Rabu, 19 Januari 2011

Sepucuk Surat untuk Penantian Diam-Diam

Sepucuk Surat untuk Penantian Diam-Diam


Rasanya lucu sekali aku harus menulis surat cinta untukmu.
Kau sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu.
Tapi memang kenangan cinta rahasia tidak bisa dilupa.
Lucu sekali.
Cinta monyet, kata orang.


Aku masih ingat, waktu SMP dulu, kau adalah sahabatku. Kita sangat dekat, saling berbagi apa saja.
Harapan.
Impian.
Cita-cita.
Cinta.


Untuk yang terakhir, aku tahu perempuan mana saja yang sudah pernah mengisi hatimu.
Ironisnya, kau tidak pernah tahu kau menempati hatiku.
Waktu itu.


Aku ingat pernah duduk di depan kelas, memandangimu bermain voli di lapangan sekolah.
Bersorak memberi semangat.
Kagum.
Dan dalam lelahmu, kau hanya sempat menoleh dan tersenyum.
Bukan untukku.
Tapi untuk dia, yang duduk persis di sebelahku.


Aku ingat, jadwal kelas kita yang berbeda.
Saat kelasku sedang belajar, kelasmu sedang jam pelajaran olahraga.
Aku sering mencuri dengar suaramu, saat kau ada di lapangan yang persis di samping kelasku itu.


Aku ingat suatu hari kau mendekat ke jendela tepat di atas mejaku, lalu berbisik memanggilku.
Sesederhana itu, dan hatiku melonjak bahagia.
Kau memanggilku sebentar, lalu menyuruhku memanggilkan dia, teman sekelasku yang manis itu.
Pacarmu.


Lalu kalian saling berbisik, melempar canda di udara.
Tepat di atasku.
Hatiku sedikit sakit tapi tak apa. Aku juga bahagia.
Bahagia karena tahu kau sangat sayang padanya dan dia sayang padamu, seperti yang sering kalian curhatkan padaku.
Saat itu.


Aku ingat kau sering menunggu di depan kelasku.
Walau panas dan keringatan, dengan sabar kau menunggu.
Tapi bukan menunggu aku.
Menunggu dia, yang jadwal piket membersihkan kelasnya sama denganku.
Sedikit cemburu tapi bisa kusembunyikan.
Melihatmu lebih lama dari biasanya, sudah cukup bagiku.
Sudah cukup untuk membuatku bahagia sampai esok hari tiba.


Aku ingat, saat perayaan Natal dari sekolah, kita pernah mendapat giliran naik ke panggung bersama.
Kau berdiri tepat di sampingku.
Memakai setelan jas hitam dan wangi.
Ah, kau tampan sekali waktu itu.


Aku memakai rok semata kaki yang sempit ujungnya, sehingga sulit sekali saat harus turun dari tangga panggung.
Kau lalu mengulurkan tangan kananmu, menggenggam tangan kiriku, membantuku melangkah pelan.
Seperti di cerita-cerita dongeng.
Aku puteri dan kau pangeran tampannya.
Hal termanis yang belum kulupa.
Kau tidak tahu, saat kau genggam tanganku, dunia melebur, tak bisa kulihat apa-apa kecuali kita.
Ingin rasanya kuhentikan dunia dan menikmati detik-detik itu.
Mungkin kau juga tak tahu ini, tapi… Aku bahagia sekali.
Waktu itu tak terasa sudah 3 tahun aku menyukaimu.
Ya, aku bahkan tak pernah menyadarinya.
Saat aku tahu, semua sudah terlambat.
Aku sudah terlalu sayang padamu.


Aku ingat, di ulangtahunku yang ke-17, tepat tengah malam, kau meneleponku dan mengucapkan selamat.
Hanya kalimat singkat, tapi sumpah, aku bahagia sekali.
Tanpa sadar aku berkaca-kaca terharu. Padahal saat itu beberapa teman perempuan sedang ada di rumahku.
Melihat itu, salah satu temanku mulai curiga bahwa aku menyukaimu. Aku malu.


Aku ingat saat kisah cintamu yang 2tahun dengan temanku itu harus berakhir.
Aku ingat malam itu kau merebahkan diri di sampingku.
Kita melihat bintang dari tepi pantai.
Kau lalu terdiam lama.
Aku juga.
Lalu kau mulai bercerita.
“Dia ingin putus”, katamu.
Samar-samar di bawah cahaya bulan dan pantulan air laut, kulihat matamu berair.
Ah, sebesar itukah sayangmu padanya?
Ingin sekali kupeluk dan kukecup lukamu, tapi tak pernah kulakukan itu.
Aku, sekali lagi, mengingat kapasitasku sendiri. Sahabat. Hanya itu.
Kau lalu menyanyikan sebuah lagu.
Pelan namun syahdu.


“.Jangan letih, mencintaiku. Janganlah berhenti… Jangan letih, menyayangiku. Hingga bumi tak bermentari…”


Sayang lagu itu bukan kaunyanyikan untukku.


Aku juga masih ingat hari terakhir pertemuan kita. Siang itu adalah hari pengumuman kelulusan SMA favorit. Sekolah yang kita daftar bersama. Kau lulus, sedang aku tidak.
Aku diam. Menangis.
Menangis bukan hanya karena ada impian kecil yang tak tergapai, tapi menangis karena itu artinya kau akan pergi jauh.
Meninggalkanku dan semua persahabatan kita.


Melihatku menangis, kau juga diam.
Sepanjang perjalanan pulang, di atas bis kita membisu.
Lalu tiba saatnya kau harus turun, tanpa bicara apa-apa, kau hanya merogoh kantongmu, mengambil tisu, dan memberikannya padaku.
Sesederhana itu, dan aku terharu bahagia.
Kau memang manis sekali.
Manis sekali.


Dan sekarang entah sudah berapa tahun kita tidak pernah bertemu lagi, atau sekedar saling menyapa.
Betul, jarak dan waktu memang sanggup mengubah segalanya.
Termasuk persahabatan, juga perasaan seseorang.


Rasa itu memang sekarang sudah tiada, tapi sebagai teman termanis yang pernah kupunya, kenanganmu selalu ada. Di album masa lalu.


Doaku untukmu semoga kau bahagia.
Kalau kau masih ingat padaku, doakan aku juga, teman.
Semoga kehidupan kita penuh cinta.


Salam sayang, (mantan) sahabat lama yang (dulu) pernah menyukaimu.


(dikirim oleh @LadyZwolf)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar