Minggu, 23 Januari 2011

pesawat kertas terbang tinggi..

hai,
apa kabar?
semoga kau tak sedang kedinginan, menggigil sendirian.

di sela malam yang dingin,
aku menulis surat ini yang kutujukan lagi untukmu. tapi apakah suratku yang sebelumnya sudah sampai padamu?
sudah kau baca?

sepertinya tidak mungkin ya kau membacanya. ah.

surat yang lalu benar-benar sudah kulipat menjadi pesawat kertas, pesawat kertas yang sangat bagus bagiku. aku menerbangkannya.
kau tahu? pesawat kertas itu pun terbang tinggi!
hebat, ya?

merasakan kesenangan seperti waktu kecil dulu, bermain dengan pesawat kertas. tapi kali ini, aku tak main-main. aku menerbangkannya dengan serius dan bersungguh-sungguh. karena ku ingin pesawat kertas terbang tinggi, terbang jauh mengelilingi bumi menuju tempatmu berada, entah di mana pun. seperti yang sudah tertuliskan di surat dalam pesawat kertas itu.

tapi aku punya kabar buruk. pesawat kertas ternyata tak terbang jauh, segera jatuh kembali, tak jauh dari tempat ku berdiri. apakah ini pertanda? bahkan pesawat kertas pun tak tahu di mana engkau berada? lalu aku menerbangkannya lagi, dan tetap saja segera jatuh kembali. aku tetap menerbangkannya lagi, berkali-kali, tapi tetap saja segera jatuh, selalu begitu. pesawat kertas mungkin sudah lelah, tapi aku tak akan menyerah.

surat ini pun akan kulipat juga menjadi pesawat kertas dan tetap akan kuterbangkan tinggi ke angkasa. biarlah, meski pesawat kertas tak sampai ke tempatmu berada, semoga kata-kata yang tertulis menyatu berbaur dalam udara, udara yang sama, udara yang kita hirup ini, tentu saja jika kau memang masih berpijak di bumi. dan setelahnya, pesawat kertas akan kusimpan rapi di lemari sunyi, seperti pesawat pertama yang kini terdiam di dalam sana, bersama berbagai kenangan kita.

sekarang, di luar, hujan.
pesawat kertas tak dapat terbang dalam hujan, tapi kerinduan ini tercium dalam aroma hujan yang menemani. aku merasakan ada pelukmu menunggu di setiap tetesnya. dan suara-suara rintik itu, apakah suaramu?

mama, aku hujan-hujanan dulu, ya.
jangan marahi aku.

aku tak akan kedinginan, kok.


: dari
si bungsu -yang selalu merindukanmu-


nb: oh iya, nenek sering bilang kalau beliau rindu padamu, segera pulang ya. mama. atau beritahu kami di mana kau berada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar