Minggu, 30 Januari 2011

Hujan (sampaikan rinduku)

Jakarta, 30 Januari 2010


Kamu,

Kali ini aku menulis surat dibawah selimut, disini sedang hujan, tidak besar namun cukup dingin bila kupaksakan berbaring tanpa menggunakan kaos kaki Ayah. Malam ini aku tersenyum, senyum aneh, senyum yang selalu terukir tiap kali aku mendengar rintik hujan menyapa genting kamar ku. Apa aku (sudah) gila? Mungkin.

Ini surat ketiga, tidak pernah menyangka aku bisa seberani ini, sungguh..aku seperti bukan ‘aku’. Mereka bilang (mungkin) aku jatuh cinta, ah..tau apa mereka? Aku saja masih belum tau apa yang terjadi pada diriku. Kamu pun-yang-ku-anggap-ahli-tentang-cinta-diam, masih belum menyawab pertanyaanku disurat kedua.

Malam ini tetiba aku ingin meraba mu dengan menyatukan huruf-huruf rindu. Rindu aneh yang selama ini hanya kutemukan tiap kali membaca novel romantis. Ketika tokoh utama merindukan kekasihnya yang sedang pergi ke pulau sebrang merajut mimpi untuk menyusun masa depan mereka. Ah..tidak juga, rindu ku belum serumit itu, rindu ku (masih) sederhana, hanya butuh suaramu sebagai penawarnya, teman.

Entah kenapa, aku (mulai) suka merindukanmu dan aku suka malam, tiap kali aku terlelap, aku bahagia, akhirnya satu hari akan terlalui, yang artinya aku semakin dekat dengan hari kedatanganmu. Malah, jika nyali ku besar aku ingin sekali memaksa Tuhan mempercepat laju waktu. Ingin cepat sampai ke waktu dimana aku bisa menyentuh suara mu, tidak sekedar diantarkan gelombang signal telepon. Aku ingin memuji senyum mu, tidak sekedar diam-diam menikmatinya dari foto yang terakhir kamu kirim.

Sepertinya kali ini ceritanya pasti akan berbeda. Si pembosan ini akan menikahi rindu sampai kepastian menceraikan tanda tanya tentang apa yang aku dan kamu rasa. Aku disini, menunggu mu membalas ketiga surat ku. Aku akan menjadi pelacur waktu yang setia pada penantian dan aku akan menjilati sepi, jika itu bisa membuatmu sadar aku menanti mu tanpa tetapi.

Aku (masih) belum tau apakah rindu ini awal dari cinta atau..apalah.. tapi satu yang kusadari malam ini, sepertinya rinduku pertanda.. aku membutuhkanmu. Disini.

Ah, kali ini suratku akan kutitipkan pada hujan, entah akan sampai ke tangan mu kapan. Tapi aku yakin, kamu akan melihat isi surat ku segera, bukan dengan membacanya, tapi merasakannya. Merasakan tiap kata-katanya melalui perlakuanku. Pasti. Secepatnya.


E

*meletakan surat yang telah dilipat menjadi perahu kertas disungai kecil yang sedang disapa hujan rintik*









PS: #NowPlaying Iron & Wine -Flightless Bird-



---Oleh:


(diambil dari: www.sisayappatah.tumblr.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar