Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta #19. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2011

hey, kamu.. (kukirimkan pelukan ini untukmu)

hey, kamu.

surat ini dituliskan khusus untukmu.

kamu sedang apa?
sedang bersedih kah?
sedang bahagia kah?
sedang murung kah?
sedang galau? ah, ternyata kamu bisa galau juga, ya?

sebenarnya, sekarang aku sedang mengumpulkan pelukan, pelukan terhangat dan tererat yang aku punya, pelukan-pelukan yang ku tata rapi berjejal penuh dalam kotak besar dan kututup rapat agar tak menguap lalu lenyap di udara. eh, aku aneh ya?

dan surat ini,
kukirimkan beserta paket kotak berisi semua pelukan tersebut, untukmu.

semoga sampai, dengan selamat.
dan sesegera mungkin, ke tempatmu.
siapa pun kamu, di mana pun kamu.


tertanda,
pengumpul rindu dan pelukan untukmu.

[seandainya pelukan virtual itu benar-benar bisa dirasakan. ah, andai saja.]

Kali Ini Biar Si Radio Menulis Cerita

Hari ini aku selesai melakukan penelitianku, kabar baik untukmu. Aku mencoba secepat mungkin melakukan apa yang sanggup aku lakukan. Tidak terlalu lama bukan. Penelitianku berhasil dengan baik sayang, aku senang. Tak lama lagi aku akan kembali bersamamu di kota kita.

Maaf aku lupa, bagaimana kabarmu? Aku terlalu gembira dan bersemangat memberimu kabar baik ini untukmu hingga aku lupa menyapamu. Apa kau rindu aku? Rindu kecerewetanku? Aku sadar betapa cerewetnya dan tidak kali ini saja bukan?

Aku ingat kau pernah menyebutku “Radio Berjalan”. Selalu ada yang di bicarakan, bahkan kau mengajakku untuk taruhan seberapa lama aku bisa diam. Semenitpun aku tak sanggup, kau tertawa di sebelahku. Aku ingat tertawamu itu, suara tawamu dan cubitanmu di lengan kiriku. Selalu mendominasi pembicaraan, tidakkah kau bosan sayang mendengarkan ocehanku? Pasti tidak. Aku yakin pasti tidak. Kau pendengar setiaku, pasangan hidupku paling setia. Segala cerita, keluhan, marah bahkan tangisanku selalu kau dengarkan tanpa mengeluh. Setiba di kota kita, aku akan bercerita panjang lebar untukmu dan anak kita. Aku ingin membiasakannya mengenal suaraku dari sekarang, semoga ia tidak bosan mendengarkan “Radio Berjalan”.
Sayangku, tunanganku, aku senang sekali hari ini. Semoga perasaan ini bisa sampai dengan baik untukmu.

Radio Berjalan Kesayanganmu
Aulia.


---Oleh:


(diambil dari: www.auliasoemitro.wordpress.com )



note admin: surat Aulia Soemitro adalah surat bersambung, untuk lebih lengkapnya bisa mengunjungi: http://auliasoemitro.wordpress.com/category/30harimenulissuratcinta/

Surat Untuk Tuhan

Dear Tuhanku sayang…

Maafkan aku Tuhan, aku ingin mengakui sesuatu. Sesungguhnya aku membencinya, aku tidak ingin mengingatnya walau aku tau, akulah yang menciptakannya. Aku ingin menghapusnya, ya Tuhan. Atau kumohon padaMu, tolong buat aku lupa.

Dia membuatku merasa sesak, dia membuatku merasa takut. Tapi tak pernah kuingkari dengan segenap hatiku. Ya. Dialah yang juga membuatku belajar, dialah yang sesungguhnya membuatku tegar, kuat dan berpikir. Tanpa dia, aku tidak akan ada sekarang. Aku tidak akan ada nanti.

Kau tau kan Tuhan apa dan siapa yang kumaksud dengan dia?

Apakah Engkau bersedia mengabulkan permohonan konyolku Tuhan?

Tolong hapus dia. Tolong buat aku lupa dia.

Tolong hapus masa laluku.

Terima kasih Tuhan. Kutunggu jawabanMu melalui mimpiku.

Dariku…

Makhluk kecilMu yang memiliki penyesalan terhadap masa lalunya.


---Oleh:


(diambil dari: www.hotarukika.tumblr.com )

Kamu Yang Dulu

Kepada: Kamu yang dulu

Aku begitu merindukan kamu yang dulu. Kamu di bulan Juni dua tahun yang lalu. Kamu dengan perasaanmu padaku yang begitu menggebu. Bisakah aku bersama kamu yang waktu itu? Sekarang aku seolah berhadapan dengan orang asing, bukan lagi kamu. Apakah kesalahanku itu membatu di kepalamu? Atau ini bagian dari hukumanku?
Kumohon maafkan aku. Kembalilah, temani aku habiskan waktu. Aku mau kamu yang dulu. Walaupun aku tak yakin, sepucuk surat dapat mengembalikan sosokmu. Tapi setidaknya kamu tahu aku akan tetap menunggu.


Dari aku yang merindu.



---Oleh:


(diambil dari: www.berceloteh.tumblr.com )

Kepada pemain futsal terbaik di rumah saya

Hai,dek..

Berasa rada aneh ni nulis surat bwt kamu. Hahaha. Mengingat, kita berdua jarang sekali ngobrol. Kamu sibuk sama futsal dan game komputermu. Sementara aku jg jarang pulang.

Akhir-akhir ini,aku sering sekali ngerasa iri sama beberapa orang, entah itu temen ato bahkan dosenku sendiri. Iri sama hubungan mereka dg adek laki-laki mereka. Aku iri,karena aku ga bisa seperti mereka.

Aku ga nyalahin kamu kok,dek. Wajar kamu mungkin sungkan kalo jalan brg sama aku. Kamu mgkn jg ud pny keasyikan sendiri dg duniamu itu. Sedangkan aku jg gengsi mau basa-basi sama kamu.

Iri sama mereka (kakak cewek) yg bisa dicurhatin adek cowok mereka,tentang apa aja. Aku ga pernah (gengsi) tanya-tanya tentang masalah pribadi kamu, termasuk soal cewekmu. Padahal harusnya aku pny inisiatif memulai pembicaraan.

Dek Gung,
Kalo diinget-inget, dulu pas waktu kecil kayaknya ga ada hari tanpa bertengkar ya? Tendang-tendangan, banting remote TV, banting pintu, nangis, hahaha. Ga akan lupa sama hari-hari itu. Sadis, tp ngangenin :D

Satu hal yg selalu aku inget, kalo pas mau marah sm km. Pesen papa: meskipun kamu anak pertama, tp km g blh berani sm adekmu. Krn nanti yg gantiin Papa ya Agung. :’)

Gung, meskipun kita jarang ngobrol, sering bertengkar, jarang curhat, ga pernah jalan-jalan berdua.. Satu hal yg hrs kamu tau, Aku sayaaang bgt sm km, Gung. Kamu itu ngangenin bgt. Ga ada kakak yg ga sayang adeknya. Kalo seandainya kamu mau aku peluk,aku bakal meluk kamu, ngunyel2 kamu, nyium kamu. Dg catatan, gengsiku bwt mengekspresikan itu jg udah ga ada.. Hahaha

Sudah ah, kalo diterusin bakal makin mellow.

Peluk cium,
Mbakmu yang paling cantik



---Oleh:


(diambil dari: www.citracahyani.tumblr.com )

Surat Menyapa Hujan

Hai kamu, oh kalian rintik - rintik hujan di sore hari.

aku hanya berdiam diri di hari yang dimana seharusnya aku bekerja.
Aku di kampungku, dan aku disambut kalian yang mungil berjatuhan disaring awan kelabu. Jatuh.
Ada yang memantul - mantul kegirangan menyapu debu yang seketika berubah menjadi wangi yang khas.

Hujan, lama - lama kau deras.
Menutupi pandangan yang selalu fokus kepada dunia fana.
Kau selalu mengisi tiap hela nada denyut jantungku.
Sehingga aku yang sedang kesepian menjadi terhibur dengan pertunjukkanmu.

Manusia - manusia berkumpul dan berdempet di satu tempat.
Engkau membawa kehangatan.
Dua anak kecil berlarian di bawah sehelai daun pisang yang lebar.
Itu menambah cerita di tiap kali kau membuat pertunjukkan di bumi.

Aku selalu ingin tau.
Bagaimana jika kalian, titik - titik mungil bisa berbicara?
Aku hanya bisa melihat semua tumbuhan menjadi hidup jika kalian jatuh.
Apa mungkin kalian mengajak mereka bercanda? Tertawa tiada henti.
Ya, mereka memang hidup.
Dedaunan yang terlihat mati, bersuara ketika bersentuhan dengan kalian, rerintikan hujan.

Hujan, hiburlah aku selama di kampungku.
Aku rindu akan kehangatan orang - orang di sekelilingku.
Aku ingin mereka mendekat dan melihat diriku yang sebenarnya lelah menuntun masa depan sendiri, tanpa bantuan siapapun di dalamnya.

Aku.
Yang setia melihat rintikan hujan menari di halaman rumah.


---Oleh:


(diambil dari: www.crezative.tumblr.com )

Untukmu Lagi..

Untukmu..

Selamat malam, baik kan kabarmu? Masih untukmu aku menulis surat, entah ini untuk yang keberapa kalinya. Aku tak pernah menghitung. Begitupun aku juga tak pernah menghitung berapa banyak kata yang terangkai dari huruf-huruf yang ada. Pun juga dengan rindu yang tak pernah mampu kuhitung. Jika kamu bisa, hitung saja. Banyak kan?

Apa kau tak pernah baca surat-suratku sebelumnya? Sampai satu balasanpun tak kau kirim kembali untukku? Aku sudah menunggu dengan kepungan pilu, setega itukah hatimu? Atau memang suratnya tak pernah sampai di hadapmu? Lalu kemana surat-surat itu berlalu? Tersesat pada kenangan masa lalu? Sepertinya tak mungkin, masa laluku adalah kamu. Jika begitu, harusnya sudah sampai di tanganmu. Atau sengaja tak kau baca lalu kau buang, mungkinkah kau bakar biar menjadi abu lalu hilang terhembus angin?

Terlalu banyak pertanyaankah? Maafkan aku kalau begitu. Aku hanya ingin tau, pernahkah kau baca satu suratku saja? Tak kau balas juga tak apa, setidaknya bila kau pernah baca, kau akan tau betapa rasa sudah mengangkasa dengan tumpukan asa yang bersayap cinta. Sebeku itukah, hingga kau tak pernah merasa gejolak yang sama? Tega sekali kau. Tapi tak apa, aku tau kau belum mencinta.

Setidaknya dengan surat-surat ini aku masih berusaha, kelak saat nanti aku tak mampu mengungkap, kau bisa baca. Aku tak selamanya ada di dunia, hanya sekarang saja Tuhan masih memberiku masa. Maka saat nanti aku pergi, tulisan ini bisa jadi bukti. Bagaimana hati sungguh ingin memiliki. Ingin membahagiakanmu sampai nurani.

Semoga sempat kau baca, sekali saja.

dariku, pecintamu.


---Oleh:


(diambil dari: www.dzdiazz.blogdetik.com )

Kepada Calon Pemimpin Nias 5 Tahun ke depan

Kepada Yth Para Calon Pemimpin Pulau Nias 5thn Kedepan

Bapak-bapak dan Ibu calon pemimpin Nias, tadi pagi saya baru saja menerima kartu pemilih saya setelah 11 tahun saya mendapatkan hak pilih saya. Iya pak-bu, baru kali ini saya punya kartu pemilih dan baru pemilihan daerah saja, ga papa, maklum baru xixixi. Jadi siapa yang ada di kursi pimpinan di Indonesia ini, mulai dari pusat hingga ke daerah, saya ga ikutan milih mereka lho, jadi saya ga komplen sama mereka. Kalo suara saya dihitung dalam pemilihan-pemilihan sebelumnya, maafkan....itu bukan saya, pasti itu saya versi jadi-jadian.
Karena saya sudah dapat kartu pilih, maka saya mau bersuara dikit, dikit saja koq pak-bu. Jangan marah ato tersinggung ya.

Bapak-bapak dan Ibu yang tidak saya kenal dan tidak mengenal saya, terima kasih sudah mencalonkan diri anda sebagai pemimpin Pulau Nias 5 tahun mendatang. Kampanye dari bapak-ibu satupun tidak saya ikut, bukan karena saya benci ato tidak peduli pada bapak ibu ato tidak peduli nias, tapi karena saya sibuk di toko saya.
Kalo saya sampe tutup toko karena ikutan kampanye, lalu siapa yang akan jualan beras,gula,tepung, roti,dan bahan sembako lainnya untuk rakyat Nias? Saya khan harus mendukung perputaran roda ekonomi Nias dengan toko saya, dan memperhatikan kelangsungan hidup warga nias.
Mungkin saya berlebihan dalam kapasitas saya sebagai rakyat biasa di pulau ini, tapi dengan kapasitas saya sebagai rakyat biasa yang kecil setidaknya saya memperhatikan kehidupan orang lain bukan diri saya sendiri,bukan perut saya atau kantong saya.

Weitss...pak-bu, kenapa keningnya berkerut? Jangan geram...belum selesai pak suratnya. Baca lagi yukk...
Pikiran saya sederhana pak-bu, tangan-otak dan hati nurani yang diberi Tuhan kepada saya ini secara gratis, saya gunakan untuk tidak merugikan orang lain, tidak hanya untuk mengenyangkan hawa nafsu saya sebagai manusia tapi membantu orang lain meskipun efeknya tidak bombastis, dramatis dan sprektakuler.

Kembali ke soal 5 tahun ke depan, Bapak-Ibu yang mencalonkan diri sebagai pemimpin Nias. Seperti normalnya kampanye, semua berseru tentang kehebatan,kelebihan,keistimewaan, hingga backing masing-masing baik partai maupun individu. Lalu saya bertanya kenapa tidak ada yang menyerukan kelemahan ya?
Ketika melamar kerja ke perusahaan, sang pewawancara pun menanyakan kelebihan dan kelemahan saya. Lalu kenapa tidak ada yang memaparkan kelemahannya? Anda semua khan sedang melamar pada kami rakyatmu dan saat ini rakyatmu yang menjadi pewawanacara. Apa takut kelemahan itu menjadi bumerang bagi anda saat kampanye dan dikemudian hari? Ahk saya juga tidak tahu. Lupakanlah

Sapa yang akan saya pilih dari anda semua ya? Sampai detik ini saya tidak tahu harus memilih siapa dia antara anda semua. Bukan karena saya ga kenal anda, bukan karena tidak sreg dengan anda, bukan karena saya tidak menerima apapun dari anda, bukan karena anda pernah menyakiti atau mempersulit saya, bukan karena anda tidak ganteng atau cantik, bukan karena anda tidak seagama dengan saya, bukan karena suara anda tidak cihuy, bukan karena anda ga ngeluarin album lagu, bukan karena anda tidak melambaikan tangan atau menyapa saya di jalan, bukan karena anda tidak belanja di toko saya atau sanggulan di salon saya. Bukan karena itu semua.
Tapi karena saya tidak yakin pada anda, tidak yakin bahwa anda semua jika terpilih nanti akan melakukan apa yang anda janjikan dulu.
Tidak yakin bahwa kepentingan rakyat yang anda utamakan diatas kepentingan anda dan golongan anda.
Tidak yakin bahwa anda tidak akan KKN.
Tidak yakin bahwa anda akan memperhatikan kami yang minoritas.
Tidak yakin bahwa kami yang minoritas ini akan diperlakukan adil dan sama dgn mayoritas.
Tidak yakin anda akan takut pada Tuhan dibandingkan takut dimusuhi genk anda.

Maaf, sekali lagi maaf jika saya meragukan anda semua. Saya mempercayai naluri, mata dan mata hati saya yang tidak bisa saya jelaskan kenapa saya tidak yakin pada anda (nanti saya dihilangkan dari indonesia jika anda tau kenapa saya tidak yakin). Saya bertanya pada hati nurani saya yang paling dalam, dan saya tidak menemukan jawaban siapa yang akan saya pilih untuk menjadi pemimpin saya untuk 5 tahun mendatang.

Memang betul bahwa semua janji,program yang bapak-ibu canangkan dan koarkan dalam kampanye tidak akan pernah terbukti dan teruji jika bapak-ibu tidak menjadi pemimpin. Tapi bagaimana kami percaya pada anda semua jika dalam masa kampanyepun anda saling menjelekkan, bermain uang, kedip mata dan salam tempel asal didukung, anda membagikan sumbangan anda untuk kaum papa dengan balasan anda minta dicontreng. Bagaimana kami yakin anda bersih, bertanggungjawab dan patut kami contreng, jika sebelum menjabat saja anda sudah pake pesan sponsor, minta balasan, apalagi nanti ketika anda menjabat. Ahk mungkin saya naif dengan meyamaratakan anda semua dan memaparkan ini itu yang belum terbukti.

Pak-Ibu, saya belum tentu tidak milih koq, sapa tau nanti malam atau besok pagi Tuhan berbisik pada saya sapa yang harus saya contreng maka saya akan memilih pak,menggunakan hak pilih saya dengan baik dan benar. Tenang pak, saya ga akan meracuni teman saya ato siapapun untuk seperti saya, meragu. Mereka khan sudah besar dan dewasa, sudah bisa memilih dengan hati nurani, bisa mengesampingkan pesan sponsor atau rasa tak enak itu demi masa depan Nias 5 tahun mendatang.
Jadi kalo nanti saya tidak menggunakan hak suara saya, tolong pak-ibu, tolong banget untuk tidak menyulap suara saya ya, karena bapak-ibu khan pemimpin bukan tukang sulap (kalo tukang sulap, saya milih Deddy Corbuzie dibanding anda) dan karena suara saya sekarang sedang serak-serak becek :)

Woke pak-bu, sekian dulu surat dari rakyatmu ini. Semoga bapak-ibu yang terpilih tidak melupakan program dan janji-janji anda ketika kampanye dan artinya kekhawatiran saya hanya bunga tidur saja. Semoga pajak yang saya bayar bisa berguna bagi kami rakyatmu bukan dirimu dan golonganmu, apalagi sekarang kuenya dibagi rame-rame dari 1 pulau dengan 1 kabupaten dan belasan kecamatan dinaunginya sekarang menjadi 1 pulau dengan 4kabupaten 1kota madya dan belasan kecamatan. Ga papa pak-bu kalo kuasanya berkurang yang penting kuasanya khan tetap ada toh.

Terakhir bapak dan Ibu yang akan memimpin Nias 5 tahun ke depan...selamat berjuang dan bekerja dengan baik demi Nias yang lebih baik lagi.


---Oleh:


(diambil dari: www.angtingtangtintung.blogspot.com )

Job Desk

Kepada : Mas Dwi Putranto

Hallo Pak Manager,
Ehem ini loh aku udah niat beneran bikinin kamu surat. Bukan nitip ke Omo bukan di dalam kaleng. Asli ini mah. Dari lubuk hati aku yang paling dalam! (Sedalam sumur Sadako)

Ya yaaa, surat kaleng kemaren memang gagal besar mamen. Udah pasti ketahuanlah itu dari aku. Emang sebenernya sengaja sih biar kamu tau, takutnya kalo kamu gak tau itu dari siapa nanti penasaran sampe pengen bunuh diri. (Kasian mamah kamu ntar) -__-

Ih entahlah ya kenapa aku gemes sendiri nulis surat cinta buat kamu. Semoga kamu muntah darah baca surat cintaku yang tak seberapa ini.

Pertama mengenalmu karna aku menulis #stensilmini hihii. Apa yah stensilan yang aku buat itu? Aku lupa! Sekalinya bikin stensilan kecantol Didi Kempot! Eyaoloh masih inget gak kamu aku sampe beberapa hari manggil kamu Didi Riyadi? Lalu waktu sekalinya aku meneleponmu malah ngomong gini: “Halo, bisa bicara dengan Manohara?” Sangking groginya denger suara seksih di ujung sana. Ngahahaha

Eh ingat gak pertemuan pertama kita di Circle K Kelapa Gading? Yang nyarinya aku harus muter2 dulu dong, karna CK disana emang gak dikit yaaaaaaaaa! Hihii aku ingat begitu dapat langsung menghampirimu yang sedang duduk di depannya dengan muka nyengir lalu kau tersenyum padaku *deg* itu aku langsung berdebarlah sumpah! Langsung ke dalem pura-puranya mau beli apa gitu. Padahal sih emang menyembunyikan salting ngahahahaha (pengakuan ini heh!)

Ih ya ampun aku terpana, sejak jumpa kita pertama ku langsung jatuh cinta kalo kata om krisye mah. Jatuh cinta pada cowok berkaos hitam bercelana pendek naek sepeda (yang aku sebut fixie). Padahal mah bukan yak?

Lalu ingatkah saat aku sedih ketika seseorang yang kucintai berpulang ke Yang Maha Kuasa, kaulah yang menyemangatiku dengan berkata akan benar-benar memelukku. Dan itu benar kau lakukan saat kita bertemu, kau memelukku. Ah aku benar mengeluarkan sedikit air mata waktu itu, padahal aku sudah katakan padamu bahwa aku sudah lelah menangis. Karna saat kau peluk itupun 2 hari 1 malam aku tak tidur, mataku sipit dikelilingi warna merah, belum mandi, belum makan dan capek. Namun aku senang karna kau benar-benar memelukku. *terharu*

Hey kita masih punya janji bertemu untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah kau catat di Job Desk’mu itu! Maaf ya aku selalu lama mikir kalau di suruh menentukan tempat bertemu. Karna pesanmu “jangan bawa pengawal yah” hmmm okey. Bagaimana kalau kita bertemu di Bekasi? Selama ini kan aku yang selalu menghampirimu. Karna juga kalo mau ke Jakarta sendirian itu aku hilang arah masbro! Sumpah!! -_____-

Hebat kan aku? Mau menentukan tempat menyelesaikan pekerjaan di Job Desk aja harus bikin surat cinta dulu. Ahahaha

Aku suka sekali foto unyumu yang sedang mengendarai sepeda itu! Sungguh suka! Pasti SLANKERS yah mas? *ngibarin bendera* Maaf ya tidak bisa menemanimu bermain sepeda. Karna aku kan memang tak punya sepedah (tapi tetep aja di ajakin juga) dan yang paling penting kau sudah tau ini kalo aku itu tidak bisa bangun pagi di hari minggu (gereja aja kadang2 nongol kadang enggak) Hohoo oke! Salam dua jari.

Sekian surat cinta yang tak seberapa ini. Gak usah nyengir-nyengir bacanya yaaa..

Peluk dan Cium,
( si ganteng )

Twitter : @diskopantera


---Oleh:


(diambil dari: www.heykila.tumblr.com )

Kepada Yth. Bapak Dosen. (@hotradero)

Selamat Pagi.
Semoga kebaikan dan keberkahan mengelilingi Bapak dan keluarga selalu. Senantiasa.
Saya salah satu “mahasiswi” bapak di universitas Twitter. Awalnya saya hijrah dari Facebook baru setahun belakangan. Wow dan saya langsung merasa begitu banyak yang bisa didapatkan dari Twitter ini. Saya penyuka kata-kata, di sini saya sarapan kata-kata setiap pagi, makan siang dengan kata-kata, makan malam juga dengan kata-kata, dan saya tak takut gemuk. Ada akun Sajak, puisi, penulis, yang saya follow. Saya juga suka membaca. Akhirnya saya menemukan bapak dari akun seorang penulis yang lebih dulu saya follow. Dan wow!. Saya kagum lagi, otak bapak seperti di isi “google”. Tekan ini dan otak bapak langsung tahu jawabnya. Seperti google. Saya merasa seperti mahasiswi. Yang kuliah “gratis” di Universitas Twitter, dengan bapak Dosennya.
Serial tweet bapak selalu memuaskan. Menambah lagi “isi kepala” saya. Dari Bapak saya tahu sedikit tradisi Batak. Dari bapak saya tahu tentang asal muasal Korut dan Korsel “musuhan”. Dari bapak saya tahu sedikit tentang Hepatitis. Banyak, sebut saja. Serial tweet bapak berguna bukan main.
Ah sudahlah pak. Intinya saya mencintai Twitter. Jatuh cinta pada orang-orang hebat didalamnya (yang saya follow tentunya). Termasuk bapak.
Sekali lagi terima kasih atas serial tweet-nya, terima kasih atas “kuliah gratis” nya. Itu begitu berharga. Sangat. Ya, semoga kultwit-nya tetap gratis tidak minta gaji dan tidak ngeluh minta naik gaji.
Baiklah pak. Saya pamit. Sekali lagi, saya hanya bisa bilang “terima kasih” karena sudah mau “mengajar”.


Dari.
Ama_achmad


---Oleh:


(diambil dari: www.amaachmad.blogspot.com )

Her (True) Fairy Tale

Hello Been.

Belum genap 12 jam sejak keberangkatanmu, aku sudah bersimbah air mata sambil melukin guling (ya, aku bohong besar saat kubilang aku tidak menangis).

Kamu tahu lagu apa yang sedang kudengarkan sekarang? Kutulis liriknya saja ya.

Airplanes
Take you away again

Lagi-lagi naik pesawat. Pulang kampung. Kali ini untuk waktu yang jauh lebih lama dari biasanya.

Are you flying
Above where we live

Apakah saat aku menatap ke atas kamu juga sedang melihat ke bawah sini? Tidak masuk akal memang, tapi untuk hari ini saja, biarkan aku berendam dalam khayalanku yang selalu absurd.

Then I look up a glare in my eyes
Are you having regrets about last night

Penyesalan apa? Tidak ada yang perlu disesali karena ini semua demi kebaikan kamu. Kamu bilang aku ini pemberani. Tapi kalau aku mempertanyakan kembali apakah aku menyesal, pantaskah aku kau sebut pemberani? I’m a doubtful and fearful person when it comes to something related with you leaving me.

You say the word
You know I will find you

I’m dead serious with this. I will find you if you asked me to. You know I will.

Or if you need some time
I don’t mind
I don’t hold on
To the tail of your kite

Aku bukan seorang yang posesif. Setidaknya begitulah yang selama ini aku pikir. Tapi mungkin aku salah, karena selama ini kamu selalu ada. Lalu sekarang? Aku yakin aku salah menilai diriku sendiri.

Tapi jika untuk terus bersamamu berarti aku harus melepasmu, so be it. *tapi aku tetap berharap, semoga ini hanya sementara*

I’m not like the girls that you’ve known
But I believe I’m worth coming home to

Ah. Kamu yang paling tahu kalau aku ini ‘lain’. Secara fisik, ya aku memang ‘lain’ dari perempuan-perempuan lain. Tapi secara emosional, aku sama seperti perempuan-perempuan lain yang remuk oleh rindu yang langsung muncul begitu kamu bilang kamu akan pergi.

And I agree with the lyrics. I believe I’m worth coming home to. I may not be brave enough to say my feelings to you, I may be different enough from the rest of the girls in this world, but yes, I know I’m worth coming home to.

Mungkin sekarang kamu sudah tahu lagu apa yang sedang kudengarkan?

Last hint: yes, I’m sleeping with butterflies now.

Mungkin kamu tahu jawabannya, tapi memilih untuk tidak menjawab, dan percakapan kita waktu itu akan kembali terulang:

“Kenapa semuanya lo jadiin game sih, Xy?”

“Playing games is the only thing that keeps me sane, Been.”

Ah anyway, mungkin ada satu hal yang aku dapatkan dari kepergianmu. The popular, often overrated, yet so pure and unexpected: el o vee e.

From the girl who loved you yesterday, love you still, always have, always will, no matter what,

Xy

P.S. *apus air mata* *apus draft* *pura-pura senyum* *doain kamu* *semoga suatu saat nanti aku bisa nyampein e-mail ini secara lisan ke kamu*


---Oleh:


(diambil dari: www.somniamemorias.com )

Untuk Kamu Pan, Selamat Ulang Tahun

1 February 2010, selamat ulang tahun @toufanmahendra!

Untuk Kamu
Yang senantiasa menemani malamku,

Sudah berbulan-bulan lebih kita berpisah, aku mulai merasakan kerinduan yang aneh dalam diriku.
Meskipun terkadang aku benci sikapmu, aku ingin kamu ada disini, mengutarakan pikiran-pikiran memberontak dalam kepalamu.

Aku kangen saat kita menghabiskan malam, dua cangkir kopi yang tidak enak, dan obrolan seru, obrolan kangen, obrolan biasa yang menjadi spesial, hanya karena kita berdua terlibat didalamnya.

Aku kangen malam bersamamu, dengan lampu dimatikan dan cahaya hanya datang dari jendela, kamu menangis, dan saat itu sungguh, aku hanya ingin memelukmu, melindungimu, saat kamu membuka dirimu padaku, mengutarakan hal-hal yang selama ini aku tidak pernah tau, yang selama ini hanya ada dalam pikiranmu, saat itu, aku percaya kamu mencintaiku.

Aku kangen malam-malam yang kita habiskan di mobil, saat hujan turun dengan derasnya, rintik-rintik yang menampar jendela dan memecah cahaya jalan raya, kita mendengarkan musik dari telepon genggam kebanggaanmu. Lagu-lagu jazz kesukaanmu, kamu di belakang kemudi, tanpa peduli arah tujuan, kita berkelana sampai pagi.

Aku kangen malam-malam menunggumu datang kerumahku. Dengan cardigan coklat yang sudah bau karena selalu kamu pakai, menempuh perjalanan jauh kebatas kota, tanpa stnk, mengenakan sandal yang selalu aku benci, kamu rela menghabiskan waktu bersamaku, ketika mungkin, kamu hanya ingin bermain bas di kamarmu.

Aku kangen teduh matamu, hitam rambutmu, dan kulit kecoklatan bau tembakau itu. Ketika kita duduk di depan toko 24 jam itu, duduk di depan stasiun tua menikmati kopi tubruk dibalut keramahan Yogyakarta, sungguh sayang, aku benci berada di kota ini sendirian, kala itu, tanpa kamu. Aku benci melewatkan malam, tanpa kamu, dimanapun aku berada.

Ingin aku memintamu kembali kesini, mengembalikan semua sejarah yang pernah kita buat dalam malam-malam yang kita lalui bersama, setidaknya agar aku bisa merasakan hangatnya memori, hangatnya malam-malam saat itu, dan takjub bahwa, meskipun pada akhirnya kita kurang tidur, dan kamu jadi insomnia, dan aku jadi benci sendirian, kamu selalu ada. Aku ingin kamu kembali. Sungguh, kembali kesini, memperbaiki semuanya, menghabiskan malam-malam yang akan datang, bersamaku.

Aku kangen kamu pan.
Kangen banget. Kembalikan malam-malamku seperti dulu!



---Oleh:


(diambil dari: www.marahmarahmulu.wordpress.com )

Fire and Air

Mungkin rasanya aneh menjajarkan nama kalian berdua dalam satu kalimat, dan berkata-kata kepada kalian dalam satu surat. Seperti yang dunia tahu, kalian berdua memiliki cara pemikiran dan mengamati hal yang berbeda. Tapi tidak mengapa. Di dalam garis waktu saya, kalian memberikan dua rasa unik yang kuat. Meletup-letup, seperti permen Pop Rock :))

@gandrasta,

Saya rasa saya cukup berani untuk mengalamatkan surat ini kepadamu. Saya siap jika kamu ingin meresponnya dengan keekstriman yang paling tajam. Itu resiko. Saya pengagum buah-buah pemikiran dan pengamatanmu, yang setiap harinya saya baca di garis waktu saya. Kamu sungguh berani dan unik. Kamu menuliskan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh saya, dan di saat saya butuh tertawa dan menertawakan hidup, sebuah tweet-mu sanggup membantu saya untuk melakukannya.

Saya mengagumi kejujuranmu untuk mengakui pada dunia tentang orientasi seksmu dengan amat sangat terbuka. Belum banyak orang yang mau melakukannya, demi “nama baik” keluarga. Cih. Mengapa harus malu menjadi diri sendiri?

Kamu hebat. You are the fire on my timeline.

Sementara kamu, @zarryhendrik



Kamu menuangkan perasaanmu (atau mungkin itu murni hanya gombalanmu semata? Hahaha. Hanya kamu yang tahu soal itu) seperti layaknya penyair yang selalu jatuh cinta kepada cinta. Itu luar biasa, Zarry. Sepertinya kamu tidak pernah marah kepada cinta. Dan itu keren sekali!

Pada saat @piknikasik di Ragunan kemarin, akhirnya saya bertemu dengan teman-teman Twitter. Dan salah satunya adalah kamu. Dan kamu seingat saya menanyakan kepada (hampir) semua orang, “Kamu tahu saya siapa?” - termasuk kepada saya. Hehe. Saya rasa itu sangat manis :))

Zarry, you are the air on my timeline. You give us all the greatest reason to stay alive. Love.

Dear Gandrasta and Zarry,

You two fill up my mind and heart in different ways, but I love the way you guys colorize my days. I believe that someday, both of you will be more well-known than you are now. People with strong personalities that don’t hide it under a shade that’s called “reputation” usually make great history in their life. Amen.

Keep tweeting and stay humble :))

P.S. Send my hugs to your little baby, Gandrasta. Don’t worry, I’m rabies and STD free :)) Dan Zarry, salam buat mamanya. Dan semoga kamu lebih sering mengapdet Twitter beliau :))


---Oleh:


(diambil dari: www.poeticonnie.tumblr.com )

Senja (apa kamu suka kejutan?)

Jakarta, 1 Februari 2011


Selamat sore, kamu..

Ini hari kelima, aku tidak mendengar suara mu, kita masih berkomunikasi, walaupun sekedar melalui salah satu aplikasi komunikasi sebuah telepon genggam. Sepertinya aku mulai kecanduan, kecanduan mendengar suaramu dipagi hari, suara berat yang masih mengantuk.

Kamu tau, tiap kali aku mendengar suara itu, diujung sini aku tertawa, bukan mengejek, tapi sungguh suara mu disaat bangun tidur (dengan terpaksa) itu khas sekali. Tiap kali mendengarnya, seperti ada televisi besar dikepala ku yang menyetel keadaan mu saat itu, terlihat tempat tidur dan selimut tebal menutupi tubuhmu yang meringkuk dengan rambut tidak beraturan, mata yang masih tertutup, tangan yang meraba-raba sekeliling untuk meraih sumber suara yang entah sudah berapa lama menanti dihentikan, lalu.. “hallo.. ya, aku bangun, selamat pagi”. Iya, aku rindu mendengar suara (masih) mengantukmu.

Kali ini di loteng kamarku, seperti biasa ditemani tiga batang Marlboro Black Menthol, Giga dan lagu ini;


“If I could fall into the sky. Do you think time, would pass me by.. 'Cause you know I'd walk a thousand miles, if I could just see you. Tonight”


Vanessa Carlton, lirik “a thousand miles” menggambarkan isi hatiku saat menulis surat ini. Aku sama sekali tidak mengutuk jarak (nyata) diantara kita, seperti katamu, “Jangan menunggu balasan suratku, aku akan memberikan kejutan”, aku pun tidak akan menunggu keajaiban langit menjatuhkan tubuh ku ketempat mu sekarang membaca surat ini, aku pun (pasti) akan memberi mu kejutan.


“Making my way downtown, walking fast, faces pass and I'm home bound. Staring blankly ahead, just making my way, making a way, through the crowd”


Mungkin saja.. tidak, bukan ‘mungkin’, tapi PASTI. Jangan ditunggu, kali ini aku yang akan memberi mu kejutan.

Tapi..

“It's always times like these, when I think of you, and I wonder if you ever think of me. 'Cause everything's so wrong, and I don't belong living in your precious memories”


Apa kamu suka kejutan? Terutama kejutan dari ku. Ya, sering seperti ini, pertanyaan yang kadang menghentikan langkahku dan membuat otak ku berpikir keras lebih dari biasanya, apa kamu pun merindukan ku? Atau setidaknya, apakah kamu memikirkan ku?


“'Cause I need you, and I miss you, and now I wonder....”

“If I could fall into the sky. Do you think time, would pass me by.. 'Cause you know I'd walk a thousand miles, if I could just see you. Tonight”


Si Pengecut,

E


*robek kertas* *buang*

*ambil telepon genggam*

*Sent*


"And I don't want to let you know, I drown in your memory. I don't want to let this go. I, Don't...."


PS: #NowSinging Vanessa Carlton -Thousand Miles-



---Oleh:


(diambil dari: www.sisayappatah.tumblr.com)

Read Me

Selamat malam, Bebo….


Malam ini kita nonton lagi DEXTER! Ha! Even someone who thinks of himself as a monster need a companion 


Hari ini melelahkan… Kelamaan di “kantor” karna antrian yang gila di awal bulan, dan hujan yang tidak juga berhenti dari sore tadi. Jas hujan masih ketinggalan di penjahit, which Alhamdulillah its not gone  jadi terpaksa menerobos hujan dan berbasah ria demi bisa pulang secepatnya.


Lelah sekali aku hari ini. Tapi kau sudah membuat hatiku hangat, hingga sedingin apapun, tidak bisa buat tidak senang dan merasa nyaman hari ini. Terima kasih kau sudah membalas suratku tadi malam. Menjawab apa yang jadi pertanyaan dan sangat mengusik. Menenangkan kembali perasaan yang sempat penuh dengan rasa tidak bernama.


Seorang teman bertanya, kenapa aku membuat surat cinta? Apa hanya karna ikutan program menulis surat cinta? Ah, tidak juga… Mereka akhirnya membuat ketentuan-ketentuan menulis harus pada siapa pada hari-hari apa yang sama sekali tidak kupenuhi. Aku ingin ini jadi proyekku sendiri. Menulis padamu. 30 hari. 30 rasa  berbeda. 30 hal yang tidak terucapkan, entah sebenarnya kenapa.


Betapa sering aku mengagungkan yang namanya “komunikasi” dalam sebuah hubungan. Segala perasaan jangan sampai ada yang terpendam, harus buat terucapkan. Tapi memang, mana mungkin sih semudah demikian? Kau tau sendiri, saat kesal aku berubah jadi perempuan menyebalkan yang diam seribu bahasa dan memandang suaminya dengan penuh amarah hahaha. Bitchen me :p Something are easier to be written than spoken.


Diingat-ingat, bukan kali ini saja ah, aku menulis surat kepadamu. Mulai dari pacaran dulu, saat berencana menikah, hingga setelah menikahpun, aku sudah pernah tulis beberapa email atau pun message di Facebook buatmu, kan? Bahkan saat aku keluar rumah dengan marah karna kesal karena sesuatu yang aku sudah lupa apa, yang kulakukan adalah menulis message buat kau baca dan tau aku kesal kenapa begitu duduk nyaman di angkot. Ha!


Yes, I chickened out many times. Aku tidak bisa mengungkapkan banyak hal secara langsung. I know you hate that. But atleast I always try. With my own ways. Blog about it, sending an email, PINGed your BBM. Banyak hal yang pada akhirnya ingin sekali buat kukatakan, hanya bisa terungkap lewat email karena aku sama sekali tidak punya nyali buat bicara langsung padamu. Atau kadang yang terjadi adalah, betapa banyak kalimat yang berlari-lari di kepala saat aku menatap matamu penuh marah, tapi tidak ada kata yang terucap sama sekali buat kau dengar. Padahal kau sendiri pasti bisa tau, saat diam, pikiranku tidak pernah ikut diam dan tenang. Maka aku butuh buat menuliskannya. Aku butuh buat mengungkapkan semuanya, bagaimanapun caranya.


Kau juga kadang menulis padaku. Surat cinta yang selalu saja membuatku merasa entah sedih, entah terharu, entah bahagia tiap membacanya. Yang aku tau, semua yang kau tulis, selalu saja langsung kena ke hatiku. Kau penggombal terbaik yang pernah kutemui. Kau penulis surat cinta, yang bahkan bisa menyaingi muluknya jalinan kata yang kurangkai. Tapi aku tau, semuanya asalnya dari hati, menuju satu hati, antara kita. Karena begitu juga semua kata yang terangkai lewat tulisan ini. Hanya buat hatimu, dari hatiku.


Banyak yang menganggap tidak perlu juga segalanya dibahas, diungkap, dikatakan, diingat, diucap. Tapi aku ingin selalu kau dan aku sama-sama tau bila ada sesuatu. Lagipula, komunikasi yang katanya kunci antara dua hati, kan?


So here I am, communicating to you. Not just writing and bullshitting. I am pouring my heart into words. For you to be read. You can either write back, or say it right to my face. Cause for someone so cute like you, sometimes you’ve got so much bigger guts than I do 


So in the future…


If I don’t say it, read it 


(oleh @nonatazya di http://natazya.wordpress.com/2011/02/01/read-me/)

Surat Cinta #19: Untuk Hati yang Luka

Mau taruh setiap hati yang luka ke dalam tanganMu. Pulihkan atau hancurkan sekalian, lalu bentuk yang baru.

Hai, hati yang luka. Saya tidak akan mengabaikanmu. Saya akan memelukmu, membalutmu, merawatmu sampai kamu sembuh.

Kalau hatimu luka, mungkin artinya ia sedang beranjak dewasa. Biarkan ia luka, biarkan ia dewasa.

Kalau hati sedang beranjak dewasa, mungkin ia juga akan mens pertama, tumbuh jerawat. Ia tidak kanak-kanak lagi.

Kalau hati sedang beranjak dewasa, ia mulai naksir-naksiran, punya pacar pertama, punya ciuman pertama.

Kalau hati sedang beranjak dewasa, ia gampang luka, ia gampang patah. Tapi dengan proses itu, ia akan tumbuh mejadi hati yang kuat.

Kalau hatimu luka, ia sedang belajar untuk menjadi kuat.

Kalau hatimu patah, ia sedang belajar untuk menopang lebih tangguh.

Kalau hatimu luka, mencintailah lebih banyak. Lebih penuh..


weheartit

Hallo, hati yang luka. Kita akan melewati ini bersama. Tenanglah, kamu tidak sendirian. 

Mari bergandengan tangan.

Oleh @perempuansore.