Selasa, 18 Januari 2011
Selamat ya, Aku Gak Bahagia kok
Hei, gimana kabar kamu? Pasti kamu bilang kamu lagi sangat bahagia. Oh, tentu saja. Dengan segala hal yang kamu hadapi dan punya sekarang, kamu pasti bahagia.
Aku bilang aku senang lihat kamu bahagia. Aku ucapin selamat bertubi-tubi ke kamu, lalu cipika-cipiki. Kamu tahu, untuk sampai ke tahap aku bisa bilang selamat dan senyum di depan kamu itu nggak gampang.
Awalnya, susah sekali untuk bahagia untuk kamu. Egois mungkin. Tapi kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain, jadi jangan bilang kamu tahu rasanya. Aku ingat malam itu kamu memberitahukan kabar bahagia di telepon. Kamu mungkin terlalu bahagia sampai kamu nggak tahu kalau saat itu suaraku bergetar dan hanya mengucap sepatah dua patah kata. Aku mencari padanan kata yang tepat untuk perasaan ini. Iya, aku iri sama aku.
Malam itu aku menangis. Benci rasanya harus iri sama kamu dan nggak bisa bahagia bersamamu. I wasn’t a good friend, was I? Aku menghindar dari segala macam pembicaraan tentangmu. Tentu saja kamu mungkin nggak tahu. Butuh waktu sebulan cuma untuk merasa bahagia bersamamu.
Saat aku merasa sudah bisa berbahagia untuk kamu, lalu kamu mulai mengeluh ini-itu. Kamu tahu rasanya aku pengen kasih cabe ke mulut kamu biar kamu diam. Kamu udah dapat banyak tahu, nggak. Kamu punya yang nggak aku punya jadi berhenti mengeluh.
Ada saat-saatnya aku mau unfollow kamu di twitter. Update-mu itu sungguh menyiksa, tahu! Rasanya setiap kamu tulis sesuatu aku mau skip aja. Jahat? Mungkin.
Untuk merasa lebih baik, aku harus berkali-kali bilang bahwa aku baik-baik saja dan bahagia. Kadang-kadang berhasil, tapi lebih banyak nggak, sih. I had to deal with myself and it was so hard. Aku selalu membayangkan bahwa ketika orang-orang melihat kita, mereka akan lebih fokus ke kamu. Mereka cuma akan lihat ke aku dan memandang dengan wajah kasihan. Iya, kasihan, ya aku. Cuma jadi bayang-bayangmu saja.
Jadi setelah kamu baca surat ini, aku pengen kamu nggak banyak mengeluh lagi. Dan tolong, dong, kalau ada yang punya Doraemon, percepat waktu saja supaya aku nggak tersiksa seperti ini.
Maaf, ya. Ini sebenarnya bukan salah kamu. Aku yang salah karena aku nggak bahagia buat kamu. Aku sayang kamu. Tapi aku lagi nggak sayang diriku sendiri. Tenang saja, aku lagi berusaha memperbaikinya, kok. Dan kalaupun tidak, aku pasti akan tetap tersenyum buatmu nanti. Aku nggak akan merusak kebahagianmu dengan rengutanku.
Sampai ketemu di hari bahagiamu, ya.
Sahabatmu.
Aku.
(dikirim oleh @naomitobing)
Kau Selalu di Tubuhku
Sudah lama aku tak pernah melihat seluruh tubuhku didepan kaca terkecuali kaca make-up yang imut untuk aku memakai lipgloss dan it karena kamu …lemak,
Apabila ku bentangkan kedua lenganku, sepertinya aku bisa terbang tapi bukan ke atas tapi kebawah, lemak di kedua lengan atas terasa seperti sayap, Ah jadi teringat ketika diberikan baju batik yang kakakku menyebutnya “Bat wing”, aku menjawabnya “aku sudah punya. Alami loh, buat kamu saja yang kurus”. Itu juga karena kamu… lemak,
Kamu alasan kenapa aku punya lipatan kedua di daguku bukan belahan ya! Aku sempat di ledek oleh kakakku yang berkata, ”kan jadi bisa menyimpan makanan untuk besok disitu”. Anehnya, aku tak merasa kesal kepadamu…lemak.
Kamu juga alasan kenapa sekarang aku suka memakai corset bila di undang ke pesta teman-temanku, karena aku sudah bosan di sangka hamil atau ditanya, “sudah berapa bulan mbak?” dan aku selalu menjawab dengan riang, “5 bulan jalan-jalan say.”
Ah lemak, kamu menyebar kemana-mana dengan cepatnya tapi ada dua tempat yang kamu lupa tempati, telapak tangan dan kakiku, mereka tetap kecil, jadi aneh terkadang melihat bagian tubuh yang lain membengkak namun mereka tetap kecil, aku jadi seperti tidak normal.
Sudah bertahun-tahun lamanya kucoba mengusirmu, ikutan fitness, jogging disekitar rumah bahkan yang lebih parah lagi aku pernah mencoba pil pembakar lemak namun justru membuatku sakit dan aku tak mau lagi mencobanya, maaf ya aku mencoba membakarmu, membunuhmu…lemak.
Sekarang aku sudah menerimamu menjadi bagian tubuhku, kamu senang, tidak? Aku tidak lagi merasa bersalah bila harus melahap makanan yang porsinya untuk seribu kaum, aku menerima resiko dari semua itu dan hasilnya adalah kamu…lemak.
Jangan bilang siapa-siapa ya kalau kamu ini sebenarnya juga mempunyai kelebihan, aku tak merasa terlalu kedinginan di musim dingin ini karena ada kamu yang menyelimuti aku…
Ah, tapi tetap saja ..aku ingin suatu hari kamu pergi dariku dan berhenti mencintaiku, aku ingin kamu mencintai orang lain yang lebih membutuhkanmu, aku ingin sekaliii saja bisa memakai pakaian dengan ukuran “S” dan tidak di cemooh orang lagi. Maaf ya…Lemak
(dikirim oleh @nonahujan)
Surat Cinta Hari Kelima
I know you would come, eventually. For me.
Love, Me.
PS: you might find me with somebody else, but you are the only one I am waiting for.
(Dikirim oleh @peggybunny)
Peter Pan's Shadow
TINKER BELL
di Pundak Peter Pan Yang Tertidur
Tinker Bell yang mungil,
Errrr… Aku tak bermaksud menghinamu kok. Aku justru ingin mengutarakan kekagumanku padamu. Kau sadar, cahaya yang berpendar dari tubuh mungilmu itulah yang membantu Peter menemukan jalannya pulang. Tubuhmu kecil, tapi hatimu besar. Dan aku mencintai kebesaran pribadimu.
Ya, aku yang hanya sebentuk bayangan, yang tak memiliki wujud nyata ini, mencintaimu dengan nyata. Tenang, tenang, aku tahu kau mencintai Peter Pan dengan segenap hatimu yang besar itu. Dan aku semakin kagum padamu, Bell! Ah, beruntungnya pemuda bodoh satu itu, karena ia bisa mendapatkan hatimu yang istimewa. Eh! Aku lupa kau tak suka ada orang yang menghina Peter… Ah, tapi itu kenyataan kok! Aku yang selalu hidup bersamanya ini (walau berkali-kali mencoba kabur karena sebal padanya), hafal betul kebodohannya. Dasar bocah menjengkelkan tak tahu diri yang selalu menyusahkan…. EH TUNGGU TUNGGU TUNGGU! Jangan robek surat iniiiiiiii!
Ya ya ya, ampun ampun… Aku tak akan mengata-ngatainya lagi! Janji kelingking! Jangan marah yaaaaa (meskipun wajah marahmu itu menggemaskan sekali, hihihi)…
Bell yang luar biasa,
Aku hanya ingin menyatakan perasaanku kok. Aku tak ingin memonopolimu dari Si Peter Bo…s Sejati. Ehehehehe. Lagipula, jika aku meminta pun kau juga tak akan mau. Siapa yang mau bersama dengan bayangan sepertiku? Tetapi, tahukah kau? Bayangan tak akan ada jika cahaya tak ada. Aku tak akan ada jika kau tak ada.
Sekian.
Salam cinta,
Bayangan Peter Pan yang cerdas walau majikannya menye….nangkan
(untung aku hitam, jadi kau tak bisa melihat wajahku yang pasti merah padam)
(dikirim oleh @inezkriya)
Balada Kotak Susu
Aroma pesing, wangi sampah yang super menjijikkan, bahkan bau-bau kembang 7 rupa pun aku rasakan.
Pagi dan sore. Siang dan malam.
Dan aku menunggumu lagi di sini.
Depan pasar swalayan tempat kita biasa berjumpa. Tempat aku dan kamu saling berdampingan satu sama lain. Senyum malu-malu, tersipu. Tambah merah saja perawakanku ini.
Aku menerima sepucuk surat manis darimu, berkata bahwa kamu telah pensiun bertugas, dan kamu akan kembali menjemputku yang telah menjadi sosok terbuang sejak sekian lama.
Akankah kamu menjemputku dengan kuda putih bersayap seperti dalam dongeng-dongeng masa lalu?
Ataukah kamu akan membawaku berjalan-jalan dengan permadani terbang?
Sudah pukul 5 pagi, hey kamu. Aku ngga bisa SMS kamu layaknya para manusia itu. Akupun ngga bisa sekedar menelponmu dan menanyakan kabarmu. Dimana kamu. Masih ingatkah janji itu? Tanggal 17 Januari 2011, jam 5 pagi teng.
Dan kamu pun tidak datang. Oke.
Sosok wajah kotak nan lugu yang kurindukan. Dengan sekujur tubuh berwarna biru muda yang menyerupai warna langit. Tak lupa dengan aksesori manisnya, sang sedotan yang selalu setia menemani. Dimana kamu?
#surat sang kotak susu strawberry untuk kotak susu vanilla#
nb : tadi dia berkata sama saya, tolong carikan penampakan susu vanilla yang menyerupai kekasih hatinya, tolong sampaikan bahwa ia akan selalu menanti di tempat ini, di pasar swalayan ini, di lemari pendingin nan bersejarah ini.
*inspired by : Video clip of Blur : "Coffee and TV.
(dikirim oleh @kandelakandeli)
Untuk Gadis di Pinggir Rel
gw udah lama liatin lo…
gw juga udah lama berusaha menyapa lo..
entah kenapa gw ngerasa klo lo ga ngerasa kehadiran gw..
setiap lo lewat gw selalu perhatikan lo…
jam 8 pagi lo jalan ke arah stasiun…
jam 11 malam lo pulang…
walo gw rabun gw slalu tau klo itu elo..
soal nya lo slalu pake jacket hoodie yang sama..
yang lo pakai setiap menelusuri rel ini
gw juga tau klo gw ini bukan siapa siapa..
lo mungkin bahkan ngerasa ga pernah lihat gw..
lo selalu jalan di sebelah kiri rel..
gw selalu memandangi lo dari kanan rel…
dan lo ga pernah melihat ke kanan..
setiap ngelihat lo berlalu gw selalu merasa klo kita ini seolah olah beda dunia…
rasa ingin untuk menyapa lo tuh benar benar membunuh gw..
cuma ntah kenapa gw ga pernah berani untuk menyebrangi rel itu…
ada sesuatu yang menahan gw…
gw takut klo gw nyapa lo ntar lo ngerasa terganggu dan ga mau lewat sini lagi..
dan gw jadi ga bisa lihat lo lagi…
jadi gw tulis surat ini..
gw cuma pengen lo tahu..
cuma dengan melihat lo berjalan di pinggir rel itu..lo udah bikin hidup seseorang jadi indah..
dan seseorang itu gw
(dikirim oleh @NovianHadinata)
Re: Aku Tidak Baik-Baik Saja
Maafkan aku untuk dua surat terakhirmu yang belum sempat kubalas. Akhir-akhir ini aku malas menulis. Bukan hanya karena seminggu ini aku sedang liburan, tapi karena aku bingung apa yang harus kutuliskan. Begitu banyak yang berkecamuk di kepala, namun tak satu kata-kata pun yang tepat melukiskannya. Tapi untukmu akan kucoba jabarkan.
Kalau kau tanyakan apa kabarku, akan kukatakan aku baik-baik saja. Lidahku sudah terbiasa mengucap kata “baik-baik saja” bahkan meski aku merasa sebaliknya. Pun kalau kukatakan aku tak baik-baik saja apakah orang-orang akan peduli. Aku masih hidup, masih bernafas, masih berjalan, masih tersenyum, masih bisa liburan, masih bisa bersenang-senang. Di bagian manaku yang tak baik-baik saja. Ah, hati. Mereka tak kan peduli dengan apa yang tak kelihatan. Yang mereka lihat adalah kau sedang bahagia. Tak peduli seberapa resah hatimu. Yang mereka lihat adalah kau sedang tersenyum. Tak peduli seberapa kuat kau menahan air mata yang hampir tumpah.
Kukatakan padamu Seno (hanya padamu, karena kau sahabat yang kupercaya), aku sedang tidak baik-baik saja. Dan aku hampir gila setiap hari memaksa untuk percaya bahwa tidak, aku baik-baik saja. Tapi bagaimana bisa aku baik-baik saja jika setiap hari aku (meski hanya sedetik) akan merasa hampa. Jika setiap hari aku (ratusan kali) meragukan doa-doaku sendiri. Jika setiap hari (ini seringnya sungguh keterlaluan) aku selalu merasa kesepian.
Apa kau tahu, bahkan cinta seseorang tak mampu memenuhi ruang kosong di hatiku. Disana ruang itu lengang, tak berpenghuni. Bukan salahnya. Kita tak bisa menyalahkan seseorang untuk ketidakmampuannya memenuhi hati kita. Mungkin salahku. Karena awalnya kupikir aku jatuh cinta. Aku begitu terpesona. Aku begitu bahagia. Aku begitu berbunga-bunga. Tapi bukankah cinta akan membuatmu bertahan menerima segala kekurangan. Cinta akan membuatmu tak berhenti merindukan. Cinta akan membuatmu senang bertemu dengan sang pujaan. Kenapa aku tidak. Betapa berat kepalaku memikirkannya.
Mungkin kau akan bertanya, kalau bukan cinta, lalu apa namanya? Percayalah, bermalam-malam kutanyakan hal yang sama pada diriku sendiri. Sampai akhirnya aku menyerah, membiarkan waktu yang bicara.
Dan ketika waktu mulai angkat suara dengan logika, hatiku resah. Disitu ia mempertanyakan jarak, agama, komitmen, kedewasaan, dan hal-hal lain yang tak sempat dipertimbangkan hati ketika ia sedang mabuk kata-kata. Disitu ia memangkas habis rinduku. Disitu ia berhenti membuatku berpikir bahwa ini cinta.
Kau lihat kan betapa rumit hati seorang wanita? Dan kurasa aku adalah wanita paling rumit yang pernah kau kenal. Karena bagiku, dicintai saja tidak cukup. Seseorang harus benar-benar menaklukkan hati sekaligus logikaku.
Yang paling kutakutkan sekarang adalah bahwa aku telah melukainya. Demi Tuhan, aku tak kan dengan sengaja melakukannya. Aku tak pernah berbohong, aku sangat menyukainya. Ia membuatku merasa istimewa, dicintai, dirindukan, diinginkan, hal-hal yang sudah lama sekali tak kurasakan. Ia membantuku melupakan sejenak rasa sakit yang sudah berkarat di jiwaku.
Betapa aku berharap bahwa ia baik-baik saja dan bahwa ini semua tak berarti apa-apa baginya. Bahwa saat ini mungkin ia sedang tertawa senang bersama teman-temannya. Bahwa aku hanya sekedar satu dari sekian banyak wanita yang singgah di hidupnya. Dan aku berdoa kepada Tuhan, jangan biarkan satu tetes pun air matanya jatuh untukku! Aku sungguh tak pantas!
Sen, aku tidak baik-baik saja. Saat ini aku sedang ditemani sahabat lamaku, Sepi. Kuharap kau tak pernah punya teman seperti dia.
Tertanda,
Malaikat Senja.
(dikirim oleh @penikmatsenja)
Makaroni Sekutel
Sedang apa? oh iya sedang membaca suratku ya. Semoga kau tidak malas membacanya sampai akhir. Aku tidak akan berpanjang lebar kok. (Eh entahlah….)
Aku hanya ingin kamu pulang cepat!! Minggu ini? Yah please!! Bukan karena aku terlalu rindu padamu, ah lagipula aku sudah bosan rinduku tak pernah kau hiraukan. Aku ingin kamu pulang minggu ini karena aku sudah belanja semua bahan untuk membuat Makaroni Sekutel untukmu. Makaroni ini aku buat spesial untukmu, dengan sedikit ‘magic’.
Dari setiap helai makaroni yang aku masak nanti merupakan helaian rinduku untuk kamu..(Ah aku mengucap kata itu lagi). Setiap gram daging asap, daging cincang dan daging ayam yang ada didalamnya menunjukan rasa sayangku pada perutmu yang semakin membuncit. Setiap tetesan air mataku yang keluar bersamaan dengan irisan bawang putih dan bawang bombay itu adalah bentuk kesabaranku menunggumu di sini. Lada yang kupakai lebih banyak kali ini, maaf karena aku kesal kau tidak pernah merindukanku. Ahh tapi aku akan meyirami kekesalanku dengan air susu murni yang lebih banyak dari biasanya. Terakhir kuberi parutan keju mozarella pertanda lelehan cintaku hanya untukmu, topingnya kuberi sedikit keju chedar biar cintaku semakin gurih. Kutambahkan daun piterseli diatasnya, mmmm pertanda kesejukan setiap kali aku melihatmu..#wink
Kamu,, cepat pulang!!! Kamu bawakan aku bingkisan warna ungu, aku berikan makaroni sekutel penuh cinta untukmu…
-Koki Cinta-
-niya-
(dikirim oleh @neeyaisme)
Untuk Otak dan Hatiku
Semoga ketika membaca surat ini, kalian sudah berbaikan. Selalu kan, kalau sudah masalah cinta pasti berseteru. Yang satu mau begini, yang lain mau begitu. Bikin aku panas dingin tidak menentu.
Inilah kenapa surat cinta ini untuk kalian berdua, bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Supaya dibaca berdampingan, atau sebelah-sebelahan.
Begini ya, singkat saja. Aku mau bilang aku cinta kalian, sebagai pasangan yang bekerja berbarengan. Kadang, otak, aku pilih logika dan realita. Dan kadang, hati, aku pilih perasaan dan asmara. Manapun pilihanku di satu waktu adalah tanggung jawabku, menentukan langkah sebagai individu untuk masa depan sendiri maupun berdua bersama dia yang nantinya akan jadi pendamping hidupku yang kuharap untuk selama-lamanya. Jadi kalian jangan saling menyalahkan kalau satu dua kali aku tersandung karena salah menentukan pilihan. Karena itupun buatku jadi bahan pelajaran supaya (semoga) lebih baik ke depan.
Otak, teruslah mengkalkulasi untung rugi dan menimbang keadaan. Lihatlah permasalahan dari dua sisi, dan jadilah sejujurnya juri. Lalu bukalah mataku untuk melihat kenyataan.
Hati, teruslah menggali sedalamnya perasaan dan siapkanlah sebanyaknya persediaan maaf. Besarkanlah dirimu supaya tak akan habis dibagi-bagi. Lalu lapangkanlah dadaku untuk terus memberi kasih sayang.
Sekian.
Aku sayang kalian (sebagai rekanan).
(dikirim oleh @Miyaa)
Berita Kepada "Kawan"
Ku kirimkan kabar kepada bintang, semoga jajaran ekor rasinya mampu menyampaikan kabarku ke ujung dunia di manapun engkau berada.
Hows life? Sudahkah kau temukan kebahagiaan disana?
Apakah sekarang kau makin gemuk dengan gumpalan daging bertumpuk di perut?
Pasti lucu sekali itu, manusia dengan mata sipil, alis tebal menyatu dan berperut buncit? Hahaha..
Tapi aku rasa tidak begitu, kau pasti akan tetap se-six pack dahulu.
Masihkah kau rajin jogging subuh buta setelah shalat subuh?
Atau sekarang kerjamu meringkuk di balik selimut?
Where are you? Sudah bertugas di Lebanon kah? Atau hanya jadi pecundang di belakang garis pertahanan?
Sepertinya sudah lama sekali kita tidak saling berkabar yah? Benar-benar lost contact dari sisi manapun juga. Tidak dari sms, telf, FB, twitter, ataupun sekedar kabar dari teman-teman. Yah dunia kita memang beda.
Disini, ada banyak cerita tentangku! Yang biasanya selalu kau cari tahu.
Biasanya cerita itu selalu ku bagi denganmu layaknya anak kecil membagi menjadi dua potongan kue bolunya.
Kini, anak kecil itu mencoba melahap dan menghabiskannya sendiri, tanpa bantuan darimu lagi.
Aku sekarang sudah bisa bangun pagi, walaupun untuk sekedar mematikan alarm dan lantas tidur lagi.
Tapi bukankah aku sudah bangun pagi? :D
Sehingga rezekiku tidak dipatok ayam.
Oh iya, lemari bajuku sekarang sudah rapi. Aku sekarang membiasakan mengambilnya dengan rapi dan melipat atau menggantungnya kembali jika dirasa tidak cocok terlihat di kaca.
Kapan nih engkau datang untuk melihat keadaan lemariku? Aku ingin memamerkan kesuksesan susunan itu padamu.
Hmm, tahukah kau? Kalau sekarang aku sudah bisa mengganti bohlam kamarku sendiri? Meski pake ngos-ngosan memanggul tangga kayu untuk dinaiki, tapi sekarang aku sudah bisa melakukan itu tanpamu.
Kamu juga harus melihat itu, melihat bohlam yang sudah aku ganti beberapa kali.
Aku juga sudah bisa mengecat, kamar kostku sudah ku cat rapi tanpa ceceran cat sedikitpun ke perabotanku.
Semua ini tanpa bantuanmu, aku sudah bisa melakukannya sendiri. Begitu juga dengan makan, sekarang aku sudah biasa makan sendiri, tidak mesti ditemani lagi.
Masih banyak lagi yang lainnya yang perlu kau tahu, aku juga sudah belajar tentang ilmu ikhlas.
Pelajaran yang tidak ada di 144 SKS penghantar wisudaku.
Meski bersimbah airmata mempelajarinya, namun akhirnya aku sukses juga.
Aku juga sudah belajar untuk membuka hati dan tidak trauma dengan atas yang menimpaku.
Aku belajar untuk lebih berani lagi sekarang kak!
Seperti katamu, "Pilihan kan cuma ada ada dua, menang atau kalah"
Satu lagi, Aku juga sudah menemukan pendampingku.
Tuhan mempertemukan kami dalam kondisi yang tidak kami sangka-sangka.
Ceritanya sangat lucu, lucu sekali.
Suatu saat, Dya juga akan ku kenalkan samamu kak.
Aku bahagia bersama dya, insya Allah kami berjodoh.. :')
Sebenarnya masih ada banyak lagi sih ceritanya, tapi aku sudah mengantuk, dan aku rasa kalau aku kebanyakan cerita, bintang akan berkeberatan untuk menyampaikannya padamu.
Hehehehe..
Selamat malam, salam super bahagia untuk kita semua.. :')
(dikirim oleh @nadyasiaulia)
Ujian VS Kamu
ini sudah pagi, dan aku masih bergumul dengan bahan ujian yang lebih sering ingin kutangisi daripada kuhafalkan. tapi kenapa wajahmu masih sanggup ku pikirkan tampan? :) haha.. kamu sedikit menggangguku pagi ini. biarkan aku sendiri dulu ya, relakan secangkir kopi dan nyala leptop dini hari ini untuk sejenak mengusirmu pergi. aku janji, akan ada waktu yang jauh lebih banyak dan ribuan cangkir kopi yang menemaniku menghabiskan waktu bersamamu.
mufi
(dikirim oleh @muphii)
Si Hujan
Hari ini kau turun deras sekali. Sedikit membuat hatiku damai, yang sejak tadi sebenarnya agak galau sih, entah kenapa aku sangat menyukai bunyi rintik-rintikmu yang meluncur aman sampai turun ke bumi. Sebanyak-banyaknya rintik hujan yang turun saat ini, lebih banyak lagi harapan-harapan yang muncul dalam benakku ketika aku memikirkan keadaanku saat ini. Setelah beberapa menit yang kuluangkan untuk memikirkan harapan-harapan tadi, aku mengalihkan pikiranku dari hal itu, takut keburu kau berhenti. Ku pandangi kau yang sedari tadi mencuri perhatianku lewat jendela kamarku, angin berhasil menggoyangkan beberapa helai rambutku, dan aku menghirup dalam-dalam bau mu. Aku semakin suka. Tapi lain hal jika aku harus ke luar dari tempat aku bernaung saat kau datang dengan galaknya, karena yang menjadi kendalaku ialah, aku tidak bisa berjalan dengan sebenar-benarnya dikala banyak air yang menggenang di jalanan. Selalu saja membuat kakiku kotor, dan tidak hanya kaki, bahkan celana dan bajuku pun bisa ikut-ikutan kotor. Hahaha. Cara berjalanku mungkin yang salah, aku belum menemukan metode yang benar untuk melewati genangan mu. Tapi aku berusaha sepertinya untuk menemukan metode itu.
Yomi
(dikirim oleh @omidgreeny)
Merindu Malam Minggu
(dikirim oleh @putrisantoso)
Kamulah Rumahku
Kamulah Rumahku
“So, seems like everyone hate both Indonesia and France. Great! Where should I go? Nederland?”
It was your whine today. I barely jumped when you said so. If Nederland is where you’re going next, I’m going with you. Yet, I said, “No, you’re accepted to be here”. And by ‘here’ I meant my heart. Yes, you will always be accepted here in my heart.
Lalu kamu bertanya benarkah itu, bahwa kamu diterima. Iya, selalu. Dan tanganmu menggenggam tanganku. Surat ini sekarang kutulis, Cuma buat bilang kalau kamu ga perlu mempertanyakan apa yang jelas akan kuberikan. Kamu tau persis setiap detik kebersamaan kita selalu berarti. Berarti untukku. Setiap detilnya. Dan kalaupun kamu harus pergi, kemanapun itu, disanalah rumahku.
Aku ga tau kamu ngerti surat ini atau enggak,tapi selalu ada google translate yang biasa kamu andalkan kalau aku marah-marah. Tapi malam ini aku ga marah-marah. Aku bahagia, bahagia karna kamu. Karna kamulah rumahku. Tempat aku selalu datang. Dan selalu aku cintai.
Dan seperti selalu aku bilang,aku mencintaimu kemarin, hari ini, tadi dan sekarang. Tanyakan lagi nanti, dan besok.
PS: Please remind me to write a love letter to “Google Translate”. Seriously, it means a lot to us.
Kiss, Eden.
(dikirim oleh @mlle_eden)
Surat Kelima
Lily,
Lega rasanya bisa menuang rindu di atas kertas. Kau tahu, tidak mudah bagi hati di dalam aku untuk tegak menampung rasa yang amat besar. Kadang rindu pikulanku, berjalan pun aku membungkuk. Maka ini surat ke-5 yang aku tulis, surat cinta yang aku tulis dalam penjara.
Di sini aku terkurung, tidak bebas bahkan kadang terjepit. Wajar ditambah rindu aku terhimpit, ingin meronta sekuat jiwa. Aku tak mampu, Li. Sungguh tak mampu. Rasa-rasanya aku mau keluar secepat mungkin dari sini, meski harus menyamar jadi kecoak. Aku ingin mengejutkanmu. Membuatmu kaget saat aku terlihat kurus, rapuh dan pucat tanpa hadirmu. Bukan main tidak enaknya ada di sini.
Dari pagi sampai siang, kuhabiskan waktu bersama Iwan. Ya, sahabat konyol nan dunguku di sini. Ia sering menghiburku, melawak ia jagonya. Padahal aku tidak habis pikir, ada orang selucu ini mau mencuri motor karena sesuap nasi. Kejamnya dunia. Jakarta memang begitu keras. Akan tetapi aku mulai khawatir. Sisa waktu Iwan hidup di sini tinggal sedikit. Sebentar lagi ia akan keluar dan membiarkan aku sendiri. Aduh! Bagaimana aku tanpanya di sini?Bersama napi-napi yang lain aku tidak begitu akrab. Sebenarnya aku malas mengakrabkan diri dengan mereka. Kau bisa menebak sendiri apa alasannya. Huh..
Ngomong-ngomong, tadi sore ibu menjenguk aku. Senang rasanya melihatnya dalam keadaan sehat. Tetapi ia tampak semakin tua. Ubannya semakin banyak. Memandang kerut pada wajahnya aku berpikir bahwa itu gambaran ia menantikanku secepatnya dapat menghirup udara bebas. Ia tahu aku tidak sepenuhnya salah, sengaja menabrak orang sampai terenggut nyawanya. Aku tidak sengaja tetapi aku menyesal. Tetapi kau tahu, kecerobohan seseorang juga harus dihukum. Ya sudahlah, lupakan! Sisa banyak detik aku di sini. Segenggam waktu yang harus aku manfaatkan untuk berubah menjadi baik. Kau percaya itu? Seorang Igo akan berubah menjadi baik dan membanggakanmu. Percayalah!
Lily, mungkin dua hari lagi Dion akan kemari dan bisa membawa surat-suratku kepadamu. Untuknya telah kutitipkan pesan lewat ibuku agar membawakanku pena dan banyak kertas. Hehehe.. Kau tahu apa gunanya. Tetapi aku harap ia datang besok. Aku tidak sabar mendengar ceritanya tentang dirimu. Menumpuk pertanyaan mengandung rindu di dalam kepalaku. Ingin segara aku tumpahkan di depan Dion.
Suratku ini kutulis di malam hari, di saat semua telah terlelap. Lampu telah di matikan, di tengah gelap aku mencari terang. Kau tahu rasanya sulit menulis di ruang redup? Maka maaf bila di surat yang ini tulisanku semrawut. Bacalah meraba-raba! Hehehe..
Sayang, di saat-saat ini, mengisi hari-hariku dengan surat adalah indah. Sementara, mengisi suratku dengan bayangmu telah jadi keseharianku. Lesatan waktu yang tanpamu mudah membentur hebat. Aku bisa remuk karena tak kunjung menjumpaimu. Ini rasa tidak semalam, Li! Tetapi setiap malam! Aku menyelam di palung rasa yang dalam, merindumu di tempat kejam seperti ini. Namun keadaan apapun yang menimpa aku, meski jarum menusuk malamku berkali-kali, engkau satu tidak terganti, sampai aku menghadap mati. Bila waktu meronta-ronta dan bumi mulai berontak, semoga kita dalam dekapan dan takkan pernah terlepas. Itu gambaran doaku sebelum tidur, Li. Ya! Kusebut namamu di dalam doaku kepada Tuhan. Sesekali aku sampai bersujud, agar kita bisa bersama. Ini ujianku. Meski mata tidak tahu pasti di mana kamu, aku melihatmu oleh imanku. Di tempat tenang di hari nanti, di sana kita sedang berdua.
Lily, kupikir cukup suratku ini. Tetapi tidak cukup di hari ini saja, lho.. Esok, esok dan esok adalah juga. Bahkan bila tak ada esok, aku tetap akan menulis. Berlebihan? Wajarlah.. Alam yang liar di kepalaku semenjak muncul ide untuk menulis surat untukmu. :)
Jaga baik-baik dirimu!
Lelaki dalam penjara yang masih dalam hatimu,
Igo.
(dikirim oleh @zarryhendrik di http://zarryhendrik.tumblr.com)
Surat ke-1
-K-
Ujian VS Kamu
Ketika wanita menguraikan rasa - Part 3
Untuk Lelaki Berbaju Merah
Hai Lelaki Berbaju Merah,
Baru saja aku bertemu denganmu di kelas hari ini, dengan baju merahmu yang biasa.
Hari ini kita duduk berjauhan. Aku di depan, kau jauh di belakang. Tapi, aku tahu kau mencari-cariku. Aku langsung tahu ketika tadi pandangan mata kita bertemu. Sekilas. Satu detik. Lalu kau tersenyum padaku.
Ya. Cukup satu detik. Dan jantungku berdebar lebih cepat dari yang seharusnya.
Ah, masih sama. Reaksiku ketika bertemu denganmu dan melihatmu tersenyum padaku, masih tetap sama.
Getaran itu ternyata masih ada. Mengecil memang. Jauh lebih kecil daripada dulu memang.
Tapi getaran itu masih ada.
Aneh ya? Padahal, toh kita tak pernah ada hubungan istimewa.
Beberapa tahun yang lalu, kita sangat dekat. Dekat sekali. Saking dekatnya, dulu itu aku sampai berharap lebih akan kedekatan kita.
Aku masih ingat ketika kita jalan berdua di bawah langit berbintang. Kita mencari pom bensin karena motor tuamu mogok. Kau berjalan menuntun motor tuamu, sementara aku berjalan disisimu sambil membawakan helmmu.
Aku masih ingat jelas bagaimana raut mukamu di bawah sinar rembulan. Saat itu aku tersadar. Aku jatuh hati padamu.
Bukan. Bukan hanya karena wajahmu yang punya daya tarik khas itu. Tapi juga karena kebaikanmu yang luar biasa padaku.
Aku juga jatuh hati pada mimpi-mimpimu. Kau pria yang penuh impian.
Bicara mengenai impian denganmu, rasanya tak pernah cukup waktu. Menggebu. Membuatku sangat bersemangat untuk mencapai impianku juga.
Bisa seharian kita berdua berbagi mimpi. Bercerita tentang impian dan cara mencapainya. Lalu, biasanya pembicaraan akan melantur kemana-mana, dengan canda dan tawa. Sambil menikmati semangkuk es buah paling enak yang pernah kucicipi.
"Nggak ada maybe no dalam mencapai impian. Adanya maybe yes."
Begitu katamu.
Aku kagum pada semangatmu, Lelaki Berbaju Merah.
Aku kagum dengan caramu menyemangatiku dalam mencapai mimpi.
Ya, aku jatuh hati padamu. Tapi itu dulu.
Sekarang, aku sudah tak berharap lagi padamu.
Meski getaran kecil itu masih ada. Bahkan masih ada, ketika beberapa waktu lalu iseng-iseng, kau meminta kubuatkan buku. Kau ingin aku menulis tentang pendakianmu.
Hei, tahukah kamu, sebenarnya, sudah ada cerpen yang kubuat khusus untukmu. Itulah sebabnya, kau tidak kuberi bukuku waktu kau memintanya. Aku malu. Sebab, kau pasti tahu kalau cerpen itu untukmu. Di situ tertulis jelas cerita tentang kita dulu. Hahaha. Seandainya kau tahu, bagaimana ya reaksimu?
Lelaki Barbaju Merah,
Tahukah kau? Aku masih menjulukimu "ice tea." Hanya gara-gara rayuan gombalmu beberapa tahun yang lalu, ketika aku marah padamu.
Kau bilang, "Kamu manis banget deh. Kalah deh es teh sama kamu. Jangan marah ya?"
Hahaha. Aku masih tertawa jika mengingatnya.
Lelaki Berbaju Merah,
Beberapa bulan lalu, kau sempat menanyakan statusku. Aku tidak tahu apakah pertanyaanmu itu mempunya tedensi tertentu, atau hanya angin lalu. Tapi, waktu itu aku masih single, dan aku sempat sedikit berharap, kita bisa sedekat dulu. Apalagi kau masih mengantarkanku pulang, masih mengajakku sekedar minum es berdua.
Hmm.. mungkin itu hanya angin lalu ya? Toh kau masih menanti seorang wanita pujaanmu, cinta pertamamu dulu. Ngomong-ngomong, aku heran, kenapa kau tidak menceritakan yang satu itu padaku. Kita bercerita banyak, tapi kau tidak pernah cerita tentang wanita pujaanmu itu. Ah, ya sudahlah. Biarlah alasan itu hanya kau yang tahu.
Oh iya, kalau sekarang kau bertanya pertanyaan itu lagi, jawabannya sudah berbeda. Sekarang sudah ada seseorang di sisiku. Dia tak kalah hebat denganmu lho, hehehe.
Bagaimana dengan cinta pertamamu itu? Apakah kau masih menunggunya?
Kuacungkan jempol untuk kesetiaanmu menunggunya.
Selamat berjuang mendapatkannya ya.
Selamat berjuang juga untuk mencapai mimpi-mimpimu yang kaubagi denganku, dulu.
Salam manis,
Penulis
PS: Jangan lupa oleh-oleh untukku ya, bila kau mendaki ke puncak Elbrus, Rusia, Maret nanti :)
---Oleh: hildabika
(diambil dari: www.pecintarasa.posterous.com )