Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #23. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #23. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Februari 2011

Bukan Hitungan Hanya Keseimbangan

Selamat malam, Bebo…


Sudah tertidur dirimu jam segini. Mungkin lelah setelah hari ini saja pergi pagi pulang sore naik kereta ke Jakarta. Urusan pekerjaan. Lalu aku yang egois pakai mengambek cuma karna tidak dibelikan burger raja yang ga buka cabang di Bandung itu 


Yang lucu adalah bahwa kadang aku sendiri masih jadi orang yang “perhitungan” ya dalam sebuah hubungan? Jadi ingat betapa tadi aku berpikir kau tidak mau susah sedikit buat membelikan pesananku, padahal kemarin waktu pulang dari rumah orang tuaku malam hari dalam keadaan sangat capek dan sedikit pusing akibat telat makan, aku masih menyempatkan diri membelikan pesananmu. Jadi sebal karna kau tidak melakukan hal yang sama, repot yang sama buatku.


Padahal sih, memang beda sikonnya saja. Yang sayangnya aku terlambat buat menyadari hal yang sesederhana itu. Untungnya kau sedemikian pengertian dan baiknya mengerti istrimu yang mau enaknya sendiri ini :p Tidak sabar jadinya menunggu kencan Valentine nanti. Jangan lupa, kau sudah janji. You know how I get annoyed easily when you forget about thing you’ve promised.


Padahal dulu aku pernah bilang, bahwa semua ini bukan soal hitungan. Padahal dulu aku yang bilang, aku lakukan semuanya buatmu ya karena aku mau, karena aku mencintaimu dan aku ikhlas. So that’s a bullshit? Not a real plain one… Aku rasa aku benar tulus melakukan semua hal yang sudah kulakukan buatmu karena memang aku mencintaimu. Trully. Tapi ada saatnya juga dimana aku ingin tau bahwa kaupun mencintaiku sedemikian rupa dan akan melakukan apapun buat menyenangkanku sekalipun itu akan menyulitkanmu. Kadang hanya ingin seperti itu untuk mendapatkan sebuah pengakuan.


You see, i said to you once, that i love you and that’s not about because, it’s eventhou. Tapi dengan walaupun itu, harusnya kau juga melakukan sesuatu sebagai kompensasinya buat menunjukkan bahwa kau juga mencintaiku sedemikian rupa, dan mau repot buat tiap hal sepele yang kuminta.


Hell, egois sekali kedengarannya haha. Tapi kan memang buat merasa dicintai, bahagia, dihargai dan seterusnya, kita sendiri harus merasakannya dulu baru akan merefleksikannya lagi kemudian kan? Bukan soal hitugan… tapi keseimbangan. Lagipula, memangnya siapa sih yang percaya tentang ungkapan “cinta tanpa syarat” saat ini? Selalu ada syaratnya… Tertulis dan ga tertulis, tersirat dan ga tersirat, tersadari ataupun ga disadari.


Mungkin bukan cuma aku yang demikian. Banyak di luar sana yang ingin pasangannya melakukan hal yang mereka minta, sekalipun tampak sepele buat mereka. Bahkan ada yang ingin pasangannya melakukan apa yang mereka inginkan, tapi tidak meminta, berharap dimengerti dengan pandangan mata saja. Karna pada akhirnya, semua orang ingin juga dijadikan prioritas dan dipenuhi keinginannya oleh pasangannya, toh?


Maaf buat keributan sejenak yang sempat tercipta hari ini ya… Foolish me, I know. Tapi aku tau, kau slalu tau kenapa aku begitu. Pokoknya aku akan tagih hutang kencan kita senin depan!


(oleh @nonatazya) 

Sabtu, 05 Februari 2011

Hey Ren

Dear Rendi,

Hampir 6 bulan lebih kau lenyap.

Pergi.

Hilang membawa sejuta rasa rindu kami.

Edan anjis kangen! Lu udah ketemu upi brarti? Selekat itukah persahabatan kalian sampai akhirnya upi juga harus menyusul 3 bulan kemudian?

Ren, upi teh janji bakal bawa gue ke makam lu! Belum selesai dia laksanakan tugas itu dia nyusul lu kesana. Kemana? Gua pun gak tau! Lalu skarang kekuatan apa yang harus gue punya untuk datangin makam kalian berdua sekaligus?

Gue salah karna di saat kalian pergi gue ga ada di Bandung! Pas lu pergi gue lagi terkapar lemah di Rumah Sakit! Upi yang nelpon gue pas setelah lu meninggal. Upi sempet nyemangatin gue biar sembuh dan bisa liat makam lu di Bandung.

3 bulan kemudian Upi pergi!!

Trus lu tau gak pas Upi pergi gue taunya 2 minggu setelahnya!! Karna ga da yang kabarin gue!! Ga da yang ngasih tau gue!! Gue celengok depan facebooknya pas mo ngabarin gue besok ke Bandung supaya bisa liat makam lu bareng Upi!! Apa yang gue temuin?? Semua orang nulis di wallnya semoga almarhum Upie di terima di sisi-Nya.

Apa apaan Ren?? Gue belum bisa nerima lu pergi skarang gue harus trima kenyataan Upi meninggal kecelakaan motor??


Enggak ren, gue gak kan pernah ngerti..


Tapi satu setidaknya yang gue tau. Lu udah bareng Upi. Itu tidak menyenangkan, tapi toh gue bisa apa? Komplen ke Tuhan juga cuma bisa bikin gue tambah bingung.

Ren gue kangen, bilang sama upi gue juga kangen. Bilang terlalu lama buat dia harus nunggu gue. Dan desain yang harusnya gue bikinin gak jadi tepat waktu. Dan pacarnya slalu kangen sama dia.

Bae bae lu bedua disana. Ga usah mabok-mabok lagi. Gue tau kalo lu bedua ngumpul jadinya apa.

Suatu hari gue akan ngunjungin kalian. Gue bakal bawa hujan untuk nemenin perjalanan menuju kesana.

Salam Peluk buat kalian berdua,

Kila

Rest In Peace Rendi & Upi



---Oleh:



(diambil dari: www.heykila.tumblr.com )

Untuk yang selalu biasa saja

Siapapun kalian yang merasa bahwa dirinya biasa saja surat ini aku tujukan untuk kalian.
Bukan untuk membuat kalian merasa tidak berarti tetapi surat ini aku tujukan agar kalian tidak merasa biasa saja :)

Kita sama,manusia,menghirup udara yang sama setiap hari dengan orang orang yang dibilang hebat di dunia. Kita sama,suka lapar,makan makanan yang sama walaupun tidak setiap hari seperti orang orang hebat itu.

Tetapi sadarilah bahwa kita sama. Hidup di dunia yang sama,menginjakkan kaki di tanah yang sama,melihat langit yang sama,sama seperti mereka,orang orang hebat itu.
Kalian pasti punya idola kan? Merasa pesimis akan bertemu dan melihat mereka secara langsung? Tidak,itu tidak perlu karena seperti yang kubilang tadi,kita sama. Siapa yang tahu ia juga punya hobi dan makanan favorite sama seperti kita?

Ingatlah,tidak ada manusia yang 'lebih' itu hanya anggapan. Ingatlah tidak ada manusia yang tidak memiliki kemampuan khusus,kita punya. Kita mungkin memiliki apa yang tidak orang orang itu miliki.

Hey kalian yang biasa saja,sudah terlalu banyak orang yang tidak biasa di dunia ini,kita yang biasa saja ada di antara mereka semua,mereka senang disebut gila,dan disaat semua orang menjadi gila kita tetap biasa,jadi beda bukan? :)

Ingatlah,ada waktunya. Tunggu dan ayo tersenyum :)

XOXO
DLSA.


---Oleh:


(diambil dari: www.diajenglarasati.blogspot.com )

Untukmu Yang Memenuhi Kamarku

Selamat pagi menjelang siang sayangku tunanganku, gelap masih menyelimuti di luar jendela kamarku. Tapi aku yakin, kau membaca surat ini ketika matahari sudah setengah meninggi di langit kotamu. Kebisaaanmu, bangun tak terlalu pagi. Entah sudah berapa orang termasuk orang tuamu yang memarahimu karna kebiasaanmu itu. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan kebiasaanmu bangun siang, toh aku tak butuh kau siapkan sarapan seperti yang ayah dan ibu bilang. Selain aku tak suka sarapan di pagi hari, bangun tidurku pun tak jauh beda denganmu.

Malam di kotaku sunyi, tak ada hingar bingar musik seperti biasa aku putar saat bersamamu sepanjang malam. Aku tak suka mendengarkan musik malam kita sendiri disini. Dinding dan langit-langit kamarku telah penuh dengan lukisan wajahmu, setiap malam sebelum tidur aku biasa melukiskan wajahmu disana dengan kuas khayalan dan cat kenangan. Wajah lugumu saat tertidur tak pernah membuat kuasku bosan menggoreskan tiap warna kenangan di lagit-langit kamarku, aku memandanginya hingga kta bertemu di alam mimpi. Setiap senyuman yang aku ingat secara rinci perlahan aku lukis pada dinding sebelah tempat tidurku, aku ingin membiasakan diri tuk melihatnya setiap terbangun dari tidurku. Apakah perlu aku melukiskan wajahmu di balik kelopak mataku walaupun hanya sepersekian detik aku ingin tetap melihat wajahmu. Aku tak ingin kehilanganmu sayangku tunanganku. Aku ingin sekali melukiskan wajah jagoan kecil kita, namun aku belum ada bayangan akan wajahnya yang menggemaskan, aku yakin ia mewarisi bola mata indahmu dan senyuman kita.

Sayangku tunanganku, kamarku telah penuh dengan lukisan wajahmu, haruskah aku melukis langit biru kotaku dengan goresan kuas berwarna pelangi atau melukis langit malam dengan tinta emas dan ornamen taburan bintang sebelum bisa bertemu denganmu. Aku rindu.

Kekasihmu

Aulia.


---Oleh:


(diambil dari: www.auliasoemitro.wordpress.com )


note admin: surat Aulia Soemitro adalah surat bersambung, untuk lebih lengkapnya bisa mengunjungi:http://auliasoemitro.wordpress.com/category/30harimenulissuratcinta/

Aku menunggumu, lelakiku

Dear kamu,...
Apa kabarmu?. Aku selalu berdoa kamu sehat disana...
Jangan tanya kabarku...aku baik-baik saja sekarang. Hari-hari tanpamu begitu berat. Aku merindumu sepanjang waktu. Pagi aku terbangun kamu di pelupuk mataku. Siang aku bekerja kamu di kepalaku, berloncatan kesana kemari diruang pikirku. Senja datang, aku bercerita tentangmu padanya. Malam datang aku bersandar di pelukan bulan, berharap kamu disana melihat bulan. Aku merindu bukan kepalang. Hari-hariku kamu melulu. Rindu..rindu..rindu melulu.

Aku rindu sapaan selamat pagimu. Aku rindu kau bertanya "sudah makan siang sayang". Aku rindu saat kau genggam tanganku kita pergi menemui senja. Aku rindu saat malam datang dan kau menghangatkanku dengan pelukmu.

Sekarang lima tahun setelah kepergiaanmu yang tanpa pesan, aku masih menunggumu. Disini. Memupuk harap pada Tuhan, agar membawamu kembali disini. Kepadaku. Berdoa padaNya agar menuntun jalanmu kembali kepadaku. Perempuanmu.

Sudahlah, aku pamit. Cukup kau tahu aku menunggumu disini. Aku mengharapmu menghalau dingin malam lagi. Aku menantimu menggenggam tanganku lagi. Aku setia. Menunggumu, hingga Tuhan menunjukkanmu jalan untuk pulang. Kehatiku.

Dariku.
Perempuanmu


---Oleh:


(diambil dari: www.amaachmad.blogspot.com )

Pencuri Hati

Untuk si Pencuri Hati

Kamu datang tak terduga namun tiba di waktu yang tepat setelah aku tak lagi terikat. Lucu ya, kita memang telah mengenal sebelumnya di masa SMA, namun tidak pernah sekalipun terlibat dalam suatu perbincangan yang lama, paling banter bertegur sapa. Sebatas itu saja. Kamu dan aku berada dalam lingkungan yang berbeda. Tapi hei siapa sangka kalau sekarang aku dan kamu bisa saling berdekatan, berbincang ini dan itu, berbagi perhatian, dan tak lagi ada jarak yang membentang diantara kita, sekalipun kita terpaut usia. :)

Cinta memang aneh ya? Atau kamu yang aneh? Bisa-bisanya kamu yang dulu tak ada artinya kini jadi orang yang paling berharga di setiap waktuku. Kabar darimu selalu kutunggu. Terkadang membuatku meneteskan air mata hanya karena hal-hal yang tak perlu seperti kalau kamu sedang menyebalkan, galak dan tidak perhastian! Bahkan secepat itu kamu curi hatiku! Menawannya disana. Di genggamanmu. Kuat. Berontak pun aku tak sanggup.

Tapi sayang, hati yang kamu curi masih rapuh. Ia memang telah membuang sauh padamu. Berlabuh. Namun, ia belum siap jika kamu menjauh atau sekedar menghilang karena jenuh. Kamu telah menjadi nutrisi yang ia butuh. Kamu candu! Dan aku benci mengakui itu.

Terkadang aku lelah karena kamu belum juga berubah. Tetap pada pendirianmu untuk membiarkan hubungan kita seperti riak air, mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Sudah semestinya. Tapi sadarkah kamu? Bahwa hatiku membutuhkan sesuatu yang lebih kuat untuk bersandar. Supaya dia bisa mengalir dan menghalau rintangan yang ada di sekitar. Hatiku butuh hatimu untuk menjaga hatiku. Bisakah aku minta itu?

Aku takut terlalu banyak meminta hingga akhirnya kamu jengah dan memutuskan untuk pergi. Tapi jika kamu memang harus pergi dan tidak ingin tinggal di dalam kehidupanku, bisa kembalikan lagi hati yang kamu curi? Aku membutuhkannya untuk mencintai sosok lain yang mampu membuat aku merasa dicintai.

Itu saja isi hatiku wahai pencuri. Aku harap suatu saat kamu akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Atau paling tidak, kamu bisa menyerahkan diri! Dan (aku mohon untuk tidak lagi) pergi….

Dari perempuan yang hatinya kamu curi.


---Oleh:


(diambil dari: www.berceloteh.tumblr.com )

Untuk Si Mellow

–Their Fairy Tale, Ch. 3–

Hi Xy,

Kan kann jelek deh kalo lagi kena mood swing.. Come on, finish what you’ve started. Lanjut!

—–

Kedua utusan raja itu berjalan semakin jauh ke hutan, lalu mereka bertemu dengan seekor tupai.

“Tuan putri, ambillah biji2an ini,” kata si tupai sambil memberikan biji2an miliknya.

“Oh! Terima kasih!” balas si gadis berjubah merah. Ia mengambil biji2an itu dari si tupai, semuanya ada tiga butir, berwarna merah, kuning dan hijau.

“Pohon keramat akan bertanya padamu, warna apa yang paling disukainya. Jawablah pertanyaannya dengan memilih satu warna di antara biji2an ini. Ingatlah tuan putri, warna yang disukai pohon keramat adalah warna yang paling mencerminkan dirimu,” pesan si tupai.

Gadis berjubah merah hendak bertanya lebih banyak, namun si tupai sudah melompat di antara pohon-pohon.

—–

Hmm.. Malem minggu gini ngapain lo? Pasti abis nyiapin makanan-rapiin meja-makan-nyuci piring-kasih makan semua binatang piaraan lo (Si Mimi, Owie, Buppy, Tiga kura2 ninja n ikan2)-buang sampah-siap2 tidur sambil mellow2.. Hahaha…

Udah berapa malem minggu lo lewatin dengan ber-mellow2 ria? Kebiasaan deh. Kadang gue suka bingung sama perkataan lo yang ini: “mellow itu bagus, Been. Berarti lo pernah ngerasa bahagia, dan justru karena mellow itulah lo kenal sama yang namanya kebahagiaan. Gimana lo bisa namain perasaan lo itu bahagia kalo sebelumnya lo ga tau kesedihan sebagai pembandingnya? It’s just a simple logic.”

Sometimes, you have a weird interpretation of logic and emotion. Lo itu hobi banget merasionalkan emosi sekaligus ngukur kadar emosi pake logika. Sesuatu yang gue anggap berbanding terbalik, yang gak mungkin jadi satu, lo malah nganggep itu berbanding lurus dan saling menguatkan.

Apa lo berusaha menanamkan di kepala gue kalo semakin lo sedih, semakin lo bahagia? That sounds so wrong. Lo ga bisa memancing kebahagiaan dengan kesedihan. Happiness is happiness, sadness is sadness. That’s it. They correlates, but they just don’t interact the way you think they do. At least for me, and perhaps the rest of the world agree with me.

Ngga selamanya kebahagiaan diikutin kesedihan, Xy. Mereka berdiri sendiri2, saling mempengaruhi tapi gak bisa saling menghapus apalagi menguatkan. Emang sih, mellow itu perlu untuk perkembangan emosi seseorang, tapi pada akhirnya lo cuma bisa milih satu, mau ngerasain yang mana.

Hehhh kenapa jadi diskusi berat gini yak? Udalah, jangan pusing2, istirahat aja, uda hampir tengah malem kan di sana?

Tapi kadang2 gue kagum sama ke-mellow-an lo. Bisa dibilang lo itu jeniusnya mellow. Orang yang tampak sebahagia apa pun, pasti lo punya argumen kuat bahwa ada mellow dibalik senyumnya hehehe..

Hey, ngomong2 soal mellow, besok tulisin gue e-mail pake bahasa mellow lo yang sering bikin gue pusing itu ya :p tiba2 gue kok kangen ya ama tulisan2 mellow lo hahaha..

Good night,
Abeen

P.S. Awas kebanyakan mellow tar tambah ndud :p


---Oleh:


(diambil dari: www.somniamemorias.com )

Rasa ini buat kamu

Hei, kamu yang selalu membuatku sesak dengan segala rasa rindu ini..

Hari ini aku kembali teringat akan kamu. Kamu yang selalu berusaha aku hapus dari memori ku. Kamu yang selalu membuat ku ingin meneriakkan kata-kata “aku rindu kamu”. Kamu yang sekarang mungkin sudah tidak lagi mengingatku sebagai orang yang dulu selalu kamu rindukan. Aku tersiksa dengan perasaan ini, kalau kamu mau tau.

Kamu yang membuat ku merasakan semua ini dan kamu juga yang membuat ku terpaksa melupakan perasaan yang sekarang tumbuh merambati seluruh organ tubuhku. Aku terikat. Terikat oleh perasaan yang menggerogoti otak dan seluruh syarafku ini.

Saat ini yang aku inginkan hanya satu. Aku ingin bertemu denganmu. Aku menginginkan hal itu sampai aku ingin mati rasanya. Dada ku bergemuruh dan mungkin akan meledak karena rasa rindu ini. Kamu sudah tidak merasakannya kan? Ya, aku tau. Tapi aku merasakannya. Merasakannya sampai aku tidak bisa merasakan hal lain selain merindukanmu.

Suatu waktu aku berpikir, apakah mungkin akan terjadi keajaiban kamu akan kembali padaku seperti dulu, melupakan seseorang yang sekarang berada di sampingmu. Tapi kemudian aku mengenyahkan pikiran jahat itu. Aku bukan orang yang seperti itu walaupun aku ingin. Aku merasa sakit ditinggalkan oleh mu, dan aku yakin dia juga akan sakit jika kamu meninggalkannya. Cukup satu orang saja yang merasakan ini. Jangan ada lagi.

Pagi ini aku menggeliat di kasurku, berusaha mengenyahkan perasaan yang setiap hari menyelinap masuk ke rongga dadaku dan membuatku sesak ingin berteriak. Apa kamu tau aku sangat tersiksa dengan perasaan ini setiap hari? Mungkin kamu sudah tidak punya lagi tempat untuk memikirkan apakah aku merasakan apapun padamu atau tidak. Kamu sudah terlalu sibuk dengan apa yang kamu miliki sekarang.

Mungkin tidak hanya aku yang berusaha melupakan, kamu pun pada awalnya mungkin akan sulit melupakan apa yang pernah kita jalani. Tapi kamu punya seseorang yang membantumu melupakanku. Sedangkan aku? Aku setiap hari menggeliat di kasur seorang diri tanpa ada yang membantuku mengenyahkanmu dari hati dan otakku. Aku kesulitan. Bisa bantu aku? Lakukan sesuatu yang dapat membuatku benci padamu. Jangan bersikap manis padaku. Jangan menelponku, jangan muncul di jejaring sosial ku, jangan menghubungiku, walaupun aku tau aku akan tersiksa setengah mati jika kamu benar-benar melakukannya.

Kamu tau? Sekarang aku sangat ingin menyentuhmu. Menggenggam tanganmu yang dulu selalu menggenggam tanganku, bersandar di punggungmu yang selalu bisa menenangkanku, menelusuri setiap lekuk wajahmu, mengingat setiap detail guratan diwajahmu, mengusap rambutmu yang jadi favoritku, mencubitmu dengan gemas seperti yang biasa aku lakukan dulu, dan aku ingin memelukmu, hal yang belum pernah aku lakukan karena tembok status yang belum sempat kita beri nama dulu. Dan sekarang tembok itu berlumut.

Kamu tau? Aku selalu merasa ada bongkahan batu di perutku setiap melihat mu bermesraan dengan dia yang sekarang berada di sampingmu. Aku merasa aku hancur setiap hari. Bahkan sebelum aku berhasil menyusunnya kembali, kamu sudah kembali menghancurkanku. Aku sayang kamu. Aku sangat menyayangimu. Sampai aku ingin mati rasanya menahan perasaan ini.

Apa kamu membaca suratku? Ya, semua surat yang kamu tanyakan kemarin memang untukmu. Semuanya tanpa kecuali. Andai kamu membacanya. Andai kamu tau apa yang aku rasakan. Dan aku berharap kamu bisa kembali padaku, terketuk hatimu bahwa kamu ternyata juga menyayangiku. Tapi itu tidak mungkinkan? Aku tau itu tidak mungkin. Tapi pikiran itu selalu meracuni otakku dan menumbuhkan harapan-harapan kosong di langit-langit kamarku.

Apa kamu tau? Bekas mu selalu ada dimana-mana. Di tempat-tempat yang pernah kita datangi, di kos ku, di setiap seluk beluk jalan yang pernah kita lewati dan kamu membekas di hatiku. Membekas seperti noda spidol di baju seragam. Tidak akan bisa dihilangkan kecuali dengan menggunting bagian itu atau membakarnya.

Aku selalu berusaha mencari sosok lain yang bisa membantuku menghapusmu dari memoriku, tapi aku tidak sanggup. Dan memang tidak ada yang sanggup menggantikanmu, apapun alasannya. Dan kelihatannya aku masih belum mau melupakanmu walaupun aku harus. Jadi apa yang harus aku lakukan? Apa? Beritahu aku, dan akan aku lakukan jika itu bisa membuat ku lebih baik. Aku sakit, sangat sakit. Aku sakit dengan semua yang aku rasakan padamu.

Semua lagu seolah membuntuti ku dan selalu meneriakkan namamu. Semua lagu selalu tentangmu. Selalu terkait kamu. Membuatku mau tidak mau mengingatmu. Aku merindukanmu, setengah mati merindukanmu. Aku hanya ingin kamu tau, karna memang tidak ada yang bisa aku lakukan lagi selain itu. Selain hanya sekedar memberitahumu.

Hari ini aku melakukan sesuatu yang selama sebulan ini aku tahan mati-matian, aku hindari mati-matian. Aku membuka album foto kita. Foto yang dulu selama tiga bulan selalu aku pandangi setiap hari, karena aku suka mengingatmu. Mengingatmu membuatku tersenyum dan bahagia. Sekarangpun aku tetap tersenyum, tapi tidak ada kebahagiaan disana. Hanya ada tetesan kesedihan, tangisan menyayat hati dan rasa sesak yang menyiksa. Aku mengingat-ingat apa yang aku rasakan dulu. Di setiap foto ada rasa yang sama. Sayang, rindu dan bahagia. Aku mencoba merasakannya kembali dan itu membuatku tersenyum. Sepersekian detik setelah tersenyum, aku segera menghapusnya. Aku tau itu hanya harapan kosong. Aku tidak boleh mengingatnya. Tapi aku sangat ingin. Melebihi apapun, kalau kamu tau.

Aku rela melihatmu berdua dengannya sekarang, asal aku bisa bertemu denganmu. Melihatmu, mengingatmu, dan menghirup oksigen yang sama dengamu. Aku bahagia. Tolong, bisakah kamu berkata ingin bertemu denganku sekali saja? Sekali saja dan aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan padamu. Sekali saja.

Sudahlah, kertas ini tidak akan cukup untuk menggambarkan apa yang aku rasakan padamu. Terlalu banyak yang aku rasakan padamu. Dan itu akan terus menggerogotiku dan menyiksaku.

Aku sayang kamu.

Jelek mu-dulu.


---Oleh:


(diambil dari: www.giniginiajah.blogspot.com )

Lagi - Lagi Rindu

Untukmu, yang kesekian kali..

Aku bahkan tak tau harus menulis apa lagi. Jadi semisal nanti yang kau baca ini tak membuatmu mengerti, baca saja dan tak usah susah-susah kau pahami. Baca saja..

Sekalinya aku masih tetap merindu dan masih saja untukmu. Entahlah, sudah aku coba tutup semua gerbang biar rindu ini tetap terperangkap di dalam. Mungkin terlalu bengal, sampai merusak kunci dan mendobrak gerbang lalu terbang menujumu. Terlalu bengal untuk bisa aku perintahkan berdiam. Sudah tak mampu untuk menjadikannya penurut. Berlarian, berhamburan mencari tujuan. Mencarimu tepatnya.

Terlelap sejenak, sudah ada kau dalam pejam. Datang tanpa mengetuk, hanya tersenyum lalu menghilang. Aku terjaga. Kau membayang dalam genangan yang diciptakan hujan barusan. Masih disertai rintikan-rintikan kecil, membuyarkan bayang namun tetap jelas dan yakin itu wajahmu.

Aku bilang juga apa, aku sendiri bingung mau nulis apa. Mengertikah kau dengan tulisanku di atas? Tidak ya.. Tak acuhkan saja. Toh kalaupun kau mengerti, apa iya kau juga akan mengertikan hati? Apa akan ada waktu darimu untuk pertemukan rinduku?Pasti kau akan berpikir keras untuk masalah temu itu. Kau sudah terlalu sibuk dengan urusanmu, rinduku bukan dalam daftar kesibukanmu. Mungkin malah jadi pengganggu. Aku tau.

Tak tau lagi apa yang harus kutulis. Inti dari kesemuanya adalah rindu yang sudah menggebu. Semoga kau tau.

Salam, perindumu yang tak henti meminta waktu.


---Oleh:


(diambil dari: www.dzdiazz.blogdetik.com )

Cinta (?)

Jakarta, 5 Februari 2011

Malam, Senja..

Kali ini, entah kenapa aku malas berbasa basi. Senja, apa kamu pernah jatuh cinta? Jika pernah, boleh aku tanya “apa itu cinta”? bagaimana rasanya “jatuh cinta” ? setahuku, kamu lihai dalam memainkan aksara berbau kasih dan cinta. Apakah tersenyum ditiap kali sosok mu menguasai hariku itu termasuk tanda ‘cinta’ ? apakah merindui mu itu juga termasuk? Atau..keinginanku untuk ‘menghangatkan’ dingin mu juga? Aku penasaran..

Jika benar hal tersebut adalah ‘cinta’, apakah menurutmu ‘ini’ kabar baik? kabar baik untuk ku dan juga untuk mu? Ah..gila.. rasanya kepala ku mulai penuh lagi dengan pertanyaan-pertanyaan buntu jawaban. Bantu aku, Senja. Aku rasa kamu adalah orang yang tepat untuk membantuku mengorek kebuntuan pertanyaan ku. Sudikah?

Senja, serius.. kali ini rasanya kamu benar-benar harus membantuku, aku sudah terlalu lelah menduga, aku ingin ‘ditunjukan’ ada apa dengan diriku, dan aku percaya kamulah satu-satunya sosok yang bisa menunjukan apa yang terjadi padaku.

Maaf, selain patah, sepertinya aku pun bodoh, selalu merepotkan mu dengan pertanyaan-pertanyaan ditiap kali menulis surat. Maaf, Senja.

Mungkin, jika hatiku menjelma menjadi sebuah gelas, dan rindu serta senyum yang tercipta ditiap kali mengingatmu benar berarti cinta, maka aku yakin kali ini gelas ku penuh. Ya..hanya itu yang sekarang ku tau, selebihnya aku percayakan padamu untuk ‘menunjukan’ padaku ‘apa sebenarnya yang terjadi padaku’. Cinta kah?

Jangan takut, aku tidak akan memaksamu menjawab kebuntuanku. Jika memang pertanyaan tersebut membuatmu kerepotan, lupakan saja semua yang tertulis dalam surat ini. Mungkin memang saat ini aku harus berkencan dengan waktu, berduaan saja dengannya, agar bisa memaknai dan merasakan sendiri apa itu cinta. Ah..lagi-lagi aku labil, bertanya lalu sekarang dengan sombong bilang ‘ingin mencari jawabannya sendiri’.

Sudah sudah..mungkin memang seharusnya surat ini tidak pernah ada.


E

*tutup diary*


Penuh, sampai tumpah.


#NowPlaying Mariah Carey –I Want To Know What Love Is-


---Oleh:


(diambiln dari: www.sisayappatah.tumblr.com )

As, Jack, Queen, As

Mars,

Kamu percaya ramalan? Aku senang sekali diramal, untuk bersenang-senang. :p

Aku minta diramal oleh temanku, ia bisa menggunakan kartu remi untuk meramal cinta. Kamu tahu hasilnya? Mengejutkan! Ia juga sampai kaget ketika melihat hasil ini. Menurutnya ini adalah hasil sempurna sebuah ramalan.

Aku memfoto hasil ramalah tersebut:

As hati berarti rasa suka si wanita

Jack berarti si pria

Queen berarti si wanita

As daun berarti rasa suka si pria

Mengerti? Arti dari kartu ini adalah aku menyukai kamu dan kamu juga menyukai aku!

Kita bisa bersatu! Hahaha :D

Kamu percaya tidak? Apa jangan-jangan kamu sebenarnya punya perasaan untukku? Hihihihi. Semoga saja ya :)

Aku suka kamu Mars!

Ratu hatimu,

Venus


---Oleh:


(diambil dari:

Untuk Sebuah Lagu Berjudul Negeri di Awan

sebuah lagu yang tiada henti bernyanyi di memoriku yang tak akan pernah bisa kuhapus.

senja yang kelabu hari ini.
aku berbaring kelelahan bekerja dari pagi menuju pagi.
menabung pengalaman sejak dini.
bertujuan di masa tua yang berbagi.

aku lupa.
hari ini tukang pos cintaku, mba Eka online di sebuah frekuensi radio.
terbangun aku sejenak.
mengambil handphone untuk mendengarkan streaming di frekuensi radio itu.
dia memutarkan sebuah lagu yang berjudul Negeri di Awan.
itu lagu kesukaanku pada waktu itu.
bait per bait lirik lagu itu tiba - tiba muncul di kepalaku.
ya, aku ingat liriknya walau sudah lama tak kudengar lagu itu.
sebuah direktori kehidupanku di tahun 90-an terbuka dengan sendirinya lalu menemukan sebuah gambaran hidupku di tahun itu.

seorang anak kecil berumur 6 tahun.
tertidur setengah pulas memeluk guling di atas tempat tidur yang baru dibelikan oleh ayahku yang masih terlihat muda dan gagah, tidak seperti sekarang.
aku tertidur di tempat tidur yang sangat aku inginkan ketika aku pergi ke sebuah mall yang terkenal pada waktu itu, Ramayana.
sambil mendengarkan lagu berjudul Negeri di Awan di radio.
ibuku yang menyalakan radio itu.
kakaku yang berumur 11 tahun tidur di sampingku.
bersama menikmati tempat tidur hasil keringat ayahku selama bekerja di sebuah tempat penerbangan pesawat di Bandung.
aku memakai baju bergambarkan super hero kebangganku waktu itu, Power Ranger.

direktori lainnya terbuka satu - persatu.
kali ini aku yang sedang bermain kendaraan mainan yang bernama Tamiya.
dan aku sedang mendengarkan lagu ini juga.
kali ini ibuku sudah membeli kaset berisi lagu - lagu karya Katon Bagaskara itu.
sebuah Tamiya berwarna putih dengan dinamo yang baru dibelikan oleh ayahku.
aku lupa jika pintu pagar tidak ditutup dan akhirnya Tamiyaku jatuh ke selokan dan dinamonya rusak.

haha, masa kecil yang terlalu indah menurutku.
sangat terlihat jelas jika mendengarkan lagu ini.
bagai aku yang telah merekam sebuah kehidupan diriku yang utuh dari aku lahir hingga sekarang.
dan aku taruh rekaman tersebut di hard disk yang bermilyaran Giga kapasitasnya.
ku nyalakan komputer dan kumainkan sebuah lagu Negeri di Awan.
yang terlihat adalah video - video dimana ketika aku mendengarkan lagu ini.
semuanya indah.
tak satupun semua kenangan itu aku lewatkan untuk menontonnya.

mendengarkan lagu ini, aku tidak akan berandai - andai.
termasuk berandai - andai jika aku kembali lagi pada waktu itu.
aku semakin optimis menjalani hidup yang sudah terlihat titik terang disana.
dimana aku akan membuat sebuah film dengan soundtrack lagu ini.
di film itu adalah aku yang sudah dewasa, merawat baik ayah dan ibuku yang sudah tua dan aku yang sudah seperti mereka pada waktu aku pertama kali mendengarkan lagu ini.
orang tua yang perkasa seperti Power Ranger.
ah, lupakan Power Ranger…

lagu dengan sajak yang mengajak kedamaian.
tunggu aku yang akan benar - benar memutar lagu ini di hari nanti.

aku.
si penikmat pita suara yang khas di lagu ini.


---Oleh:


(diambil dari: www.crezative.tumblr.com )