aku percaya kamu tahu apaapa yang aku suka. Kita kunjungi berdua.

Tapi sumpah, aku penasaran dengan Harbour Festival. Indonesia tidak punya festival itu. Aku ingin naik kapal bersamamu di festival ini. Aku juga pastinya ingin melihat Te Papa Museum, pengen naik Cable Car, pengen nyoba ngopi di Mojo Coffee, jalanjalan di Botanical Garden, ah...banyak sekali yang ingin aku coba. Rasanya aku harus 3 bulan di sana atau kamu mau memintaku tinggal di situ hihihihihi..Tapi pastinya, aku ingin datang ke universitas tempat kamu kuliah dulu. Kamu pernah cerita tentang itu kan...?

Ternyata kotamu penduduknya cuma 4jutaan jiwa. Menurutku, jumlah segitu cukup untuk satu kota. Jakarta hampir 10 juta, pantas saja sesak dan tak beraturan. Dari gambargambarnya aku juga melihat Wellington rapih dan menyenangkan. Jangan bandingkan dengan Jakarta yang kamu tahu sendiri, sesak dan semrawut. Aku serius ingin ke sana jadinya.

Nah, kabarkan padaku, kapan kau pulang ke Wellington. Aku akan menjadwalkan perjalanan ke sana untuk menemuimu. Aku akan sangat menunggu sekali ucapan selamat datang darimu saat aku di Wellington.

Dan ini aku kirimin fotoku siapa tahu kamu kangen. Aku sama boneka monyet hadiah dari Rara dan Dea. Namanya onyet Brama, dia pemalu. Sampai jumpa di Wellington!




salam rindu dalam keajaiban,

Pengintai Bintang


(dikirim oleh @omemdisini di www.penyairduamusim.blogspot.com)

Buat Si Jambul


Haloo jambul, ceneng banget deh onyet dapet curat dari kamu. Onyet mau bales dari kemarin-kemarin tapi onyet gak tau mau kirim lewat ciapa, yaudah onyet titip ke om eym aja deh :D.

Onyet jadi gak enak cama kamu, gara-gara onyet kamu cakit peyut deh. Abis kakakk aul yang nyuruh onyet bawain bekal rujak, katanya jambul cuka banget makan rujak. Gak taunya onyet di tipu #cembelut

Inget deh waktu hari pertama kamu macuk cekolah. Waktu bu guru bilang ada pindahan anak dari ostrali, macaa kamu macuk pake kaca mata item trus benerin jambul mulu :D kayak lagi di pantai #ketawaonyethaticetan. Tapi kamu keren banget sih, onyet cuka (•̯͡.•̯͡) onyet juga ga akan lupa waktu cepeda onyet kempes kamu yang nganterin onyet pulang cekolah sambil ikut nenteng cepedanya. Waktu onyet enggak bawa jeruk bali buat prakarya di cekolah kamu bagi kulit jeruknya buat onyet. Ceneng banget deh (•̯͡.•̯͡)

Jambul... Onyet pengen lagi bawain bekal buat kamu. Kamu mau onyet bawain apa? janji deh gak bikin cakit peyut lagi. (^-̮^)

Sampai ketemu becok yah di ayunan biru jam istirahat.


Onyetcekci

(dikirim oleh @monyetsexy untuk @Onyetjambul )

pesawat kertas terbang tinggi..

hai,
apa kabar?
semoga kau tak sedang kedinginan, menggigil sendirian.

di sela malam yang dingin,
aku menulis surat ini yang kutujukan lagi untukmu. tapi apakah suratku yang sebelumnya sudah sampai padamu?
sudah kau baca?

sepertinya tidak mungkin ya kau membacanya. ah.

surat yang lalu benar-benar sudah kulipat menjadi pesawat kertas, pesawat kertas yang sangat bagus bagiku. aku menerbangkannya.
kau tahu? pesawat kertas itu pun terbang tinggi!
hebat, ya?

merasakan kesenangan seperti waktu kecil dulu, bermain dengan pesawat kertas. tapi kali ini, aku tak main-main. aku menerbangkannya dengan serius dan bersungguh-sungguh. karena ku ingin pesawat kertas terbang tinggi, terbang jauh mengelilingi bumi menuju tempatmu berada, entah di mana pun. seperti yang sudah tertuliskan di surat dalam pesawat kertas itu.

tapi aku punya kabar buruk. pesawat kertas ternyata tak terbang jauh, segera jatuh kembali, tak jauh dari tempat ku berdiri. apakah ini pertanda? bahkan pesawat kertas pun tak tahu di mana engkau berada? lalu aku menerbangkannya lagi, dan tetap saja segera jatuh kembali. aku tetap menerbangkannya lagi, berkali-kali, tapi tetap saja segera jatuh, selalu begitu. pesawat kertas mungkin sudah lelah, tapi aku tak akan menyerah.

surat ini pun akan kulipat juga menjadi pesawat kertas dan tetap akan kuterbangkan tinggi ke angkasa. biarlah, meski pesawat kertas tak sampai ke tempatmu berada, semoga kata-kata yang tertulis menyatu berbaur dalam udara, udara yang sama, udara yang kita hirup ini, tentu saja jika kau memang masih berpijak di bumi. dan setelahnya, pesawat kertas akan kusimpan rapi di lemari sunyi, seperti pesawat pertama yang kini terdiam di dalam sana, bersama berbagai kenangan kita.

sekarang, di luar, hujan.
pesawat kertas tak dapat terbang dalam hujan, tapi kerinduan ini tercium dalam aroma hujan yang menemani. aku merasakan ada pelukmu menunggu di setiap tetesnya. dan suara-suara rintik itu, apakah suaramu?

mama, aku hujan-hujanan dulu, ya.
jangan marahi aku.

aku tak akan kedinginan, kok.


: dari
si bungsu -yang selalu merindukanmu-


nb: oh iya, nenek sering bilang kalau beliau rindu padamu, segera pulang ya. mama. atau beritahu kami di mana kau berada.

Si Kacamata

Halo kacamata,


Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Ya, setiap minggu di rumah besar itu, kita bertemu.

Aku jadi sering menebak-nebak siapa namamu? Ah, aku ingin sekali berkenalan denganmu.

Bisa tidak? Ah, mengapa ya aku rindu padamu. Aku suka gayamu.

Dengan polo shirt hijau itu, ya, aku paling ingat. Karena itu warna kesukaanku.

Apa jadinya ya kalau kita berkenalan? Suatu hari, kalau universe mengijinkan, aku yakin, aku akan berkenalan denganmu.

Aku tahu kau. Ya, hanya tahu.

Semoga saat itu kau baca surat ini.

Kapan ya, aku bertemumu lagi di rumah besar itu?


Salam,

wanita hijau.

(dikirim oleh @sihijau di www.sihijau.wordpress.com)

I'm So Happy That It's Scary

Tadi siang, kamu tanya, kenapa aku suka naik motor sama kamu. Hehe… Kamu pasti udah tau jawabannya kan, Mas? Kamu cuma mau godain aku aja kan? Iya, jawabannya karena aku seneng bisa berada sedekat itu dengan kamu. Puass?? =p

Mas, seandainya perasaan itu bukan benda abstrak, kamu pasti takjub dan terbengong-bengong melihat ‘penampakan’ perasaanku. Aku aja gak kuat kok nahan ini sendiri. Seperti ada yang mau melompat keluar dari dalam tubuhku tiap aku deket kamu, tiap aku denger suaramu, tiap aku mikirin kamu…. Parahnya, gak ada sedetik pun aku gak mikirin kamu. Nggak, Mas…ini bukan gombal. Aku serius *seperti halnya aku serius sama kamu… *

Kamu tau, sekarang, barisan doaku bertambah. Ada namamu di sana, disertai harapan agar kita bisa segera dipersatukan oleh takdir. Ditambah juga doa agar yang memilikimu merestui kita.

Aku gak mau mikir macem-macem, Mas. Aku sedang amat sangat bahagia sekarang ini, sampai-sampai kadang aku jadi takut. Ada banyak kekhawatiran yang muncul. Tapi, karena kita masih bisa terus berdoa, aku jadi agak tenang sedikit.

Thanks for spending time with me, Masku sayang… Semoga kita bisa menghabiskan sisa hidup ini bersama-sama ya, Mas…

(dikirim oleh @yoand di http://mungkinpuisi.wordpress.com)

Dua Empat : My 24th

Pii.. *(^⌣^)*

Maap agak lama baru nulis surat lagi. Mii agak sibuk belakangan. Banyak ngerjain pesenan design banner. Maklum Mii juga mau bantu Pii nabung buat kita nikah nanti. *(^⌣^)*

Sesuai angkanya 24, Mii jadi inget ulta Mii terakhir. Mii engga butuh perayaan mewah bagai putri raja. Mii engga butuh makanan mahal bagai kaisar. Mii cuma butuh Pii. *(>___<)* Sama seperti bungkus permen yang Pii makan dan Pii kasi Mii. Ditemani sama waffle yang kita makan di A&W. Bener-bener ngingetin Mii sama hari pertama kita ketemu. Tanpa bicara namun kita saling mencuri kesempatan memandang satu sama lain. *(^___~)*

Kenangan tak terlupakan itu sudah cukup membuat ulang taun Mii kemaren begitu istimewa. Terlebih lagi dengan adanya Pii yang nemenin Mii 1 harian, itu membuat hari Mii sangat lengkap. Mii pingin banget waktu bisa berhenti sejenak saat itu. *( ^ з(♥⌣♥)*

The warm of your love grows my flower of happiness. Let us grows our love for the rest of our adventure.

Laft eU, Pii~ mwaaaach~
(づ ̄ з ̄)づ ~♡♥

(dikirim oleh @wikalinata di http://wikahari.wordpress.com)

Hari Kesepuluh

Lily yang lembut,

Jariku melangkah gontai hari ini. Resah pada sesuatu yang tidak aku ketahui. Mungkin ini firasat yang tidak tergambar jelas, hanya kurasa sedang ditumbuk beban yang berat. Ah, bagaimana melukiskannya!

Kepalaku pusing, seperti baru saja berputar di tempat 10 kali. Mungkin aku mau sakit. Entah, gejala ini datang tiba-tiba begitu saja. Awalnya aku terbangun di pagi hari dengan tubuh penuh keringat. Padahal aku tidak merasa bermimpi apa-apa. Entahlah. Aku tidak mengerti. Apa ada yang terjadi di luar sana?

Antara gejala sakit dan firasat aneh, di tengah-tengahnya aku tak tahu apa-apa. Menyebalkan.

Lily, maaf suratku tidak sepanjang biasanya. Terasa semakin pusing waktu menulis. Namun aku tak pikun merindukanmu. Sedikit kata di surat ini bukanlah sedikit rasa aku mencintaimu. Aku adalah kata. Cinta tidak tergantung jumlah katanya, namun tergantung besar makna dari baliknya.

Lelaki yang masih hidup dan tidak mati rasa cintanya,

Igo

(dikirim oleh @zarryhendrik di www.zarryhendrik.tumblr.com)

Enambelas: Untuk Gadis Cantik di Balik Jendela

Halo Cantik,
Bolehkah aku berkenalan denganmu?
Kamu mungkin bertanya-tanya, siapakah aku yang dengan lancang mengirim surat padamu. Aku yang tak kau kenal.

Meskipun kamu tak mengenalku, mungkin kamu pernah melihatku. Sebab secara tidak resmi, kita bertetangga. Aku kos di seberang rumahmu. Kamarku, tepat di seberang kamarmu di lantai dua. Aku sering tanpa sengaja melihat kamu termangu di depan jendela, melihat ke taman.

Awal aku tinggal di rumah kos ini, kuanggap biasa saja, namun makin lama, aku makin menyadari, bahwa kamu selalu melihat ke taman, dengan sendu, sesaat sebelum senja, sesaat sebelum cahaya matahari habis ditelan malam.
Dan sekarang, aku selalu menunggu saat itu.

Cantik, apa yang kau pikirkan? Apa yang membuatmu demikian sedih?
Maukah kamu membaginya denganku?

Cantik, mungkin surat ini tak pernah terkirim, tapi aku tahu, suatu saat, aku akan mengetahui kesedihan di balik wajah cantikmu itu...

Salam,
Tetangga di seberang rumahmu

(dikirim oleh @ruthwijaya di http://www.ruthwijaya.com)

Surat Untuk Hatiku

Jogja di pagi yang menggila.
23 January 2011
Hari ke-10

Kepada : Hatiku ♥

Haii hatiku,
Apakabar harimu?
Kudengar rasamu sedang tak menentu.
Apakah kamu sedang merindu?
Atau jangan-jangan kamu sedang meragu?
Oh.. Ayolaah jujur saja aku ini kan pemilikmu.
Aku akan simpan baik-baik rahasia antara aku dan kamu.

Hatiku, ijinkan aku tau siapa yang berusaha mencurimu dariku??

Jika dia orang yang tepat, biarlah aku membungkusmu dengan rapi.
Dan ku sampaikan kamu untuknya dengan hati-hati, sungguh aku berjanji! :)

Jika dia bukan orangnya, biarlah kamu ku jaga sendiri.
Dan aku akan menghiburmu setiap hari, sungguh aku berjanji! :)

Namun jangan pernah kamu memintaku untuk membagi.
Aku bahkan tak sanggup melihatmu terbagi.
Sekalipun ada yang sanggup memilikimu hanya separuh hati,
lebih baik kamu ku jaga sendiri.

Hatiku, tetapkan siapa yang kamu ingini.
Sebab aku tak ingin melihatmu terluka untuk kesekian kali.
Aku mau kamu bahagia sampai nanti, tanpa perlu dilukai dan melukai.

Hatiku, tersenyumlah..
Sekalipun kamu sedang meragu,
rasakan bahwa rindu itu benar milikmu.
Ya milikmu..

Okay baiklah, jaga dirimu baik-baik ya hatiku..
Aku tidak mau mendengarmu merengek untuk dinyanyikan lagunya Olga lagi lho..
“Hancur hancur hancuurr hatiku..”, haha atau kalau lagi melow parah kamu minta dinyanyiin lagu lawas yang sama sekali aku ga hafal liriknya. “Hatiku hancur mengenang dikauuu.. berkeping-keping jadinya.. Kini airmata jatuh berguguran tak ada lagi harapan...” >> bener ga siy gitu liriknya?? asal cuap ni hahaha.. :D

Yaudah ah.. udah dulu ya suratnya udah kepanjangan ni.
Besok lagi aku tulis surat buat kamu (kapan-kapan maksudku heheh wee..:p)

Oiya satu lagi!
Hatiku, kamu ko sombong siy sekarang ga pernah bisikin aku lagi???
Aku kan sangat sangat sangat butuh “bisikan hati” dari kamu.
Okay nanti kalau kamu udah baca suratku ini, kamu langsung mulai bisikin aku lagi yaa..
Aku butuh dibisikin ini :
1. Ayoo yuka jangan males mandi..
2. Ayoo yuka jangan telat makan..
3. Ayoo yuka jangan lupa sholat..
4. Ayoo yuka jangan tidur malem-malem apalagi pagii..
5. Ayoo yuka kapan mau beresin kamarnya?!
6. Ayoo yuka jangan main hape terus mending telf mama sm papa jangan kayak anak ilang deh kamuu..
7. Ayoo yuka sayang, jangan pura-pura lupa ya sama obat-obatnya.. Katanya pengen sembuh diminumnya yg teratur yaa.. nanti aku kasih bonus kecups.. :*
*yang terakhir ini harus lemah lembut yaa bisikinnya aku kan ga boleh stres kata dokter hihihi.. :p

Cukup 7 dulu aja ya bisikinnya. Lagian itu pasti udah berisik banget deh aku dengernya hihi becanda.. Aku sukaa ko!! Habis klo bukan kamu siapa lagi yang mau bisikin aku setiap saat?! Hww.. Makasiya kamu selalu ada buat akuuu kecups mesra buat hatiku.. mua :*

Yaudah ini beneran udahan.
Aku mau kerja dulu yaa..
Weekend banking @Pasar Beringharjo Jogja..
Hajaarrrr!!! :D

-luv ka ♥-

(dikirim oleh @ukakuiki di http://www.perempuan-hujan.blogspot.com)

Barista

Halo Fey…

Sudah tiga minggu ini kau tidak muncul di meja pojok dekat jendela besar itu. Terakhir kali kau masuk ke kedai kopi ini dengan baju yang sedikit basah dan sisa air hujan sedikit menetes lambat diujung rambut panjangmu. Ketika kuhampiri dirimu yang sibuk menepis tetesan air di tas mu, wajahmu terlihat sendu… ya beberapa hari ini kau tampak melankolis sekali, menghilangkan wajah aslimu yang cerah ceria. Kau hanya meminta secangkir kopi krim tanpa gula dan roti panggang dengan lelehan coklat, menu kesukaanmu.

Apa kau sedang menunggu seseorang saat itu, Fey ? apa kau ada masalah ? Matamu kerap memandang keluar jendela. Apa sebenarnya yang kau cari di jalan yang basah dengan hujan ? Lalu kupergoki matamu basah, berlinang air mata… kau menangis dalam diam. Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi melihatmu, Fey.

Aku benar-benar mengkhawatirkanmu… Apakah lelaki itu yang membuatmu terlihat menderita seperti ini, Fey ? Mengapa kau memilih dia padahal banyak orang yang akan menyayangi dan menjagamu, tidak akan membuatmu menangis karena lara hati. Sebesar itukah cintamu pada lelaki itu, Fey ? Pada lelaki yang sering datang bersamamu dan sejam kemudian mengajakmu pergi, lelaki yang menghampirimu ketika kau sedang berkutat di tablet kerjamu lalu lima belas menit kemudian pergi meninggalkanmu, lelaki yang usianya lebih tua darimu. Bukan sekali dua kali aku melihat lelaki itu membuat matamu basah dan wajahmu terlihat kecewa ketika dia hanya bisa bersamamu sebentar.

Fey, kau bisa menceritakan apapun padaku kalau kau mau. Kau bisa mempercayaiku untuk dijadikan tempat berbagi kisah hidupmu. Aku ingin melihat kau tertawa lagi, melihat kau mencelupkan telunjukmu ke dalam lelehan coklat dan mengulumnya, melihat kau terpaku pada layar tabletmu atau blackberry mu dengan ekspresi muka yang beragam, melihat kau bersungut-sungut ketika Manchester United tidak mencetak gol, dan melihatmu bersenandung sambil menggerak-gerakkan badanmu ketika sedang mendengarkan musik di headset mu.

Aku tidak bisa menjanjikan apapun selain itu padamu, Fey… tapi setidaknya kau bisa menikmati kopi buatanku yang sengaja aku racik khusus untukmu, tanpa rasa manis karena kehadiranmu di kedai kopi ini sudah memberikan rasa manis itu sendiri.

Ian, Barista yang mengkhawatirkanmu

(dikirim oleh @ZahriMaya di http://sofacokelat.tumblr.com)

Dear Mbak Emah

Mbak Emah, aku senang banget, lho, waktu kamu datang. Udah beberapa bulan ini aku sama Mama harus ganti-gantian ngepel, cuci, nyapu, dan masak. Pegel juga ternyata mengerjakan semuanya. Ini lumayan bikin nafsu makanku membesar jadinya.


Aku senang sama kamu, lho, Mbak Emah. Kamu itu suka bercerita dan selalu tersenyum. Kalau dimintain tolong apa aja, nggak pernah mengeluh. Kamu juga sopan dan nggak pernah melawan. Sosok orang yang pas menjaga rumahku. Kalau aku atau orang rumah lainnya mau meninggalkan rumah jadi nggak khawatir menitipkannya ke kamu. Kami juga nggak harus ganti-gantian jagain rumah karena kamu pasti siap sedia.


Minggu lalu kamu meminta pulang. Kami semua kaget. Katanya kamu betah ada di rumahku, tapi kenapa tiba-tiba pengen pulang? Kata kamu kakakmu melahirkan, keesokan harinya kamu bilang kakakmu meninggal. Tapi kamu nggak sedih dan senyum. Reaksimu biasa aja. Tapi kamu bisa menunggu seminggu untuk nggak pulang. Tunggu sampai kamu dijemput katanya.


Hari Minggu ini kamu harusnya pulang. Kamu akan dijemput. Aku sudah membayangkan akan segudang pekerjaan rumah yang menanti. Duh, kalau nggak ada kamu pasti berat, ya, Mbak. Sebelum kamu pulang, kami sekeluarga pergi ke Gereja dulu. Kamu bilang kamu akan menunggu sampai kami pulang.


Tiga jam kemudian ketika kami sampai rumah, kami tidak mendapatimu di rumah. Cuma sepucuk suratmu yang kami temukan di meja makan. Katamu,


“Maaf, ya, Bu. Emah pulang nggak tanpa pamit. Kakakku sakitnya semakin parah. Emah pulang nggak bawa apa-apa, kok, Bu”.


Kamu pulang tanpa berkata apapun. Kamu mengunci semua pintu rumah dan melemparkan kunci ke halaman rumah. Kamu membuat kami semua kaget dan panik. Ada apa, Mbak Emah?


Mbak Emah, aku nggak tahu kesulitan apa yang sedang kamu alami sampai kamu harus terburu-buru. Benarkah kakakmu sakit? Atau ada orang lain yang memaksamu untuk pulang? Apapun itu alasannya, hati-hati di jalan ya, Mbak. Semoga kamu menemukan rumah yang membuatmu bertahan lama. Terima kasih untuk dua bulan yang kamu bantu. Sungguh kamu meringankan beban kami.


Salam,


(Mantan) Majikanmu


(dikirim oleh @naomitobing di http://naomitobing.wordpress.com/2011/01/23/mbak-emah/)




Hari ke-10: 234

Dji Sam Soe,
Dji, sudah hampir 3 tahun rasanya kita tak berjumpa, awal-awal tahun pertama tanpamu terasa berat sekali, aku seperti mau gila rasanya, bibirku terasa hampa, jemari tanganku kesepian. Aku kesal ketika mereka hanya membolehkan aku membawamu sebatas 200 batang saja dan kamu hanya bisa bertahan selama kurang dari sebulan, mungkin kamu juga tak tahan dengan pergantian cuaca dari panas ke dingin waktu itu, kamu selalu memanggilku untuk memanfaatkanmu sebagai penghangat tubuhku, ah hanya kamu teman setia yang mau dan rela kumanfaatkan, kugunakan…Dji
Sam, ah begitu gagahnya dirimu dengan nama itu? Kamu yang berbeda dengan teman-temanmu, aku tidak salah memilih waktu pertama kali bertemu, kau sedang menemani abangku yang menikmati kopi panas setiap hari, mungkin waktu itu aku masih duduk dibangku SMA, aku diam-diam merebutmu dari sisi abangku, aku begitu terkejut ketika pertama kali kita bercinta, ketika bibirku menyentuhmu…aku seperti melayang di udara, tak bisa bernapas, tak terkendali. Aku tahu cinta kita terlarang saat itu namun aku sudah jatuh hati padamu….Sam
Soe, tahukah kamu kalau tidak sedikit orang terkejut ketika aku bersamamu? Ada yang memanggilku dukun namun kamu selalu menghiburku dengan berkata, “ Dukun itu artinya Duduk Tekun”, memang aku selalu suka duduk-duduk bersama teman-teman lainnya di bale-bale depan rumah abangku dan begadang sampai pagi berbicara tentang alam semesta dan isinya, indahnya saat itu. Seseorang bahkan menyangka aku ini Lesbian loh? Mungkin karena kamu ini tak ber-filter ya ? (loh ? apa hubungannya ?), ah aku tak peduli mereka bilang apa ketika kita bersama, aku juga tak pernah memasukkannya dalam hati, terkadang justru aku menganggapnya sebagai pujian, ya! pujian untukmu….Soe.

Untukmu, aku rela mengemis dan meminta-minta, aku teringat ketika setahun berlalu tanpa dirimu, aku benar-benar tersiksa, kamu yang mempunyai umur yang pendek, membuatku sengsara dan merasa kesepian di negeri asing ini, setelah 200 batangmu habis, aku mencari-cari orang yang bisa membawamu dari Jakarta ke Inggris, aku mengemis kepada kakakku yang akhirnya memberikan aku satu slop yang itupun habis setelah beberapa waktu, dan akhirnya aku menyerah, memutuskan untuk melupakanmu, memutuskan tali cinta kita, maafkan aku yang telah menggantimu dengan sesuatu yang jauh dibanding dirimu, tak seberapa gagah dibanding kamu, ya..sekarang aku bersama Mayfair yang ber-filter, dia bukanlah apa-apa dibanding kamu, namun aku memilihnya sebagai penggantimu untuk saat ini.

Aku masih memikirkanmu sampai saat ini, masih merindukanmu namun aku tak tahu apabila kita bertemu lagi suatu hari, apakah aku masih bisa memilikimu? Apakah kamu masih mau menghiasi bibirku ? ah kamu memang pria sejati bagiku, tak banyak wanita yang bisa menguasai mu dan aku bangga pernah menguasaimu…walaupun untuk sementara waktu..


(dikirim oleh @nonahujan_)

Kepada Rasa Sepi

Teruntuk kamu, yang sekarang mengisi penuh hati ini.


Kapankah kamu mau meninggalkan rasa sesak di hati ini? Menjauh sana! Pergi! Aku sangat berharap kalau kamu tak kembali lagi!


Meski sebetulnya aku tahu, kamu tak akan bisa pergi dengan sendirinya. Kamu hanya bisa diusir dengan keberadaan rasa suka, dan dengan kembalinya rasa bahagia. Kalau para perasa itu datang, kamu pasti akan beranjak pergi dengan sendirinya. Bahkan tanpa perlu aku suruh.


Saat ini kamu masih mengisi ruang yang sudah sesak di hati ini. Kamu tak mau mengalah, membiarkan para perasa untuk datang dan mengusirmu. Aku jadi sebal. Dengan adanya kamu, pikiranku selalu terbawa ke masa lalu, mengingat-ingat cerita lama, yang ujung-ujungnya hanya akan membuat kamu semakin betah menyesakkan hati.


Ayolah, segeralah kamu lepaskan perekatmu! Aku tak ingin kamu ada lagi di sini. Aku ingin si suka dan si bahagia yang menggantikan kamu. Aku ingin mereka yang merekatkan jemari mereka di hati ini.


Kepada rasa sepi, kumohon sekali lagi. Cepatlah pergi…


(dikirim oleh @pitra di http://laindunia.media-ide.com/2011/01/23/kepada-rasa-sepi/)

#30HariMenulisSuratCinta (Hari Sepuluh: Untuk Buku Tulisku)

Selamat malam, Hitam.


Aku membiarkan jemariku menari-nari sendiri di papan ketik sampil menatapmu dengan penuh renjana. Sesekali mereka berselingkuh menyusuri lembaran-lembaran pagina. Tapi percayalah, aksara yang mereka tekan menjadi barisan puitis ini tulus memaknai surat cinta.


Masa tugasmu menyimpan goresan tintaku sudah hampir sampai di ujung jalan. Tinggal tersisa beberapa carik kertas lagi yang belum kumal menyimpan coretan. Ingatkah, beberapa kali kamu terselamatkan dari tumpahan minuman atau curahan air hujan? Basah sedikit, lekas kukeringkan kemudian. Aku tak akan rela kalau sampai harus kehilangan kamu yang selalu terselip di antara ini-itu yang berantakan dalam tas cokelatku. Kamu terlalu berharga untuk terpisah dari aku.


Menyadari bahwa kebersamaan kita memang terencana hanya untuk sementara membuatku takut. Berlebihan menurutmu? Tidak untukku! Semua tulisan dan gambar yang memenuhi putih mulusmu itu hasil putaran otakku yang kurekam diam-diam supaya tidak hilang. Yang dari sana nantinya akan menjadi olahan buah pikiran dan diterjemahkan dalam bentuk karya yang menantang. Kamu mengerti? Jadi hargamu takkan terbeli.


Sebentar lagi, saat paginamu habis terjamah, kamu akan masuk laci. Lalu akan ada lagi buku tulis baru yang bersamakku selalu ikut kesana-kemari. Sebelum waktu itu datang, inilah karyaku untukmu sebagai penghargaan atas pengabdian: surat cinta yang ditulis dengan penuh kerendahan hati – bahwa tanpa kamu ideku bisa mati. Dan, ya, malam nanti kamu tidur bersamaku lagi.


Sampai nanti, Hitam.


(dikirim oleh @miyaa di http://literaturdiatasranjang.blogspot.com/2011/01/30harimenulissuratcinta-hari-sepuluh.html?zx=9ded9165dbd542d0)

kepada si biru tua kebanggaan

hallo kamu biru tua…


mendadak aku rindu kamu…


apakabar kamu…iya kamu yang ada di rak buku ku kini…


aku sengaja memajangmu disana… kalau saja diruang tamuku ada sebuah rak mungkin kau sudah kusimpan disana… kau kebanggaanku..rasanya ingin sekali aku pamerkan pada semua orang…


hari itu di akhir juni tahun lalu… kau membuatku begitu bahagia, membuatku tidur nyenyak,membuat orangtuaku bangga dengan anak sulungnya ini dan membuatku mendapat banyak ucapan “selamat”, yap aku tau itu mungkin permintaan maafmu sekaligus imbalan untukku karena telah kau repotkan beberapa bulan kebeulakang„ membuatku bersahabat dengan keybord dan layar komputer, menjadikan perpustakaan adalah tempat terpenting yang harus aku datangi dan menyuruh otakku bekerja lebih ekstra hanya untuk membuatmu…membuat halaman demi halaman di penuhi dengan kalimat-kalimat yang harus kurangkai, menghitung begitu banyak angket, bergelut dengan teori-teori atau ketika harus meneteskan air mata akibat ucapan terimakasih..


ku sebut kau si biru tua kebanggaan…


kubuat kau dengan susah payah dan keluh kesah..


ku buat kau dengan rasa kesal dan tetesan air mata ketika aku melakukan kesalahan besar dalam menata halaman demi halaman untuk membuatmu sempurna.


kau membawaku ke dalam suatu ruangan yang sangat kutakuti..bertatapan langsung dengan orang-orang yang ku anggap macan yang akan menerkam ku..dan hanya kaulah yang bisa menyelamatkanku..


Tapi kau tetep se kebanggaan…


karena di akhir, berkat keinginanku untuk membuatmu sempurna, akupun tersenyum dan sangat puas dengan apa yang telah kulakukan….


kau menunjukan padaku kalau betapa hebatnya aku telah berhasil membuatmu hingga dalam pengumuman itu kau dinyatakan Sangat memuaskan dan membuat indek prestasiku naik.


terimakasih birutuaku yang membanggakan.. terimakasih karena kau juga aku punya empat huruf yang menempel di belakang namaku kini…


terimakasih..SKIPSI ku...


(dikirim oleh @mumumunaroh di http://mumumunaroh.tumblr.com/post/2892056947/kepada-si-biru-tua-kebanggaan)

hari kesepuluh: penghuni baru

Hai penghuni baru, tadi kita ketemu lagi. Dan kenapa setiap kali kita harus ketemu dalam keadaan aku tak layak tayang?!
Ini sudah kali kedua ya kita ketemu di lift.  Aku masih ingat ketika pertama kali ketemu kamu. Di lift nomor 2. Waktu itu aku baru pulang dari kantor. Hujan deras di luar dan aku tak kebagian parkir di basement. Jadilah parkir di luar. Ditambah lagi aku lupa bawa payung. Walau lari dari parkiran ke lobby tak terlalu jauh, tapi lumayan basah juga di tengah hujan deras seperti waktu itu.
Aku ingat melihat pintu lift yang terbuka dan segera lari ke dalamnya. Yang ada di pikiranku waktu itu hanya ingin segera mandi. Entah bagaimana, aku terpeleset dan terjatuh berdebam. Lift pun berguncang. Sakitnya tak seberapa, tapi malunya itu lho! Untung hanya ada kamu di dalam lift. Kamu segera menolongku bangun dan bertanya apakah aku terluka.
Senyum itu. Genggaman tangan itu. Bahkan sekarang ketika menulis ini, mukaku langsung memerah.
Itu pertama kali kita ketemu. Waktu itu kupikir kamu hanya mengunjungi teman, saudara, atau kekasih? Ah, kuharap bukan kekasih yang kamu kunjungi.
Dan tadi kita ketemu dalam situasi yang aneh lagi. Tanteku datang berkunjung di akhir pekan dan ketika pulang kuantar sampai lobby. Hanya dengan pakaian seadanya dan bando pembersih muka. Sungguh saat yang tidak tepat ketemu kamu dalam keadaan seperti itu. Sementara kamu tampak begitu indah sore tadi. Dan oh, aku suka wangi parfummu!
Kamu menanyakan apakah aku baik-baik saja setelah terjatuh waktu itu. Ternyata kamu masih mengingatnya. Aku malu! Kemudian aku tahu ternyata kamu baru pindah minggu lalu. Kita hanya terpisah tiga lantai!
Hai penghuni baru, semoga besok ketemu lagi ya. Supaya aku bisa tanya namamu


(dikirim oleh @peggybunny di http://peggybunny.tumblr.com/post/2892395835/hari-kesepuluh-penghuni-baru)

Dear-my alter-Jothi

Halo….tidak mau berbasa-basi lagi, lama aku gak berdialog dengan kamu. Ya mungkin memang benar hatiku mulai penuh dengan sosok tanpa H yang kau sebut itu. Maaf juga aku belum mengirimimu surat. Tapi aku langsung membalas surat kiriman darimu dihari ke 10 ini.


Aku senang dengan rasa peduli dan perhatian yang kamu berikan untukku. Aku bisa terima semua isi suratmu kemarin. Semua isinya sangat beralasan dan dapat dengan mudahnya bisa aku terima. Terimakasih sudah mengingatkan aku, kembali mengingatkan aku siapa aku untuknya…


Jothiku yang ku sayang, aku harus terus terang dalam suratku ini. Aku belum bisa pergi dari pria tanpa H-ku, aku masih perlu dia, masih ingin dia mengisi hatiku. Tak perduli seberapa sering aku dibuat menangis. Lagi pula bukan dia juga yang buat aku menangis, akunya saja yang sensitif dan banyak menuntut. Bahkan dia tidak pernah sengaja menyakitiku. Malah mungkin tidak ada niat sama sekali membuatku menangis.


Jangan selalu menyalahkan ketidakpekaan dia. Mungkin sebenarnya bukan tidak peka tapi lebih kepada dia itu memang tidak ekspresif. Aku sangat mengerti sekali siapa aku buat dia. Jadi biarkan aku simpan kotak itu didalam hatiku, dan akan aku isi terus sampai penuh, bahkan kalau perlu aku pindahkan kekotak yang lebih besar lagi. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah aku bakar. Biarkan itu menjadi masalahku sendiri, jangan terlalu jauh ikut campur untuk masalahku yang satu ini. Aku mau hanya aku sendiri yang rasakan. Cinta, patah hati, jatuh cinta lagi, air mata, GR, luka dan cemburu cukup aku yang simpan hanya untuk dia pria tanpa H.


Cukup duduk yang manis diruanganmu jothi. Akan ku buatkan expresso untukmu setiap hari dan kubelikan buku sketsa yang baru untukmu, lengkap dengan pensilnya, untukmu menggambar imaji mu. Aku sayang kamu juga jothi, malah terlanjur jatuh cinta akan sosok imajinermu. Dan tidak ada niat sedikitpun untuk membuat ‘niya jothi’ layu. Justu aku butuh pria tanpa H untuk membantu ku tidak menghapus kamu dalam jiwaku. Pria tanpa H-ku memberi aku sejuta bahkan lebih inspirasi buatku menulis. Karena hampir semua tulisanku tertuju padanya.


Jothiku yang kusayang…please jangan paksa aku!!!! Aku cintA kamu juga pria tanpa H ku tidak terkecuali.. ☺


Salam


-niya-


(dikirim oleh @neeyaisme di http://niyajothi.wordpress.com/2011/01/23/day10-surat-balasan-niya-untuk-jothi/)

Minggu, Kamu Sedang Tidak Unyu

halo, Minggu
bertemu lagi denganmu
mana hari seru yang kuminta,
apakah kau lupa?
tinggal satu jam waktu yang tersisa
tak akan tersia-sia jika kau siapkan penutup yang sempurna
aku minta tidur nyenyak tanpa mimpi
dan ucapan selamat malam dari yang terkasih


ps: tolong sampaikan pada Senin, aku mengajaknya bersahabat :)


(dikirim oleh @putrisantoso di http://bukukuning.tumblr.com/)

Untuk Hatiku

dear hatiku..
haii... lama rasanya kita tidak saling berbicara.. berbagi apa yang kita mau.. dan menentukan apa yang kita harus lakukan.. aku rindu saat-saat dimana aku benar-benar bersamamu.. melakukan hal hal yang tepat.. tanpa menyakitimu.. yang artinya juga tidak menyakitiku.. aku bersyukur Tuhan memberiku sebentuk jiwa seperti dirimu.. selalu penuh dengan cinta dan kemauan kuat untuk bahagia.. tapi sayangnya kamu terlalu mengabaikan dirimu sendiri.. oh.. atau bahkan aku yang telah menyakitimu hatiku?? maaf.. kadang aku salah menentukan kemauan.. tanpa bertanya padamu.. apa yang kamu mau, apa yang seharusnya aku lakukan, apa yang terbaik untuk kita.. maaf.. seribu kali maaf.. aku terlalu sering melupakanmu..seringnya aku mengabaikanmu dengan mimpiku yang terlalu jauh.. membiarkanmu tersakiti dalam waktu yang lama, membiarkan kesedihan mengikismu perlahan dengan sempurna hanya untuk hal yang kita sebut cinta.. aku telah mengambil hakmu dengan paksa.. hakmu untuk bahagia karena berisi dengan orang-orang yang tepat.. tapi maaf.. sekali lagi aku salah.. ingin rasanya aku berhenti disini.. membiarkanmu dan otakku bekerja dan menentukan semuanya sendiri tanpa rasaku.. aku terlalu putus asa memperbaiki semua.. maafkan aku hatiku.. yang tak pernah sepenuhnya memilikimu.. sedangkan aku terlalu gila untuk memiliki hati orang lain yang belum tentu tepat untukmu.. membahagiakanmu, menenangkanmu, dan dengan tepat masuk kedalam dirimu.. maafkan aku juga yang telah merusak kesempatan bahagiamu.. dengan menghindari hati yang mungkin tepat untukmu.. dan sekarang dengan sangat menyesal aku mengingatnya..


hatiku.. maafkan aku yang terlalu lama menutupmu.. yang bahkan tak memberimu sedikit celahpun untuk memaknai arti kesegaran akan kebaikan yang lain selain rasa sakit untukmu.. aku terlalu takut.. takut kamu tersakiti dan mulai lemah lagi..


hatiku.. maukah engkau memaafkanku? bisakah kita mulai dari awal lagi? kali ini aku harap akan berjalan baik.. tanpa melalui jembatan panjang bernama kesedihan yang terlalu sering kamu lalui akhir-akhir ini..


hmm.. mungkin kita akan bertemu dengan beberapa hati.. dengan perlahan memilihnya.. menentukan seperti apa teman terbaikmu, sahabat terbaikmu, dan juga kekasih yang tepat untukmu..


saat ini aku hanya sanggup meminta pada Tuhan untuk tetap menjaga kebaikanmu.. dan meminta kepadanya, sebentuk hati yang terindah, terbaik dan paling tepat untukmu.. semoga hadirnya tak akan jauh.. dengan segera mengisimu dengan cinta yang luar biasa, dan jutaan rasa bahagia..


terima kasih hatiku untuk terus bersamaku.. temani aku menemukan cintamu..


dari aku,


pemilikmu..


(dikirim oleh @muphii di http://mufidaa.posterous.com/untuk-hatiku)

Sabun dan Shampoo

kamu kan sekarang macem-macem ya variannya. Ukurannya lah. Kegunaannya lah. Banyak banget kan ya? Belom lagi wanginya. Ah, jangan kan ukuran aromanya. Harganya aja macem-macem. Dari yang biasa aja sampe yang bikin bengong.


Kamu kan gunanya untuk bikin kita bersih, bonusnya kita jadi wangi, kan ya?


Tapi kenapa ya kalian jarang berhasil bikin pacar aku jadi rajin mandi dan bercengkrama sama kalian? Aku keabisan ide harus gimana lagi biar dia tergugah. Kasian juga liat kalian menganggur, diem-diem kedinginan di kamar mandi. Berdampingan sama sikat gigi dan odol. Juga sabun cuci muka.


Atau aku yang kurang memotivasi dia?


Ayolah sabun, dan shampoo! Mari kita bekerja sama. Gerilya melawan kemalasan si pacar untuk mandi.


Jadi.. Besok rapat dulu ya denganku. Kita atur strategi. Tempatnya di kamar mandi atas, jam 5 pagi. Tunggu aku ya!




(dikirim oleh @martesiaaa di http://martesiaklarissa.blogspot.com/2011/01/10-sabun-dan-shampoo.html)